Memorandum Dulu (3)

Trial & Error'

Wajah Uha Bahaudin yang sekarang. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Sebelum masuk seri 3 tulisan Uha Bahaudin, rasanya perlu menyimak pesan Suprianto. Mantan atasan Uha Bahaudin di koran Memorandum.

Pak Pri - sapaan Pemimpin Perusahaan Memorandum: Suprianto. Beliau mengikuti dengan seksama tulisan Uha.

UhaBahaudin-2.jpgSuprianto, mantan Pemimpin Perusahaan koran Memorandum. (FOTO: istimewa)

Awalnya, kata Pak Pri, Memo (nama populer koran Memorandum) adalah koran tidak laku. Awal 1990-an silam. Gajian pegawai tidak tentu, terbeban utang percetakan, utang pajak.  

Tapi kemudian Memo bisa melesat begitu cepat.

Kenangan masa lalu. Di balik sukses Memo sampai oplah 90.000 eksemplar per hari. Dengan pembayaran agen tercepat. Dibayar tiap tiga hari sekali.  Dikelola para Marketer handal. 

Gus Ridwan di balik layar. Bergetar hati saya membaca tulisan Uha Bahaudin. Seakan pingin berjuang lagi untuk sebuah koran. 

Uha bisa ceritakan bagaimana mengelola Agen, yang pada waktu itu sangat disibukkan dengan Jawa Pos dan Surya.

Bila kita kalah momentum dalam pemberitaan, Agen kita ajak pergi, dengan 10 Bus Executive ke Batu. Kita ajak panen apel bawang. Pokoknya harus bisa merebut simpati para agen.

Sebenarnya, lanjut Pak Pri, lebih dahsyat lagi kalau bercerita Marketing Jawa Pos. Bagaimana merebut Solo, Banjarmasin, Makasar dan lain-lain. Tapi jangan saya yang nulis.

Kunci sukses Memorandum adalah  istiqomah pada segmentasi pasar. Korane tukang sayur, tukang becak, tukang batu dan lain-lain.  

Pokoknya kelas bawah. Dulu ada operasi di pasar sayur, sopir bemo dan lain-lain.

Ini saya tulis untuk mengingatkan  Uha agar tulisannya yang berikut lebih baik dan komplit.

Inilah seri ke-3 tulisan Uha Bahaudin:

 

TIDAK terima hati saya disebut pasar burung Bratang belum ada koran Memorandum-nya. 

 

Paginya. Saya tongkrongi. 

Saya tunggu. Siapa pengasong yang masuk ke pasar ini. 

Pukul 10.00. Asongan datang. Pake rompi Jawa Pos. 

Saya tahu. Bahkan kenal akrab. Panggilannya Pras.

Sering minta rokok, bila pagi ketemu di Agen Kamto Bilka Ngagel. Saat ambil koran. 

"Bawa koran Memo berapa kamu?" tanya saya. 

"Limo pak, ngisi langganan thok" jawab Pras, asongan koran.

Dia senyum. 

Matanya melirik cepat ke arah tangan saya. 

Korek api. Mungkin begitu, pikirnya. 

"Jik onok (masih ada rokok) Djarume, pak" tanyanya meminta. 

"Rokokku ganti saiki (Rokok saya ganti sekarang). Bokormas," jawabku guyon. 

"Opo iku?" tanya Pras, penasaran. 

"Bondho korek thok, mas," jawabku. 

Ia tertawa. Ngakak. 

Saya sodorkan rokok. Sebatang. Saya sulutkan. 

Giliran saya. Nekan. 

"Besok memo ne (nya) tambahi. Sepuluh," kataku. 

"Wakehe (banyak kali), pak" jawabnya. Keberatan. 

"Tak wehi (saya beri) topi Memo, apik. Topimu elek (jelek)," rayuku. 

Wajahnya girang. 

"Iyo pak. Tapi Memo ne gak oleh mbalik jare (Memo-nya tidak boleh kembali kata) Pak Kamto," jawabnya.

Saya paham. Agennya nge sub. Ambil di Bursa Koran, Pahlawan. 

Bila saya dirikan agen lagi. Pasti ada yang protes ke kantor. 

Besoknya. Pagi pagi. Saya kirimkan ke rumahnya di Menur Pumpungan. 

Saya minta setelah jualan koran, bagikan Memo-nya dulu ke pedagang burung. 

Tunggu sejam dua jam, biar lungset dibaca dulu. 

Setelah itu ditagih. Kalau gak mau bayar. Jarno sik (Biarkan dulu). 

Ternyata ada yang bayar. Satu orang. 

Satu bulan. Saya  paksa terus. 

Banyak yang bayar. Bahkan minta dikirim pagi. 

Saya tinggal persiapan mendirikan agen khusus Memo di wilayah itu. 

ISU AYAM KAMPUS

Juga melakukan hal yang sama di beberapa kecamatan di wilayah pemasaran saya. 

Untungnya, Redaksi pada Lapsus-nya (berita laporan khusus) tiap minggu sedang mengangkat isu Ayam Kampus. 

Saat itu Korlip (koordinator liputan) nya Jupri Yus. Kalo tak salah. 

Laporan investigasi dari beberapa kampus, dikupas bergantian. 

Yang membuat laris. Saat lapsus Ayam Kampus di salah satu perguruan tinggj kawasan Semolowaru. 

Lelaki hidung belang, dalam lapsus itu,  biasanya menggerakkan wiper kaca depan mobilnya. 

Sebagai tanda atau kode pada Ayam Kampus yang menunggu mangsa. 

Maklum, waktu itu belum ada istilah booking online. 

Apalagi mi chat. 

Lapsus ini, ternyata banyak yang baca. 

Banyak warga dan mahasiswa, yang melintas di jalan Semolowaru, terheran-heran melihat mobil mobil berhenti pinggir jalan. Dan menggerakkan wiper kaca depan.

"Padahal gak udan (nggak hujan) loh pak," ujar beberapa warga. Melihat gejala para pemilik mobil. (bersambung)

Pewarta : Uha Bahaudin
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda