Sukses Mencetak Petani di Tengah Kota

Penulis dan H. Dian Herdiawan SP,MM

COWASJP.COM – Ini bukan desa. Ini kota. Bahkan, adalah kota satelit Ibukota Republik Indonesia DKI Jakarta Raya. Namanya saja: Kota Bogor. Wilayah yang saat ini dipimpin Walikota DR. Bima Arya Sugiarto ini luasnya 118,5 km2 saja. Coba bandingkan dengan Kabupaten Bogor yang berluas 2.664 ribu km2. Belakangan ini ada warna lain di Kota Bogor. Begitu bersemangatnya warga bertani. Ya, jadi petani. ‘’Tiap 500 meter persegi pun menjadi lahan pertanian,’’ ungkap H. Dian Herdiawan SP., MM, Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kota Bogor.

Memang Dian inilah pendobraknya. Sekaligus penyemangatnya. Bagaimana bisa lahan ‘’secuil’’ itu menjadi lahan pertanian? Dia mengatakan bahwa ada subsidi dari pemerintah, yakni berupa benih jagung. Setiap warga yang memiliki lahan seluas 500 meter dan punya semangat bertani, diberi benih jagung. Bahkan, lahan yang luasnya lebih kecil dari itu, juga diberi bibit tanaman. ‘’Kami beri bibit jahe merah,’’ katanya.

Khusus pengembangan jahe merah ini Dinas Pertanian Kota Bogor bekerja sama dengan PT Bintang Toejoe, produsen obat masuk angin Bejo. Penanaman jahe merah ini tersebar di seluruh wilayah kota. Tiap kecamatan ada yang mampu menghasilkan 200-an kg. Ada yang hanya puluhan kilogram saja. ‘’Yang sangat penting hasilnya ada yang menampung. Masyarakat petani Kota Bogor menjadi lebih giat dan semangat,’’ ujarnya.

nov3.jpgCocok tanam hidroponik. Foto: 99.com

Dia menegaskan bahwa hingga kini sudah terdapat 163 kelompok tani. Itu terdiri Kelompok Tani Taruna (KTT), Kelompok Wanita Tani (KWT), dan Kelompok Tani Dewasa (KTD). Tiap kelompok beranggota minimal 15 orang. Ada yang 27 anggota. Jika rata-rata beranggota 20 orang, maka setidaknya telah terdapat 3.260 petani. Padahal, Badan Pusat Statitistik (BPS) Kota Bogor mencatat jumlah penduduk Kota Bogor sebanyak 1.081.009 jiwa per-2017.

Kelompok tani pun bertingkat. Diawali diterbitkan Lurah/Kepala Kelurahan. Kemudian Surat Keterangan/SK-nya ditandatangani Camat/Kepala Kecamatan. Tingkat tertinggi SK-nya diresmikan Walikota. Keren. Punya lahan sepetak ukuran satu meter pun bisa bertani sayuran. Diusahakan dengan model hidroponik. Pola ini sedang digalakkan oleh Dian. Agar semakin produktif menjadi petani dalam skala rumah tangga. Juga ada budidaya ikan lele. ‘’Hasilnya pun bisa dijual dan menjadi sumber pendapatan baru buat petaninya,’’ katanya.

Agar warga tani lebih bergiat, Dinas Pertanian pun mengadakan berbagai macam lomba untuk kelompok-kelompok tani tersebut. Jadi petani bukan kuantitas, tapi berkualitas. Dialog dengan petani pun dilakukan sangat intensif. Secara individu. Tiap kelompok ada penyuluh. Dian pun sangat aktif bertanya kepada berbagai pihak. ‘’Ada bahan Dialog Sore untuk tanggal 14 Februari? Mohon diberikan saran,’’ katanya.

nov4.jpgFoto: ekonomi kompas

Dialog dengan petani memang sangat-sangat rajin, disiplin, dan intensif. Jangan-jangan perlu perluasan lahan. Masuk akal. Toh wilayah Kabupaten Bogor masih begitu sangat luas. Bupati Kabupaten Bogor 2018-2023 Ade Yasin pun sudah memberi isyarat akan membagi wilayah menjadi tiga kabupaten. Menambah dua kabupaten lagi. Berarti, Kota Bogor ada peluang memperluas wilayahnya. 

Yang menarik, seluruh petani tersebut diajak Dian untuk mengenal organisasi. Maka, 7 Juni 2018 lalu dibentuklah Aswatani (Asosiasi Wirausaha Tani). Organisasi yang diharapkan professional ini diketuai Titik Purwati. Untuk mendukung langkah professional itu Titik dibantu beberapa pengurus yang sangat mumpuni di bidangnya. Ada bidang produksi. Bidang olahan. Hingga bidang pemasaran. Bidang penelitian dan pengembangan (litbang) pun ada, kini diketuai Wiwik Puntorini. Wiwik adalah pemenang gelar Juara II Nasional Inovator Indonesia Expo 2018-Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikt).

nov5.jpgCocok tanam hidroponik. Foto: 99.com

‘’Fungsi organisasi wirausaha tani ini sangat penting, terutama untuk melancarkan komunikasi, manajemen, administrasi, dan koordinasi antar anggota. Kami tidak hanya menjadi produsen hasil pertanian saja, tapi juga memenej proses hasil akhir produksi, berupa pemasarannya,’’ tegas Dian.

Kerjasama pun dilakukan dengan berbagai pihak. Di antaranya, BPATP (Balai Pengembangan dan Alih Teknologi Pertanian)-Kementerian Pertanian untuk pengadaan bibit benih jagung. BPATP juga memberikan lahan promosi dan pemasaran di kantornya. Di kawasan Taman Kencana Kota Bogor. Gelar produk Aswatani ini berlangsung tiap hari Minggu. Juga ada gerai di Taman Heulang. Luar biasa Aswatani ini aktif dan produktif.

Selain jagung dan jahe merah, ada beberapa produk pertanian dan olahan tani yang sangat berkualitas. Di antaranya, ada yang sudah memiliki hak paten. Produk tersebut antara lain, kacang tanah, jambu biji, ketela pohon, ubi jalar, padi/beras organik, minuman pala olahan, pengawet alami pengganti formalin yang telah 29 tahun dilarang pemerintah, produk-produk inovatif: keripik ketela pohon, es krim talas, dan lain sebagainya.

Dian menjelaskan bahwa dalam mendukung visi Distani mewujudkan Agribisnis Perkotaan yang ramah lingkungan dan berdaya-saing tinggi melalui kegiatan membudidayakan Pertanian Organik dan Urban Farming dengan sistem pertanian terpadu, serta usaha pemasaran produk dan hasil olahan pertanian, perikanan, dan peternakan melalui Aswatani. Dalam manajemen, tiap semester Aswatani membuat laporan kerja yang sangat detail dan rinci. Petani moderen. ‘’Agar segera ditemukan solusinya, jika ditemukan kendala,’’ kata pria yang karib dipanggil Kang Dian ini.

Petani memang sengaja dicetak. Apalagi, ditemukan fakta bahwa banyak lahan kosong menganggur di Kota Bogor. Dian ingin menjadikan semua lahan menjadi produktif. Baginya ini merupakan bagian dari mencintai alam semesta. ‘’Saat kita mencintai alam semesta, kita yakin alam semesta pun mencintai kita. Melindungi kita. Menyayangi kita,’’ tuturnya. Ada pula slogan mantapnya: ‘’Membeli Produk Berkualitas Aswatani, Mensejahterakan Petani Kota Bogor.’’  (*)

Penulis: Arif Novantadi, owner perusahaan minuman sehat PalaBoo

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda