Pasti...., Tidak Terserang Stroke....!

Dr. JBH Bowo Sp.D. (FOTO: Koesnan Soekandar)

COWASJP.COM – Empat bulan sudah. Saya didera kekalutan hati. Setiap langkah. Bahkan nyaris setiap tarikan napas. Saya selalu memohon pertolonga. Ya...Allah, tolong berikan jawaban pasti. Stroke kah saya...?" Gumam saya. Itu setiap malam menjelang tidur. 

Tapi bukankah tiga minggu lalu Dr.Subiantoro Halim, yang praktek di kawasan Rungkut Surabaya telah mengatakan bahwa saya tidak terserang stroke. Itu terlihat dari gejalanya. Tidak pelo, mampu menggenggam dan mengangkat tangan kaki. Bukan hanya itu. Tensi terkontrol, kolesterol dan TG di bawah 200. Tapi kenapa kaki dan tangan saya kesemutan. Seperti diikat. 

Gejala itu juga terjadi pada kakak ipar saya. Dua tahun sudah dia dinyatakan terserang stroke ringan. Stroke ringan juga menimpa kerabat saya. Bahkan tiga tahun sudah, tangan dan kakinya kesemutan. Tapi tensinya pernah 200. Sementara saya disiplin minum obat. Karena itu hipertensi terkendali.

Lantas kenapa saya? Apa saya juga seperti mereka? Saya ingin kepastian. Sebuah kepastian yang harus saya cari. 

Karena itu, tiga hari lalu saya ke Dr. J.Budi Hadiwibowo atau yang dikenal dengan nama Dr.JBH.Bowo Sp.D. yang praktek di Apotek Kimia Farma Jalan Diponegoro Surabaya. Dokter yang telah berpengalaman lebih 30 tahun sebagai dokter spesialis penyakit dalam ini memang dikenal ramah dan komunikatif dengan pasien. Apalagi saya sudah tiga tahun mengenalnya.Koesnan-Soekandar-2445b1.jpg

" lho..kenapa lagi Pak Koesnan," sapa dokter yang sudah 20 tahun bergabung di RKZ ini. Pertanyaan Dr.Bowo  memang wajar. Karena lima hari sebelumnya saya telah memeriksakan diri. " E..begini dokter saya cek tensi saya lagi. Saya beberapa hari ini saya gelisah. Mendendar keluhan saya, dokter 70 tahun yang berasal dari.Muntilan, Magelang ini segera memeriksa. Seperti biasa tensi diulang dua kali. " Ya..150. Tapi bawahnya 80 ini.

Karena cemas. Kenapa?" Tanya dokter yang pernah bertugas 10 tahun di Timor  Timut ini. 

" Saya ini gelisah. Apa saya ini stroke dok....?" 

" Hem..kan lima hari lalu sudah saya beri tahu. Pak Koesnan tidak terserang stroke."

" Begini, dari pada masih tanda tanya. Sebaiknya saya beri surat pengantar ini. Supaya ada kepastian," ujarnya

" Dok...dok apa harus periksa MRI. Aduh...tu mahal dok", celetuk istri saya.

Mendengar celetukan istri saya, dokter yang telah mengajukan pensiun dini dari pegawai negeri sejak 1999 ini, hanya terseyum kecil.

" Sudah...ini pengantarnya. Kemudian ini berikan

 petugas di sana," ujar dokter penggemar Nasi Pecel Madiun ini. 

" Pokoknya ini tugas dari saya. Meskipun usia saya lebih muda 5 tahun dari Pak Koesnan, tapi kali ini saya tugasi. Surat dan amplop ini jangan dibuka. Kecuali di sana," wanti wantinya.

Mendengar wanti wanti itu, saya menyanggupi sekalian pamit pulang dengan penuh tanda tanya. Apalagi dokter lulusan Undip Semarang ini mengatakan, kalau bisa malam itu juga surat diantar. 

Nah, sesampainya di ruang tunggu, ternyata benar saya diminta untuk periksa( foto ) MRI ( Magnetic Resonance imaging ).

MRI adalah pemeriksaan dengan memanfaatkan medan magnet dan gelombang radio. Sehingga struktur organ tubuh pasien bisa ditampilkan dan terbaca dengan komplet oleh dokter.

Tentu saja ini juga bermanfaat bagi pasien yang diduga ada kelianan di payudaranya, jantung, tulang belakang, telinga bagian dalam. Tak hanya itu untuk mendeteksi tumor dan stroke juga bisa memanfaatkan MRI.

Begitulah.

Selanjutnya sambil istirahat, saya telepon ke New Brain Clinic tempat dilaksanakan MRI di Jalan Flores Surabaya itu. Ternyata oleh petugas saya dijawalkan diperiksa ( foto ) hari Sabtu pagi.

Sementara itu surat pengantar, sampai hari H saya tidak berani membuka

Nah, sesuai jadwal yang ditentukan petugas, saya, istri dengan diantar anak segera berangkat.

Terus terang saya tidak mempersiapkan diri secara khusus. Karena memang tidak ada yang perlu dirisaukan. Yang penting saya harus siap dimasukan ke dalam alat besar mirip terowongan. Bismillah..! Kemudian syaratnya lagi pasien tidak memakai alat pacu jantung. Masih ada lagi. Yakni ketika diperiksa harus mengenakan sandal dan baju yang disediakan petugas di sana. Tak hanya itu, aksesori yang terbuat dari metal pun harus dilepas. Itu memang syarat mutlak. Karena ruangan pemeriksaan harus bebas dari barang barang logam.( bersambung )

Oleh: Koesnan Soekandar, wartawan senior di Surabaya.

Pewarta : Koesnan Soekandar
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda