Lebih Dekat dengan Dhimam Abror (2)

Seorang Pemecah Masalah

COWASJP.COM – Pemilu 2019 tinggal menghitung hari. Puluhan ribu caleg (calon anggota Legislatif) di seluruh Indonesia sedang berjuang keras menarik simpati rakyat Indonesia. Mulai caleg DPR RI, DPR 34 Provinsi, DPR 416 Kota/Kabupaten, sampai DPD. 

Dhimam Abror Djuraid adalah salah seorang caleg DPR RI. Dari PAN, Dapil Surabaya-Sidoarjo, nomor urut 2.

Beliau adalah Ketua Cowas JP (Perkumpulan Mantan Karyawan Jawa Pos Group beranggota 200 orang). Enam anggota Cowas JP lainnya yang “nyaleg” adalah Suryanto Aka (DPR RI, PAN), Ferry Is Mirza (DPR Jatim, PAN), Herman Rivai (DPR Kota Surabaya, PAN), Ir Misbahul Huda (DPR RI, PKS), Dwi Arifin (DPR Kota Surabaya, Partai Berkarya), Herry Cahyono Putra (DPR Kota Surabaya, Gerindra).

Tulisan kami akan berfokus pada satu pertanyaan. Layakkah Arek Surabaya ini didaulat  sebagai caleg DPR RI?

abror1.jpgSuasana gayeng di Panjoel Cafe.(FOTO: CowasJP)

Sebagai mantan wartawan Jawa Pos (1982-2006), kami sedikit banyak mengenalnya. Mengenal Dhimam Abror sejak kali pertama masuk Markas Besar Jawa Pos di Jalan Kembang Jepun, Surabaya, pada 1986. Ketika rambutnya masih gondrong. Masih muda, usia 23 tahun,  enerjik. Beliau lahir di Surabaya 1 Agustus1963.

Kami menyimpulkan bahwa Dhimam Abror Djuraid adalah seorang pemecah masalah (problem solver). Mengapa?

1. Ketika perekonomian dunia dilanda krisis moneter 1998, dolar meroket dari Rp 2000-an ke Rp 18.000, manajemen Jawa Pos Group pun ikut panik. Jangan-jangan kapal induknya (Jawa Pos) tenggelam.

Dahlan Iskan sebagai “panglima” memutuskan beberapa kebijakan beraroma kepanikan. Sejumlah wartawan dialihtugaskan ke divisi periklanan, bahkan ada yang dijadikan Satpam. Gaji karyawan tidak naik. 

Namun, Dhimam Abror yang waktu itu masih menjadi Redaktur Pelaksana (Redpel) mengajukan usul pemecahan masalah yang jitu. Dan, diterima langsung oleh Pak Bos –sapaan akrab Dahlan Iskan di kalangan Jawa Pos.

 Waktu itu koran-koran di Indonesia masih 9 koloman. Abror mengusulkan agar Koran Jawa Pos (JP) diubah menjadi koran 7 koloman. “Jumlah halamannya tidak berkurang, tapi biaya produksi turun lebih dari 30 persen!” kata Abror.

abror2.jpg

Agar tulisan ini lebih akurat, Jumat pagi (29 Maret 2019) kami wawancara beliau. “Koran 7 koloman ini dikenal dengan format broadsheet. Pak Bos kemudian menyiapkan iklan-iklan canggih untuk menyosialisasikan perubahan ini. Kemudian JP format broadsheet ini menjadi trendsetter koran-koran se Indonesia. Seperti yang kita kenal sekarang,” jelasnya.

Abror menceritakan, bahwa saat itu (1998) yang diterapkan adalah manajemen penjual kerupuk. Wouww. “Ketika harga bahan baku naik, pedagang kerupuk tidak menaikkan harga. Tapi menjadikan kerupuknya lebih kecil. Harga tetap,” urainya seraya senyum mengenang masa lalu.

Tak lama kemudian seluruh wartawan yang dialihtugaskan kembali pada fungsi sejatinya. Yaitu wartawan. Pemburu berita. Bukan pemburu iklan dan langganan.    

Dhimam Abror sudah melihat koran format broadsheet ketika ditugasi sebagai wartawan JP yang ngepos di Sydney, Australia, 1991-1995. Waktu itu koran-koran besar di Australia, seperti Sydney Morning Herald, The Australian (Canberra), The Age (Melbourne) menerbitkan format 7 kolom untuk edisi weekend: Jumat, Sabtu, dan Minggu.

abror4.jpg

Pada 1996 beliau ke AS (Amerika Serikat). Selama 3 bulan. Mendapat undangan dari The Freedom Forum. Magang di USA Today. “Saya melihat koran-koran di Amrik sudah menerapkan format 7 kolom, TIAP HARI.

Hanya koran-koran besar yang masih konservatif dan terbit hitam-putih. Seperti Washington Post, New York Times, Chicago Tribune.

“USA Today full color  semua halaman, 7 kolom, dan langsung melejit jadi koran terbesar di Amrik. Meskipun diledek sebagai koran kurang bermutu.”

Nah, pada saat krismon mengguncang dunia itulah hasil pengamatannya di Australia dan Amrik disampaikan kepada Pak Bos.

“Pak Bos, tirulah USA Today. Sebab, Kompas kiblatnya New York Times. Yang konservatif itu. Waktu magang 3 bulan di USA Today, pemimpin redaksinya bilang kepada saya. Mengapa USA Today full color. Karena dia mentelevisikan koran. Karena semua penduduk AS lahir procot sudah nonton TV yang full color. Karena itu, koran juga harus full color,” cerita Abror.

Desain halamannya juga berubah. Lebih atraktif. Foto-foto lebih banyak dan ukurannya lebih besar. Lebih kuat visualisasinya.

Usai krismon mereda, Koran JP makin berkembang.

abror5.jpg

So, inilah salah satu bukti bahwa Dhimam Abror Djuraid adalah problem solver. Wong cilik sangat berharap, para wakil rakyat mulai pusat sampai daerah bisa menjadi problem solvers. Tak hanya jago debat, singa podium, dan lihai berargumentasi. Tapi juga ikut berperan menjadi pemecah masalah bangsa. 

Kalau di tiap sektor punya problem solver, alangkah indahnya Indonesia 10 tahun mendatang. Magang atau studi banding ke luar negeri, benar-benar membawa “cinderamata bermutu dan bermanfaat.”

2.Dhimam Abror pensiun dini di JP. Pada 2003, ketika usianya masih 40 tahun. Kami tidak perlu mengusut apa sebabnya. Sebab, jawabannya sudah terjawab tuntas di buku mantan Jawa Pos, Bahari. Bukunya berjudul: “Azrul Ananda Dipuja dan Dicibir. Kontroversi Penguasa Baru Jawa Pos, Ahli Waris Dahlan Iskan.”

Beliau kemudian didaulat jadi Pemred (Pemimpin Redaksi) Koran Surya 2004-2007. Anak perusahaan Kompas (Grup Gramedia). Ketika Surya masih kecil, walau sudah terbit sejak 1990.

Apa yang dilakukan Dhimam Abror? “Langsung saya banting harga. Eceran Surya per eksemplar hanya Rp 1.000. Eceran JP waktu itu Rp 2.500. Kompas Rp 2.900.”

Sekarang eceran Surya Rp 2.000. Begitu murahnya. Tapi hasilnya, kini Surya tidak bisa lagi disebut sebagai koran kecil. 

Sekarang, Surya dan media cetak lainnya sedang bertarung hebat dengan media online dan mesin pencari situs (web search engine) dan news agregator yang bernama google dan yahoo. 

Begitu analisis  pengamat media massa, Agus Sudibyo, Kamis 4 Februari 2019. Seperti dilansir mediaindonesia.com. Google dan Yahoo mengumpulkan dan mengorganisir konten dari berbagai media jurnalistk secara otomatis. Tanpa izin. Gratis pula! Mereka juga menerima iklan tanpa pajak. 

Dus, mesin mencari situs tersebut tak hanya mengancam media cetak. Tapi juga media audio-visual: televisi.

Dhimam Abror menjelaskan, mengapa Surya banting harga? Karena di masa depan koran akan gratis. Karena berita bisa didapat gratis di mana-mana. Praktis Koran JP tersedot koran seribuan (sekarang dua ribuan).

Beliau sudah mengantipasi nasib koran dekade 2011-2020 dan seterusnya. Visioner juga.

abror3.jpg

Jelas, ini menjadi bukti kedua: beliau adalah seorang pemecah masalah.

Memang, sebagai manusia biasa Dhimam Abror tak selalu sukses. Selesai dikontrak sebagai Pemred Surya 2007, beliau dikontrak sebagai Pemred koran sore Surabaya Post 2008-2010. Yang kondisinya di ujung tanduk. 

“Tapi saya gagal mengembalikan kejayaan Surabaya Post karena campur tangan owner Bakrie Group yang terlalu besar. Ide saya untuk menjadikan Surabaya Post koran pagi ditolak. Rencana saya mau adu head to head dengan JP dan Surya tak terwujud.

SUKSES LAINNYA

1.Ketika menjadi manajer Persebaya Junior pada 2000 sukses menjuarai Piala Suratin. Setelah 25 tahun puasa gelar. Setelah Djoko Malis Mustafa dan kawan-kawan juara Piala Suratin pada 1975.

“Rekor saya bertahan 17 tahun sampai ketika Persebaya juara Liga Remaja 2017,” tuturnya.

2. Waktu Dhimam Abror menjadi Ketua Pengda PSSI Jatim 2001-2006, sepakbola Jatim juara PON 2008 di Palembang. Tim U-15 Jatim juara nasional. Jatim menorehkan rekor Muri karena 3 divisi juara pada 2005. Persid Jember juara Divisi 3, Persela Lamongan juara Divisi 2, dan Persik Kediri juara Divisi Utama (level top waktu itu).

3.Ketika menjabat sebagai Ketua Harian KONI Jatim, Jatim juara umum PON Remaja2014. Tim sepakbola Jatim juara PON Remaja 2014. Tim pelatihnya Mursyid Effendi dan Eko Prayogo (mantan Jawa Pos).

Beliau juga mendirikan Askring (Asal Keringatan) FC. Perkumpulan sepakbola para karyawan Jawa Pos. Eksis sampai sekarang.

Mendirikan SSB Mitra Surabaya awal 1990-an. Sukses melahirkan bintang Evan Dimas Darmono,  

Maka, kalau dulu Dhimam Abror problem solver perusahaan koran, diharapkan bakal menjadi problem solver di Senayan (Gedung DPR RI). Wong cilik mendambakan wakil-wakil rakyat di DPR pusat sampai daerah tak hanya jago debat. Tapi juga menjadi problem solvers bagi Bangsa Indonesia. Insha Allah.(*)

   Penulis: Slamet Oerip Prihadi, mantan wartawan Jawa Pos.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda