Anies dan Demo Mahasiswa

Foto: Liputan6.com

COWASJP.COM – Jadi ingat NKK (normalisasi kehidupan kampus)/BKK era Orde Baru. (Kampus harus steril dari politik praktis).  Instrumen era Soeharto untuk membungkam daya kritis mahasiswa.  

Ingatan saya itu muncul setelah membaca berita : Menristekdikti M. Nasir mengancam rektor bila tak mampu mengendalikan demo mahasiswa. 

Apakah sama? Tentu beda. Menteri Nasir baru level mengancam sanksi. Sedangkan NKK/BKK sudah menjadi instrumen atau aturan baku yang membuat mahasiswa apatis politik. Tapi kesamaan keduanya ingin membungkam aksi demo.

NKK/BKK lahir di era Mendikbud Daoed Joesoef. 1978. Era marak demo mahasiswa seperti saat ini. Mahasiswa diberi kacamata kuda agar fokus belajar. Hanya belajar dan belajar. Gak usah turun ke jalan.

Kebijakan Daoed Joesoef ini terus berlanjut ke era menteri berikutnya. Bahkan, saya yang kuliah di akhir 80-an masih merasakan hawa apatis itu. Mahasiswa lebih banyak digrojoki seminar formal dan aktivitas musik di kampus.

Saya ingat, 1988, ketika sejumlah kawan demo di depan rektorat,  peserta hanya dihitung dengan jari. Sekitar 12 orang. Di antaranya Taufik SH ( Daniel T) yang kini  pengacara di Solo, juga Eko Sulistyo, kini Deputi Kantor Staf Presiden, Ahmad Nadir  (mantan Ketua DPRD Gresik), dan juga Wahyu Susilo, aktivis Migran Care. Demo usai, saya dan teman-teman diwawancarai intel yang jumlahnya lebih banyak dari demonstran.

Mungkin karena peserta segelintir, tak menimbulkan ribut, dan kali pertama di UNS, polisi yang berjaga-jaga tidak mengangkut kami untuk  'piknik' ke sel Polres dan Korem. Demo ini tetap menjadi sejarah di UNS, karena muncul di tengah apatisme. 

Walaupun pintu demo diperketat, membuat mahasiswa cari pintu lain. Itulah sebabnya saat itu marak Pers Kampus dan Study Club. Lewat kedua saluran ini aktivis kampus beraksi. Dan itu terjadi di semua kampus. Jaringan inilah yang membuat antarkampus terkoneksi jadi demo anti Orba. 

anies.jpgAnies Baswedan kini Gubernur DKI Jaya. (FOTO: tribunnews.com)

Koneksi pers kampus ini juga karena Orba mengkerdilkan organisasi intra kampus.  Organisasi Senat Mahasiswa hanya di level fakultas. Kebetulan saya juga jadi pengurus SEMA. Tidak ada di tingkat universitas. Dengan cara seperti ini, membuat mahasiswa terkotak di fakultasnya. Jadi jangan berharap ada pertemuan Presiden Mahasiswa antarkampus seperti era sekarang. 

Di awal 90 an, sejumlah kampus juga mulai muncul gerakan membentuk Senat dan Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat universitas. UGM, misalnya.
 
1992, Presiden Mahasiswa UGM saat itu Anies Baswedan yang kini menjadi gubernur Jakarta. Anies dan para aktivis  kampusnya,  mengadakan acara konsolidasi di Ambarawa, Jateng. Saya yang saat itu mahasiswa juga magang reporter mulai melihat sepakterjang Anies.

Jiwa kepemimpinan Anies sudah terlihat saat itu. Dalam beberapa kali diskusi dan wawancara dengannya, begitu bersemangat membangun gerakan mahasiswa lewat organisasi intra kampus. Mendobrak pengaruh NKK/BKK yang mengkerdilkan senat mahasiswa  tingkat universitas. Termasuk merancang komunikasi dengan kampus lain.

Awal 90 an di kampus lain juga muncul hal yang sama.  Muncul jaringan SEMA dan BEM antarkampus. Mereka mulai bergerak melawan pembungkaman yang dilakukan penguasa Orba.

Di sisi lain, jaringan mahasiswa yang muncul dari aktivis pers, organisasi ekstra kampus dan berbagai jaringan advokasi juga semakin besar dan kuat. Aktivis ini terkoneksi di luar jalur Sema/BEM. 

Dari sini lahir para aktivis seperti Budiman Sujatmiko. Dan, mereka juga menjadi penopang utama gerakan mahasiswa kala itu.

Walau berganti generasi, puncak dari berbagai gerakan itu, yakni tumbangnya Orde Baru.(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda