Menjajal LRT dan Nasi Lemak di Kuala Lumpur .

Stasiun kereta listrik yang nyaman dan luas. (FOTO: Bambang Supriyantoro)

COWASJP.COM – Pada tulisan terdahulu: “Pensiunan Berwisata ala Backpacker” pada laman ini, kami ceritakan bahwa biaya penerbangan dari Surabaya ke Kuala Lumpur jauh lebih murah dibandingkan penerbangan Surabaya - Jakarta. Bahkan lebih murah 50%.  

Padahal lama perjalanan dari Surabaya ke Kuala Lumpur lebih dari 2 jam 30 menit, sedangkan ke Jakarta hanya 1 jam 20 menitan.    Belum lagi perjalanan setelah keluar dari Bandara Cengkareng/Sukarno Hatta menuju kota Jakartanya atau ke tempat wisata. Cukup ruwet bin macet ke seluruh  tujuan wisata seperti Ancol, Monas, Museum , Ragunan, kota lama, Pelabuhan Sunda Kelapa. Menjangkaunya pun  bila menggunakan  kendaraan umum yang ada, bisa  stress. Belum lagi ditambah berkeliarannya orang berniat tak baik. Bisa bisa gagal wisata.

Informasi mudahnya berwisata di Kuala Lumpur, menjadikan pilihan saya bersama keluarga untuk mencobanya.   

Setelah sampai di bandara KLIA 2 yang pada tulisan terdahulu serasa berada di mall atau pusat perbelanjaan. Membuat  seperti lupa kalau kita berada di Bandara.  Beda kalau kita berada di bandara Sukarno Hatta. Suasana  perasaaan relatif tegang, karena kita berjalan di lorong yang kurang  familier terhadap perasaan. Seperti lorong rumah sakit .  

Keluar pintu bandara sudah disambut  riuhnya manusia penjemput, sopir  taksi, para calo , bercampur aduk  tak karuan. Apa tujuan mereka dan entah kepentingan apa. Banyak orang-orang yang berseliweran di koridor bandara. Anda bisa lebih tegang lagi.

lorong-MRT1.jpgMenunggu LRT yang dioperasikan full otomatis, tanpa masinis dan petugas pendukung lainnya.

Hal ini akan beda ketika keluar dari bandara KLIA 2. Sepi. Hanya terlihat bus dan awak bus. Tak tahu di mana area penjemputan atau tempat untuk penjemputan penumpang. Dengan mobil pribadi atau taksi.  

Barangkali karena pikiran saya sudah dipenuhi niat menggunakan jasa angkutan bus menuju Kuala Lumpur, akibatnya  kurang  perhatian pada di mana tempat penjemputan dengan mobil pribadi maupun antrian taksi.  Seperti suasana  pintu keluar bandara di Bangkok, Singapura, maupun Hong Kong sekitar  20 tahun yang lalu. Yang sepi tak ada orang berjubel di pintu keluarnya.

Ongkos Bus dari KLIA 2 tujuan KL Sentral (tempat pusat angkutan umum tujuan ke mana saja di Malaysia bisa dijangkau melalui  Kuala Lumpur Sentral terlebih dahulu), per orang 12 MR (sekitar Rp 40 ribuan).  

Waktu yang dibutuhkan untuk sampai KL Sentral dari bandara KLIA 2 sekitar 1 jam. Kondisi bus relatif bersih, meskipun usia bus saya perkirakan lebih dari 10 tahun.  

Bandara KLIA 2 sendiri  berada di tengah perkebunan sawit  yang luad. Jauh dari perumahan penduduk.  

Malaysia pernah menjadi pengekspor hasil sawit/CPO terbesar di dunia cukup lama,  sebelum disalip  Indonesia akhir-akhir ini.    Perjalanan lewat jalan tol menuju Kuala Lumpur, kiri kanan jalan tampak hanya  pohon sawit. Karena bosan itu itu saja yang dilihat, akhirnya saya pun tertidur.   

sego.jpgNasi lemak ayam Rp 24.000.

Terbangun setelah terdengar bunyi mesin mobil berderu statis dan kendaraan berhenti, jalan lagi, berhenti lagi. Wah, ini sudah dekat dengan Kuala Lumpur. Kata saya dalam hati. Saya perhatikan pintu jendela bus, kendaraan mulai padat  (tapi tidak seseru Jakarta). Tapi bus terus bergerak perlahan, sehingga ada kesempatan membaca tulisan kompleks pertokoan di pinggir jalan.  

Ada  Ruko dengan tulisan besar yang sempat saya baca, “menyediakan tenaga kerja rumah tangga.” Ada juga yang tak bisa dibaca karena seperti huruf  Jawa  yang unik. Mungkin aksara India. 
Toko emas dengan hiasan warna warni yang cerah di dinding atas luarnya seperti kondisi di Surabaya.  

Belakangan saya tahu bahwa daerah tersebut  banyak dihuni orang-orang India.

Tak Mau Jadi Tukang Ojek

Perjalanan dari bandara KLIA 2 sampai masuk Kuala Lumpur perlu waktu tempuh sekitar 1 jam. Selama itu pula hampir  tidak bertemu orang berkendaraan dengan sepeda motor. Apakah kawasan ini  bebas  kendaraan roda 2?  Atau mungkin karena kondisi terik siang hari, sehingga tak ada yang ingin keluar dengan sepeda motor. Waktu menunjukkan pukul 13.00 atau 12.00 WIB. Kuala Lumpur lebih cepat 1 jam.   

Dengan jarangnya bertemu orang naik sepeda motor, muncul pertanyaan: Apakah GO JEK ditakuti  pengusaha transportasi Malaysia, yang kemarin sempat  jadi polemik dan viral di medsos pernyataan pengusaha taxi.   

Jangan-jangan yang akan menjadi pengemudi GO JEK adalah para pekerja dari Indonesia. Yang lebih tertarik beralih kerja menjadi tukang ojek daripada kerja di bangunan maupun perkebunan.

Menurut pendapat saya, gak mungkin orang Malaysia tertarik untuk menjadi tukang Ojek, karena pekerjaan tersebut  dinilai kasar, dan menurut  Cak Amu (bekas wartawan Jawa Pos di Kuala Lumpur) yang  pernah lama tinggal di Kuala Lumpur, orang  Malaysia gengsi dan tak mau jadi pekerja kasar. Seperti kuli bangunan, tukang cat, penggali parit dan sejenisnya.   

Yang ditakutkan mungkin  pelanggan taxi akan beralih ke GO JEK, karena kalau naik sepeda motor dengan dibonceng mungkin masih mau, karena lebih cepat dan ongkosnya tentu lebih murah. Tapi kalau kerja bawa penumpang dengan sepeda motor, orang  Malaysia tidak bakalan mau.   

mrtd4ee0.jpgLorong keluar stasiun LRT bawah tanah, bersih, nyaman.

Memang selama saya berkeliling  di daerah negeri Sembilan maupun Melaka, relatif sulit menemui orang  bersepeda motor.

Tak sampai 20 menit menikmati suasana kemacetan kota besar Kuala Lumpur dan belum melihat orang bersepeda motor, bus terus bergerak perlahan. Akhirnya bus berbelok masuk ke lorong bangunan besar seperti Mall dengan atap yang tinggi. Berputar-putar sebentar melalui deretan bus yang sudah parkir terlebih dahulu.  

Nah ini baru nyampai stasiun bus KL Sentral, pikirku. Sekilas  tadi sempat  terbaca loket  pembelian tiket  tujuan KLIA 2.   Bus berhenti di depan bus yang sedang antri menuju KLIA 2. Penumpang pun  turun  dengan cepat mengambil  bagasi di bagian bawah bus termasuk  saya.

Setelah barang bawaan lengkap tak ada yang tertinggal, saya tengok kiri kanan para penumpang  satu bus tadi  sudah tak terlihat. Saya dan keluarga rupanya  paling belakang  turunnya, mengambil bagasi juga paling  buncit.  Sambil melihat suasana terminal bus yang tak beda dengan di Indonesia. Cuma lebih sepi. Saya perhatikan kiri kanan tempat saya turun ada tangga berjalan arah ke atas. Cak Amu (panggailan Abdul Muis), enaknya lewat lift mana?” tanyaku pada Cak Amu yang pernah bertahun-tahun tinggal di Kuala Lumpur.  
“Sembarang. Aku juga belum pernah lewat sini. KL Sentral ini relatif baru, sudah lama saya gak ke sini”, jawab Cak Amu singkat.

Akhirnya saya bergerak ke arah tangga sebelah kiri yang relatif sepi. Sampai di atas ternyata sudah masuk ke NUmall pusat perbelanjaan. Saya tidak langsung masuk, karena ancar-ancar menuju “Easy Hotel” yang saya pesan lewat agen online, masuk NUmall. Dari pemberhentian bus naik lift lantai 3 belok kanan.   Sehingga saya pun naik lift lagi, pencet lantai 3. Ternyata nyampai ruangan tempat  sholat karyawan  NUmall. Saya pun  bertanya kepada anak muda yang sedang mencopot  sepatu untuk berwudhu, di mana lokasi Hotel Easy tempat saya nginap. 

mrt1.jpgMasukkan koin untuk keluar stasiun.

“Dari lift ini turun satu tingkat keluar arah ke kiri, jalan terus ada tangga berjalan turun satu tingkat arah pintu keluar, lewan jembatan, sudah sampai hotelnya” jawab anak muda tadi dengan ramah.

Informasi anak muda itu benar. Sampailah kami di Easy Hotel. Ternyata berada di bawah Skybridge, dan stasiun  MRT. Turun bisa menggunakan lift public atau tangga berjalan yang relatif curam.  

Saya masuk hotel, disambut dengan ucapan “Assaalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuh” oleh anak muda India berseragam hotel. Dia mengarahkan ke resepsionis, yang hanya satu orang wanita muda agak gemuk. Yang sedang melayani tamu dan ruangannya berbau wangi khas Arab.  

Setelah menyampaikan kode pemesanan lewat agen online, recepsionis menjelaskan bahwa tiap tamu hotel dikenakan pajak 10 RM (Rp 36.000) per orang .

Tak sampai 10 menit semua urusan administrasi selesai, kami pun diantar ke kamar oleh office boy yang beda orangnya dengan yang menyambut  kami tadi.  

“Assalamualaikum. Mari saya antar. Ada yang bisa saya bantu?” kata office boy.   Kamar yang saya tempati berempat berada di lantai 8. Ukuran kamar sekitar 20 meter persegi. Tinggi atapnya sekitar 2,5 meter, tempat tidur agak besar dua buah, kamar mandi di dalam, relatif kecil untuk kami berempat.   Tapi tak masalah, wong paling hanya untuk singgah tidur  malam saja.  

Setelah saya cek AC dan air panas berfungsi normal, serta menaruh  bawaan tas. Kami berempat bergegas keluar kamar untuk cari makan siang.

Daerah KL Sentral  dan daerah NU Mall ini sepertinya didominasi orang India dan biasa disebut Little India. Setelah berjalan di sekitar hotel, berderet warung makanan yang hampir semuanya dijaga orang India. Tapi yang menarik, plang nama rumah makan selalu ada tulisan  Halal dan tulisan arab Bismillah. Akhirnya pilihan jatuh pada Restoran YS MAJU. Saya lupa menanyakan apa kepanjangan dari YS. Rumah makan ini relatif kecil, meskipun tertulis restoran. Lokasinya tak jauh, sebelah kanan pintu keluar hotel, tak sampai 100 meter dari hotel.   

mert.jpgBagian dalam gerbong LRT.

Karena pingin mencicipi rasa makanan khas Malaysia, kami berempat memilih makanan yang berbeda, sehingga bisa saling merasakan. Antara lain Thosai dan nasi lemak telur, daging, ayam, tapi semua rasanya tak beda jauh dengan masakan orang  Medan.

Selesai makan, kami bergerak ke stasiun  LRT di KL Sentral. Tapi kami perlu ke masjid Jameek dulu untuk sholat dhuhur. Dari hasil  googling untuk menuju Masjid Jameek lebih mudah dan cepat dengan KRL. Kami berempat  belum ada yang pernah naik KRL, di Indonesia pun belum ada (Maret 2019).   

Seperti biasa, kami melihat-lihat suasana di pusat stasiun yang ada di KL Sentral ini. Benarkah model ini sebuah  stasiun segala jurusan keluar Kuala Lumpur? Bersih, bebas pedagang kaki lima, tak seperti  terminal Blok M yang ramai.

Stasiun LRT terlihat jelas dari papan petunjuk di dalam  ruangan yang luas, ada stasiun kereta listrik, MRT dengan tujuan yang berbeda beda. Sehingga ke mana pun tujuan bepergian di sekitar Kuala Lumpur atau ke luar kota ada di KL Sentral ini.   

Setelah melihat-lihat suasana sekitar, kami masuk stasiun KRL dan menuju loket mandiri seperti ATM yang berjumlah 8 sampai 10 unit.

Tarif untuk turun di Masjid Jameek tertulis 1,6 RM per orang  atau Rp 5.600 sekali jalan. Tarif LRT tergantung jauh dekatnya tujuan.   Cara pembelian tiket, bagi saya sebagai pengguna baru,  relatif mudah. Kalau saya perhatikan jarang yang menggunakan alat seperti ATM besar. Mungkin mereka sudah berlangganan. 

Jadi, saya bebas mempelajari cara bayar dan seterusnya dengan lebih tenang.

Penggunaannya mudah, kita tinggal mencet tujuan yang sudah tertulis, setelah itu muncul harga dan jumlah orang, maka jumlah totalnya tertulis.  Kita tinggal memasukkan uang  Ringgit ke alat tersebut. Seperti kalau kita membayar minuman kaleng di pusat keramaian di tanah air.   

Kembalian akan berupa uang logam koin. Berupa uang pecahan paling  besar 20 ringgit.   Saya pun bayar dengan pecahan 20 ringgit untuk pembayaran 8 ringgit, maka kembaliannya 12 RM. Semua berupa koin logam, alamah…krincing, krincing….   

Tarif tiket ke Masjid Jameek dari KL Sentral 1,6 RM per orang, dan berlima jumlah totalnya 8 RM.   

Dari pengalaman tersebut, untuk selanjutnya saya membayar yang sekiranya tidak terlalu banyak pengembalian uang logamnya. Kalau pembayaran 8 ringgit, maka pecahan 10 ringgit yang dibayarkan.

Tiket yang keluar dari kotak ATM tersebut, berupa coin  plastik bulat seperti tutup botol warna biru. Harus kita tempelkan pada kotak di pintu masuk stasiun. Begitu kita tempelkan, pintu pun terbuka dan kitapun masuk stasiun.   Sepanjang  jalan sampai Stasiun LRT sangat bersih. Seperti baru dibersihkan, meskipun tak tampak petugas cleaning service berlalu lalang.  

Inilah bedanya dengan di Indonesia. Yang warganya masih belum sadar dengan kebersihan. Petugas cleaning service harus selalu siap sedia dengan peralatannya untuk segera membersihkan kertas atau sampah lain yang sengaja dijatuhkan dengan sembarangan.

Petunjuk pada stasiun sangat jelas. Kita tinggal memperhatikan tujuan kita dengan maket yang dipasang di lokasi yang mudah terlihat. Kita tinggal memperhatikan tujuan, lalu menuju stasiuan LRT yang melewati stasiun tujuan kita.  Karena tiap stasiun penumpang sudah dipisah sesuai tujuan,  ada lorong yang berbeda dengan tujuan yang berlawanan arah, meskipun nanti penumpang akan bertemu lagi. Hanya dibatasi rel yang tak bisa dilalui orang.

Tak sampai 5 menit, datang LRT yang ditunggu. Kami berlima masuk gerbong yang terlihat bersih, begitu juga interiornya, terkesan bersih dan baru. Para penumpang pun tak banyak berbincang satu dengan lainnya. Mungkin tak saling kenal atau memang seperti itu. Mimik wajah yang tak peduli.  Kamipun tidak menjadi perhatian, meskipun kami berlima berbahasa Jawa. Cuek saja. Kebetulan banyak tempat duduk kosong, kami berempat pun duduk. Hanya Cak Amu yang tidak duduk. Beliau lebih senang berdiri rupanya, atau nanggung duduk karena sebentar lagi turun. Karena hanya melewati 1 stasiun pemberhentian Pasar Seni, setelah itu sudah nyampai stasiun Masjid Jameek.

Memang beda naik kereta listrik dan kerata mesin diesel. Jauh lebih nyaman, senyap, akselerasinya  terasa tinggi,  kencang, tak sampai 5 menit sudah sampai di stasiun Pasar Seni. Secara otomatis pemberitahuan lewat pengeras suara sebelum  sampai di Stasiun Pasar SENI. Sekitar 500 meter dari stasiun sudah kelihatan halaman masjidnya. 

bambang124067.jpgPertokoan pinggir jalan di Little India, ada agen pembantu rumah asing.

Saat keluar stasiun, kita harus memasukkan koin yang kita beli tadi ke tempat yang disediakan, sehingga palang  penghalang  terbuka. Di sepanjang jalan menuju masjid,  pedagang kaki lima berderet sampai masuk halaman Masjid. Tak beda dengan Indonesia, mereka menjual kopyah, sajadah, tasbih, baju-baju muslim, dan perlengkapan lainnya.

Alhamdulillah, kunjungan wisata ke Kuala Lumpur,  pertama kali yang menjadi destinasinya adalah Masjid Jamek Abdul Samad, Kuala Lumpur, yang telah berumur 109 th. Untuk menunaikan kewajiban sholat.(*)

Oleh: Bambang Supriyantoro, mantan wartawan Jawa Pos dan karyawan Petrokimia Gresik.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda