JP, Tofan Mahdi dan Buku

Antara Hidup untuk Menulis dan Menulis untuk Hidup

Tofan Mahdi dan penulis (Letkol Laut Dr Hisnindarsyah). (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Sepertinya, hari hariku saat ini, penuh dengan reuni. Contohnya hari ini (Kamis 5 September 2019). Hari nostalgia, hari reuni , hari mengenang duapuluh dua tahun yang lalu.

Ketika menjadi penulis lepas di beberapa media. Salah satunya Jawa Pos ( JP). 

Mas Tofan Mahdi, sahabat pena di FB, akhirnya datang berkunjung. Seperti membawa pesan dari  langit, mas TM seolah menyapa dengan sebuah buku. Hasil karyanya. Kumpulan tulisan sejak tahun 2009. Mengelana di berbagai penjuru dunia. Pesan yang dibawa untukku, tak jauh dari judul buku yang  tulisnya. "Pena Di Atas Langit". 

Hari ini, waktu bagai  diputar pada duapuluh dua  tahun yang lalu.

Kami bertemu dan berkumpul di sebuah media cetak yang sedang terus "naik daun" pamornya. Bedanya, beliau adalah jurnalis, wartawan dan penulis. Sedangkan aku adalah pembaca yang sedang gemar menulis di Jawa Pos. Sebagai penulis lepas asli. 

Penulis lepas beneran. Karena dari sepuluh tulisan, hanya satu yang tayang. Yang lain lepas, alias lenyap tak tertayang di koran. Hahaha.

Sebagai penulis, mas TM dan aku , pasti beda kualitasnya. Seperti pameo: antara yang hidup untuk menulis. Dengan yang menulis  untuk hidup. Pastilah, passion, semangat juga nyalinya beda. 

Ada yang dengan menulis, hidup terasa lebih hidup. Karena menulis  merupakan  dorongan jiwa. Jika tidak menulis, jiwa jadi sepi dan mati. Ada yang menulis untuk hidup. Jika tidak menulis, tidak bisa hidup  alias sesuap nasinya, tergantung dari tulisan hari ini hahaha. 

Aku awalnya termasuk golongan yang pertama, menulis untuk merasakan arti hidup. Tapi lama-lama, aku menulis demi wessel untuk hidup wkwkwk. Berawal dari menulis dan kehidupan inilah,  banyak mahaguru dan jurnalis yang aku kenal. Termasuk di Jawa Pos. 

Sebetulnya, ikatan batinku dengan para wartawan, diawali sejak di Makassar. 

Melalui dua harian besar masa itu:  Harian Pedoman Rakyat dan Harian Fajar. 

Di Harian Fajar, aku menyambung hidup lewat honor dari pena. Pak Alwi Hamu dan Pak Chaidir Amin Daud, yang memberi kesempatan buatku, saat jadi mahasiswa di FK Unhas Makassar. Mengisi kolom dan catatan pinggir. Bahkan , catatan pinggirku, di koran Fajar dan PR, sempat dibuat jadi buku.

"Masyarakat Pinggiran" judulnya. Dibedah oleh Sahabatku yang sudah doktoral Phd, dr Sudirman H. Nasir dan budayawan Ishak Ngeljaratan. Sedangkan tempat diskusinya di Harian Fajar, Racing Center tahun 1996. 

Itulah buku pertamaku. Dan persentuhanku dengan media. Juga dengan wartawan.

fan.jpgLetkol Laut Dr Hisnindarsyah (penulis, paling), Tofan Mahdi (tengah). (FOTO: istimewa)

Sehingga ketika aku ke Surabaya, aku merapat ke induk harian Fajar: Jawa Pos. Mulai tahun 1997, aku mulai coba menulis di kolom JP. Susah banget tembusnya. Karena susah tembus, aku berkenalan dan belajar pada senior yang ada di redaksi. Ibu Nany Wijaya, Pak Arif Afandi, Pak Dhimam Abror, Pak Ali Murtadlo, Pak Yamin Ahmad adalah beberapa yang tulisannya selalu aku jadikan rujukan. Menggali ilmu, membagi berita dan cerita. 

Juga ada wartawan muda yang luar biasa: Mas Kum (Kurniawan Muhammad), Imam Syafii yang kini jadi anggota DPR Kota Surabaya. Juga mas Tofan Mahdi. Saat itu mereka masih belia, seperti diriku. Masih pada ganteng dan langsing hehehe. Saat itu aku berpangkat  letnan satu dan baru lulus dokter.

Dewan Pembaca Jawa Pos (DP JP) adalah bejananya. Untuk mengaduk visi pembaca, dengan keinginan penulis. Disejajarkan dengan target media. Moment pertemuan DP JP, saat itu, adalah moment Tabayyun, saling klarifikasi. Tentang berita-berita dan issue yang sedang berkembang. Disaring, difiltrasi,  dicari solusi terbaik, baru disampaikan ke publik. Sehingga semua berita, bisa dipertanggungjawabkan. Karena melibatkan pembaca, untuk menentukan berita apa yang layak dikonsumsi pembaca. 

Dengan cara ini, hoax dan berita tidak jelas, difilter dan diklarifikasi. Luar biasa.

Dan hari ini, aku bertemu dengan tokoh luar biasa, yang ikut di sana. Mas Tofan Mahdi. Dalam posisi yang sudah tidak di media JP. Tapi masih tetap berkutat di bidang humas dan PR . Tentunya dengan tugas tanggung jawab yang lebih luas. 

Mas Tofan Mahdi saat ini sebagai Vice President  PT Astra Agro Lestari. Yang membawa beliau, untuk lebih paham tentang persawitan. Lebih tahu tentang perkebunan. Tentang politik ketahanan pangan. Tentang manajemen industri perkebunan. Dan yang pasti, membuat beliau melanglang hampir ke seluruh penjuru dunia. Sehingga lahir buku "Pena di Atas langit" . Luar biasa.

Luar biasa terutama, bukan hanya tentang isi buku dan pengalamannya selama ini.

Tapi kerendahan hatinya, untuk datang, bersilaturahmi pada seorang sahabat lama. Itu luar biasa

Tentang kesabaran untuk menjadi pendengar, dari aku yang sibuk bercerita tentang diriku. Sehingga lupa menanyakan keluarganya di mana tinggal serta mengajaknya makan siang.

Tentang kesediaanya membawakan lima buku hasil karyanya, cuma-cuma. 

Dengan mengantarkannya sendiri. Tanpa sibuk dengan aturan siapa senior atau yunior. 

Tentang kesediaanya, berdoa, untuk langgengnya silaturahmi kita.

Itu sungguh-sungguh luar biasa.

Terimakasih datangnya sahabatku, konco lawasku: Mas Tofan Mahdi.

Teruslah bekerja dan menulis.

Dan jadikan tulisan sebagai jembatan doa terbaik bagi masa depan bangsa.

Yang menyambungkan setiap kata-katanya, dengan penghuni langit dan semesta.

Sebagaimana judul buku yang dipilih: "Pena di Atas Langit.

Sukses luar biasa dalam tulisan dan doa.(*)

Cilandak bumi petarung 05.09.2019.jam 17.00

‚ÄčOleh: Letkol Laut Dr Hisnindarsyah (Kepala Satuan Pengawasan RS Marinir Cilandak Jakarta)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda