Kick Andy 9 Agustus 2019 (2)

Menuju Gwadar Ditangkap Dua Kali

COWASJP.COM – Saat menuju pelabuhan Gwadar di Propinsi Balochistan, berjarak 700 kilometer dari Karachi, Pakistan,   untuk menyeberang ke negara Oman penulis ditemani dua mahasiswa Indonesia di Pakistan. Abdul Kholik biasa disapa Alek fasih berbahasa Urdu kuliah di Karachi dan Akhmad Faruki mahasiswa di Islamabad.

Seperti diketahui Propinsi Balochistan berbatasan dengan Iran maupun Afghanistan merupakan daerah paling rawan di Pakistan. Kasus penculikan, perampokan, maupun pembunuhan warga negara asing kerap terjadi. Selain itu Balochistan daerah bergolak, karena sebagaian warganya memberontak menuntut pemisahan diri  dari wilayah Pakistan. 

Baru dua jam perjalanan dari Karachi, sopir menghentikan mobil di daerah Gadani untuk menambah angin. Saat itu, Faruki keluar mobil untuk merokok sambil menunggu tambah angin. Tahu ada orang asing, sebuah mobil Corolla yang melintas mendadak menghentikan lajunya. 

Beberapa polisi menenteng senjata turun. Sopir mobil tadi belakangan diketahui inspektur polisi Gadani minta indentitas Faruki. Baik kartu mahasiswa maupun pasport. 

Juga ditanya ini itu. Begitu tahu tujuan kami Gwadar, mereka langsung memeriksa seisi mobil. Paspor saya juga ditahan. Meski sudah dijelaskan tujuan kami ke Gwadar mencari kapal melintas ke Oman dalam perjalanan haji darat.

Tapi, justru polisi kian curiga. Mereka menilai kami masuk daerah yang salah, sangat terlarang bagi orang  asing. Inspektur polisi tadi terus membolak balik paspor saya. Mereka makin curiga karena banyak cap visa dalam paspor. Mereka pun menahan paspor saya tanpa menghiraukan penjelasan sopir yang membawa kami. 

Saya bersama Faruki dan sopir dikawal polisi bersenjata dibawa putar-putar mengikuti mobil polisi. Sedangkan Alek dibawa dalam mobil polisi yang lain. Kami sengaja dipisah untuk dikorek keterangan. Juga agar tidak kabur. 

Pikiran saya was-was, cemas nggak karu-karuan. Bagaimana kalau paspor ditahan dan seterusnya. Selanjutnya, kami dibawa ke tempat sedikit jauh, sekitar satu kilometer dari kantor polisi. Kami berdua tidak boleh keluar mobil selama masa menunggu panggilan inspektur.

 Baru sekitar pukul lima sore kami dibawa ke kantor polisi. Di sana sedang berkumpul inspektur polisi Gadani dan sedikitnya tujuh anak buahnya. Mereka terus mencecar tujuan kami ke Gwadar. 

Meski sudah dijelaskan berulang kali tujuannya hanya melintas ke Oman, tapi mereka tidak percaya. 

‘’Kenapa haji tidak lewat udara. Selain berbahaya juga tidak masuk akal melakukan perjalanan darat berbulan-bulan. Dan, tentunya mahal,’’ katanya. 

Polisi tadi umumnya tidak bisa bahasa Inggris. Sebagai gantinya mereka terus berbicara pakai bahasa Urdu kepada Alek yang memang jago bahasa setempat itu. Meski sudah dirayu sama Alek, tapi polisi tadi bersikukuh terus memojokkan kami. 

Terutama saya yang akan melaksanakan haji darat. Katanya mata-mata lah, agen, kurir narkoba  dan tuduhan miring lainnya. 

‘’Apa pekerjaanmu,’’ tanya inspektur tadi pada saya. Agar tidak makin curiga saya jawab saja art worker atau pekerja seni. Dia tidak melanjutkan pertanyaan lagi.

Hari menjelang magrib. Tapi, yang dituduhkan berputar-putar saja. Bahkan saat kami minta pengawalan juga tidak dipenuhi alasannya daerah itu terlalu berbahaya. 

Jadi, tidak ada solusi. Hanya ngomong ngalor ngidul saja. Malam kian larut.

Sebagai gantinya inspektur yang kata bawahannya bernama Mehdi Bakti itu mulai menunjukkan karakter aslinya. Yakni, minta 5 Lhak, atau sekitar Rp 50 juta karena satu lhaks sama dengan Rp 10 juta sebagai syarat boleh ke Gwadar. ‘’Saya bilang kepada Alek suruh saja dia merampok saya,’’ kata saya biar saya tulis besar besar di koran saya.

Setelah tidak ada tanggapan baru inspektur tadi menurunkan tawarannya menjadi satu lhaks atau sekitar Rp 10 juta. Tapi, itu pun tidak kami tanggapi. 

Malam itu, kantor polisi suasananya gelap gulita karena listrik mati. Tapi, mereka makin gayeng berbicara. Kini, bukan visa saya dan paspor yang dibicarakan. Tapi, macam-macam. Mulai bisnis, politik bahkan sewa mobil. ‘’Jadi, sudah ngelantur,’’ ujar Alek.

Uniknya, meski baru marah dan menginterogasi kami, tak lama kemudian suasana sudah cair. Mereka sudah tidak lagi membicarakan soal paspor atau Gwadar.

Bahkan inspektur tadi menawari minum cae, minuman khas Pakistan - India dan negara tetangganya. Yakni, teh hangat campur susu kerbau. Tidak ada kesan bahwa dia beberapa jam lalu marah, curiga atau punya niat buruk lainnya pada kami. 

Kini, suasananya berbalik. Bahkan dia juga minta tolong didoakan sesampainya di Kabah nanti. Oalah. 

Karena tidak ada keputusan apa apa, malam itu akhirnya kami putuskan balik dan menginap ke Karachi kurang lebih 100 kilometer dari Gadani. Sebagai gantinya seorang polisi ikut bersama kami menumpang ke Karachi menengok keluarganya. Sebelum turun polisi tadi minta sangu sekedarnya. Saya juga iba dan memberi uang secukupnya. Polisi sangat berterima kasih dan mendoakan saya agar bisa sampai Makkah. Dan, dia titip doa agar segera dipanggil Allah ke Makkah. Saya iya kan saja. 

GILIRAN DITANGKAP IMIGRASI

Esok paginya perjalanan ke Gwadar, Propinsi Balochistan kami lanjutkan. Sahid, 30, sopir kami mengajak rekannya Abdul Somad, 37, yang asli warga Balochistan ikut serta sebagai pengawal sekaligus sopir kedua. Abdul Somad berbadan kekar itu orangnya tidak banyak berbicara, pembawaannya tenang dengan sorot matanya tajam. ‘’Saya banyak punya keluarga di Gwadar,’’ aku Abdul Somad. ‘’Jadi, jangan khawatir,’’ tambahnya. 

Saya, Faruki dan Alek kali ini mengenakan baju kurta atau mirip baju sharwal gamez biasa dipakai orang Pakistan. Tujuannya, agar warga sepanjang jalan yang kami lewati mengira kami orang Pakistan. 

Selain itu kaca mobil dilapisi kain kasa hitam agar kami di dalam mobil tak begitu kelihatan dari luar. Kami juga ekstra waspada tidak sembarangan keluar mobil, apalagi kalau situasi tidak aman. Kami benar-benar belajar dari pengalaman kemarin. Ditangkap polisi hanya gara gara Ahmad Faruki, kebelet merokok dan keluar mobil. Tak lama lalu kami ditangkap polisi. 

Karena berangkat pagi jalanan Karachi relatif lancar. Pagi itu tak banyak truk melintas. Namun sebagai umumnya jalan di Karachi, jalan menuju Gwadar yang berada di sekitar Karachi rusak berat. Truk-truk bermuatan penuh, bus banyak melintas di daerah ini.

bahari1.jpg

Bahari  (penulis, berbaju putih) saat menghadiri acara Kick Andy 

Baru setelah keluar Gadani jalanan dua jalur seperti jalan high way layaknya menuju luar kota. Selain sepi kondisi jalan sangat bagus, rata dan mulus. Hingga mobil bisa dipacu hingga kecepatan 160 kilometer per jam. Sangat kencang. Suasana sekitar sangat sepi. Nyaris tidak ada rumah ratusan kilometer. Sepanjang perjalanan pemandangan didominasi gurun dan sesekali bukit gersang. Tidak ada perumahan warga akibat gersangnya kondisi tanah sekitarnya. Semuanya benar-benar kering dan panas. Padang gersang dan gurun pasir mendominasi. 

Kalau pun ada rumah warga itu hanya satu dua saja di beberapa titik jalan. Itu pun jaraknya  puluhan kilometer atau bahkan ratusan kilometer. Umumnya mereka menjual bahan bakar minyak eceran merangkap tambal ban. Selebihnya, berupa gurun pasir dan bukit batu.

Sepanjang jalan banyak chek point oleh tentara Pakistan, atau tempat pemeriksaan penumpang, kendaraan yang melintas. Biasanya di jalan dibentangkan tali atau tampar untuk mencegat kendaraan. Atau cukup distop saja.

Agar tentara atau polisi tidak sempat melongok ke dalam mobil, Abdul Somad biasanya secepatnya turun dari mobil menghampiri petugas di tempatnya atau jemput bola. 

Dengan bahasa setempat Somad mengatakan, beragam alasan. Mulai penumpang yang dibawa perempuan sampai teman kampungnya. Di setiap chek point Somad juga mengisi semacam buku tamu. Begitu pun saat balik nanti. 

Tapi, prosesnya sangat singkat hanya tak lebih satu menit. Tujuannya, agar polisi atau tentara tidak banyak tanya ini itu. Biasanya Somad berlaku sok akrab. Setelah mengucapkan salam dan peluk badan sebagai salam khas Pakistan lalu mengisi buku tamu dan cepat-cepat pergi.

Biasanya yang dipakai alasan pertama. Yakni, penumpang yang dibawa keluarga perempuannya yang mau pulang kampung. Apalagi, saya dan rekan mahasiswa yang duduk di belakang nyaris tidak terlihat dari luar. Selain kacanya agak hitam juga dilapisi kain kasa hitam.

 Budaya Pakistan dan Afghanistan menatap perempuan yang bukan mahramnya sesuatu aib atau memalukan. Karena meski tentara atau polisi kalau dikatakan penumpang yang dibawanya perempuan biasanya langsung percaya. Atau tidak ditengok. 

Ini menguntungkan bagi kelancaran perjalanan. Sebab, kalau sampai ditanya ini itu, kami khawatir urusannya bisa merembet ke mana-mana. Apalagi, daerah Balochistan merupakan wilayah tertutup bagi warga asing dan memerlukan ijin khusus.

Menjelang sore hari sekitar pukul 16.00 kendaraan yang kami tumpangi mulai masuk kota Gwadar. Sedikitnya ada dua chek point. Setelah lolos kami lega. Sahid yang asli Lahore, Propinsi Punjab, sopir kami senangnya bukan main. Dia terus tertawa sambil ngomong ngalor ngidul nggak karuan. Sedangkan Abdul Somad tampak tenang-tenang saja melihat tingkah konyol rekannya Sahid itu.

Menurut Alek yang lama tinggal di Karachi, warga Balochistan sangat keras. Bahkan sampai kini mereka masih dendam pada pemerintah. Sebab, kepala suku bekas kerajaan di Balochistan saat jamannya Presiden Pakistan dipimpin Jendral Musharaf membunuh kepala suku mereka. 

Makanya, orang Balochistan tidak begitu suka terhadap warga Punjab, asal Musharaf kalau mereka masuk wilayah Balochistan. Sahid adalah warga Punjab, Pakistan.

Seperti kota kecil lainnya, Gwadar juga tidak tertata apik. Banyak debu dengan deretan toko di kiri kanan jalan. Makin mendekati pelabuhan, kian padat toko dan pemukiman.

Ada beberapa deretan bank, pertokoan, warung sampai hotel kelas melati. Yang membuat saya heran banyak bus dari berbagai luar kota mulai Islamabad, Karachi, Lahore, Queta dan kota besar lainnya melayani rute ke kota ini. Itu terbukti dengan banyak jurusan bus seperti tertera dalam badan bus. ‘’Gwadar kota bisnis. Banyak pedagang luar kota datang ke sini. Semua barang dari Iran, Qatar, Uni Emirat  Arab bisa masuk lewat pelabuhan ini. Makanya ramai,’’ kata Abdul Somad.

Abdul Somad wanti-wanti pada saya dan rekan mahasiswa agar tidak sekali pun keluar mobil. Semua akan diurusnya termasuk mencari hotel. Somad dan Sahid keluar hotel mencari informasi.

Tapi, semua hotel penuh. Saya menyarankan tinggal di rumah keluarga Somad saja. Tapi, Somad dengan halus menolaknya bahwa tamu atau orang luar tidak boleh menginap di rumah keluarga yang ada perempuannya. Itu adat dan aturan Pakistan yang harus dijaga.

Akhirnya, kami jalan menyusuri kampung dan kota Gwadar yang tidak beraturan. Jalannya sempit seperti masuk kampung. Bedanya dengan kampung di Indonesia yang menghadap jalan. 

Rumah warga Pakistan maupun Gwadar umumnya tertutup pagar tembok tinggi hingga orang tidak bisa melihat dalamnya. Jadinya, jalan mirip menyusuri kampung dengan rumah tembok tinggi yang lokasinya tidak beraturan.

Selain mencari hotel juga mencari kantor imigrasi nantinya untuk meminta stempel paspor keluar Pakistan. ‘’Tenang saja. Kami urus semua. Pokoknya, semua harus legal. Kalau tidak, selain berbahaya juga membahayakan perjalanan Anda. Kami tidak mau terjadi apa-apa pada tamu kami (saya, Red),’’ ujar Somad.

Mobil juga diarahkan ke pelabuhan Gwadar. Banyak perahu nelayan dan kapal barang kecil berlabuh di dermaga itu. Sahid dan Somad juga mencari tahu kepada nelayan kemungkinan adanya kapal disewa. Tapi, nelayan yang ditanya bertanya balik dan ragu kalau membawa orang asing. Apalagi, yang ilegal. ‘’Mereka bisa berbahaya kalau membawa penumpang ilegal. Sebab, di tengah laut akan dicegat patroli tentara dan polisi laut Pakistan,’’ ujar Somad menirukan nelayan tadi. 

Di pelabuhan Somad juga menanyakan keberadaan kantor imigrasi di kantor polisi laut setempat. Meski Gwadar sudah diobok-obok sampai pelabuhan tidak ditemukan kantor imigrasi.

Sebaliknya, setelah tanya kantor imigrasi itu lah mulai mendatangkan masalah. Belakangan kami tahu, rupanya saat menuju kota mencari hotel ada intel yang membuntuti mobil kami.

Saat masuk hotel, Somad menyuruh kami masuk cepat-cepat. Tujuannya, selain agar tidak mengundang perhatian warga sekitar, juga lebih aman. ‘’Cepat..cepat langsung naik ke kamar,’’ pinta Sahid. Sedangkan barang bawaan nanti akan dibawa Sahid.

Meski hanya hotel kelas Melati tetapi cukup bersih. Namanya Sahil Guest House yang berlokasi  di Opposite Jama Makki Masjid, Airport  Road, Gwader, Balochistan, Pakistan. ‘’Jangan keluar kamar hotel kalau tidak ada kami. Berbahaya,’’ pesan Abdul Somad. 

Baru sepuluh menit leyeh-leyeh di kamar hotel melati yang kami tempati, mendadak dua orang masuk kamar diantar penjaga hotel. Mereka intel mengecek dokumen kami.

Setelah tanya ini itu, dan mencatat nama, nomor paspor, petugas tadi keluar hotel. Tapi, hanya berselang beberapa puluh menit datang lagi petugas intel. 

Belakangan kami tahu namanya Akmad Zan, Kepala Imigrasi Gwadar. Orangnya masih muda, sekitar 35 tahun mengenakan pakaian sharwal games khas Pakistan. Dia datang pukul 20.00 malam.

 Zan ditemani satu petugas yang sebelumnya ikut memeriksa kami. Orangnya sudah berumur lebih 50 tahun. Jenggotnya tampak memutih semua. Dari balik bajunya tersembul pistol.

Berbeda dengan petugas sebelumnya, Zan tampak pintar dan penuh selidik. Dia fasih berbahasa Inggris. Dia  hanya berbasa basi sebentar lalu melakukan pemeriksaan menyeluruh sambil duduk di tempat tidur.

Karena saat itu saya sedang makan dan hanya mengenakan sarung, Zan memulai bertanya pada Alek atau Abdul Kholiq, mahasiswa Jamiah Binoria, Karachi, yang sudah belajar 5 tahun jurusan hadist. Alek yang hanya membawa sejenis kartu pelajar atau kartu mahasiswa menerangkan bahwa dirinya hanya mengantar saya ke Gwadar untuk menyeberang ke Oman.

Zan tak percaya begitu saja. Alek pun disuruh membaca beberapa ayat kursi Al-Quran sesuai jurusan yang ditekuni di salah ponpes di Karachi. Alek pun melafalkan keras-keras beberapa surat Al-Quran yang diminta Zan. Zan pun menyimak benar setiap lafalan Alek, seraya tersenyum kecut. ‘’Awak lupa ayat yang terakhir,’’ ujar Alek yang asal Medan itu cengingisan.

Zan juga mencerca mengapa tidak bawa paspor. Alek menyatakan, paspor ditahan di ponpes agar tidak hilang. Sebagai gantinya cukup dibekali kartu indentitas pelajar. 

Tak percaya, Zan minta ditelponkan kepada kepala ponpes dimana Alek jadi salah muridnya. Alek pun menelpon gurunya. Setelah itu Zan ngobrol bersama guru Alek. Baru setelah itu, Zan sedikit percaya. Tapi, beberapa menit kemudian Zan kembali menelpon guru Alek untuk konfirmasi lagi. 

Saat Zan menginterogasi Alek, petugas yang satunya memeriksa semua barang bawaan kami. Semua barang dalam tas dikeluarkan. Semua foto, kartu pelajar, dokumen perjalanan, paspor dikeluarkan untuk diperiksa. 

Bahkan celana dalam juga diacak-acak. Jadi lah seisi kamar kamar hotel berantakan. Tapi, petugas tadi tak peduli. Pokoknya, semua barang dikeluarkan. Baru setelah itu ia memilih barang yang mencurigakan dikumpulkan untuk diteliti Zan, atasannya.

Giliran saya diperiksa. Paling lama paspor yang banyak cap visanya dari berbagai negara. ‘’Kamboja, India’’ tanyanya. Ya, jawab saya.  Zan terus meneliti paspor. Cukup lama sekitar 10 menit. Dia terus membolak balik paspor dan meneliti kelengkapan dokumen satu per satu. 

Dalam hati saya merasa bersyukur, sebelum ke Karachi lebih dulu memperpanjang visa Pakistan yang habis 23 Oktober lalu. Kalau tidak banyak menimbulkan masalah baru. (Bersambung)

Oleh: Bahari, wartawan senior di Surabaya.

Pewarta : Bahari
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda