Kubangan Terakhir Keluarga Besar Masyumi

Partai Bulan Bintang (Foto: YouTube)

COWASJP.COM – SEBENARNYA, saya sungguh “males” bicara soal ini. Tentang keputusan Partai Bulan Bintang (PBB) resmi dukung Capres-Cawapres 01. Sebab sedari dulu, saya selalu berpikir, PBB adalah satu-satunya partai Islam yang masih “kekeuh” memperjuangkan syari’at Islam di era reformasi ini. Bagaimana mungkin “bercumbu rayu”, apalagi sampai “asyik-ma’syuk” dengan partai-partai pendukung penista agama? Partai-partai yang menerima tanpa syarat ajaran syi’ah, sekularisme-pluralisme-liberalisme (sepilis), ahmadiyah, bahkan ajaran atheisme-komunisme. 

Yaitu segala bentuk ajaran yang sepanjang zaman ditentang habis-habisan oleh keluarga besar Masyumi. Keluarga besar yang kemudian lebih dikenal sebagai keluarga Bulan Bintang.Yang selepas reformasi sangat berharap dapat menghidupkan kembali kejayaan Masyumi. Pemenang alias peraih suara terbesar dalam pemilu pertama di republik ini. 

Kelompok ini mati langkah selama 32 tahun. Karena dikerangkeng oleh rantai kekuasaan Orde Baru Soeharto. Tidak diperkenankan lagi oleh penguasa untuk terjun ke bidang politik. Lebih tepatnya, mereka dipinggirkan.

Demikianlah sebagai intro untuk membicarakan persoalan keluarga Bulan Bintang, yang buat saya melahirkan banyak kekecewaan. Dan kekecewaan saya, saya pikir, juga dirasakan banyak sahabat yang lain. Terutama para sahabat yang pernah tertular cara berpikir para orang tua pimpinan teras Masyumi tempo dulu, tentunya. Cara berpikir Natsir, Prawoto Mangkusasmito, Syafruddin Prawiranegara, Anwar Haryono, Burhanudin Harahap, Moh. Roem, HM. Yunan Nasution dan lain-lain. Para pemimpin Islam yang memanfaatkan sisa umur sebagai penggerak dakwah. Seperti istilah Natsir, berpolitik lewat jalur dakwah. Melalui Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). 

Tanpan perlu mempertontonkan diri masuk got, atau melakukan drama cukur rambut di bawah pohon yang rindang, mereka adalah para tokoh pemimpin umat yang lengket dengan kesederhanaan. Mereka memilih untuk lebih mempertahankan integritas dari pada menerima iming-iming nikmatnya kekuasaan.  Lepasnya dahaga karena kucuran harta dan belaian wanita. Mereka lebih suka merenung di tempat gelap. Memikirkan nasib umat yang terlalu sering tidak memiliki tali tempat bergantung. Mereka bertahan dengan kelurusan sikap dan perbuatan. Dengan selalu konsisten menjaga jarak dari bujuk rayu kekuasaan. 

Mengapa dikatakan demikian? 

Sebab Moh. Natsir sebagai Ketua Umum DDII Pusat – pemimpin yang oleh kawan-kawan seperjuangannya “didahulukan selangkah, ditinggikan seranting” – bukan sekali dua kali ditawari fasilitas tertentu oleh pihak penguasa. Fasilitas yang tentunya dapat menyenangkan hatinya sebagai seorang anak manusia. Di era kepemimpinan Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI Jakarta, misalnya, Pak Natsir – begitu beliau akrab disapa – konon beberapa kali ditawari tanah dan segala fasilitasnya agar beliau dapat mendirikan perguruan tinggi Islam. 

Tapi seperti biasa, Natsir merespon tawaran itu dengan senyuman khasnya. Tidak grusa-grusu menyambut tawaran itu seperti orang mendapatkan durian runtuh. Dia ucapkan terimakasih untuk menyenangkan hati yang memberikan tawaran. Kemudian dia pikirkan dalam-dalam baik dan buruknya. Terutama baik dan buruk buat umat yang selalu jadi buah pikirannya. Umat yang selalu terpinggirkan, ketika rejim Soeharto kala itu sedang mesra-mesranya dengan kalangan elit kaum salibis. 

Buat saya, seakan masih terngiang-ngiang di telinga saya, ucapan para orang tua yang bijak bestari tersebut. “Jangan sampai kita termakan budi penguasa”. Artinya, mereka tidak ingin mendapatkan begitu banyak fasilitas duniawi, tapi kemudian mulut mereka jadi terkunci. Pena mereka jadi tumpul tak bertinta. Tidak mampu lagi mengatakan yang benar itu benar. Tidak kuasa lagi memberikan kritik, karena mulut sudah disumpal dengan harta dan berbagai fasilitas mewah duniawi. 

Karenanya dapat kita saksikan, mereka beroleh kemuliaan. Sampai sekarang, kita melihat mereka itu ada di dalam hati umat. Setelah puluhan tahun jasad masing-masing dari mereka berkalang tanah, nama mereka masih melekat di hati umat. Karena mereka mampu membawa kesederhanaan, kebersahajaan, kepemimpinan, dan kelurusan sikap ke dalam liang kubur masing-masing. 
Dalam sejumlah ceramahnya di Masjid Al-furqan, Jl. Kramat Raya 45, Jakarta, Natsir berulang kali mengingatkan umat: Jangan sampai terkena penyakit “wahn”. Suatu penyakit yang sangat dikuatirkan Rasulullah Muhammad Saw.akan menimpa umatnya di akhir zaman. Yaitu penyakit “hubbud dunya wa karohiyatul maut”. Penyakit cinta dunia dan takut mati. Dan Natsir tidak hanya mengucapkannya dalam ceramah-ceramah. Tapi melaksanakannya secara pribadi dalam kehidupannya sendiri.

Kubangan Terakhir

Para pemimpin Masyumi tempo dulu telah memberikan keteladanan. Karena kepribadian dan integritas mereka yang luar biasa, rasanya begitu sulit mencari ganti generasi Natsir di zaman sekarang.  Persoalannya bukan karena tidak banyak yang pintar. Bukan karena tidak banyak yang bisa tampil sebagai pemimpin. Tapi karena tidak mampu membawa diri dengan memikirkan nasib umat secara keseluruhan. Karena tidak mampu memberikan keteladanan. Karena itu, mungkin boleh kita katakan bahwa keteladanan itu sekarang sudah hilang di kalangan para pemimpin umat. 

Padahal kita tahu. Sepeninggal Natsir, banyak tokoh yang disebut sebagai Natsir-Natsir muda. Di negeri semenanjung Malaysia, ada Anwar Ibrahim yang dianggap salah satu Natsir muda. Di negeri ini, ada Prof. Dr. HM. Amien Rais. Bahkan Alm. Dr. Nurkholis Majid dan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra SH sendiri juga disebut-sebut sebagai Natsir muda. Alasannya, menurut sementara kalangan, karena mereka adalah anak-anak ideologis Natsir. 

Persoalannya sekarang, mengapa banyak yang kecewa? Kaitannya dengan PBB, apakah kekecewaan umat itu muncul karena sikap Yusril yang begitu mudahnya menerima tawaran penguasa? Sebenarnya tak perlu menyebut nama. Toh, resmi bergabungnya PBB dengan partai-partai pendukung penista agama – meminjam istilah Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab – adalah setelah Rakornas PBB 27 Januari 2019. Bukan setelah Yusril memutuskan merapat ke kubu petahana. 

Persoalan sesungguhnya, karena keluarga besar Masyumi alias Bulan Bintang ini memiliki ciri khas tersendiri. Pada umumnya, mereka adalah orang-orang yang bersedia tetap berdiri di pinggir lapangan selama penguasa tidak memberikan perlindungan terhadap umat Islam secara keseluruhan. Karena itu, tindakan merapatkan diri kepada penguasa, dengan berharap imbalan tertentu misalnya, buat mereka tentu sangat mengejutkan. Sangat janggal. Tidak diharapkan terjadi. 

Apalagi nyata-nyata rejim ini membiarkan saja komunis bangkit kembali. Tidak melarang, tapi sebaliknya malah memberi peluang bagi penganut Syi’ah, Ahmadiah dan ajaran sesat lainnya untuk berkembang. Prilaku menyimpang seperti freesex dan LGBT dianggap sesuatu yang dibenarkan. Di sisi lain, pengajaran agama di sekolah-sekolah diwacanakan untuk dihapuskan. Last but not least – karena tak mungkin menyebutkan banyak hal lainnya secara detail perlakuan rejim ini terhadap umat Islam – ulama dan para ustadz dipersekusi. Bahkan ada kiyai yang dicelakai oleh orang-orang yang kemudian “hanya” dianggap gila. 

Sebenarnya, keluarga besar Bulan Bintang ini sudah kecewa dari dulu. Ketika reformasi baru bertunas, mereka berharap kejayaan Masyumi akan bangkit kembali. Tapi mereka kecewa, karena para tokoh pimpinan umat tidak sudi bersatu. Mereka mempertahankan sikap “ananiyah” atau keakuan masing-masing. Sehingga keluarga besar Bulan Bintang itu tidak bisa berada dalam satu partai. Tapi sebaliknya terpecah menjadi sedikitnya 5 partai. Yaitu, PBB yang dinakhodai Yusril Ihza Mahendra, Partai Amanat Nasional (PAN) yang dikomandani Amien Rais, Partai Umat Islam (PUI) yang didirikan Alm. Deliar Noer, Partai Politik Islam Indonesia Masyumi di bawah Abdullah Hehamahua, dan Partai Masyumi Baru yang dibentuk Ridwan Saidi. 

Dari kelima partai itu hanya PAN dan PBB yang masih bisa bertahan sampai sekarang. PAN yang terlalu terbuka kini seakan tidak lagi partai tempat berlabuhnya keluarga Masyumi.  Tapi lebih tepatnya sudah dikuasai pihak lain. Sementara PBB terus  melangkah terseok-seok. Bahkan karena tidak lolos mencapai target parlementary threshold  (PT) yang 2,5 persen pada pemilu 2009 dan 3,5 persen pada pemilu 2014, PBB bahkan tidak mampu menempatkan wakilnya di Senayan. Lalu bagaimana mungkin bisa melenggang ke Senayan dengan target PT yang 4 persen pada pemilu 17 April nanti? Dan apakah karena itu Yusril merapat ke Jokowi, agar mendapatkan dukungan untuk bisa melenggang ke Senayan? Wallahu A’lam bish Shawab!

Yang pasti, PBB bersama seluruh pimpinan dan kadernya sudah berusaha keras untuk tampil. Dan umat menyaksikannya dari pinggir lapangan. Pertandingan tampaknya tidak akan pernah seimbang. Sehingga umat umumnya kecewa. Kini, ibarat kata pepatah: Setinggi-tinggi terbang bangau, pada akhirnya kembali ke kubangan juga. Dan kubangan terakhir keluarga besar Masyumi ternyata harus seperti ini. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semua kita kembalikan kepada Sang Maha Pencipta. (*)

CATATAN: Penulis adalah wartawan senior, sekarang berdomisili di Bandung.

Pewarta : Nasmay L. Anas
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda