Konsisten dalam meperjuangkan Tauhid: Teladan dari Nabi Ibrahim A.S

COWASJP.COM – Pagi hari yang indah ini kita berkumpul atas rahmat Allah swt di tempat yang mubarokah ini untuk melaksanakan Shalat Idul Adha dan nanti dilanjut dengan penyembelihan hewan kurban.

Hari ini 10 dzulhijjah lima juta umat manusia melaksanakan pertemuan besar, muktamar akbar, konferensi raksasa, di tanah suci untuk melaksanakan ritual ibadah haji. Kemarin tanggal 9 Dzulhijjah empat juta orang itu berkumpul menjadi satu untuk wukuf di Arofah.

Inilah momen tahunan terbesar umat Islam yang menjadi pertemuan rutin terbesar di dunia mengalahkan kongregasi-kongregasi yang dilakukan oleh umat beragama lain yang manapun. 

Misa natal di Vatikan tiap tahun diikuti sekitar 10 ribu orang. Festival besar sungai Gangga diklaim terbesar di dunia dengan jumlah peserta 100 juta orang, tapi festival itu dilaksanakan 12 tahun sekali, sedangkan haji dilaksanakan setiap tahun selama ratusan tahun tak pernah putus.

Salah satu hikmah terbesar yang bisa kita petik dari pelaksaan haji adalah menapak tilas perjalanan spritual nabi Ibrahim a.s yang dikenal sebagai "Bapak Tauhid" atau bapak monoteisme, bapak dua nabi Ishaq dan Ismail yang melahirkan dua bangsa yaitu Yahudi dan Arab. Dari nabi Ibrahim kemudian lahir tiga agama dunia Yahudi, Nasrani, dan Islam, tiga agama itu secara universal diakui sebagai agama Ibrahemic atau agama Samawi yang didasarkan wahyu yang turun dari langit.

Ahli-ahli sosiologi agama bersepakat bahwa nabi Ibrahim sebagai kakek moyang dari para nabi itu adalah "the father of monotheism" bapak monoteisme, bapak tauhid. Agama yang dibawa dan diajarkan kepada kaumnya dan kemudian diwariskan kepada anak turunnya adalah agama tauhid agama yang mengesakan tuhan Allah swt.

Yahudi, Nasrani, dan Islam adalah agama serumpun, satu nenek moyang Ibrahim. Nabi Musa membawa ajarannya untuk bangsa Israel di Mesir pada zamannya. Nabi isa membawa ajarannya di Palestina pada zamannya. Semua berasal dari wahyu Allah dengan perintah tunggal menyembah Allah dan tidak menyekutukannya (tauhid).

Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad saw untuk seluruh umat manusia. Nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir tidak ada lagi nabi setelahnya. Para pengikut agama Yahudi dan Nasrani sudah mengetahui akan datangnya nabi akhir zaman, tetapi persoalan muncul karena nabi terakhir bukan lahir dari kalangan mereka tapi dari Arab. 

ror2.jpg

Yahudi dan Nasrani mengakui Muhammad saw sebagai nabi terakhir tetapi terjadi saling klaim kebenaran sehingga menimbulkan pelbagai konflik sosial-politik sampai sekarang. Inilah yang menjadi inti persoalan yang terjadi di seluruh dunia yang imbasnya kita rasakan terjadi di negara kita sampai sekarang. Umat Islam terpecah belah dengan berbagai cara supaya tidak bersatu.

Timur Tengah yang menjadi pusat peradaban Islam terus-menerus akan diganggu dengan berbagai persoalan. Masalah Palestina akan terus menjadi pusat pergolakan antara Islam vs kekuatan diluar Islam.

Di dunia internasional kekuatan kapitalisme-liberalisme Amerika tetap dominan, sistem ekonomi ribawi dan sistem politik sekuler masih merajai.
Cina mungkin akan bisa mengambil alih kekuasaan Amerika tapi itu juga hanya sementara karena komunisme lebih buruk dari kapitalisme-beralisme. 

Selanjutnya Islam yang akan menguasai dunia. Apakah Islam sudah siap? Islam pernah menjadi penguasa dunia pada abad ke-7 sampai 14, seharunya Islam bisa merebut kembali kejayaan itu.

Persoalan Islam di Indonesia tidak bisa lepas dari persoalan internasional karena menjadi ajang perebutan antara Amerika dan Cina. Umat Islam dipecah belah supaya tidak bisa bersatu sejak pemilu 1955 Islam tidak lebih dari 45 persen suaranya.

Padahal katanya mayoritas. Pada kemana suaranya? Prof. Kuntowijoyo membagi Islam di Indonesia menjadi dua: Islam yang mempunyai masjid dan Islam yang tidak mempunyai masjid, perbandingannya 45 dan 55 persen. Inilah sebabnya mengapa minoritas yang 7 persen bisa mengendalikan Islam.

ror.jpg

Bagaimana solusi persoalan ini? Kembali ke masjid. Kembali kepada ajaran Rasulullah, kembali kepada tauhid Ibrahim a.s.

Teladan dari Ibrahim a.s: 

Keikhlasan, kepatuhan, ketaatan kepada Allah swt total dan tulus, konsisten: 

Sampai usia lanjut tidak mempunyai keturunan, ketika lahir Ismail Allah swt memerintahkan untuk mengucilkan Siti Hajar dan bayi Ismail di padang pasir gersang tanpa air tanpa penghuni, Robbana liyuqimus sholah...Ya Tuhan kami semoga mereka menegakkan shalat!

Belasan tahun tidak bersua dengan anak-istri, kemudian ketika bersua dan belum puas melepas rindu Allah swt memerintahkan untuk menyembelih sang buah hati. Tanpa protes Ibrahim menjalankan perintah itu dengan penuh keimanan tauhid dan dengan kepasrahan total.

Perjuangan Ibrahim a.s tidak berbuah instan, membutuhkan waktu ratusan tahun untuk mewujudkannya. Nabi Ibrahim konsisten, istiqomah dalam ketaatan tauhid sampai akhir hayat.

Simpulan tiga hal kunci kemenangan umat Islam:
1. Keikhlasan dalam menjalankan semua perintah Allah swt.
2. Pengorbanan yang tulus dan kesabaran yang luas dalam memperjuangkan agama Allah.
3. Konsistensi, istiqomah, tabah dalam jalan yang panjang berjuang di jalan Allah.

*Khutbah Idul Adha di PCM Rungkut, Surabaya.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda