Masa Purna JP Tetap Berkarya

Jadi Narasumber Pertama

Sujarwo (paling kiri) ketika memberikan pembekalan kepada 54 karyawan JP Group yang akan pensiun. (FOTO: istimewa)

COWASJP.COM – Baru kali ini ada mantan karyawan Jawa Pos yang didaulat oleh manajemen Jawa Pos Group (JP Group) sebagai narasumber di acara “pembekalan” bagi para karyawan JP Group yang akan pensiun.

Siapa dia? Adalah Sujarwo, 54 tahun, lahir 24 Mei 1965 di Surabaya. Pensiun pada 2015 dari PT Temprina – perusahaan percetakan JP Group. Semua karyawan JP Group pensiun di usia 50 tahun. Hanya segelintir elite (pemegang saham) JP Group yang tak dibatasi masa kerjanya.

Acara digelar di lantai 2 Graha Pena Surabaya, Jumat 12 Juli 2019. Mulai pukul 08.00 sampai menjelang sholat Magrib. Tentu siangnya break makan siang dan sholat Jumat. Tercatat 54 karyawan JP Group yang menjadi peserta. Mereka datang dari berbagai perusahaan JP Group di berbagai penjuru Indonesia.

Kabar ini datang dari Soerijadi yang masih aktif di divisi iklan Jawa Pos Koran. Lewat Grup WA Cowas JP. Soerijadi memosting fotonya bersama Sujarwo. Di bawah foto dituliskan pesan: “Ketemu Mas Jarwo di Graha Pena (Surabaya, red). Dia ditunjuk manajemen JP sebagai narasumber yang memberikan pelatihan bidang usaha karyawan JP yang mau pensiun.”

Pesannya ini diposting pukul 13.58, Jumat 12 Juli 2019.

purna1.jpgFoto bersama para karyawan JP Group yang akan purna tugas. (FOTO: istimewa)

Cowas JP singkatan Konco Lawas Jawa Pos. Yaitu Perkumpulan Para Mantan Karyawan Jawa Pos Group yang didirikan 19 Agustus 2015. Dan, Sujarwo adalah salah seorang anggota Cowas JP.

Kabar dari Soerijadi tersebut terasa menarik karena baru kali ini mantan karyawan Jawa Pos sendiri yang didaulat menjadi narasumber. Sebelumnya,  yang dipilih sebagai narasumber selalu dari luar Jawa Pos Group.

Karena mantan karyawan JP sendiri yang didaulat menjadi narasumber, maka yang diperoleh para peserta tak sebatas teori dan kiat. Tapi benar-benar pengalaman nyata. Bagaimana karyawan JP Group tetap eksis setelah pensiun. Sesuai yang tertulis di backdrop di panggung para narasumber: “Masa Purna tetap Berkarya.”

Inilah yang menjadi “kelemahan” sebagian besar karyawan JP era Kantor di Jalan Kembang Jepun (1980 – 1989) sampai era Kantor di Karah Agung (1989 – 1997). Sebagian besar dari mereka tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk menjalani masa pensiun.

Semangat mereka hanya bekerja keras membangun “Imperium Jawa Pos” setiap hari. Kerja, kerja, dan kerja! Itulah kata mutiara yang ditanamkan Boss Dahlan Iskan setiap saat.

Tak pernah berpikir apa yang harus dipersiapkan agar tetap eksis di masa pensiun nanti. Situasinya memang tidak memberikan kesempatan untuk itu. Semuanya diperintahkan untuk fokus mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk Jawa Pos! Yang ketahuan bekerja rangkap langsung diminta memilih. Pilih kerja di Jawa Pos atau yang lain. Bahkan buka toko peracangan (kelontong) di rumah pun nggak boleh. Agar kerjanya fokus.

*

Akan tetapi, ternyata masih ada segelintir karyawan yang menangkap peluang bisnis. Itulah Sujarwo. Dia tetap bekerja total di percetakan Jawa Pos, tapi juga belajar bisnis. Masuk Jawa Pos tahun 1987. “Saya mulai dari BOO (bagian osong-osong atau angkat-angkat barang) di percetakan. Sambil belajar menjalankan mesin cetak,” kata Sujarwo yang asli warga Karah Agung Surabaya itu. Rumahnya hanya sekitar 200 meter dari Markas JP di Karah Agung.

Naluri bisnisnya muncul tahun 1994. Limbah cair dari sektor fotografi JP bisa dijual. Maka, dibelanjakanlah uang tabungannya untuk membeli limbah cair itu. 

Apakah kemudian limbah cair itu dijual lagi apa adanya?

purna2.jpgSujarwo, Cowaser pertama yang didaulat jadi narasumber. (FOTO: istimewa)

“Tidak. Sebab dari limbah cair ini bisa diolah dan diambil peraknya. Perak inilah yang saya jual. Hasilnya jauh lebih besar. Beli limbah Rp 4 juta misalnya, bisa menghasilkan perak seharga Rp 10 juta,” terang Jarwo.

Jarwo berasal dari keluarga besar. Maksudnya 10 orang bersaudara. Beliau adalah putra kedua dari 10 putra pasangan Pak Darjo dan  Bu Sumiyati. “Saya seperti menjadi tulang punggung dalam keluarga. Terutama untuk membantu biaya sekolah 8 adik-adik saya,” katanya.

Ibunya meninggal dunia di pangkuannya tahun 2008. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, ibunya bertanya: “Jarwo, siapa nanti yang membantu adik-adikmu?”

“Insha Allah saya Bu,” jawab Jarwo.

Yang jelas, karena dirinya telah tertempa dalam “gelanggang bisnis” sejak 1994, maka usai pensiun 2015 lalu Jarwo tetap eksis. Tetap berkarya. Tetap mendapatkan penghasilan belasan sampai puluhan juta rupiah per bulan. Tetap menjadi tulang punggung bagi saudara-saudaranya. 

Tak hanya bisnis perah dari limbah cair, tapi juga kertas dan buku. Jarwo mencetak buku-buku murah yang ongkos cetaknya hanya Rp 1.500 per eksemplar. Dijual Rp 4.000 sampai Rp 5.000. Omzetnya sampai 20.000 eksemplar terjual per buku. Bisa di hitung keuntungannya.  

Setiap bulan ada saja buku yang diproduksi. Bukan buku-buku ilmiah. Tapi buku-buku praktis. Misalnya buku resep masak beberapa makanan. Buku komik Upin Ipin. Cara menanam yang baik, dan sebagainya. Tidak banyak halaman. Yang utama: puluhan ribu eksemplar buku terjual.

Rumahnya di Ketintang Baru. Bukan di pinggir jalan, tapi di kampung. Tidak besar dan tidak mewah. Tapi di dalam rumahnya didominasi tumpukan kertas. Di semua ruangan. Untuk mencetak buku, atau dijual jika ada yang membutuhkan. Asli “ruko.” 

Kini dia menjadi juragan. Tidak lagi menjadi pekerja upahan. Memang bukan juragan skala puluhan miliar. Tapi dengan skala miliaran pun Jarwo sudah merasa berkecukupan. Bisa membantu saudara-saudaranya. Bisa membeli mobil pribadi yang lumayan bagus. Justeru setelah pensiun, pendapatannya lebih besar.  

 “Jadi, menurut saya, mempersiapkan diri menghadapi masa pensiun sebaiknya dilakukan sejak jauh hari. Karena itu saya sarankan kepada seluruh karyawan JP Group yang masih usia 30-an, bersiaplah menghadapi masa pensiun sejak sekarang!” 

purna3.jpgSoerijadi dan Sujarwo di Pujasera Graha Pena Surabaya. (FOTO: Soerijadi)

Kemampuan bisnis perlu diasah. Dijalani bertahun-tahun. Dialami jatuh-bangunnya.  Inilah yang menjadi kelemahan sebagian besar karyawan JP Group era Kembang Jepun dan Karah Agung.

Nah, di era Graha Pena Surabaya sekarang, lakukanlah persiapan sedini mungkin. Yang penting tidak mengganggu pekerjaan utama di perusahaan.

Segelintir elite JP Group punya deposito atau aset belasan miliar sampai ratusan miliar rupiah. Bahkan ada yang hartanya tidak habis tujuh turunan. 

Tapi yang di level tengah dan bawah? Ya harus mempersiapkan diri sedini mungkin untuk menghadapi pensiun. Ya kalau pensiun di usia 50 tahun? Siapa tahu perusahaan mengalami kemunduran yang luar biasa dan harus di PHK di usia 40-an?

Karena itu, terasa menarik ketika Sujarwo menjadi anggota Cowas JP pertama yang didaulat dalam acara “Masa Purna tetap Berkarya.” 

Sekadar info, manajemen JP Group tahun depan jika berkenan bisa mengundang anggota Cowas JP lainnya yang sukses usai pensiun. Ada koq. Antara lain DR Aqua Dwipayana yang berani pensiun dini (1994, ketika usianya masih 24 tahun) dari Jawa Pos dan kini sukses menjadi pakar komunikasi dan motivator nasional itu. Ada Gus Amus (Agus Mustofa) yang makin berkibar setelah pensiun dengan puluhan buku Tasauf Modernnya. Ada Suyoto yang kini punya pabrik potong ayam kapasitas puluhan ribu ekor per hari. Ada Darul Farokhi yang kini menekuni bisnis pertanian. Ada Uha Bahaudin yang memproduksi karpet akrilik dan kini mulai menekuni bisnis properti. Dan lain-lain. (*)

Penulis: Slamet Oerip Prihadi, Cowaser

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda