Rombongan Kabupaten Tabrauw Kunjungi Griya Sapu Lidi

Dapat Kenangan Gaun Spesial, Memborong Daur Ulangnya

COWASJP.COM“Ini kenang-kenangan yang tak ternilai harganya. Tidak bisa dinilai dengan rupiah ini,” kata Bu Kambuaya seraya melipat gaun putih hadiah dari Bank Sampah Griya Sapu Lidi. Segera ia masukkan gaun putih spesial tersebut ke dalam tasnya.

GAUN putih tersebut memang bukan sembarang gaun. Itu adalah gaun hasil kreasi Iin Istatik, bendahara Bank Sampah Griya Sapu Lidi. Gaun dibuat selama sekitar 15 menit. Yakni di sela-sela acara kunjungan lapangan rombongan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Kunjungan pada hari Kamis (12/9) itu diikuti oleh 20-an orang. Dipimpin langsung Kepala DLH Oscar Bame.

wan1.jpgIbu-ibu rombongan DLH Kab Tambrauw Papua Barat serius memperhatikan proses pembuatan gaun daur ulang yang disampaikan Tim Bank Sampah Griya Sapu Lidi.

Usai paparan mengenai mekanisme kerja pengelolaan sampah dengan sistem bank sampah, para tamu ditunjukin hasil kreasi daur ulang. Salah satunya gaun atau baju daur ulang dari tas kresek. Saat melihat baju yang sudah jadi, para tamu ingin melihat langsung proses pembuatannya. “Bagaimana itu plastik diseterika tidak lengket? Bisa dipraktikkan?” teriak beberapa ibu anggota rombongan.

Sekretaris Bank Sampah Griya Sapu Lidi Dyah Arbaatun pun mempraktikkan cara menyeterika plastik kresek. Dia mengambil beberapa plastik kresek dan kertas sampul. “Plastik yang akan kita buat lembaran, kita potong bagian bawah dan atasnya. Lalu kita lembarkan. Taruh kertas sampul atau kertas minyak di atasnya. Baru kita seterika hingga menyatu,” papar Dyah.

wan2.jpgSerius memperhatikan bahan plastik kresek yang disetrika untuk dibuat kerajinan daur ulang.

Lembaran ini bisa menjadi bahan dasar kerajinan. Bisa dibuat bunga. Bisa dibuat lukisan. Bisa dibuat baju. Semua tergantung kreativitas. Di Bank Sampah Griya Sapu Lidi ada contoh plastik kresek dibuat lukisan pepohonan, lukisan Arca Budha, dan kaligrafi. “Kalau di Tambrauw bisa dibuat gambar Cendrawasih atau Kasuari. Atau Penyu Belimbing,” sahut Sekretaris Dinas Anthon Titit.

Cendrawasih dan Kasuari hewan khas Papua Barat. Sedangkan Penyu Belimbing binatang khas Tambrauw. Gambar penyu ini dijadikan lambang kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Sorong Raya ini.

Saat Dyah Arbaatun menjelaskan dan mempraktikkan proses pembuatan bahan dasar plastik ini, Iin Istatik juga melakukan hal yang sama. Iin menyeterika plastik kresek putih. Lalu digabung-gabung membentuk pola baju. Semuanya dengan menggunakan setrika. Tidak dijahit. Jadilah gabungan kresek putih itu gaun putih dengan tali ikat di bagian belakang.

wan3.jpgBeberapa contoh produk daur ulang di Bank Sampah Griya Sapu Lidi.

Bu Kambuaya yang sejak awal begitu antusias soal pengelolaan sampah dan daur ulang terus memperhatikan. Ketika gaun tersebut selesai, ia langsung meminta untuk memakainya. Maka Istatik pun mengenakan gaun putih tersebut ke tubuh Kambuaya. Dengan berlagak seperti peragawati, perempuan ini pun bergaya di depan rekan-rekannya.

Kunjungan ke bank sampah yang pernah meraih Best of the Best Program DIY Green and Clean ini, merupakan rangkaian Bimbingan Teknis (Bimtek) pengelolaan sampah. Sehari sebelumnya mereka menjalani Bimtek di Hotel Abadi, Yogya. Materi diberikan oleh Erwan Widyarto.

Rombongan hadir ke Griya Sapu Lidi dengan bus. Berhenti di jalan utama perumahan Gumuk Indah, Sidoarum, Godean. Rombongan kemudian berjalan masuk ke gang mengarah ke bank sampah.

Begitu masuk lokasi bank sampah, rombongan disambut dengan kelompok musik kenthongan dari ibu-ibu anggota Bank Sampah Griya Sapu Lidi. Lagu “Rek Ayo Rek” dilantunkan selama rombongan berjalan menuju buku tamu dan mengambil makanan kecil. Beberapa anggota rombongan ikut menyanyi sembari membubuhkan nama di buku tamu.

“Luar biasa ini penyambutannya. Terima kasih bapak. Terima kasih ibu,” ujar Ramdhan dari Lembaga Kajian dan Kebijakan Pemerintah Indonesia (LK2PI) yang mengkoordinir rombongan ini.

wan4.jpgKedatangan tamu rombongan dari DLH Kab Tambrauw Papua Barat disambut musik kenthongan.

Tak hanya puas dengan sambutan maupun praktik daur ulang, anggota rombongan juga mengaku senang dengan sajian makan siangnya. Bobor daun kelor, oseng daun pepaya dengan tahu dan tempe goreng. Semuanya enak. Ayam rempahnya mereka juga suka. Terlihat beberapa di antaranya menambah makannya.

Saat makan ini, para tamu dihibur lagi dengan kelompok musik Kenthongan. Lagu “Pariwisata” mengalun mengiringi tamu melahap sayur tradisional khas Griya Sapu Lidi. 

Puas dengan materi pengelolaan sampah, juga puas dengan menu makan siang, rombongan pun memborong aneka produk daur ulang yang ditampilkan divisi daur ulang Bank Sampah Griya Sapu Lidi. Tas belanja dari bungkus sabun cuci, tikar anyam dari bungkus mi instan, tempat pensil dari kawul (sachet yang dirajang), bunga dari sendok plastik, kreasi kertas koran, dan lainnya terbang ke Tabrauw.

wan5.jpgKetua RW 26 Yudi Trihatmanto memberikan sambutan pada tamu dari Kab Tambrauw Papua Barat.

Sambutan dari Ketua RW 26 Yudi Trihatmanto sepertinya benar-benar dilaksanakan. Waktu itu, dengan bercanda Yudi meminta agar para tamu menyerap semua ilmu yang diberikan, lalu menikmati suasana selama di Jogja dan menghabiskan uang saku untuk membeli oleh-oleh. 

Kehadiran tamu yang puas dengan materi pelatihan maupun menu makanan tak hanya sekali ini terjadi. “Alhamdulillah, semua tamu merasa puas sehingga kesan terhadap Griya Sapu Lidi tidak hilang begitu saja. Banyak tamu yang hadir, masih terus menjalin komunikasi selepas bertamu dari sini. Prinsip kami memang memuliakan tamu,” tandas Dyah Arbaatun. (*)

Pewarta : Erwan Widyarto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda