Biarkan Esemka Dikoreksi Pasar

Taufik Lamade (kanan, penulis) dan Wakil Bupati Sumbawa, Mahmud Abdullah. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Jokowi dan Esemka, dua hal saling menguntungkan. Jokowi yang memperkenalkan Esemka, di sisi lain Esemka ikut punya andil menjadikan Jokowi tokoh nasional. Esemka pun menjadi pro dan kontra tak bertepi. 

Well, tulisan ini tidak membahas ajang politik itu.

Saya ingin membicarakan prospek bisnis dan keberlanjutan mobil yang pabriknya di Boyolali itu. 

Kita harus membiarkan Esemka menjadi industri sesungguhnya. Industri yang besar melewati hukum pasar. Biarkan Esemka bertarung dengan brand yang sudah duluan agar berdiri dengan akar yang kuat, sehingga siapa yang bekuasa dia tetap berjalan.

Esemka juga bukan BUMN, sehingga pemerintah tak ada kewajiban membesarkan. Tak perlu pemerintah menjadi 'sales' sehingga mendorong pihak lain untuk memborongnya. Apalagi membuat proyek tertentu yang ujung ujannya didesain menampung Esemka. 
Atau membuat keringanan pajak yang merugikan negara.

Kalau pemerintah memberikan fasilitas istimewa, isu politik tak akan berhenti. Saya yakin tak bersaing di pasar sehat. Bisa-bisa seperti Mobil Timor yang hilang seiring jatuhnya Orde Baru.

TAUFIQ1.jpgMobil pick-up Esemka buatan Boyolali. (FOTO: tempo.co)

Esemka harus mampu meyakinkan pembeli, bahwa : membeli Esemka Bima lebih menguntungkan dari Suzuki Carry atau Grandmax Pikup. Tidak perlu mengorganisir pelaku UKM untuk memborongnya. Toh, kalau memang kompetitif, konsumen yang memburu.

Saat ini persaingan pasar mobil berat. Tentu juga akan masuk mobil penumpang  segmen menengah ke bawah. Ada LCGC mobil murah ramah lingkungan yang sdh mapan seperti Toyota Agya, Daihatsu Sigra, Brio Setya dan lain-lain. Belum lagi mobil China seperti Wuling dan DFSK yang mulai banyak wira-wiri di jalan. Mungkin kalau Esemka terjun ke pasar lima atau tujuh tahun lalu, saat mulai dikenal, pasarnya tidak seberat sekarang...

Yah, Esemka harus berdarah darah di pasar yang sesak. Harus mengikuti aturan seperti yang lain. Kalau hidupnya mengandalkan Patron, umurnya bakal seumur rezim. Padahal, kalau sebagai industri harus bertahan ratusan tahun, bukan lima tahun. Ambruk pun biar karena pasar yang men-delete-nya.(*)

Oleh: Taufik Lamade, mantan Redaktur Pelaksana Jawa Pos

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda