Kick Andy 9 Agustus 2019 (1)

Haji Nekat Lewat Jalur Darat

COWASJP.COM – Ratusan penonton tepatnya berjumlah 550 orang menyesaki studio Metro TV di kawasan Kedoya, Kebun Jeruk, Jakarta Barat,  Kamis (1/8/ 2019) malam. 

Acaranya rekaman atau tapping siaran tunda Kick Andy Show. Temanya sangat inspiratif:  Cara Unik ke Tanah Suci alias Makkah, Saudi Arabia. Baik   menunaikan ibadah haji maupun umroh.

Tema nan seksi. Selain bertepatan menjelang hari puncak pelaksanaan ibadah haji jatuh 11 Agustus 2019 atau 10 Dzulhijjah 1440 Hijriyah. Biasa dikenal Hari Raya Idul Adha atau korban.

Juga sebagai hiburan bagi calon jamaah haji regular Indonesia yang masuk daftar tunggu haji atau waiting list sangat sangat..lama. 

Setiap propinsi berbeda, paling cepat 11 tahun, terlama 39 tahun.

Catatan Kemenag RI tahun 2018 menyebutkan, rata rata masa tunggu keberangkatan haji atau waiting list secara nasional saat ini mencapai 18 tahun. Daftar tunggu paling cepat 11 tahun untuk tiga propinsi:  Gorontalo, Maluku, dan Sulawesi Utara. 

Sedangkan daftar tunggu paling lama propinsi Sulawesi Selatan mencapai 39 tahun. Bayangkan! Kalau Anda mendaftar haji umur 50 tahun, sampeyan  baru bisa berangkat umur 89 tahun. 

Pertanyaannya, apakah secara fisik masih mampu? Begitu juga umur, apakah pas hari ‘H’ keberangkatan masih diberi umur panjang? Wallahualam.Tapi, sisi baiknya Anda sudah tercatat sebagai haji di sisi Allah SWT karena sudah berniat. Wujudnya, membayar  setoran awal ongkos naik haji (ONH).

Sementara di Pulau Jawa, daftar tunggu wilayah DKI Jaya dan Banten mencapai 19 tahun, Jabar 20 tahun, Jateng 22 tahun, Jogjakarta mencapai 23 tahun. Dan, paling lama Jatim sampai 24 tahun.

Nara sumber yang dihadirkan malam itu Hakam Mabruri bersama sang istri yang nekat nggowes  setahun penuh dari Malang ke Makkah untuk bisa menunaikan umroh. Juga penulis (Bahari) yang melakukan Haji Nekat Lewat Jalur Darat  pada 2011 melintasi sedikitnya 12 negara atas penugasan Jawa Pos (JP), tempat penulis menjadi wartawan.

Ada satu sumber lagi yang hendak didatangkan, yaitu Mochamad Khamim Setiawan,  pemuda asal Pekalongan yang melakukan naik haji dengan jalan kaki. Sayang, Khamim tidak bisa hadir karena masih berada di Mesir.

Agar nuansa lebih Islami, ikut memeriahkan dialog penyanyi yang hit membawakan lagu-lagu religi Nissa Sabyan ikut dihadirkan. Dara kelahiran Lumajang, Jatim,  23 Mei 1999 ini membawakan tiga lagu hitnya. Di antaranya,  berjudul Bismillah dan Ya.. Maulana. Wah..audien sangat antusias. Studio pun bergema karena penonton ikut terbawa melantunkan lirik Sabyan.

Jago Stand Up Comedy.

ANDY NOYA KOCAK LUAR BIASA

Hal unik lainnya, mungkin ini yang tidak disaksikan pemirsa Kick Andy di rumah, sebelum tapping atau rekaman, Andi Noya sebagai pembawa acara melakukan stand up comedy. Wah kocaknya luar biasa.

Andy yang dibesarkan di perkampungan Jalan Kutai Surabaya sangat familiar dengan budaya dagelan, banyolan gaya Suroboyo. Apalagi, Andy remaja mengenyam bangku sekolah menengah atas di Jayapura, Papua yang dikenal gudangnya mops sejenis cerita lucu ala Papua. Mirip mirip banyolan, ludrukan di  Surabaya. Makanya, Andy Noya begitu piawai saat ndagel. 

Penulis paham benar budaya mops karena pernah kuliah di Universitas Cenderawasih (Uncen) dan lulus S1 tahun  1990. Lalu bergabung harian Cenderawasih Pos (Cepos) anak perusahaan Jawa Pos Group selama tiga tahun sejak 1993. Bergabung induknya: Jawa Pos Surabaya tahun 1996.

Sambil menunggu kru Kick Andy Show mempersiapkan segala tetek bengek peralatan kamera untuk siaran, Andy Noya yang kini tampil plonthos itu pun mencoba menghibur penonton dengan joke joke ala Madura. ‘’Saya dengar ada penonton dari Madura,’’  tanya Andy. Spontan beberapa penonton mengancungkan telunjuk jari. ‘’Kalau kita mau sukses berbisnis tirulah orang Madura yang dikenal ulet dan banyak akal,’’ katanya.

Dengan gaya jenaka, Andy menuturkan bagaimana pedagang jangkrik asal Madura menawarkan dagangannya dengan cara berbeda untuk memikat pembeli. 

‘’Bo aboh ini jangkrik Rambo..tidak ada yang bisa mengalahkan. Selalu menang saat diadu,’’ ujar Andy menirukan  orang Madura tadi berpromosi.

Singkat cerita, ada pembeli kesengsem pun membeli jangkrik tadi dengan harga cukup mahal. Diadu beberapa kali menang. Tapi, saat ketemu lawan tangguh jangkrik Rambo tadi kalah. Pembeli protes ke pedagang Madura tadi. ‘’Katanya jangkrik Rambo menangan kok kalah,’’ protes pembeli tadi. 

Tak kurang akal, pedagang Madura tadi pun berkelit. ‘’Boh  aboh…kalau jangkrik itu memang tak bisa dikalahkan. Itu komandannya Rambo,’’ kilah pedagang Madura tadi. Penonton pun langsung gerrr…

Suatu ketika pedagang Madura menawarkan buah semangka. ‘’Ini semangka lain daripada yang lain. Manisnya luar biasa kayak gula. Kalau di belah dalamnya merah menyala,’’ kata pedagang Madura tadi. 

bahari.jpg

Mendadak rombong buah tertabrak becak. Buah semangka pun berjatuhan dan sebagian pecah. 

Alamak! Ternyata  dalam semangka berwarna putih alias masih mentah atau belum masak benar. ‘’Lo,  katanya dalamnya semangka merah. Manis kayak gula. Itu kok putih..,’’ tanya calon pembeli keheranan sambil menunjuk buah semangka yang pecah tadi. ‘’Boh.. aboh..tunggu dulu. Kalau sampayen jatuh, atau habis kecelakaan kan pucat pasi. Begitu juga semangka kalau habis jatuh ya pucat,’’ kelit pedagang Madura tadi tanpa rasa bersalah. Penonton kembali gerrrrr….

‘’Apakah cerita dilanjutkan,’’ tanya Andy Noya. 

‘’Lanjut….’’ Jawab penonton serentak. Antusias.  

‘‘Wah kalau cerita orang Madura diteruskan tidak ada habisnya. Kapan kita rekamannya ha..ha,’’ tanya Andy.

‘’Gaya kocak Bang Andy sebelum rekaman untuk membuat penonton rileks, enjoy sebelum acara inti dimulai. Itu selalu dilakukan Bang Andy sebelum acara inti,’’ tambah Rusdi, produser Kick Andy Show.

Setelah kru Kick Andy Show siap, rekaman, wawancara dengan nara sumber pun dimulai. Namun seorang kru Kick Andy show mengingatkan penonton demi ketertiban acara. Selain dilarang berisik, juga dilarang menyalakan HP apalagi memotret karena akan menganggu peralatan atau sound system. ‘’Pokoknya duduk tenang,’’ ujar kru Kick Andy sebelum memulai acara.

Penonton juga diminta memberi aplaus ke narasumber sebelum acara berlangsung dan setiap mengawali dialog setelah break. Dalam hitungan mundur lima, empat tiga, dua,  satu baru bergema tepuk tangan. Tapi, tidak semua diatur. Kalau ada keterangan narasumber lucu, dramatis, atau jenaka penonton bisa memberi aplaus positif. Tidak harus tepuk tangan. Tapi, melontarkan kekaguman wouw.. dan kata ungkapan sejenisnya. Bahkan reaksi, pancingan, ulah dan komentar satire Andi Noya dalam ‘’menjahili’’  narasumber kadang bikin cekikikan penonton.

Menjaga suasana tenang saat rekaman sangat dijaga kru Andy Kick. Tidak ada penonton mondar mandir, berisik apalagi potret sana, potret sini. Bahkan jika saat rekaman ada suara panggilan HP penonton, rekaman langsung dihentikan karena dianggap mengganggu. Apesnya, pemilik HP tak segera mematikan atau kesulitan mematikan dering panggilan telepon tadi. Andy Noya pun nyeletuk. ‘’Kalau HP ‘’murahan’’ ya.. begitu sulit dimatikan …,’’ sindirnya jenaka.

Bahkan saat diwawancara penulis kebetulan sedikit batuk karena agak flu rekaman pun langsung dihentikan guna memberi kesempatan penulis mengatur nafas agar tidak batuk lagi. ‘’Silakan batuk nggak papa. Jangan ditahan. Kita akan ulang lagi nanti,’’ tutur Andy. Setelah itu Andi melontarkan pertanyaan ulang, penulis pun menjawabnya.

Karena tapping berlangsung berjam jam, bagaimana jika penonton ingin ke belakang buang air kecil? Tidak masalah. Saat break sebagian penonton memanfatkan ke belakang. Tapi, tidak bisa balik langsung ke tempat duduknya. Harus menunggu break berikutnya.

Lima belas menit sebelum acara tapping, para narasumber dikumpulkan di ruangan khusus untuk briefing. Andi Noya langsung memberikan pengarahan. 

Jangan bayangkan suasana briefing kaku, tegang. Sama sekali jauh dari kesan itu. Andy Noya yang smart itu piawai menghadirkan suasana ceria, tidak tegang.

’’Intinya kalau ada pertanyaan baru dijawab. Jangan panjang panjang apalagi diborong. Nanti saya dapat bagian apa?’’ ujar Andy tergelak. Briefing tidak sampai lima menit. ‘‘Ada pertanyaan,’’ tanya Andy. Seorang kru band Nissa Sabyan pun angkat tangan. ‘’Apakah kami boleh menyebut nama perusahaan pemberi penghargaan (di luar Metro TV) pada group band kami,’’ tanya kru tadi. 

‘’Boleh boleh..silakan saja sebut. Ini Kick Andy Show. Bebas saja…tapi kalau nanti di kick ya…tidak tahu ha..ha,’’ ujar Andy guyon.

Nissa Sabyan dkk diberi kehormatan membuka acara talk show dengan membawakan beberapa lagu religi sesuai tema yang diusung malam itu yakni: Cara Unik ke Tanah Suci. 

‘’Sabyan besok harus sekolah. Jadi, kita kasih kesempatan pertama untuk menyannyi,’’ gojlok Andy. Sabyan  yang bertubuh mungil hanya mesem mesem saja.

‘’Lalu siapa yang dikorbankan berikutnya. Jadi kelinci percobaan wawancara saya,’’ lontar Andy jenaka. Tenyata Hakam Mabruri berserta istri mendapat wawancara perdana. 

Penulis dipilih di sesi akhir karena sekalian bagi bagi buku ‘’Haji Nekat Lewat Jalur Darat.’’ Yakni kumpulkan tulisan 79 seri dari penulis yang dimuat Jawa Pos (JP) saat melakukan haji darat. Start dari Surabaya 5 Agustus 2011. Tiba di Makkah,  1 Nopember 2011. Balik ke Surabaya 25 Nopember 2011. Atau selama tiga bulan, ditambah 23 hari melewati sedikitnya 12 negara: Malaysia, Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam, China, Tibet, Nepal, India, Pakistan, Oman dan finish di Saudi Arabia. Juga sempat masuk Kamboja mengurus visa kabur.

Bagi bagi buku paling dinanti penonton Kick Andy Show. Makanya, kru Kick Andy sebelumnya harus memesan buku langsung ke JP Book sebanyak 600 biji untuk dibagikan ke penonton di studio. ‘’Kalau persediaan buku terbatas biasanya penerbit cetak buku baru. Tapi, alhamdulillah persediaan buku Haji Nekat Lewat Jalur Darat  cukup tersedia. Jadi, kita borong. Minimal beIi 600 buku,’’ tambah Rusdi, produser Kick Andy Show.

Tak ayal usai acara, penonton yang umumnya emak emak menyerbu penulis. Rupa rupa yang diminta. Sekedar tandatangan di buku ‘’Haji Nekat Lewat Jalur Darat’’ melayani selfi sampai minta no kontak. 

Waduh..untuk yang terakhir penulis tidak hafal. Sepurone. Mereka pun mahfum.

Di sesi akhir narasumber dan keluarganya diberi kesempatan pertama foto bareng dengan pembawa acara Kick Andy Show, Andy Noya. Setelah itu penonton secara berjamaah bergantian foto dengan Andy Noya.

Penonton yang datang umumnya dari komunitas fans setia Kick Andy. Mereka membentuk semacam perkumpulan karena sama sama menyukai  acara yang penuh inspiratif tadi. ‘’Mereka tidak dibayar. Sebelum hadir mereka mendaftar lewat mailing list,’’ ujar Rusdi. Sebagian penonton datang dari keluarga dekat, teman narasumber.

Yonas, salah satu dari ratusan penonton tetap Kick Andy Show mengaku sudah mengoleksi ratusan buku hadiah dari Kick Andy. ‘’Lemari saya penuh buku. Ada sekitar 250 judul buku. Sudah dua tahun lebih saya tidak pernah absen hadir di Kick Andy Show,’’ aku pria paroh baya tersebut.

Padahal, rumah Yonas cukup jauh daerah Depok. Ke lokasi acara sekitar 15 kilometer dari rumahnya Yonas naik sepeda motor. Sebab, kalau naik angkutan umum sulit saat pulangnya karena sudah malam. Rata rata pukul 22.00 sampai 23.00 baru bubar.  

‘’Selain dapat buku banyak, banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari para narasumber yang dihadirkan. Sangat menginspirasi,’’ aku Jonas.

Tak hanya dapat buku,  dalam Kick Andy Show edisi special misalnya, saat peringatan hari Kemerdekaan RI  17 Agustus, hari raya Idul Fitri, Hari Natal, Tahun Baru dan hari hari besar nasional penonton juga dapat beragam door price. Mulai HP, TV, kulkas dan barang elektronik lainnya. 

‘’Selain tentunya dapat makanan berat,’’ tutur Rusdi.

BERTAHAN 13 TAHUN

 Karena inspiratif,

tidak terasa Kick Andy Show sudah bertahan 13 tahun sejak kali pertama tayang 2006. Krunya boleh silih berganti tapi tema utama yang diusung adalah tokoh, orang yang sangat menginspirasi, dan yang nilai humanismenya tinggi. Kalau di koran atau media cetak mungkin berita sejenis features. 

Selain tentu pembawa acaranya Andy Noya, wartawan kawakan yang smart, punya selera humor tinggi dengan joke joke spontan hingga membuat suasana acara yang dipandunya sangat hidup. 

Dialog  dengan narasumber begitu mengalir layaknya percakapan biasa. Tidak tampak formal dan kaku. Itu karena Andy Noya yang dikenal sebagai wartawan kawakan,  sejak merintis karirnya di majalah Tempo sudah sangat berpengalaman di media cetak dan tv. Andy piawai menghadapi beragam latar belakang narasumber. Mulai petani sampai presiden. ‘’Mungkin ini beberapa kelebihan talk show Kick Andy hingga mampu bertahan hingga sekarang,’’ aku Rusdi yang sudah menjadi produser Kick Andy selama lima tahun terakhir.

Untuk mencari nara sumber baik tokoh, orang biasa yang sangat inspiratif memang tidak mudah. Semua daya dikerahkan mencari keberadaan orang orang inspiratif tadi yang layak menjadi narasumber Kick Andy Show.

Beragam cara dilakukan kru Kick Andy guna menemukan sosok inspiratif tadi. Mulai tim internal Kick Andy dengan cara membaca beragam sumber informasi. Koran, majalah, tv, medsos, internet. Juga mengerahkan para reporter dan koresponden Metro TV dan Media Indonesia di seluruh pelosok Nusantara. Juga masukan semua pihak termasuk dari mantan narasumber yang pernah dihadirkan di Kick Andy. 

Jika sudah ditemukan, para narasumber tadi diseleksi layak tidaknya untuk tayangan Kick Andy. ‘’Minimal kita di internal Kick Andy rapat dua kali seminggu untuk membahas nara sumber dan persiapan tayang,’ aku Rusdi.

Untuk mencari narasumber yang pas juga terkait momentum, kejadian dan ketokohan narasumber. Misalnya, menjelang hari kemedekaan akan dicari tokoh pejuang. Tak hanya berjuang secara fisik, juga mereka yang konsisten menyuarakan perdamaian, menciptakan sesuatu yang membangkitkan kebanggaan bangsa Indonesia dan sejenisnya. 

Juga disesuaikan mementumnya. Misalnya,  saat ini sedang berlangsung ibadah haji maka dicarilah tokoh atau orang yang berkaitan dengan haji atau umroh. Lalu ketemu pelaku haji unik lewat jalur darat, umroh bersepeda untuk mencapai Baitullah, Makkah. 

‘’Ya.. seperti  sampeyan pelaku haji darat yang saat ini jadi narasumber Kick Andy,’’  jelas Rusdi.

Setelah nara sumber ditemukan, maka kru Kick Andy mulai bergerilya mencari lebih dalam tentang sosok narasumber tadi. Ada kru wartawan mewawancarai narasumber, ada tim kameramen mendatangi tempat tinggal nara sumber untuk mendokumentasikan keseharian nara sumber. Juga hal atau benda dan bukti pendukung lain berkaitan aktivitas yang pernah dilakukan nara sumber. 

Misalnya, tim Kick Andy perlu mendatangkan sepeda tandem milik Hakam Mabruri yang menemani nggowes dari Malang sampai Makkah. Hakam sudah menyarankan sepeda tandemnya tidak perlu dibawa ke Jakarta karena merepotkan. Harus dipreteli, dimasukkan kardus dan dikirim lewat cargo udara. Makanya, Hakam menyarankan cukup diganti sepeda tandem dari Jakarta.

Tapi, tim Kick Andy menolak. Tidak mau. Sepeda tandem asli Hakam Mabruri yang menemani dari Malang sampai Makkah harus diterbangkan ke Jakarta bersama orangnya. Padahal, sepeda tandem tadi hanya dinaiki Hakam dan istrinya beberapa meter di studio saat wawancara. 

‘’Ini untuk menjaga kualitas acara serta keaslian pendukung narasumber termasuk sepeda yang dipakai nggowes Malang-Makkah tadi. Ini juga sebagai bentuk penghargaan terhadap pembuat sepeda tadi. Mereka akan bangga  kalau sepeda tadi ditampilkan di Kick Andy. Kalau diganti sepeda lain tentu nilainya sudah berbeda,’’ tambah Rusdi. 

Usai acara, sepeda kembali dipreteli lalu diterbangkan ke Malang bersama pemiliknya.

Penulis sendiri selain diwawancarai berulang kali oleh kru Kick Andy. Penulis juga berinisiatif mengirim file berisi tulisan haji darat ‘’penulisan ulang’’ sebanyak 73 seri yang pernah dimuat Radar Jogja lengkap foto pendukungnya. Juga album foto haji darat. Tidak cukup hanya itu, kru juga minta passport berisi beragam cap visa-visa negara yang dilewati saat haji darat. Bahkan ada yang dua kali seperti visa negara India. Semua itu diperlukan untuk kedalaman, untuk penggalian bahan pertanyaan oleh pembawa acara Kick Andy nanti. 

Tim Kick Andy juga memelototi edisi Jawa Pos bulan September, Oktober, Nopember 2011 berisi  79 tulisan bersambung haji darat yang sudah dijilid penulis.

Penulis juga  diajak shooting tim kameramen Kick Andy di rumah untuk menggambarkan aktivitas keseharian sampai Masjid Agung, Surabaya hampir seharian. 

Tapi,  jangan bayangkan semua peristiwa, kejadian selama haji darat ditanyakan semua. Tentu sangat terbatas karena minimnya waktu tersedia saat tayang. Makanya, hanya beberapa kejadian, angle tertentu dipilih. 

Narasumber hanya menjawab pertanyaan pembawa acara. ‘‘Tentu tidak semua peristiwa yang dialami narasumber ditanyakan. Tidak semua yang ada di buku bisa diceritakan, diungkap tuntas karena terbatasnya waktu,’’ ujar Andy Noya.

Untuk menyiasati minimnya waktu yang tersedia, secara garis besar semua pertanyaan sudah dicatat sebagai panduan utama pembawa acara. Andy Noya tinggal berimprovisasi, mendalami jawaban narasumber, atau membuat celetukan untuk menghidupkan suasana dialog. 

Namun daftar pertanyan tetap dirahasiakan bagi narasumber sebagai kejutan. Pengalaman sebelumnya, jika semua pertanyaan dibocorkan ke narasumber saat rekaman kadang ada narasumber terlalu bersemangat. Akhirnya  kebablasan bercerita. Belum ditanya sudah langsung menjawab, nerocos terus A hingga Z. Sampai habis. 

‘’Ini mengacaukan tanya jawab,’’ ujar kru Kick Andy.

Begitu juga foto, hasil  rekaman shoting untuk memperkuat narasi atau alur cerita yang sudah dilakukan narasumber tentu sangat terbatas waktunya. Mungkin hanya beberapa adegan atau cuplikan. Itu dalam hitungan menit saja. 

Setelah semua beres ada kru Kick Andy mengurusi akomodasi. Tiket pesawat, hotel, antar jemput dari bandara ke studio semua dilayani sopir. Sampai di lokasi acara ditemani kru Kick Andy. 

Sebelum tapping, narasumber dibawa ke salon untuk di make up agar tidak kusam. Waduh.. seumur umur belum pernah ke salon. ‘’Di make-up tipis tipis aja kok,’’ ujar seorang Mbak.

Setelah itu dilakukan sesi pemotretan untuk media cetak group Metro. Bakda Magrib di make up tipis tipis lagi untuk persiapan tapping atau rekaman. Sebelumnya dilakukan briefing singkat langsung Andy F Noya. Selengkapnya, bisa disaksikan di acara Kick Andy Show yang akan ditayangakan di stasiun Metro TV pada Jumat, 9 Agustus pukul 19.30.

Tapi, bagi penulis bisa tampil di Kick Andy, salah satu talk show paling bergengsi  di tanah air sesuatu kehormatan luar biasa. Sebagai penghargaan atas ide besar yang digagas Jawa Pos memberangkatkan wartawannya melakukan perjalanan haji lewat jalur darat. Liku liku melintas 12 negara menuju Makkah ditulis bersambung di Jawa Pos dan groupnya hingga 79 seri adalah karya jurnalistik sangat istimewa. Jawa Pos News Network (JPNN) mentasbihkan tulisan haji darat terpajang dalam sejarah JP Group hingga mencapai 79 seri. Penulisnya berhak hadiah Rp 25 juta.

Dalam sejarahnya, Jawa Pos yang dipimpin Dahlan Iskan sejak 5 April 1982 saat diambil majalah Tempo dari pemiliknya Mr The Chung Shen banyak melakukan liputan besar,  fenomenal, kelas dunia dalam 35 tahun terakhir. Mengirim wartawan liputan ke seluruh dunia. Mulai mengirim Nany Wijaya dalam People Power I di Filipina 1986 berujung kejatuhan diktator Presiden Filipina Ferdinand Marcos. Yang menghasilkan headline halaman satu sebanyak 40 kali berturut turut yang kata Dahlan, belum terpecahkan hingga saat ini. 

Menerjunkan Ali Murtadlo dalam liputan perang Irak-Iran, menurunkan tiga wartawan sekailgus dalam liputan perang Irak saat Presiden Saddam Husein digulingkan Amerika, mengirim wartawan di liputan perang Afghanistan, liputan haji lewat jalan darat dan beragam liputan olahraga kelas dunia mulai Piala Dunia, Piala Eropa, Olympiade, Asian Games, Sea Games dan lainnya.  

Juga ditopang pemberitaan sangat kuat Persebaya dan piala dunia yang sangat unggul karena didalamnya berjibun wartawan JP olahraga legendaris nan hebat. Sebut saja,  Johny Budimantoro, Zainal Muttaqien, Slamet Oerip Prihadi, Soelaiman Ros, Bambang Supriyantoro, Agus Sudjoko, Berto Riyadi,  Fuad Ariyanto, Abdul Muis, almarhum Wing Wiryanto Sumarsono, almarhum Kholili Indro, Bambang Indra Kusumawanto, Almarhum Wahyudi, Tubagus Adhi dan masih banyak lainya. 

Juga berjibun wartawan senior mumpuni terbukti setelah tidak di Jawa Pos pun mereka tetap menjadi orang penting dengan kemampuan istimewa di bidangnya masing-masing. Ada politikus, pebisnis, dosen, doctor, pejabat pemerintah dan beragam profesi prestisius lainnya. Sekali lagi, itu menunjukkan kapasitas dan kemampuan mereka yang tetap eksis di luar sana.

Semua itu membuat Jawa Pos yang semula koran sebecak dengan oplah 6.800 eksemplar, itu pun yang laku hanya 1000 eksemplar saja menjadi imperium, beranak pinak ratusan media masa. Juga melakukan diversifikasi perusahaan. Ada perhotelan,  perkebunan, pertambakan, listrik, percetakan, penerbitan buku dan lainnya. 

Umumnya sukses, sebagian kecil gagal.

COWAS JP

Kini, kami sedulur Jawa Pos (COWAS JP = Konco Lawas Jawa Pos) yang sudah berada di luar senantiasa berharap, menantikan karya-karya  besar liputan eksklusif yang jadi trade merk Jawa Pos dari teman teman JP masa kini.

Saatnya sedulur JP yang masih aktif terus berinovasi melahirkan karya karya besar, menghasilkan liputan fenomenal di tengah gempuran medsos dan media online agar JP tetap eksis. 

Tetap semangat dan menghargai para seniornya yang semula banyak dipinggirkan. Wartawan kian senior kian berisi, makin mengendap dan lebih bijak. Umur hanya deretan angka. Semangat, kerja keras, loyal profesi,  memberikan hati, pikiran, tenaga sepenuh jiwa hanya untuk JP itu paling utama. 

Selamat berjuang kawan agar JP tetap jaya seperti harapan kami yang sudah purna tugas. 

Semangat dan kerja keras wajib digelorakan di tengah ancaman medsos dan media digital yang terus menggerogoti keberadaan media cetak. Ditambah menjunjung tinggi independensi dan profesionalisme sebagai jurnalis. Tidak partisan, mampu menahan syahwat politik. 

Untuk terakhir masih ada orang redaksi JP terlihat partisan. Itu terlihat dari postingan di medsos yang mempertontonkan afiliasi politiknya secara vulgar terhadap calon tertentu di pilpres lalu. Ini sangat memalukan. Meski itu atas nama pribadi tapi harus  disadari mereka bekerja di institusi pers yang seharusnya netral dan independen. 

Juga masih terlihat postingan pucuk pimpinan JP di FB maupun medsos yang mempertontonkan kehidupan glamor, pelesiran di tempat mewah, men-share kongkow wisata kuliner di tempat mahal. Model pimpinan begini selain tidak peka juga melukai karyawan. 

Apalagi, kini Jawa Pos dilanda pecah kongsi setelah Azrul Ananda dan Abahnya Dahlan Iskan yang dikenal sebagai ikon JP didepak dari Jawa Pos oleh pemegang saham Jakarta. 

Dis (Dahlan Iskan) kini sudah tidak berkuasa di JP Group. Hanya sebatas pemegang saham 10, 20 persen dengan jabatan Komisaris biasa, tanpa kuasa sedikit pun. 

Sayang seribu sayang. Padahal Dis sudah terlanjur identik dan menjadi ikon JP.

Makanya, banyak yang berspekulasi tanpa ikon Dahlan Iskan dan Azrul Ananda, JP akan meredup dalam lima tahun terakhir, setelah itu perlahan hilang dari peredaran. Atau, kembali seperti saat awal JP Kembang Jepun. Beroplah sebecak.

Apakah spekulasi itu kelak terbukti atau tidak, semua  tergantung orang JP saat ini. Apakah mereka mau bekerja keras tanpa ikon Dis agar tetap eksis, tetap berjaya. Atau, justru  pasrah keadaan, berkelahi sesamanya, atau malah menciptakan perahu, atau sekoci sendiri sendiri di kalangan pejabatnya. 

Semua berpulang kepada orang JP sendiri. Ini menyangkut pilihan. Ini yang perlu dijawab rekan JP dengan kerja nyata.

Kalau wartawan angkatan Kembang Jepun dan Karah Agung berhak mengklaim bahwasanya mereka lah yang membangkitkan kejayaan JP dari koran sekarat, enggan mati, hidup pun segan menjadi raja koran Indonesia, beranak pinak ratusan media masa dan tv. Itu sah sah saja. Faktanya memang demikian.

Kini setelah mereka banyak yang purna tugas, apalagi ikon JP Dahlan Iskan orang paling berjasa membesarkan JP didepak, ada pertanyaan besar. Apakah mereka (para pemegang saham-para direksi dan seluruh karyawan JP) bisa mempertahankan kejayaan Jawa Pos guna membalikkan pendapat mereka yang pesismitis, meragukan kemampuan dan kepemimpinan Leak Kustiya dkk bahwa JP akan terpuruk sepeninggal Dahlan Iskan dan anak lanangnya Azrul Ananda.

 Minimal JP tetap bertahan dalam situasi sulit saat ini saja sudah menjadi nilai plus bagi Leak Kustiya yang kini menjabat top manajemen JP Group. Tidak main main tiga jabatan dirangkap sekaligus. Dirut JP Koran, Dirut JP  Radar dan terakhir Dirut JP on line yang sebelumnya dijabat Hidayat Jati anak Goenawan Mohamad.

Atau sebaliknya, justru karena tiga jabatan top berada di satu tangan Leak, yang tentu Dahlan dan Azrul tahu benar kapasitas dan kemampuan seorang Leak, cah Purwodadi  itu. Apakah JP akan berjaya di tangan Leak, atau sebaliknya  justru terpuruk seperti diprediksi banyak senior JP. 

Waktu yang akan membuktikan.

Sebagai orang yang pernah mencurahkan segenap jiwa raga untuk kejayaan JP, menjaga nama baik institusi, penulis berharap JP tetap eksis, berdiri tegak, terus menghasilkan karya karya besar, liputan fenomenal yang bisa dibanggakan kepada anak cucu kita. Amin..

Eh..kok jadinya ngelantur….Semua masalah Jawa Pos Group pasca terdepaknya mantan raja media Dahlan Iskan dan anak lanangnya Azrul Ananda bisa ‘’dibaca’’  di buku independen Jawa Pos Part II, kelanjutan karya penulis sebelumnya ‘’Azrul Ananda Dipuja dan Dicibir Kontroversi Penguasa Baru Jawa Pos, Ahli Waris Dahlan Iskan’’ 

Penulis sejak 2017 sudah mengumpulkan beragam kepingan, mozaik  penyebab pecah kongsi Goenawan Mohamad dkk versus Dahlan Iskan Cs dengan melakukan serangkaian wawacara para senior JP, para raja koran daerah, pimpinan, direktur  anak perusahaan JP Group untuk bahan tulisan buku JP Part II.

Ini bocoran sedikit sekalian promosi ha..ha ha ternyata hasilnya luar biasa. Banyak data, informasi mencengangkan diterima penulis. Bagaimana kerasnya gesekan kubu GM dan Dis di pihak lain. Terjadi perang di semua lini. Saling berebut, saling klaim  anak perusahaan. Itu hanya pucuk gunung es dari perseteruan dua gajah:  GM versus Dis. 

Masih banyak masalah super rumit di antara kedua kubu. 

Apalagi, banyak sumber pejabat aktif maupun senior JP sebagian menghindar jika ditanya sengkarut JP. Kalau pun bersedia biasanya mendadak daya kritisnya tumpul. Jawabanya ngambang, tidak tahu lah, tidak dengar dan  sejenisnya. Paling parah, baru didekati penulis langsung gibras gibras. Dengan beragam alasan mereka ini biasanya pelan pelan kabur ha..ha

Tapi, ada yang berani buka bukaan. Ada yang mau ditulis namanya. Tapi, banyak yang enggan dikutip namanya dengan beragam alasan. Tapi, penulis sangat menghargai mereka. Semua itu jadi tantangan penulis. Kian rumit masalah, kian tertutup sumber tadi itu makin menggairahkan bagi penulis untuk mengungkapnya. Fakta itu suci dari manapun sumbernya. 

Tapi, penulis sangat selektif dalam memilih nara sumber. Terutama menyangkut track record narasumber saat aktif di JP. Itu jadi pertimbangan utama penulis. Unsur subyektivitas penulis tentu tidak bisa dihindari dalam pemilhan narasumber. Meski demikian penulis berupaya seobyektif mungkin.

Tentu sebagai orang JP, mereka saling tahu kartunya masing-masing. Apakah si A belepotan, menghamba penguasa, injak sana, injak sini tak peduli kawan yang penting karir meroket, hanya mencari aman, memperjuangkan diri sendiri, peduli terhadap teman yang dikuyo kuyo atau kritis. Semua orang JP saling tahu itu.

 Sambil pelesir ke manca negara Dis  terus memonitor  perang tak berkesudahan itu. Dari tempat ‘pertapaannya’ Salihara, Jakarta Selatan, GM tak kalah sibuknya terus memonitor konflik JP. Perang saudara begitu sengit berebut pundi pundi yang tak jauh dari urusan perut.

Buku itu nantinya dilengkapi studi kasus soal saham karyawan yang menjadi sumber konflik di tiga media besar. Tak hanya di Tempo, Jawa Pos, tapi juga di Kompas, koran mapan terbitan Palmerah, Jakarta Pusat itu. Itu terbaca dari studi kepustakaan yang dilakukan penulis. 

Di mana mana karyawan jadi  ‘’kalah kalahan’’.  . Selengkapnya tunggu bukunya terbit ha..ha..ha.

Hanya saja penggarapan buku independen ini sedikit tersendat saat penulis ada pekerjaan kecil di luar untuk menopang dapur penulis. Kalau longgar baru dikebut lagi. 

Mengapa penulis begitu tertarik, berminat menulis seputar konflik JP. Simpel saja untuk membuat diri tidak menganggur seperti kata Goenawan Mohamad (GM), seperti dikutip dalam buku Wars Within karya Janet Steele. Ungkapan itu dilontarkan GM  setelah dipecat dari Majalah Ekspres oleh pemiliknya BM Diah karena tulisannya menyinggung dualisme kepemimpinan PWI saat itu. Antara BM Diah yang didukung intelejen Ali Murtopo dan Rosihan Anwar pemilik Harian Pedoman yang terpilih secara demokratis dalam Kongres PWI.

 Setelah jadi pengangguran beberapa saat, akhirnya, GM dkk berhasil membuat Majalah Tempo bekerja sama dengan sokongan dana konglomerat Ciputra. Soal alasan seriusnya, insya Allah nanti setelah buku jadi ha.ha..

Bahan buku Part II JP berintikan konflik GM dkk versus Dahlan Iskan setelah mereka pecah kongsi itu sebagian besar sudah terkumpul. Puluhan bahkan ratusan narasumber senior JP, pejabat aktif JP maupun raja kecil  koran JP Group pemimpin sudah diwawancarai penulis. Tinggal konfirmasi pihak terkait. Hanya karena kesibukan kecil penulis di luar akhirnya penyelesaian terus tertunda. 

Agar buku Part II JP independen, seobyektif mungkin,  tidak masuk angin, tidak berat sebelah, maka penulis menggarap sendirian. Mulai wawancara, menulis, editing sampai pembiayaan cetak nantinya dilakukan mandiri tanpa melibatkan penyandang dana orang orang Jawa Pos, kubu Goenawan Mohamad maupun Dahlan Iskan dkk. Pokoknya digarap sendirian. Selain tidak kuat membayar  editor, ada pertimbangan khusus yang tidak bisa diungkap di sini. Buku ini juga menyangkut reputasi penulis yang berupaya mempertahankan sikap idealis sebagai wartawan sampai kapan pun.

Dalam melakukan pekerjaan penyusunan buku, penulis melakukan dengan gembira, lepas, tidak terbebani apalagi ada tekanan dari mana pun. Menulis dengan perasaan gembira seperti dipraktekkan para maestro penulis awal Majalah Tempo berdiri. Hasilnya, karya sastra jurnalistik Tempo membuat pembaca takjub, enak dibaca. 

Kalau penulis tidak muluk muluk, yang penting informasinya  sampai ke pembaca. Soal kekurangan pasti ada karena pembuatan buku JP Part II sebagai ajang pembelajaran penulis. 

HAJI DARAT HASIL KONGKOW REDAKTUR

Ide Haji Lewat Darat sendiri terlontar saat awak redaksi JP kongkow, ngobrol ringan saat dini hari usai deadline. Saat itu daftar tunggu haji atau waiting list untuk haji regular dari Kemenag cukup panjang. Masing masing daerah berbeda. Jatim sendiri saat itu mencapai 9 sampai 10 tahun. Sangat lama. 

Adalah Agus Muttaqin  (Agm)  redaktur JP melontarkan gagasan perlunya JP memberangkatkan wartawan dengan berhaji lewat jalur darat untuk menuliskan liku likunya. Ide brilian disambut para redaktur termasuk Pimred JP saat itu Leak Kustiya kini ganti Kustiyo. Ide dikonkritkan  dalam rapat Kamisan  berisi para kepala kompartemen JP. Ide Agm disetujui. Tulisan perjalanan Haji Nekat Lewat Jalur Darat setidaknya jadi oase bacaan calon haji yang harus menunggu bertahun-tahun. 

Karena perjalanan haji darat tergolong berat,  melintasi wilayah konflik Pakistan, negara di Timur Tengah lainnya dibutuhkan wartawan berpengalaman. Begitu Leak memberitahukan penulis mendapat tugas Haji Lewat Jalur Darat, tanpa ragu penulis langsung mengiyakan. 

‘’Ini tugas menantang. Sudah lama tidak liputan beginian (berat),’’  batin penulis. Liputan model beginian seperti halnya liputan di medan konflik. Selain berat secara fisik juga sangat beresiko. Tapi, itu membuat ketagihan. Makin berat, makin beresiko kian memicu andrenalin. Itu seninya jadi wartawan yang suka meliput di wilayah konflik.

Harus diakui Leak Pimred JP saat itu paling semangat dalam persiapan. Sampai sampai membuat peta ASIA super besar. Di mana rute perjalanan haji darat dilakukan, lewat negara mana saja, kota mana saja dilalui. Semua tertera detail dalam grafis rute Haji Darat yang dipajang di foto di halaman depan JP. Meski akhirnya penulis tidak seluruhnya melewati rute yang direncanakan. Pertama, karena  kesulitan mendapat visa Iran, ditambah mepetnya waktu maka rute dibelokan dari Pakistan ke Oman baru masuk Saudi Arabia. Semula dijadwalkan dari Pakistan ke Iran terus ke Turki disambung Syria lalu Turki, kemudian Yordania baru masuk Saudi Arabia. 

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada tiga fotogafer JP yang mengabadikan, mendampingi, menemani penulis selama perjalanan darat. Boy Slamet dari Surabaya ke Jakarta, Mohamad Ali dari Jakarta ke Bangkok, Thailand. Henda Eka atau Eca dari Bangkok sampai New Delhi India melintasi Laos, Vietnam, China, Tibet, Nepal baru masuk India. 

Sayang Eca terhenti di India karena kesulitan mendapatkan visa Pakistan. Rekan di Jawa Pos secara guyonan memberi predikat Eca ‘Haji India’ ha..ha. Eca tak hanya mengabadikan perjalanan haji darat lewat kameranya, juga menjadi guide penulis. Bersama Eca,  penulis bisa merasakan makanan super enak di restoran berbagai negara yang dilintasi. Suwun Eca, suwun Boy, suwun Ali.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan untuk rekan JP Biro Jakarta wabilkhusus Mas Agus Wahyudi (AW) yang banyak membantu penulis selama melakukan liputan haji. Matur nuwun sanget Mas AW. 

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Mas Azrul Ananda, mantan Dirut JP Koran yang saat itu menunjuk penulis sebagai pelaku haji darat. Selain penulis dianggap bisa menulis dengan diskripsi kuat hingga diyakini mampu membawa pembaca JP berkelana lewat tulisan liku liku haji jalur darat. 

Pertimbangan lain, penulis pernah masuk Kabul, Afghanistan saat negara itu diserbu Amerika 2001 pasca tragedi penyerangan WTC atau Menara Kembar New York, 11 September 2001 oleh Al-Qaidah pimpinan Osama bin Laden. 

Liputan haji darat tergolong berat karena itu diperlukan  wartawan berpengalaman dan teruji melintas di negara Timur Tengah syarat konflik. Penulis dianggap memenuhi itu. Suwun Mas Azrul.

Dahlan Jenius, Belokan Rute Haji Darat Lewat Timur 

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan ke Bos Dahlan Iskan. Meski saat itu menjabat Dirut PLN lalu Menteri BUMN, Bos Dahlan tetap ikut cawe cawe saat penulis menthok di Myanmar.

Dis, bagi sebagian wartawan JP kadang menjengkelkan karena kemauannya sulit ditebak. Ditambah perintah liputannya sulit-sulit. Tapi, itu yang membuat wartawan JP kuat, tangguh, matang dan tahan banting. Tapi, terkadang Dis jenius. Superjenius. 

Itu terjadi saat perjalanan haji darat terhenti di Myanmar. Setelah dua hari, dua malam naik bus dari Yangon,  ke Monywa selama 14 jam. Disambung naik bus sejenis bus Kopaja tanpa AC dari Monywa ke Kalay selama 21 jam nonstop. 

Bodi bus banyak ditempeli isolasi karena karatan. Penumpang  berjejalan ditambah  barang bawaan sangat banyak. Belum lagi bus juga mengangkut barang kelontong, sayuran aneka bumbu masak  bawang semacamnya. 

Karena bagasi tidak muat, atap bus juga penuh, maka bangku penumpang paling belakang dipreteli. Disulap jadi tempat menaruh bumbu tadi dicampur jadi satu di duduk penumpang. Anda bayangkan bagaimana baunya. Campur aduk nggak karuan. Ya, pengab karena tidak ber AC, ya bau brambang. Bahkan selama perjalanan belasan jam kaki tak bisa diselonjorkan saking sempitnya. Sangat tidak nyaman bikin pegal badan. Melelahkan.

Ini perjalanan paling berat karena melewati jalanan makadam yang rusak parah. Naik turun bukit, pegunungan melintasi sungai yang tidak ada jembatanya. Kepala kerap terantuk pada besi, kaca bus.

Dari Kalay masih nyambung lagi dengan semacam angkot pikap sejauh  kilometer menuju Kota Tamu, masuk Propinsi Sangiang, timur Myanmar berbatasan dengan Provinsi Manipur, India. Saat tiba di Tamu hari mulai gelap. 

Belakangan penulis baru tahu, Tamu kota terlarang bagi warga asing. Penulis berniat menginap di empat hotel. Empat-empatnya menolak karena penulis tak dibekali surat izin dari Mendagri Myanmar. Sebab, di perbatasan Myanmar-India ada pemberontakan suku lokal India di Manipur. Penulis yang ditemani staf lokal Kedubes RI di Myanmar akhirnya ke imigrasi. Bukannya dibantu malah ditangkap dan diusir. Jam itu juga, malam itu juga penulis dikawal petugas imigrasi, dipaksa meninggalkan kota Tamu menuju kota Kalay, berjarak 100 kilometer naik ojek. Itu karena petugas imigrasi takut, kecolongan ada warga asing masuk Tamu. Agar tidak bermasalah, penulis cepat cepat dikeluarkan dari Tamu. Waduh… capeknya. Bokong sampai panas. 

Selama tiga hari menunggu di kota Kalay, penulis wajib lapor imigrasi Kalay. Imigrasi setempat melarang penulis berpergian lebih 4 miles dari hotel. Penulis juga kontak Pimred JP Leak Kustiya melalui telepon umum di pinggir jalan. Sebab, HP tak bisa nyambung dan juga tidak ada sinyal. Penulis bilang andai tidak bisa masuk India lewat kota Tamu, apa solusi redaksi Surabaya. Leak hari itu belum bisa memutuskan.

Sementara staf Kedubes RI di Yangon membantu penulis memintakan izin Mendagri Myanmar melintas perbatasan menuju India angkat tangan. Akhirnya, Dubes Sumarsono menyarankan penulis balik ke Yangon.

Karena waktunya kian mepet, dan redaksi Surabaya belum juga memberikan solusi. Ditambah tidak ada kontak karena HP penulis meski pakai jaringan internasional tak bisa nyambung di Yangon. Akhirnya penulis putuskan terbang ke New Delhi. Sampai di India penulis berencana ke Provinsi Manipur di perbatasan India-Myanmar untuk ”menyambungkan’’ kota Tamu (Myanmar) dan Manipur (India). 

Mendengar penulis terbang merupakan pantangan haji darat, Surabaya geger. Dahlan Iskan turun gunung. ”Kalau terbang, ngapain jauh-jauh. Dari Surabaya ke Makkah juga ada,’’ ujar Dis sewot dalam rapat segitiga antara Dis, Leak Kustiya (Pimred) dan Hendra Eka di rumah Dis, Sakura Regency Surabaya. Hendra Eka atau Eca, fotografer JP, diikutkan rapat karena akan terbang ke Bangkok untuk menggantikan Mohamad Ali yang menemani penulis. 

Eca dipilih karena pengalaman. Arek Suroboyo itu kerap bepergian ke mancanegara memanfaatkan tiket murah, penerbangan promosi. 

”Ini juga perjalanan sulit Bos. Masak wartawan disuruh haji darat melintas belasan negara sambil mengurus visa di perjalanan. Ini tidak masuk akal,’’ kata Eca. Dis paham protes Eca..

Setelah membeber peta dunia, membuka google map dan mendiskusikan dengan Leak dan Eca, akhirnya Bos Dis meminta penulis balik lagi ke Bangkok. Perjalanan diulang alias di-restart dari Bangkok. Lalu diputar lewat timur. Meski Makkah arahnya ke barat, Dis meminta lewat timur atau arahnya berlawanan. Ini aneh dan tambah jauh. Yakni, dari Thailand ke Laos, Vietnam, China, menembus Himalaya Tibet, Nepal baru India. Akibatnya, jarak bertambah jauh karena harus memutar. Tapi Bos Dis menilai perjalanan ini ramah. Sekaligus menghindari Myanmar yang tertutup karena dikuasai junta militer.

Kata Dis, perjalanan ini juga mistis karena melewati perbatasan China-India yang mencakup Tibet membelah pegunungan Himalaya. Jarang orang umum lewat perbatasan ini.

KEPUTUSAN DIS BRILIAN

Ternyata keputusan Dis sungguh brilian. Wilayah Laos, Vietnam, China, Tibet, dan Nepal tergolong ramah turis asing. Mengurus visa juga agak mudah sehingga mempercepat perjalanan. Kuncinya suatu wilayah atau negara ramah atau tidak adalah banyaknya turis asing ke negara itu. Ini yang saya maksud Bos Dis itu jenius.

Yang lebih jenius dari Dis, penulis tidak boleh pulang ke Indonesia sebelum masuk Makkah. Kalau tahun ini (2011) tidak bisa masuk Makkah, Bahari harus keliling dunia; entah mutar-mutar di Asia, Afrika, Eropa, atau mana saja. Baru tahun berikutnya (2012) saat musim haji masuk Makkah. JP pun mendukung total keperluan penulis selama haji darat. Jangankan nyewa mobil, beli mobil sekali pun kalau itu melancarkan haji jalan darat oleh Dis dipersilakan.

Kontan semangat saya bangkit lagi seperti pejuang 45. Padahal, sebelumnya drop karena terkungkung di Myanmar. Meski solusi yang diberikan Dis terlihat sepele, yakni tidak harus masuk Makkah tahun ini, kalau nggak nututi waktunya karena perjalanan harus memutar ke Timur. Tapi, bagi penulis itu ide sangat… sangat cemerlang. Idenya sangat jenius dan realistis hingga mampu membangkitkan semangat saya. Itu yang saya anggap Dis superjenius. Sebelumnya tak terbayangkan saya maupun redaksi JP Surabaya. Solusi itu hanya datang dari wartawan yang matang di lapangan, tak memperhitungkan dana, berani mengambil risiko. Yang penting tujuan tercapai. Dis benar-benar cerdas. Jangankan memutar setahun batin saya, lima tahun pun saya sanggup.

Perjalanan haji darat bagi penulis benar-benar menguras pikiran. Bahkan, sempat stres karena sulitnya mengurus visa di negara Islam. Sebaliknya, saya justru menikmati seberat apa pun medannya. Itu karena sejak kecil penulis suka hal baru, menikmati daerah baru dengan cara nggandhol truk. Kemana saja? Bali, Jokjakarta, Jakarta bahkan sampai Padang, Sumbar. Bahkan saat kuliah di Papua pernah ngandhol kapal dua kali ke Surabaya. Saat nggandhol kapal barang gagal, sampai Nabire. Saat nggandhol, menyusup kapal penumpang (KM) Umsini tahun 1987 lolos sampai Surabaya.

Haji darat ini jauh lebih berat, jauh lebih sulit daripada saat penulis ditugaskan masuk Kabul, Afghanistan 2001 saat Amerika dibantu Aliansi Utara baru merebut kota Kabul dari cengkeraman Taliban. 

Saat itu dibutuhkan nyali besar masuk Kabul karena Afghanistan masih kacau balau. Tidak ada pemerintah sah. Afghanistan terpecah-pecah dikuasai banyak kelompok. Situasinya sangat berbahaya bagi orang asing yang masuk Afghanistan. Di Kabul dikuasai Amerika dan sekutunya. Di kota perbatasan sepanjang Pakistan mulai Jalalabad sampai Queta, Kandahar dikuasai kelompok Mujahidin yang sebenarnya sebagaian besar orang Taliban yang berganti baju Mujahidin. 

Ini hanya siasat Taliban agar peralatan senjata berat seperti tank yang tidak bisa dibawa bergerilya di gunung-gunung tidak jatuh ke Amerika dan sekutunya. Tapi, tetap di tangan Taliban yang berganti baju Mujahidin. Sedangkan daerah pegunungan dan pinggiran masih dikuasai Taliban.

Meski kondisi berbahaya karena tidak ada pemerintah yang sah dan kuat. Tapi, begitu penulis mendapat pengawal pas. Bismilah. Berangkat. 

Masuk perbatasan jalan kaki lewat jalan tikus di Pegunungan Wensei, perbatasan Pakistan, Tajikistan dan Afghanistan disambung jalan darat beberapa hari sampai Kabul. Setelah itu balik ke Islamabad lewat jalan tikus lainya di perbatasan. Alhamdulilah selamat sampai Islamabad lagi.

Tapi, saat haji darat masalah terus muncul. Lagi-lagi visa, lagi-lagi visa. Apalagi, masuk negara lewat perbatasan darat, visanya rata-rata hanya 15 hari. Kalau masalah belum kelar visa habis, harus keluar dulu negara itu baru masuk lagi. Kalau di negara Islam harus mengurus perpanjangan. Kalau tidak, di-black list. Itu kian menyulitkan perjalanan haji darat selanjutnya.

Misalnya, penulis terjebak di Pakistan karena  visa Iran tak kunjung didapat. Padahal, penulis sudah mengurus mulai di Kedubes Iran di Bangkok, Hanoi, New Delhi sampai Islamabad. 

CEO Jawa Pos Dahlan Iskan saat itu baru menjabat Menteri BUMN setelah sebelumnya Dirut PLN, menelepon penulis saat ‘mentok’ di Pakistan. Penyebabnya, visa Iran sulit didapat karena harus aplikasi dulu. Penulis sambil jalan sebenarnya sudah mengurus visa Iran sejak di Bangkok, Hanoi  tapi gagal. 

Ketika mengurus di Kedubes Iran di New Delhi, India  juga ditolak. ”Mengapa tak diurus di Jakarta,’’ kata petugas Kedubes Iran penuh selidik. Melintas antar negara lewat darat dianggap tidak normal. Karena itu penulis selalu dicurigai mata-mata dan kurir narkoba. 

Tak heran, setiap melintas perbatasan bukan main ketatnya pemeriksaan. Semua barang digeledah tak kecuali celana dalam sekali pun. Semua barang bawaan diobrak abrik. Sebab, biasanya melintas antar negara lewat border darat umumnya kurir narkoba atau mata mata. 

Meski sudah dijelaskan waktunya mepet, makanya mengurus visa sambil jalan. Tapi, staf kedubes tetap curiga. ‘‘Mengapa tidak pakai pesawat saja. Lewat perbatasan darat terlalu berbahaya,’’ kata staf kedubes asing tadi. 

Itu sangat beralasan, selain di perbatasan rata rata terjadi sengketa kedua negara, juga rawan konflik sektarian Sunni-Syiah seperti di perbatasan Pakistan-Iran. Mereka saling bunuh, saling ngebom.

Apalagi, selama haji darat penulis tidak pernah mengaku wartawan. Bahkan, penulis harus mengganti status jurnalis di paspor dengan mengurus paspor baru. Sebab, status wartawan kian menyulitkan dalam perjalanan. Sebab, banyak negara mencurigai wartawan sebagai mata-mata, terutama di wilayah konflik. Mengaku apa saja, turis, pengusaha, peñata taman, pekerja konstruksi. Menyesuaikan negara dilintasi. Kalau di negara muslim penulis katakan sedang melakukan nazar haji darat.

Begitu juga saat penulis mengurus visa di Kedubes Iran di Islamabad, Pakistan, kian sulit. Harus mengajukan aplikasi dulu ke Teheran, Iran. Selain tidak ada kepastian dikabulkan, jawabannya bisa seminggu lebih. Entah dapat laporan apa soal penulis, atau mungkin geregetan penulis yang tak segera masuk Iran, tiba-tiba Bos Dis telepon. ”Kamu takut mati ya,’’ semprot Dis sengak (pedas, tidak enak) tanpa basa basi. Itu memang gaya Dis. Tembak langsung. Sebenarnya maksudnya baik, untuk membangkitkan semangat, tapi caranya tak biasa. Penulis sudah paham gaya Dis.

”Tidak Bos. Kalau takut mati, saya tidak akan berada di Pakistan,’’ kata saya. ”Lalu apa masalahnya,’’ cercanya. ”Kesulitan mengurus visa Iran. Harus mengajukan aplikasi ke Teheran dulu lewat Kedubes Iran. Itu belum jaminan dikabulkan, jawabannya juga lama,’’ kata penulis. Padahal, waktu masuk ke Makkah makin mepet, tinggal belasan hari.

”Oh, gitu ya… nanti biar dibantu Agus (orang PLN) kita ada kerjasama dengan Iran,’’ kata Dis. 

Tak lama Agus pun telepon penulis. ”Sampeyan naik pesawat saja ke Teheran. Kan visa Iran bisa on arrival,’’ ujar Agus enteng. ”Lho, saya ini haji darat tidak boleh naik pesawat,’’ jelas penulis. Ganti Agus kebingungan. Setelah itu tak pernah kontak lagi. Mungkin Agus kurang paham haji darat.

Dis sebelumnya juga sempat ”protes’’ mengapa saya hanya sehari di Tibet. Sebab, banyak hal bisa ditulis di negeri atap dunia yang begitu eksotis itu. Penulis katakan visa masuk Pakistan tinggal beberapa hari. Kalau telat masuk, bisa hangus. Mengurus ulang belum tentu dapat. Itu akan membuyarkan rencana perjalanan darat. Apalagi jarak Tibet dengan Pakistan masih jauh. Harus menyeberang ke Nepal butuh dua hari. Lalu melintas India yang luas hingga ke Amritsar, Punjab, kota perbatasan India-Pakistan. Meski sedikit dongkol Bos Dis bisa memahami karena alasannya cukup logis. ”Sayang ya…,’’ gerutunya. Bos Dis meski berulang kali ke China, tapi belum pernah menginjakkan kaki di Tibet. Makanya, itu yang membuat Bos Dis penasaran.

Saat melintas negeri Panda, Tiongkok penulis merasakan betapa luasnya negeri tembok besar. Naik bus dari Hekou kota Tiongkok di dekat perbatasan Vietnam hingga Kunming, ibukota Yunan butuh waktu tempuh 15 jam.

Dari Yunan ke Chengdu ibukota Sichuan naik kereta api dengan kecepatan rata rata 200 kilometer per jam butuh waktu tempuh 22 jam. Dari Chengdu naik kereta api ke atap dunia Lhasa ibukota Tibet butuh waktu 44 jam atau hampir dua hari melewati bantalan kereta api tertinggi di dunia dengan melintas di atas ketinggian 5.000 meter diatas permukaan laut (dpl). Jarak Chengdu-Lhasa juga perjalanan paling lama asat haji darat. Dari Lhasa, Tibet menuju Zhangmu kota perbatasan Tiongkok dekat perbatasan Nepal, naik kendaraan perlu waktu sekitar 18 jam.

Selain terhambat masalah visa, penulis saat melintas di perbatasan Amritsar (India)  dan Wagah (Pakistan) nyaris diperas sopir bajaj. Ceritanya, dari perbatasan Wagah penulis naik angkot ke Lahore, Punjab Pakistan. Begitu keluar kantor imigrasi Pakistan jalanan Wagah, kota perbatasan Pakistan tampak bajaj berjejer. 

Setelah tawar menawar tercapai kesepakatan harga 700 rupee sampai kota Lahore, ibukota Punjab, Pakistan. Jaraknya sekitar 25 kilometer dari Wagah kota perbatasan Pakistan dekat India. 

Saat bajaj mulai jalan satu orang ikut serta. Ia duduk di bangku belakang. Perasaan saya tidak enak. Saya merasa ada yang tidak beres. Benar saja, orang tadi mulai nerocos menanyakan tas kecil barang bawaan saya berisi kamera dan laptop. Saya langsung sigap. 

Saya teringat pengalaman Agustinus Wibowo, petualang negara-negara berakhiran Tan (Afghanistan, Kirgistan, Tajikistan,  dst) begitu menghadapi bahaya, hendak dirampok atau ditodong dalam mobil atau angkutan umum langsung membaca surah Al-Quran atau berdoa keras-keras, atau minimal didengar pelaku. Biasanya mereka akan mengurungkan niatnya.

Itu saya praktekan. Sambil waspada, saya baca surah-surah pendek dan dzikir tidak keras tapi cukup terdengar saja. Begitu orang tadi mengajak ngomong saya minta dia diam karena saya sedang dzikir. 

Pertama manjur, dia pun diam. Tapi, lama lama dia tidak tahan. Dengan berbagai cara dia terus memancing ngobrol agar saya mau menjawab. Sesekali dia juga ngobrol sama temannya tadi.

Dia juga tanya apa isi tas. Tapi, tidak saya jawab. Dari, kaca spion sopir tampak dia terus memperhatikan saya dan barang bawaan. Duduk saya dan dia hanya dipisahkan tas besar saya berisi pakaian.  Mbatin saya, kalau berniat merampas tas kecil ini akan saya lawan. Karena ini alat kerja saya paling berharga.. 

Namun dalam perjalanan rasanya bajaj begitu lama sampai di hotel. Mendekati hotel si calo tadi terus nerocos. Dia minta tambahan 200 rupee. Tapi, saya pura-pura tidak dengar. Ini pemerasan, batin saya. 

Begitu sampai di Peart Continental  (PC) Hotel, Lahore, Punjab, tas langsung saya amankan. Saya bayar 700 rupee seperti kesepakatan awal sama sopir. Tapi, orang tadi tadi turun dan marah-marah. Dia minta tambahan 200 rupee lagi. Alasannya, letak hotel cukup jauh. Agar tidak ribut saya tambah 100 lagi. Tapi, dia minta ngotot terus, Akhirnya, saya panggilkan petugas keamanan hotel yang berjaga di luar. Sopir dan si calo tadi buru-buru kabur dengan bajajnya. Saya bersyukur terhindar aksi kejahatan. (Bersambung)

Penulis:: Bahari, wartawan senior di Surabaya.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda