Silvia, Wanita Italia (1)

Pingin Menikmati Indahnya Bromo

Ilustrasi: Indahnya Gunung Bromo. Foto: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia

COWASJP.COM – Tadi pagi di Bandara Juanda, gue kenalan dengan turis bule perempuan dari Italia. Namanya Silvia, umurnya sekitar 30an tahun. 

Dia membawa buku catatan rute perjalanannya: naik apa, turun di mana semua dia catat. Dan dia cukup menunjukkan tulisan itu ke orang yang dia tanya. 

Kebetulan tadi kami sama-sama naik bus Damri dengan tujuan ke Terminal Bungurasih. Dia menunjukkan tulisan di bukunya pada sopir Bus Damri itu. Lalu disuruh naik. Dia duduk di depan, gue yang tadinya duduk di tengah, lalu pindah ke depan dekat bule itu. 

Gue di belakang sopir, dia di deretan seat sebelah kiri gue.

Dari cara berbicaranya bule ini rupanya kurang bisa berbahasa Inggris dengan baik. Mungkin itu sebabnya dia membawa catatan-catatan yang akan ditunjukkan ketika dia bertanya. 

Gue pun memperkenalkan diri, dan tanya dia dari mana dan mau ke mana. Dugaan gue benar, dia mau ke Bromo. Dia akhirnya cerita, kalau mau naik bus ke Probolinggo dari Bungurasih. 

Gue jelasin perjalanan dari sini ke Probolinggo sekian jam, turun di Terminal Bayu Angga. Lalu naik bus kecil ke Cemoro Lawang. Ternyata semua sama persis dengan catatannya.

Sepanjang perjalanan dari Juanda ke Terminal Bungurasih, kami ngobrol. Agak susah gue nangkap apa yang dia ucapkan karena bahasa Italia gue kacau balau, dan bahasa Inggris dia juga amburadul. Susah connect-nya, ditambah pula logat Italianya yang medok banget. Semua kata yang dia ucapkan ujungnya pasti ditambah huruf e. Bus mini diucapin sama dia menjadi mini basse’, basse terminalle. Tapi gue ngerti maksud dan tujuannya. 

Silvia tinggal di sebuah kota kecil sekitar 1,5 jam dari Venice, adalah penghasil wine dan madu di Italia. Gue nggak dengar jelas nama kotanya. 

Andi-Athira-2.jpgSilvia, wanita Italia yang wisata sendirian di Jawa Timur. (FOTO: Istimewa)

Silvia traveling sendirian dari Italia. Gue salut sama orang-orang solo traveler seperti Silvia, karena gue pernah seperti dia dan gue menikmati banget. Rasanya tersesat di tempat baru dengan bahasa yang tidak dipahami sama sekali. 

Indonesia adalah negara pertama di Asia yang dia kunjungi untuk liburan selama 2 minggu. Sebelumnya dia hanya transit semalam di Singapura, dan setengah malam di Jakarta. Jadi sebenarnya tadi tuh gue satu pesawat sama dia. Cuma nggak ketemu. 

Gue tanya kenapa lo gak langsung dari Singapura ke Surabaya. Katanya waktu gue pesan tiket, transit Jakarta lebih murah. Bener juga karena di Indonesia memang lagi long weekend.

Selama perjalanan di bus, gue jelasin segala hal tentang Indonesia, harga makanan, transportasi, biaya hidup dan lain lain. Gue jelasin karakter orang Indonesia, especially Jawa Timur. 

Gue bilang elo gak perlu takut selama di Jawa Timur, mereka bicara too loud, tapi hatinya baik dan akan nolongin elo. Silvia senang banget, katanya berasa dapat private tour guide. Sampai di Bungurasih, gue ajak dia naik bus bareng, karena rutenya sama, bus ke Jember pasti mampir Probolinggo. Sepanjang jalan dia cerita banyak hal, dua hari belum tidur, dan satu jam akhir sebelum tiba di Probolinggo dia tertidur pulas.

Sampai di Probolinggo, bus berhenti 10 menit di terminal. Gue bantu Silvia turun dan cariin mini bus. Orang sini (Probolinggo) menyebutnya Bison. Di jalan kami sudah dihadang oleh calo yang fasih banget berbahasa Inggris, dia menawarkan sewa mobil sendiri, pastinya dengan harga lumayan mahal, Silvia nggak mau tetap mau naik bus seperti catatannya. 

Gue antar dia sampai ke ruang tunggu Bison yang akan ke Cemoro Lawang. Sebelum gue tinggalin, Silvia tiba-tiba minta nomor hape gue. Katanya ‘i think we need to keep in touch’ siapa tau nanti gue butuh bantuan. Dia yang tadinya sedikit takut dan nervous dengan suasana baru, akhirnya mulai sedikit rilex. Kami pun berpisah. Gue lanjut perjalanan ke Jember. Baru juga gue naik bus, dia kirim WA ngucapin makasih.

Dalam perjalanan ke Jember, gue tetap WA dia untuk memastikan dia tiba di Cemoro Lawang dengan selamat, nggak dipalak orang. Gue bilang kalau dipalakin di jalan lo telpon gue aja nanti, biar keluar bahasa Madura dan Jawa Timuran gue. Supaya mereka tau kalau gue juga orang Italia ahahaha. Pokoknya lo bayar Bison itu 30.000 per orang. Setiba di Jember gue kirim WA lagi ke Silvia, lama banget dibalasnya, tapi gue mikir mungkin dia lagi ribet dengan dua ransel depan belakang bawaannya yang hampir segede badannya itu. Menjelang malam dia baru balas WA gue kalau everything is oke di sana.

Dari yang gue dengar, setelah dari Bromo, Silvia akan melanjutkan perjalanannya naik kereta api ke Banyuwangi lanjut ke Kawah Ijen, baliknya dia ke Bali beberapa hari, lalu nyeberang naik ferry ke Lombok, lalu balik ke Bali lagi. 

Nah kedua kalinya di Bali dia akan ke Ubud dan kumpul kembali dengan teman-temannya yang berangkat sama-sama dari Italia tapi beda rute traveling alias berpencar. Bali adalah tempat mereka berjanji untuk bertemu. Setelah beberapa hari di Bali, Silvia akan terbang langsung ke Tokyo, sebelum kembali ke negaranya. 

Gue sering terbantu oleh orang asing ketika lagi di negara orang, makanya gue sering bantu juga kalau ada orang seperti si Silvia ini. Gue berasa senasib. Gue pernah merasakan apa yang dia lakuin saat ini. Dan.... Paling tidak setelah pulang dari Indonesia, dia mendapat kesan baik tentang orang Indonesia, dari hal kecil yang bisa kita lakukan. Welcome to Indonesia. Enjoy Your trip Silvia.

Arrivederci....!!! (*)

Pewarta : Andi Atthira
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda