Ultah Pertama, Kampung Pala Lahirkan KTD

COWASJP.COM – Waktu terus berlalu. Ada yang merasakan terlalu cepat. Ada yang merasakan terlalu lambat. Bergantung kepentingan. Yang pasti, perjalanan Kampung Pala, sudah sampai pada 12 Februri 2019. 

Setahun sudah. Tahun lalu Kampung Pala diresmikan Walikota Bogor DR Bima Arya Sugiarto di Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat. Saat peresmian dihadiri para pejabat Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD), dan para pimpinan daerah.

‘’Ya. Akhirnya sudah satu tahun berlalu. Tidak terasa hari ini Kampung Pala sudah berusia satu tahun. Banyak manfaat akhirnya kita dapatkan. Awalnya diniatkan investasi. Dampaknya, kita juga makin guyub sebagai warga Kelurahan Loji. Ke depan, kayaknya bakal lebih sibuk lagi. Kita harus lebih siap. Kita wajib bersyukur atas nikmat dari Allah ini,’’ ungkap Arif Novantadi, penggagas ide berdirinya Kampung Pala.

NOV2.jpg

Peringatan ulang tahun di rumah produksi PalaBoo®, sebuah Minuman Relaksasi yang ramuannya pertama di dunia. Selain lebih kian lezat, juga lebih menyempurnakan proses penyehatan tubuh manusia. Terutama mampu membantu metabolisme darah, sehingga mampu menggelontor segala jenis ‘’kotoran’’ dalam darah. Misalnya, gula darah, kolesterol, dan lainnya. Sehatnya tubuh manusia bisa menjadi lebih sempurna.

Dalam acara itu hadir Kepala Bidang Penyuluhan Dian Herdiawan. Bersama rombongan penyuluh Dinas Pertanian Kota Bogor. Pepen, yang mewakili Lurah Loji. Ayip dan Buyung mewakili Kantor Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Perlindungan Perempuan dan Anak, sebagai Pembina Posyantek. Arif juga Ketua Posyantek Kecamatan Bogor Barat. Ketua RW 11 Sudiyono, Dan, Ketua RT 02/RW 11 Mamat bin Atjim. Beserta 25 petani Kampung Pala.

Yang menarik, saat perayaan, juga dilaksanakan peresmian Kelompok Tani Dewasa (KTD) Kampung Pala. Ide ini bermula ketika Kampung Pala dikunjungi Penyuluh Pertanian Asrifah. Tanya jawab cukup seru dengan Arif. Hingga akhirnya Arif dipertemukan pejabat Dinas Pertanian, yakni Dian Herdiawan. Di sini lah kemudian digagas berdirinya Kelompok Tani. Dengan berdirinya Kelompok Tani ini Kampung Pala lebih bermakna.

NOV.jpg

Mamat bin Atjim terpilih menjadi Ketua. Arif sebagai sekretaris. Wiwik Puntorini, Juara II Inovasi Inovator Indonesia 2018-Kemenristekdikti terpilih menjadi bendahara. Surat Keputusan berdirinya KTD Kampung Pala ditanda-tangani Lurah Loji. Dua tahun lagi diteken Camat Bogor Barat. Dan, dua tahun kemudian ditanda-tangani Walikota. ‘’Prosedurnya memang harus begitu. Ada jenjang dan ada pemeringkatan,’’ kata Kang Dian.

Boleh jadi, ini merupakan usaha pertanian buah pala yang pertama di Indonesia. Kendati demikian, menurut Dian, karena merupakan kelompok tani, maka boleh melakukan kegiatan pertanian apa saja. Kampung Pala sudah merupakan nama kelompok yang wajib berkegiatan tani. Apalagi pohon pala yang sudah ditanam baru akan mulai berbuah sekitar umur tujuh tahun. Bibit yang ditanam setahun lalu usia tiga tahun. Berarti kurang tiga tahun lagi.

Wow masih sangat lama. Beruntung dibuatkan Dinas Pertanian sebuah kelompok tani. Kelompok ini boleh berkegiatan pertanian apa saja. Hidroponik. Budi daya lele. Menanam jahe merah. Apa saja. ‘’Silakan saja. Yang penting berkegiatan sekitar pertanian. Agar urban farming berkembang. Bisa terjadi peningkatan taraf hidup masyarakat di sekitarnya. Kenaikan tingkat ekonomi warga,’’ papar Dian. 

Meski ide awal pendirian Kampung Pala di Kelurahan Loji ini berdasar perlunya bahan baku untuk industri minuman relaksasi pala, merek PalaBoo®. Selama ini bahan baku itu didapat dari beberapa wilayah di kawasan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi. Bahkan, kerjasama pun dilakukan dengan para petani di wilayah itu. Padahal, kandungan khasiat buah pala yang sering disebut rendeman, justru tertinggi di Bogor. Sempat tercatat 16 persen. Padahal, dari daerah asal buah pala di Ambon, hanya tercatat delapan persen. 

nov3.jpg

Pemilihan wilayah Loji untuk Kampung Pala juga berdasar sejarah. Bahwa, masuknya buah pala dari Sukabumi (yang dibawa Belanda dari Ambon) itu di Loji. Hanya saja, beberapa puluh tahun terakhir pohon pala punah. Loji dulu terkenal sebagai pemasok pala untuk beberapa daerah. ‘’Dulu terkenal sampai Jakarta, Lampung, sampai Semarang,’’ ungkap Mamat, Ketua KTD Kampung Pala. 

Kini biji pala seharga Rp 13.000,-/kg dalam kondisi basah. Jika kering, harganya melambung sangat tinggi. Hanya saja, Kampung Pala menemukan kendala berat. Warga masyarakat sekitar belum menyadari betapa pentingnya pohon pala. Sudah tercatat sebanyak 271 pohon rusak. Dari 3.000 pohon yang ditanam. ‘’Ada yang dicabut karena ingin punya pohon pala. Ada yang ditebang karena dibuat lapak di pinggir jalan, meskipun akhirnya gagal berdagang,’’ kata Mamat. (*)

Pewarta : Arif Novantadi
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda