Pensiunan Berwisata ala Backpacker

COWASJP.COM – Semasa masih aktif berdinas memang beberapa kali pernah diberangkatkan ke luar negeri atas biaya kantor (dikenal dengan ABIDIN). Atas biaya dinas semuanya, seperti untuk melancong tak ada pengeluaran uang pribadi kecuali buah tangan. Hanya saja ada kelemahan, melancongnya sendirian, tidak disertai keluarga. Itu saja yang  terasa kurang.  Tentu tidak sempurna rasanya bagi yang sudah berkeluarga. Menikmati semuanya seorang diri atau hanya bersama teman sekantor.   

Baru setelah 5 tahun memasuki pensiun atau kerennya purna tugas inilah, malah berkesempatan wisata ke Kuala Lumpur beserta keluarga.  

Pada tulisan saya sebelumnya: "Tour Ke Kuala Lumpur Bisa dengan Kantong Tipis.” Ternyata melancong ke negara orang bisa dengan biaya minim, dan tentu bisa dinikmati sepuas-puasnya. Bahasa Jawanya: “ISO SAK KAREPE DEWE” (bisa semaunya sendiri). 

Rasanya jauh lebih menyenangkan dibandingkan berwisata ikut Travel Tour, yang waktu dan tempatnya telah diatur ketat. Kadang ada rasa malas menikmati obyek wisata, tapi dipaksa untuk menikmati, dengan  menunggu peserta lain yang sedang menikmati. Begitu juga saat kita bisa menikmati sesuatu, tapi tak bisa berlama-lama. Belum lagi biayanya lebih mahal.

Perjalanan bersama keluarga terakhir melancong beberapa bulan sebelum pensiun, bersama semua teman sekantor anak perusahaan Petrokimia Kayaku, sekalian seluruh keluarganya ke Pulau Lombok.   Yang semua destinasi wisata dan hotelnya diatur dan dipilih sendiri, termasuk hotel dan waktunya makan.  Ternyata jauh lebih menyenangkan,  tapi tak dapat dipungkiri banyak juga  kelemahannya.

Saat mau berangkat wisata ke Kuala Lumpur, sehari sebelumnya saya perhatikan wajah istri dan anak-anak saya tampak riang dan bersemangat. Kadang tersenyum-senyum, karena bapaknya yang  sudah pensiun malah ngajak wisata ke Kuala Lumpur di negeri  orang.   

Memang saat mereka masih kecil sering ikut kerja keliling ke Palembang, Ujung Pandang, dan Medan. Seperti wisata juga, karena memang sifat pekerjaan harus bertemu kolega yang lokasinya kadang dekat dengan destinasi wisata. Jadi lokasi wisata di daerah tersebut mungkin mereka hafal.   

Seperti Danau Ranau di Sumatera Selatan,  Tanah Toraja, Danau Tempe, dan pantai-pantai sepanjang jalan di Sulawesi Selatan,  Brastagi, mengelilingi Danau Toba, di Sumatera Utara, Danau Singkarak,  Bukit Tinggi dan seterusnya.

Malah pernah saat lebaran  mudik dengan mobil menjelajah Sumatera dari  kota Medan sampai Malang. Tentu mampir ke lokasi yang bisa dinikmatu. Saat ini mereka sudah besar akan merasakan kembali kebersamaan seperti saat mereka masih kecil.

Jadwal  Pesawat Air Asia yang saya pesan sebulan sebelumnya,   berangkat dari Surabaya jam 09.55, sehingga jam 06.00 pagi kami harus berangkat dari Malang menuju Bandara Juanda.  Sekitar jam 7.30 sudah sampai.  Saat memarkir mobil di Juanda  teman wartawan  saat di Jawa Pos, biasa saya panggil Cak AMU,  yang kebetulan janjian berangkat   ke Kuala Lumpur juga sudah kirim pesan lewat WA: ”Aku sudah check in, jadi berangkat ke KL kah.” 

Segera kubalas  biar dia tidak risau.

. ”Sudah di parkiran Bos.” Balasku cepat.

Segera saya masuk ruang keberangkatan, dan ketemu teman yang sudah menunggu, kemudian ke tempat check in. Semua beres termasuk urusan bagasi, karena ada koper besar yang berisi pakaian seberat 18 Kg. Saya sudah pesan bagasi tersebut terlebih dahulu bersamaan saat pesan tiket. Bagasi 20 Kg pulang pergi dengan biaya Rp 425.000. 

Relatif murah, sekitar Rp 10.625 per Kg.   Sebaiknya memang pesan begasi terlebih dahulu, karena jika tidak akan kena biaya bagasi relatif mahal.Saat baliknya hampir bayar mahal, karena ada kelebihan berat  8 Kg (28 Kg) dan harus bayar 115 RM (Rp 414.000,- kurs 1 RM = Rp 3.600). Mahal, Rp 51.700 per Kg.  

Beli bagasi sekalian tiket jauh lebih murah. Bandingkan  selisihnya Rp 51.750 /Kg  dan Rp 10.625. Selisih Rp 41.125 per Kg.

Pemeriksaan  Imigrasi Juanda relatif cepat, hanya ditanya: “Berapa hari?” Kujawab: “4 hari saja, Kamis balik.” 

Kami berangkat hari Senin 11 Maret 2019.  Barangkali dilihat bahwa paspor saya beberapa bulan lagi tidak bisa dipakai atau pertanyaan bakunya memang begitu, entahlah.  Dari masuk ruang keberangkatan sampai masuk ruang tunggu keberangkatan, butuh waktu  hanya 20 menit an. Relative lancar tak ada antrian, atau karena saya paling awal check in-nya.

Sekitar 1 jam menunggu, relatif lama untuk saya yang pingin segera tahu Kuala Lumpur seperti apa, apakah lebih hebat dari Jakarta atau sebaliknya. Maklum karena memang belum pernah.   

Sisa waktu menunggu saya gunakan untuk makan roti dan berbincang dengan Cak AMU (teman Jawa Pos dulu yang jarang bertemu) tentang banyak hal, mulai cerita anak dan cucunya,  dan usaha yang dirintisnya di Pulau Lombok ikut berantakan akibat gempa besar beberapa waktu lalu. Tentang politik di Indonesia yang biayanya sangat  tinggi, dan lain lain.

Tepat jam 9.55 pesawat Air Bus 320 sudah siap terbang di landas pacu. Bagus betul mengatur waktu semua prosesnya, dan jam 13.05 waktu Kuala Lumpur (beda waktu 1 jam) sudah mendarat di bandara KLIA 2. Pilot menjelaskan penerbangan lebih cepat 30 menit dari jadwal, yang biasanya 2,5 jam menjadi 2 jam saja. Tapi saya tak merasakan pesawatnya “ngebut”, seperti Bus jurusan Surabaya-Malang. Mungkin karena cuaca cerah sehingga tak perlu belok-belok jalur, tapi yang jelas menguntungkan bagi penumpang seperti saya.

Bandara KLIA 2 ini kalau saya perhatikan saat akan mendarat, semuanya pesawat milik Air Asia. Lokasinya  dikelilingi oleh kebun sawit, sepertinya jauh dari perkampungan penduduk.    Relatif luas dan lebar, runway nya relatif jauh dari terminal. Dari saat mendarat sampai ke Garbarata ada sekitar 15 menitan.

bambang.jpgMenuju pintu keluar seperti jalan di pusat perbelanjaan. (FOTO: CowasJP)

Dari  kejauhan  kelihatan terminal kiri dan kanan dihubungkan dengan jembatan  Sky Break, yang  ternyata harus saya lalui dengan jalan kaki untuk mencapai Imigrasi, mengambil bagasi kemudian ke pintu keluar penumpang.  Pesawat parkir di salah satu sisi bangunan dan pintu keluar di sisi bangunan lainnya membelakangi pesawat, lumayan jauh.

Karena tidak ikut Travel Tour kami berlima (saya, istri, 2 anak, Cak Amu),  santai seenaknya berjalan menelusuri bangunan bandara yang relatif besar dibandingkan Bandara Juanda. Berpendingin cukup sejuk pula , dan beda dengan Bandara Soekarno - Hatta, Cengkareng. Penumpang domestik sudah bisa merasakan udara panas  Jakarta saat melewati salah satu lorong terbuka yang ada tamannya, saat menuju pengambilan bagasi dan pintu keluar.

Entah berapa menit saya berjalan mengikuti petunjuk menuju Imigrasi dan pengambilan begasi. Cak Amu pun sama seperti saya belum pernah merasakan nyamannya  Bandara KLIA 2 (meskipun berbiaya rendah).  “ Aku yo sik iki mendarat ndik bandara iki, biyen during onok B (panggilan saya saat jadi  wartawan Jawa Pos)."

Saya juga baru sekarang mendarat di bandara ini, dulu belum ada. Sekitar 15 tahun gak ke KL. 

"4 tahun lalu pernah ke Thailand lewat Penang, tapi gak mendarat di bandara ini,” kata Cak AMU yang terheran dengan suasana bandara baru. Begitu juga saya.

Akhirnya sampai juga di pemeriksaan imigrasi, berlangsung cepat, sidik jari, menatap kemera, distempel, berlanjut menuju lorong keluar lewat pintu kecil selebar pintu rumah. Menuju pengambilan begasi.   

bambang1.jpgLorong terminal kedatangan dengan petunjuk arah yang jelas. (FOTO: CowasJP)

Di tempat pengambilan begasi, saya perhatikan hanya koper saya saja yang tertinggal, yang lain mungkin sudah diambil terlebih dahulu.  Karena kita berlima jalannya sangat santai di koridor bandara KLIA 2, tidak bergegas seperti penumpang lainnya. Inilah asyiknya berwisata. “ SAK KAREPE DEWE, “ seenak kita sendiri, berfotoria, melihat dengan seksama sudut-sudut bangunan seperti layaknya pejabat sedang supervisi.

Di depan lokasi pengambilan begasi, sudah dikelilingi dengan pertokoan aneka makanan untuk oleh-oleh, café pun ada. 

Suasananya santai, tak ada porter (kuli angkut) yang tampak.  Jadi kita bisa nongkrong dulu minum kopi atau teh di situ dengan aneka makanan ringan. Beda dengan di Bandara Juanda maupun Bandara Cengkareng, baru ngambil bagasi sudah tampak pintu keluar dan disambut dengan kerumunan orang-orang penjemput  sanak famili, handai taulan,  calo taxi. Bisa saja ada pencopetnya, penipu dan lain lain bercampur baur …

Setelah mengambil bagasi satu-satunya milik saya yang tersisa, kami terus berjalan arah keluar.. dan ternyata seperti masuk mall yang di samping kiri kanan berderet kios-kios modern  menjual aneka makanan, pakaian bermerk, café seperti kalau kita jalan-jalan di Tunjungan Plasa saja.  Bagus konsep landscape interior Bandara KLIA 2 yang berbiaya rendah ini.   

Saya jarang sekali bepergian ke luar negeri merasa lebih nyaman dan familier dengan suasana Bandara ini.   

Petunjuk yang tersedia sangat jelas, kita tak perlu bertanya sepanjang tidak buta huruf, jadi sangat nyaman untuk warga asing.  

Dari tempat pengambilan bagasi sampai  pintu keluar, tak ada seorang pun bertanya, memperhatikan tingkah laku kita disepanjang  jalan, semua sibuk dengan urusan masing-masing. Jadi sangat cocok untuk wisatawan yang “ndlereng, semaunya dewe..” selama tidak menimbulkan kerepotan pihak lain. 

Misalnya mau bertanya, wong tidak ada yang perlu ditanyakan, semua petunjuk arah pintu keluar jelas, sehingga kami berlima melenggang tanpa terusik, berfoto ria juga tak ada yang peduli.  Sebenarnya ingin berlama-lama  menikmati suasana bandara ini sampai puas, tapi tanpa terasa sudah sampai ke lokasi pembelian tiket bus yang berderet-deret. t

Tinggal pilih mau tujuan ke mana, tinggal baca.   Dan lagi-lagi  tak ada teriakan penawaran dari awak counter taxi, bus, seperti di Soekarno Hatta maupun Juanda. Semuanya berlangsung  tenang, tak ada keriuhan, kita tinggal milih mau ke mana, tinggal lihat di atas konter tertulis kota-kota yang akan kita tuju.

bambang2.jpgKonter tiket bus dekat pintu keluar. (FOTO: CowasJP)

Saya pun menuju konter bus untuk tujuan KL Sentral dan ternyata paling panjang antriannya, saya yakin mereka sebagian besar  berasal dari Indonesia, atau orang Malaysia yang baru pulang dari Indonesia.  Sayapun tak bertanya dari mana terhadap mereka, karena mereka mungkin tak mau diganggu dengan pertanyaan bekas wartawan. 

Tapi kalau dengar pembicaraan mereka, sepertinya dari Indonesia, semenjak dari  Surabaya sampai  di konter penjualan tiket bus, saya belum pernah sekalipun berkomunikasi dengan orang  Malaysia, di pemeriksaan Imigrasi pun tak ada komunikasi.  Nah, saat beli tiket bus itulah saya mulai mendengar bahasa Malasia. 

“KL Sentral 5 orang.” kataku sambil menunjukkan jari tangan kanan yang dimekarkan semua sebagai bahasa isyarat lima.  

“Enam puluh ringgit,”  jawab penjaga konter tersebut singkat. Saya lihat semua penjaga konternya cewek.  Sambil menyerahkan tiketnya, saya dengar petugas konternya berkata “Gate sebelas…”, aksen asli Melayu Malaysia.  

"Seribu ringgitku sudah berkurang 60 RM, sisa 940 RM," batinku.

Saya  memberi isyarat ke Cak AMU untuk keluar,  saya perhatikan hanya satu pintu keluarnya, kok petugas tiketnya ngomong  sebelas..?   Di luar saya perhatikan ada bus-bus yang parkir dengan tanda petunjuk dari seng yang ada standarnya, tulisan nomor satu dan sebelahnya 2, mungkin ini yang dimaksud “gate11.“ Tapi kok hanya sampai 5?,

 Mana 11 nya, sepi dan tak ada orang pula.   Saya pun menengok balik, kok banyak orang memasukkan koper-kopernya ke ruang bagasi bus bertanda nomer 1.

Saya balik mendekati bus tersebut. ”KL Sentral!” teriakanku agak keras karena bising dengan suara mesin bus, ke orang yang berseragam dekat bus tersebut. 

“Iya.” jawabnya pendek. Dan saya pun memberi  isyarat ke anak saya untuk masukkan tas-tas ke bagasi bus.  Di dalam bus saya berpikir, meskipun kesasar jauh, tak dipedulikan oleh para petugas yang berdiri di samping bus-bus tersebut, dan sepertinya cuek saja. Orang mau nyasar ke mana dibiarkan saja.   Dan saya baru paham, kalau yang diucapkan petugas konter tersebut adalah ”Gate sebelah.”  Bukan “Gate sebelas.”  Hanya beda huruf  H dan S 

Saya pun tertawa dalam hati, baru komunikasi sekali dengan bangsa serumpun sudah salah dengar dan salah paham. Dengan ucapan khas dan uniq Melayu Malaysia. Bagaimana budaya orang Malaysia terhadap kebersihan dan etos kerjanya, akan saya tuliskan pada waktu mendatang. (*)

Pewarta : Bambang Supriyantoro
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda