Lebih Dekat dengan Dhimam Abror (6)

Sempat Dituduh Cuci Tangan

COWASJP.COM – Penulis novel "Gadis Pulau" dan beberapa buku lainnya, Nasmay L. Anas, menilai Dhimam Abror sebagai sosok yang berakhlaknya sangat. Itulah sebabnya Nasmay mendukung majunya mantan Pemimpin Redaksi Harian Jawa Pos itu sebagai Caleg DPRI RI Dapil Jatim 1 (Surabaya dan Sidoarjo) nomor urut 2 dari Partai Amanat Nasional (PAN).
Berikut penuturan Nasmay:

*******************************

Sebagai seorang muslim dan pernah bersamanya di desk internasional Biro Jakarta Harian Jawa Pos, saya melihat Mas Abror mempunyai kesantunan, human relation, dan kesetiakawanannya yang sangat baik sebagai modal ke Senayan.  Intinya secara keseluruhan Mas Abror memiliki akhlaq yang baik.

Mas Abror sangat layak untuk didukung. Agar lolos ke Senayan. Biar parlemen kita mendapatkan darah baru untuk lebih memperjuangkan kepentingan rakyat. Sehingga anggota DPR benar-benar digantikan dengan orang-benar yang memiliki kapasitas, integritas dan budi yang luhur.

Bagi saya, hal itu sangatlah penting. Bila kelak dia lolos ke Senayan, dia akan menyandang sebutan “Anggota Dewan yang Terhormat.” Sebutan yang mestinya tidak dipandang dari sisi kedudukannya yang tinggi, melainkan juga dari budi-pekertinya yang luhur. Dari kesiapannya untuk melakukan langkah-langkah yang patut dihormati orang banyak. 

Sebagai sosok yang mewakili banyak orang, dia mestinya memi liki kelebihan secara personal. Dan kelebihan itu pada tingkat yang paling tinggi sebagai salah satu tokoh muslim, harus dilihat dari kualitas budi-pekertinya. 

Dalam diri Mas Abror, saya melihat ada kelebihan yang saya maksudkan tadi.

abror.jpgDhimam Abror Djuraid. Masih seperti yang dulu. Suka bercanda, dekat dengan kalangan atas sampai bawah.(FOTO: Cowas JP).

Mohon maaf, pada masa sekarang tidak banyak kita melihat sosok anggota dewan dengan modal budi-pekerti seperti itu. Karena itu kita sering melihat banyak teman sendiri yang lantas lupa diri, setelah lolos ke Senayan. Mereka telah terpesona dengan kedudukannya, terutama dengan segala fasilitasnya. Sehingga lupa dengan sahabat. Lupa dengan lingkungan yang dulu membesarkannya. Lupa kepada pemilih yang berharap agar dia dapat berbuat sesuatu untuk mereka. 

Seingat saya, ketika pulang dari menjalani tugas sebagai Kabiro Jawa Pos di Australia pertengahan 1990-an, Mas Abror ditempatkan di Jakarta. Menjadi editor di desk internasional. Itulah pertama kali saya mengenalnya. Bergaul dan bersahabat cukup rapat dalam menghimpun berita-berita internasional. 

Di mata saya, Mas Abror adalah sosok sahabat yang mudah diakrabi. Memiliki kesetiakawanan yang tinggi dan mengayomi. Tidak menampilkan diri seperti atasan yang punya kuasa. 

Kalau pun memberi tugas, dia selalu menyampaikannya dengan nada bertanya. Seolah meminta pendapat orang yang dia beri tugas. Tidak bersikap mentang-mentang dengan jabatan yang disandangnya. 

Rasanya tidak begitu lama Mas Abror di biro Jakarta, sebab dia  kemudian ditarik ke kantor pusat di Surabaya. Dan kariernya juga terus menanjak hingga menjadi salah satu redaktur yang diperhitungkan. Bahkan Mas Abror kemudian menduduki jabatan Pemimpin Redaksi.

Seingat saya, Mas Abror hanya beberapa kali  datang ke biro Jakarta, tepatnya ketika kantor biro Jakarta masih di Jalan Prapanca Raya dan Kebayoran lama. 

Setiap kali berjumpa dengan teman-teman di biro Jakarta, dia selalu bertegur sapa dengan akrab. Bercanda seperti dulu, ketika dia masih di Jakarta. Tidak hanya dengan teman-teman wartawan, melainkan juga dengan karyawan yang lebih rendah jabatannya. 

Kasus Cuci tangan
Terlepas dari semua itu, kenangan paling berkesan buat saya dari sosok Mas Abror adalah ketika tiba-tiba nama teman-teman wartawan di Jakarta 'terhapus' dari boks redaksi. Itu terjadi menjelang munculnya gerakan reformasi di negeri ini.  Tepatnya ketika bencana krisis moneter masih menyisakan persoalan. Yang membuat keteteran sejumlah perusahaan. Sehingga tak sedikit yang merumahkan sebagian karyawannya. Meskipun Jawa Pos masih termasuk kokoh, tetapi persoalan perumahan karyawan tak bisa dihindari sempat jadi perbincangan. 

Bagi rekan-rekan yang terhapus namanya, hal itu mengesankan seolah manajemen perusahaan hendak menyingkirkan para 'wartawan senior', untuk tidak menyebut yang tua-tua. 

Dalam obrolan-obrolan santai sore hari, persoalan ini pernah mengemuka. Apalagi kemudian memang terbukti nama mereka terhapus, sehingga melahirkan kemarahan.  Banyak yang tidak bisa menerima keputusan pahit tersebut. 

Dalam suasana yang masih panas itu, saya menerima telepon dari Mas Abror. Mantan redaktur saya sewaktu di Jakarta itu berusaha menyabarkan hati saya. Saya tidak tahu apakah dia juga menelepon teman-teman yang lain. Tetapi tindakan Mas Abror itu dianggap sebagai upayanya untuk 'cuci tangan'. Saya mendengar ada yang berpendapat seperti itu. Untuk menunjukkan bahwa dia tidak terlibat dalam menghapus nama teman-teman. 

Bertahun-tahun kemudian --bahkan ketika saya sudah tidak di Jawa Pos lagi-- kenangan tentang peristiwa itu masih melekat kuat di benak saya. 

Setelah saya menyelami sikap Mas Abror yang menelepon saya itu, saya sampai pada kesimpulan: Mas Abror menelepon saya bukan untuk 'cuci tangan', sebagaimana kecurigaan beberapa orang kawan. Melainkan sebagai bentuk kepeduliannya kepada saya, yang pernah membantunya di desk internasional biro Jakarta. 

Sebagai seorang sahabat yang merasa ikut prihatin dengan apa yang saya alami saat itu. 
Dalam pandangan saya kemudian, apa gunanya juga dia menelepon saya kalau hanya untuk sekadar cuci tangan. Toh, bukan mustahil kejadian itu hanyalah sebuah 'kesalahan teknis' di meja pra-cetak. Toh bukan hanya dia dalam jajaran redaktur di Surabaya yang punya wewenang untuk melakukan hal itu, sekiranya keputusan tersebut memang disengaja. 

Seperti Dulu
Saya mengenang masa-masa sibuk bekerja yang terlalu sering diwarnai canda-tawa hampir 30 tahun silam. Lalu, puluhan tahun kemudian saya tak pernah berjumpa dengan Mas Abror. Sampai setelah adanya grup WA Cowas JP (Konco Lawas Jawa Pos). 

Meski demikian, saya masih mendengar dari teman-teman cerita tentang Mas Abror. Tentang kedudukannya yang sudah jadi Pemimpin Redaksi Jawa Pos. Mencalonkan diri sebagai Walikota Surabaya. Dan yang terpenting di mata saya, dia masih suka main bola bersama rekan-rekan Cowas JP. Sesuatu yang memperlihatkan bahwa dia tidak menempatkan dirinya di awang-awang. 
Dia tetap sahabat yang baik seperti dulu, dan suka berkumpul bersama teman-teman yang lain.

Sebagai seorang sahabat, saya ikut mendoakan Mas Abror lolos ke Senayan. Agar membawa angin perubahan di DPR. Dari sisi ketokohan, tingkat pendidikan, dan yang paling penting, sikap keberagamaannya, saya pikir Mas Abror  akan mampu berbuat banyak mewakili rakyat yang memilihnya. Yang memahami bahwa dia menyandang amanah dari rakyat. Pertanggungjawabannya tidak hanya kepada yang memilih, melainkan lebih kepada Allah SWT. (*)

Pewarta : Nasmay L. Anas
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda