Sang Begawan Media

Tunggu Ahli

Dahlan Iskan (tengah) didampingi CEO Radar Bogor Grup, Hazairin Sitepu (kanan) menjenguk wartawan Radar Cianjur, Fadilah Munajat di kediaman Fadil di Desa Cikancana, Kecamatan Gekbrong, (7/12). (FOTO: Nanang Rustandi/Radar Cianjur)

COWASJP.COMSAYA ke rumah Fadillah Munajat di Cianjur. Rabu petang kemarin. Ia bukan korban gempa bumi yang paling menderita. Ia wartawan kami, Radar Cianjur. Ia tokoh di kampungnya itu: Cibeleng Hilir. 

Fadillah juga bukan yang paling parah di antara 6 wartawan kami yang rumahnya jadi korban gempa. Gempa tidak pilih-pilih. Saya yang pilih-kasih. 

Hari sudah gelap. Hujan kian deras. Rumah Fadillah masih 20 menit dari kota Cianjur. Ke arah barat daya. Yang lain lebih jauh lagi. Perjalanan saya dari Subang ke Cianjur ternyata lebih lama dari perkiraan. Saya pilih lewat Ciater, Tangkuban Perahu, Lembang, dan Padalarang. Harus mampir makan siang pula di Asstro, Assep Stroberi. 

Dulu tidak ada rumah makan ini. Saya kagum melihat keindahannya: besarnya, tata ruangnya, desain bangunannya dan lingkungan sekitarnya. Semua sudut dibuat Instagramable. Ada kebun teh bersusun-susun. Ada gunung Tangkuban Perahu di belakangnya. 

Fadil tinggal di tenda. Bersama istri dan dua anaknya. Tapi saya ingin ke rumahnya dulu. Ingin lihat tingkat kerusakannya. Benteng belakang rumah itu retak menganga. Tangga ke lantai dua itu seperti terpisah dari benteng itu –orang Sunda menyebut tembok dengan benteng.

Harapan Fadil –dan harapan korban gempa setingkat Fadil– adalah kedatangan tenaga ahli. Mungkin mahasiswa tingkat akhir teknik sipil dan pembimbingnya. Yang mau jadi relawan pemeriksa tingkat keamanan rumah.

Orang seperti Fadil akan ikut saja kata ahli bangunan itu. Kalau mereka menilai masih aman untuk ditinggali Fadil akan pulang. Ia akan meninggalkan tenda.

Mungkin lebih 50 persen korban gempa Cianjur masuk kategori seperti Fadil.

Kalau ahli bilang tidak bisa lagi ditempati, Fadil akan membongkar rumah itu. Bongkar total. Untuk dibangun kembali. Kalau uangnya cukup.
Tenda yang ditempati keluarga Fadil berada di sebuah ladang kacang dan porang. Sekitar 50 depa dari rumahnya. Dekat sekali.

Fadil yang menemukan lokasi itu. Ia dituakan di kampung itu meski usianya baru 42 tahun. Fadil juga tahu siapa yang punya ladang itu. Maka, jam 4 sore, dua jam setelah gempa, Fadil menemui pemilik ladang. Pensiunan polisi. Sekitar 20 menit naik sepeda motor dari rumah retaknya.

Pemilik kebun mengizinkan bangun tenda di ladang kacang itu. Maka malam itu juga, ketika penduduk di gang itu sudah menggelar terpal di bawah pohon di pinggir jalan tenda-tenda dipasang. Untung tidak hujan malam itu. Gempa susulan susul-menyusul. Ringan di angkanya tapi berat di perasaan warga. Kacang tanah dan porang itu dibabat. Tanah diratakan. Sekitar 20 tenda bisa didirikan di kebun itu. Satu tenda untuk satu keluarga. Bisa sangat pribadi. 

Saya masuk ke dalam tenda keluarga Fadil. Hujan membuat jalan setapak menuju tenda itu dialiri air. Tenda Fadil yang paling ujung. Saya melewati tenda-tenda tetangganya. Semua sudah senyap. Mungkin sudah pada tidur. 

Di dalam tenda Kang Fadil ini terlihat dua kasur besar terhampar di situ. Lantainya terbuat dari terpal. Di seputar tenda dibuatkan aliran air. Agar di saat hujan seperti ini air tidak masuk ke dalam tenda.

Pesawat TV dari rumahnya ia angkut ke dalam tenda. Demikian pula dispenser. Hanya dua barang itu yang ada di dalam tenda. Barang lainnya, termasuk pakaian, tetap di rumah yang retak. Alat-alat dapur ada di dapur umum. Di sebelah kompleks tenda. 

Tenda Fadil bahkan berpintu. Kusen dan pintu kayu itu diminta dari rumah yang roboh total akibat gempa. Beberapa rumah di dekat situ memang roboh total. Ada yang mobil Xenia-nya masih terimpit di bawah reruntuhan. 

Rumah mertua Fadil termasuk yang roboh total. Ibu mertuanya tergencet lemari yang roboh. Menantunyi mengungkit lemari itu. Lalu menggendong sang ibu mertua ke pinggir jalan.

Korban dan kehancuran terbanyak di arah barat kota. Di lereng Gunung Gede. 

Rumah mertua itu berada di gang sebelah rumah Fadil. Sangat dekat. Di situ tinggal ibunya, adiknya dan suami adiknya. Mertua laki-laki Fadil sudah lama meninggal dunia. Jauh sebelum Fadil jadi menantunya.

Ayah mertua itu yang dulu membeli tanah yang kini ditempati rumah Fadil. Fadil mengenal istrinya sebagai sesama penggemar radio GSP, almarhum. Yakni saat sesama pendengar mengadakan copy darat. Lalu Fadil sering mengirim salam dan lagu lewat radio yang sama. Akhirnya kawin.

Waktu itu Fadil belum jadi wartawan. Ia masih bekerja di perusahaan mebel Olympic. Setelah menjadi wartawan Radar Cianjur –pesaing berat Cianjur Ekspress yang pemiliknya sama– Fadil sering melihat Google. Ia cari-cari model bangunan rumah minimalis. Selama satu minggu Fadil membanding-bandingkan gambar di Google. Hasilnya ia rundingkan dengan istri. Setuju. Pilih yang itu. Fadil akan membangun rumah di tanah mertua persis seperti rumah yang ada di Google.

Fadil pun menemui tukang di kampung itu. Ia dikenal sudah biasa membangun rumah. Rumah di seberang tanah mertua itu pun orang itu yang membangun.

Maka Fadil menyerahkan foto dari Google itu. "Tolong bangunkan rumah persis di gambar ini," kata Fadil pada tukang tersebut.

Fadil tidak memberi arahan apa pun. Soal fondasi, balok dan slop diserahkan sepenuhnya pada tukang tersebut. "Saya tidak mengerti apa-apa soal bangunan," katanya.

Maka rumah Fadil dibangun tanpa gambar konstruksi. Ia tidak pernah memikirkan untuk memakai jasa arsitektur. Anggapannya: arsitektur itu mahal.

Tiap hari Fadil menengok orang itu mengerjakan rumahnya. Hanya satu orang itu yang bekerja, ditambah satu pembantu tukang. Empat bulan selesai. Fadil tidak pernah melakukan koreksi apa pun terhadap karya tukang tersebut. 

"Saya masih ingat ongkos tukang itu, Rp 100.000/hari. Pembantunya Rp 80.000/hari," katanya. Itu tahun 2017.

Rumah itu dua lantai. Saya tidak berani naik ke lantai atas. Takut roboh. Yang jelas, rumah ini belum lunas. Biaya membangun tadi ia dapat dari kredit bank: Rp 200 juta. "Baru dua tahun lagi lunas," katanya.

Saat gempa terjadi, 21 November jam 13.21, Fadil akan berangkat kerja. Tapi anak keduanya rewel. Si anak tidak mau sekolah. Jam segitu seharusnya si anak masuk sekolah agama. Lokasi sekolah itu di sebuah rumah ustad yang hanya selisih tiga rumah dari rumah retaknya. 

Si anak sekolah TK pagi hari, lalu sekolah agama sore hari.

"Hari itu ia tidak mau sekolah sore. Rewel. Minta ikut saya pergi ke kantor," ujar Fadil. Maka si anak diajak muter-muter dulu. Bersama ibunya. Di tengah jalan terjadilah gempa. Ia bergegas membalik mobil. Pulang. Dari luar rumahnya terlihat utuh. Ia lihat rumah ustad yang untuk sekolah agama itu runtuh. Empat murid meninggal di dalam reruntuhan. Jumlah itu mestinya lima kalau si anak tidak rewel.

Saya melewati reruntuhan itu menuju ladang kacang yang sudah jadi kebun tenda. 

Hari sudah hampir pukul 9 malam. Hujan masih terus turun renyai-renyai. Suara orang salawatan datang dari dalam sebuah tenda. Hanya suara salawat nabi itu yang memecah kesunyian malam. Selebihnya gelap. Senyap. Basah. Udara dingin. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan
Edisi 8 Desember 2022: Arek Kesel

alasroban

Di Dunia musik nampaknya trendnya begitu. Lagu dari berbagai daerah di ciptakan begitu pesatnya. Sementara artist ibu kota semakin tak terdengar kayanya.

Impostor Among Us

Dalam bahasa daerah itu sering sering sekali terdapat rasa bahasa yang tidak dapat diterjemahkan oleh bahasa nasional. Majaz-majaz di bahasa daerah terasa lebih kaya dan padat makna. Ini baru kesimpulan saya saja yang bukan ahli di bahasa daerah saya. Masih banyak perbendaharaan kata yang tidak terwariskan dengan benar dari bahasa leluhur saya di Sumatera sana. Apalagi bahasa Jawa. Saya yakin sangat kaya. Sudah benar pilihan Bayu ini. Lanjutkan!

Thamrin Daffan

Berangkat dari rasa kesal. Kemudian berbuat segala sesuatu yang aneh bin ajaib. Tujuannya agar dilirik orang. Sesuatu animasi yang biasa bisa saja : lewat. Bisa jadi itulah pola pikir Mas Bayu yang berhasil men skak mat. Ibarat main catur maka skak mat menggulingkan raja bisa di defenisikan menghancurkan peradaban usang. Kreativitas Mas Bayu dilandaskan penciptaan keanehan Itulah dicari masyarakat yang sudah bosan disuguhkan film atawa sinetron keluarga beraroma ghibah. perselingkuhan. Film Bahasa jawa its oke super sukses. Kalau boleh saran kenapa tidak sesekali membuat film berbahasa Minangkabau. Pasti seru disana banyak pepatah petitih pembelajaran kehidupan yang pasti menarik bila "dipegang" Mas Bayu . kalau tuan pergi ke medan / bawakan kami durian ucok / saksikan karya fi.m jawa "edan" / pasti perut tuan seperti di kocok / Salamsalaman saksikan karya film berbahasa jawa /

Kliwon

Monitor om Jo Neka.. Kita² tetap istiqomah aja di jalur bahasa kalbu, bahasa cinta & bahasa tubuh. Khidmat dalam kehangatan & khusuk dalam keberisikan. Karena bahasa tubuh lah, dunia yang dulu sepi jadi penuh sesak & ramai.

Leong putu

Kali ini saya setuju (lagi) dengan Mbah Kliwon. Bahasa tubuh memang bahasa unik, tanpa suara namun penuh kehangatan. Dan (pendapat ngawur saya) orang yang tak pernah merasakan bahasa tubuh dekat dengan lara pikir. Bahasa tubuh dapat mempersatukan. Lewat persetubuhan. .... Keterangan : Persetubuhan . Merupakan Bahasa Indonesia, berasal dari kata dasar tubuh, diawali dengan kenalan dan diakhiri dengan janjian. ... Sekian.

Jhelang Annovasho

Inilah yang disebut sebagai upaya menghadirkan ekonomi baru: industri kreatif. Kemajuan kota Surabaya tidak dipungkiri adanya industri pengolahan dan distribusi barang. Dari situ berkembang industri jasa dan keuangan. Industrialisasi di Sby meluas ke Sidoarjo, Mojokerto, hingga Pasuruan. Malang maju karena industri pariwisata ademnya. Kemajuan suatu industri ternyata mendorong pertumbuhan industri lainnya. Di Malang, Bayu Skak lahir. Bagaimana di luar jawa yg belum berkembang industri pengolahannya seperti Palangka Raya? Apakah bisa dimulai dari industri kreatifnya? Anak muda tentu yang jadi leading. Meskipun saya pesimis. Begitu terkenal pelaku industri kreatif akan lari ke ekonomi yang lebih besar seperti Jakarta, Makassar, atau Sby-Malang. Di satu sisi, keberhasilan Bayu Skak juga karena sudah berada di ekosistem yang besar: ekosistem "jancuk". Maaf saya tidak berniat mengumpat... He he... Salam, selamat pagi untuk semua.

Ibnu Shonnan

Indonesia tinggal menunggu waktu menjadi lebih besar. Anak-anak daerah sudah pada lahir kesadarannya. Lahir kreatifitasnya. Lahir ide-ide briliannya. Lahir akan pentingnya menjaga budayanya.

Arala Ziko

satu lagi dari Bayu, selain film, doi jg punya franchise chicken skak dan memang enak, sy sering kehabisan tiap beli menu chicken skak varian rasa tertentu. Bayu memang memiliki cara berpikir contrarian, di saat semua org menganggap film harus berbahasa inggris dan diperankan model/artis ternama agar sukses, nyata nyatanya tidak. ngomong ngomong soal aliran contrarian, para komentator di sini jg ada beberapa yg aliran seperti itu, tidak peduli apapun isi artikel harian.

Jokosp Sp

Bahasa JAWA memang harus di lestarikan. Sekitar tahun 1976 Mbah Buyut dulu bilang, boso jowo iku adiluhung, kudu diuri - uri. Dulu Pak De yang dinas di Dept Pertanian sering mbawa oleh - oleh tiap minggu majalah "Penjebar Semangat" yang isinya berita Bahasa Jawa. Dan di dalamnya ada yang saya rutin ikut belajar "Belajar Nulis Huruf Jawa". Dengan majalah yang cukup sederhana ukuran saat itu, dengan kertas agag warna buram dan tipis, namun isi sungguh luar biasa. Dan itu terbit dari zaman sebelum penjajahan sampai mungkin hari ini ? Maaf saya tidak dapat lagi kiriman dari kakak yang kebetulan beliaunya seorang Kepala SD di Sekolah sebuah Desa di Kabupaten Batang Jawa Tengah. Mudahan "Majalah Panjebar Semangat" masih lestari dan masih banyak pembaca setianya. Aamiin.......

firman ilyas

Titip pesan buat Bayu Skak.. serial lokadrama Lara Ati dilanjutin lagi donk.. dibuat serial lanjutannya.. tapi nanti tayangnya jangan tiap hari.. cukup 2-3 episode per-minggu.. 

Jimmy Marta

Waktu siang dirumah susun/ Penghuni banyak sudah pd pergi/ Aku emang pengin berpantun/ Tapi tak translet dulu biar ngerti. #Iso jowo little2..

Mirza Mirwan

Di bawah Bung Liang menyebut hanya ada satu "teaching hospital", UNPAD. Kita sudah punya 10 RS Pendidikan. UI, UGM, UNDIP, UNPAD, UNS, UNUD, UNIBRAW, UNAIR, UNHAS, UNRI. Tetapi untuk pendidikan dokter spesialis, "kuliah"nya tetap bukan di RS Pendidikan. Di UI, misalnya, ya di RSUP Cipto Mangunkusumo. Di UGM, tetap saja di RSUP Sardjito Untuk mengatasi kekurangan dokter spesialis dan pemerataannya, pemerintah bisa memberi beasiswa dengan perjanjian "bersedia ditempatkan di mana saja." IDI juga harus mengawasi para dokter senior yang membimbing residen. Nun dulu, konon, cerita bullying senior kepada residen itu tidak ada. Setidaknya begitulah yang dikatakan dua orang dokter spesialis kenalan saya yang sudah pensiun sebagai PNS.

Mirza Mirwan

Niatnya mau istirahat nggak komentar barang seminggu. Eh, pulang Dhuhuran iseng lihat kolom komentar masih ada yang terkait Tuhan Uang kemarin. Yang disebut "hospital base" Pak Mentri kemarin itu benar, memang. Pendidikan spesialis memang di rumah sakit, bukan di ruang kuliah. Tetapi yang mengeluarkan ijasah (sertifikat) kelulusan ya bukan RS-nya. Dalam kasus di Indonesia, ya fakultas kedokteran di mana calon dokter spesialis mendaftar. Di AS, hampir semua universitas yang punya fakultas kedokteran -- biasanya disebut "medical school" atau "school of medicine" -- mempunyai rumah sakit pendidikan. Tetapi jangan salah, meski RS Pendidikan, fasilitasnya tak kalah dengan RSUP Dr. Cipto atau RSPAD Gatot Subroto. Pembaca masih ingat cerita ttg. David Bennett Sr yang menjalani transplantasi jantung babi Januari 10 bulan yang lalu? Nah, itu terjadi di RS Pendidikan milik Fakultas Kedokteran Universitas Maryland. Nama resminya University of Maryland Medical Center. Prof. Bartley Griffith dan Prof. Mohammad Mohiudin yang menanganinya adalah guru besar di universitas tersebut, sekaligus praktisi bedah di Medical Center-nya. Tapi, anehnya, sertifikat spesialis bagi dokter di AS bukan fakultas kedokteran yang mengeluarkannya. Yang mengeluarkan adalah ABMS (American Boards of Medical Specialties) yang menjadi induk dari puluhan dewan spesialisasi kedokteran. Dari 52.000-an dokter spesialis di Indonesia mungkin ada yang lulusan AS. Ia lebih tahu soal itu.

D-D win

Dengan adanya film bahasa Jawa, orang non Jawa akan mengenal B. Jawa. Bagi orang Jawa yang nonton film Jawa(khususnya anak-anak) maka dampaknya akan membuat penonton nya sering menirukan kata kata misuh. Kata kata misuh seperti dancuk semakin populer. Seperti kata Jangkrik yang dipopulerkan beberapa pelawak itu juga. Anak-anak menganggap hal itu biasa karena mereka dengar dan muncul di film/tv/medsos. Sebenarnya dlm film/dagelan kata2 dancuk dan jangkrik itu menambah kelucuan, tetapi kalau ditirukan oleh anak-anak di lingkungan sekolah/masyarakat maka itu kesannya bukan lucu lg, dan tidak sopan. Ada baiknya tata bahasa nya dipilih yg lebih sopan

*) Dari komentar pembaca http://disway.id

Pewarta : -
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber : Disway.id

Komentar Anda