Polosin Dan Timnas

Anatoli Polosin, pelatih hebat Timnas SEA Games 1991 yang sukses. (FOTO: indosport.com)

COWASJP.COM – Ini adalah starting paling menyakitkan dari Timnas Indonesia sepanjang sejarah. Dua kekalahan beruntun di Pra Piala Dunia kali ini  membuat kita kecewa berlapis-lapis.

Kecewa pertama, kekalahannya di Stadion Gelora Bung Karno, stadion yang semestinya dijaga kehormatannya. Sebagai tuan rumah, peluang menang seharusnya lebih besar. Penonton dan spirit sudah jadi modal tambahan.

Timnas.jpgTimnas Indonesia yang sukses merebut medali emas SEA Games 1991. (FOTO: bolasport.com)

Kecewa kedua, kalah dari musuh bebuyutan. Takluk 2-3 dari Malaysia dan 0-3 dari Thailand. Keduanya rival abadi, yang kalau kita menang senangnya minta ampun, kalau kalah sakitnya sampai ke ulu hati. Kalah dari Korsel atau Jepang tak sesakit ini.

Kecewa ketiga,  penampilan Timnas yang jauh dari memuaskan.  Fisik cepat merosot. Teknis? Haa..yang nonton langsung di GBK dan di televisi sama sama marah dan kecewa. Medsos pun menjadi asbak kemarahan. Suara agar pelatih Simon McMenemy out, langsung menggema.

Lemahnya fisik yang semestinya menjadi sorotan utama. Sering kalah duel. Gol ketiga Malaysia di menit-menit akhir bukti fisik tak memadai. Fisik lemah, konsentrasi hilang. Dengan mudah penyerang lawan menyusup di antara bek untuk menceplos gol.

Bicara  fisik ini, saya jadi ingat Anatoli Polosin. Pelatih asal Rusia. Dia membesut Timnas yang sukses meraih emas SEA Games 1991 di Manila. Setelah melihat fisik pemain yang payah dia langsung memutuskan latihan fisik selama tiga bulan full.

Tiga bulan itu tak pernah menyentuh bola. Materinya drill fisik. Begitu kerasnya banyak pemain mundur. Pemain top seperti Fachry Husaini, Ansyari Lubis dan Eryono Kasiha cabut. 

Tapi efeknya luar biasa. VO2MAX mendekati pemain Eropa. Setelah fisik beres barulah diasah skill bolanya.

Dengan fisik prima pemain bermain bisa konsentrasi penuh hingga menit akhir. Taktik dan strategi baru bisa jalan.  Anak asuhan Polosin saat itu menang adu penalti di semifinal melawan Singapura dan final lawan Thailand. Kebugaran amat menentukan dalam adu penalti. Letih, dengkul pun bisa gemetar saat menendang. Dan mental bisa down.....

Saya bertahun-tahun dulu meliput di PSSI jadi ingat pesan Pelatih Danurwindo saat itu : kalau fisik sudah merosot, antara otak dan kaki udah ga nyambung. Ingin passing jauh kepada kawan, apadaya bola tak nyampe... Nah, itulah yang terjadi di Timnas saat ini.  (*)

Oleh: Taufik Lamade, mantan Redaktur Pelaksana Jawa Pos.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda