Pasti...., Tidak Terserang Stroke...! (2 Habis)

Koesnan Soekandar dan istrinya. Terseyum lega setelah mendengar kepastian dari Dr. Bowo. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Setelah 30 menit menunggu di ruang yang sejuk sambil terkantuk kantuk, saya dikejutkan suara merdu petugas New Brain Clinic di Jalan Flores itu. 

Terus terang, keramahan cewek itu agaknya tak terlalu menghilangkan rasa ketegangan saya: Saya memang membayangkan tidur sambil dimasukkan ke  ruangan yang lebarnya sekitar 1 x 2 meter. 

Karena itu, tentu saja saya minta bisa didampingi istri. 

" Ya monggo...silakan saja. Nggak apa apa cuma sebentar kok. Jangan lupa aksesori semua dilepas. Nah...karena yang difoto cuma kepala, maka celana ndak usah ganti pakaian yang disediakan di sini pak," ujar petugas dengan halusnya.

BACA JUGA: Pasti...., Tidak Terserang Stroke....!‚Äč

Kemudian, setelah siap saya pun dipersilakan masuk ke ruang MRI. 

"Silakan tidur di sini pak....pelan pelan saja.

Sebentar, saya tutup dulu telinganya. Karena kalau alat mulai beroperasi akan agak terdengar suara berisik. Tapi gak lama kok cuma setengah jam," kata petugas cewek itu.

Benar, tak lama kemudian alas tempat saya tiduri pun bergerak mundur masuk ke dalam tabung. Untung, cuma sebatas dada.

Sungguh, sebentar kemudian, meski telinga sudah ditutup masih saja terdengar  suara mirip klakson mobil Mercy... kadang seperti suara klakson Avanza. Sebentar kemudian terdengar suara teng..teng...teng bak tukang las lagi nyambung bodi becak.

Pokoknya seru sekali. "Aneh..aneh," pikir saya dalam hati.

Tak terasa setengah jam telah berlalu. Tak lama kemudian istri saya nyeletuk, " Enak.. yang nunggu juga diberi headphone dengan lagu lagu nostalgia. Kalau gak pasti juga terdengar seperti berada di bengkel".

Ketika saya tanya lagu lagu apa yang diputar. Istri saya menjawab: " Ya lagu lagu milik Broery dan Obbie Messakh. Pokoknya lagu lagu lawas."

"Mungkin petugasnya tahu yang nunggu sudah berumur. Kalau saja yang nunggu anak muda lagunya lain. Bisa..bisa lagu lagu dari Raisa atau Tulus. Atau juga Via Vallen".

Nah, setelah pemeriksaan selesai, kami pun menuju ke petugas bagian pembayaran. Terus terang saya telah menyiapkan uang tabungan kesehatan untuk pembayaran.

"Mbak ini dari dokter JBH Bowo. Saya buka di sini. Nanti kalau perlu apa apa silakan telepon dokter Bowo, ini nomor teleponnya," kata istri saya pada petugas.

"Ya..bu", sahut petugas itu.

koesnan1.jpgDr.JBH Bowo.

Sesuai wanti wanti Dr. Bowo, amplop pun dibuka. Ternyata  isinya uang ratusan semua. Jumlahnya Rp 3.500.000. Tak ayal lagi. Saya dan istri saya kaget setengah mati. Tak mengira. Petugas penerima pembayaran pun ikut tersenyum." 

"Ya..itu Bu pas biayanya tiga juta setengah", ujarnya. 

Alhamdulillah. Ternyata pemeriksaan MRI ditanggung Dr. Bowo. Sungguh dokter yang pensiunan pegawai negeri golongan 4B ini telah meringankan beban saya. 

"Bu..betul cuma tiga juta setengah...ndak lebih. Coba lihat lagi," celetuk saya setengah bergurau.

" Ya..benar. bapak ini kok minta lebih. Dokter Bowo itu adikmu ta? Ini sudah luar biasa. Mana ada dokter mbayari pasiennya", sahut istri saya ketus. Kami pun akhirnya tertawa bersama.Ya Allah Maha Besar. Tuhan telah menolong hambanya lewat kemurahan hati Dr. JBH Bowo.

Kemurahan hati Dr. Bowo inilah yang mengantarkan langkah dan hati saya semakin ringan ketika sore harinya harus kembali mengambil hasilnya. 

Bagaimana hasil MRI nya? Saya tahu. Bukan hak petugas untuk menjelaskan ke pasien. 

Adalah Dr.Bowo yang hari Senin itu seperti biasa, tersenyum ramah. Senyum terus mengembang manakala menerangkan hasil MRI yang ditanda tangani Dr. Sri Andreani Utomo Sp.Rad itu.

"Pokoknya bagi saya terutama pada point tiga yang menyatakan:  Tidak ada acute infarction. Dari film ini terlihat seperti kupu kupu. Ini tandanya tidak ada apa apa," kata dokter yang ketika muda pernah bertugas di Puskesmas Kecamatan Kalibening, Banjarnegara ini.

Tak cuma itu, dokter yang kalau pagi kini bertugas di Poli RKZ Jalan Ciliwung Surabaya itu menjelaskan jika ada penyempitan pembuluh darah. Itu relatif ringan. " Itu faktor usia. Maka dengan hasil MRI ini saya nyatakan Pak Koesnan pasti tidak terserang stroke," tegasnya

Ditambahkan bahwa dari dari MRI itu menunjukkan tidak ada tumor maupun kanker.

"Sudah ini kepastiannya. Sekali lagi tidak terserang stroke," kata Dr.Bowo sambil menerawang film MRI.

Mendengar kepastikan itu, rasanya saya ingin memeluk Dr. Bowo. Tapi..e...tapi dia bukan adik saya. Dia dokter. Saya wartawan. Saya pasiennya. Ah...sesampainya di rumah. Saya peluk istri saya. Kami berdua berucap: "Terima kasih Allah... terimakasih Dr.Bowo" (*)

Oleh: Koesnan Soekandar, Wartawan Senior, di Surabaya.

Pewarta : Koesnan Soekandar
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda