Silvia, Wanita Italia (2-Habis)

Bonek ke Indonesia

COWASJP.COM – Dalam perjalanan pulang dari Jember ke Surabaya dua hari lalu, Silvia, bule Italia yang gue kenal di Bandara Juanda, tiba tiba mengirimkan fotonya di Bromo. Mungkin saking senangnya karena akhirnya dia bisa sampai ke sana. Sendirian, dengan bekal nekad alias Bonek (bondho nekad) dan bahasa Inggris seadanya. 

BACA JUGA: Pingin Menikmati Indahnya Bromo‚Äč

Sepanjang jalan menuju Probolinggo, Silvia sempat cerita kalau dia suka wisata trekking. Itu sebabnya dia pengen banget ke Bromo dan Kawah Ijen. Dua tempat itu adalah obsesinya sejak 3 tahun lalu. Padahal untuk sampai ke Bromo, Silvia harus menempuh perjalanan panjang 13-14 jam dari Roma ke Singapura, transit 1 malam, lalu lanjut lagi ke Jakarta, transit 1/2 malam, sampai akhirnya kami kenalan di Juanda. Sepanjang 2 hari itu dia tidak tidur.

Indonesia adalah negara Asia pertama yang dikunjungi Silvia, karena selama ini dia lebih banyak traveling ke Amerika Selatan. Kendala bahasa menjadi alasan Silvia kenapa baru sekarang dia ke Asia. Silvia mengaku bahasa Inggrisnya jelek, aksen Italianya terlalu kuat. Dia takut tidak bisa berkomunikasi. Hal yang sama pernah jadi beban pikiran saya, ketika pertama kali akan solo traveling ke China daratan, sekitar tahun 1999. Takut nyasar, takut susah makan dan lain lain. 

silvi-bromo1.jpgSilvia selfie di keindahan alam Bromo. (FOTO: Silvia)

Di China ada banyak bahasa. Walaupun Mandarin adalah bahasa nasional, tapi banyak juga orang Tiongkok yang tidak bisa berbahasa Mandarin, terutama di pelosok yang masih menggunakan bahasa daerah. Yang bisa kita lakukan adalah menunjukkan tulisan. Uniknya di China, meskipun mereka tidak bisa berbahasa Mandarin tapi mereka menggunakan 1 tulisan. Tulisan yang sama akan dibaca dengan bahasa masing-masing dan artinya sama. Saat kuliah di Surabaya, saya memang nyambi kursus bahasa Mandarin, selain Inggris dan Jepang. Dalam seminggu, 5 hari saya kursus di tempat yang berbeda beda. 

Tapi dalam urusan traveling, bahasa tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak bepergian. Justru kesasar dan tidak bisa berkomunikasi dengan warga lokal adalah bagian traveling yang tidak akan terlupakan. 
Saya pernah ke Golden Triangle di Thailand Utara, masuk ke Laos dengan naik getek (rakit) menyeberangi sungai Mekong yang katanya banyak ikan buasnya. Melintasi Myanmar lewat jalur darat, hingga masuk ke perbatasan China. 

silvi-bromo.jpg

Kalau pernah nonton film ‘Operation Mekong,’ nah saya ada di tempat persis di lokasi film itu. Termasuk ke perkebunan Opium terbesar di Asia. Kawasan Golden Triangle adalah wilayah pertemuan empat negara dengan bahasa daerah yang saya tidak mengerti sama sekali, dan tidak satu pun warga lokal di sana yang bisa berbahasa Inggris. 

Solo Traveling memang butuh modal nekad dengan uang pas-pasan. Kalau kita traveling dengan membawa banyak uang, ATM dan lain lain, itu namanya melancong, datang, foto foto, terus pulang, tidak membawa apa-apa selain foto. Traveling butuh interaksi dengan warga setempat dan berkenalan dengan sesama orang asing di negara orang. Jalan kaki sampai sepatu rusak, naik turun angkutan umum, tidur dalam kereta dan bus pada malam hari untuk menghemat biaya penginapan dan hanya bisa senyum sana senyum sini. Tantangannya di situ, tapi nikmatnya sulit diceritakan.

andi-bromo.jpgMenyaksikan pesona ufuk timur saat sang surya terbit. (FOTO: istimewa)

Ketika melihat Silvia kesulitan di Juanda, perasaan senasib pernah seperti dia menggiring gue ngajak kenalan. Hal-hal kecil seperti ini akan kita temui ketika kita melakukan solo traveling. Rasanya tuh senang banget, ketemu orang yang bisa diajak ngobrol, syukur-syukur bisa nunjukin jalan supaya nggak ketipu sama calo-calo angkutan yang banyak bertebaran di Terminal Probolinggo. Membuat wisatawan nyasar dan seolah kesulitan ke tempat tujuan adalah trik mereka untuk mendapatkan uang. Mereka tidak paham, bahwa kami bukan turis yang mau membayar sebuah harga kemudahan. Buat kami, kalau tidak ada angkot, jalan kaki pun oke.

Enjoy your next trek Silvia, dan selamat menikmati Indonesian Food. Minggu depan Silvia akan menutup perjalanannya di Bali dengan party dan menikmati spa di Ubud, sebelum berangkat ke Tokyo dan kembali ke Italia. Suatu saat Silvia pasti akan kembali ke Indonesia karena makanan dan keramahannya...!!!(*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda