The Power Of Silaturahim

Aqua dan Buku: Gambaran "Grafik Peningkatan" Kebaikan

COWASJP.COM – Ada pepatah "Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini." Intinya selalu harus ada progres, ada peningkatan. Kita semua sepakat dengan hal tersebut. 

Kita tentu juga sepakat ingin melakukan kebaikan yang terus meningkat. Tapi, hal tersebut sering sulit sekali kita lakukan. Untuk sekadar konsisten saja sulit, apalagi meningkat.... Begitu biasanya kita berkilah.

Untuk hal yang satu ini, kiranya kita bisa belajar dari apa yang dilakukan seorang Aqua Dwipayana. Kita ambil saja satu sisi kegiatan Aqua yakni dalam soal penulisan dan penerbitan buku. Dari amatan saya, Aqua Dwipayana melakukannya dengan grafik peningkatan.

aqua3.jpg

Saat awal menulis dan menerbitkan buku, seorang Aqua menulisnya seorang diri. Ia menulis buku berisi panduan menembus media massa, maupun buku-buku motivasi seputar dunia kerja. Misalnya buku berjudul Berhenti Kerja Bukan Kiamat, Berhenti Kerja Semakin Kaya. Royalti untuk penerbitan ini sudah didedikasikan untuk membangun surau di tanah kelahirannya. Buku-buku ini best seller.

Dalam penulisan buku selanjutnya, Aqua mengajak kawan-kawannya untuk bersama-sama menulis. Kendati "benang merah" atau tema tulisannya, Aqualah yang tetap memegang kendalinya. Dialah yang menentukan temanya. Dia pulalah yang menerbitkannya. Dia juga yang memasarkannya. Hasilnya buku Super Best Seller "The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi." 

aqua2.jpg

Peningkatan berikutnya, Aqua memfasilitasi seorang kawannya menerbitkan buku. Dan sayalah yang beruntung bisa mendapatkan kepercayaan menulis buku mengenai sepak terjang seorang Aqua Dwipayana yang waktu itu mendedikasikan hidupnya 85% untuk kegiatan sosial. Maka lahirlah buku "Produktif Sampai Mati: Kiat Sukses Pasca Pensiun." 

Kedua buku tersebut terus dipromosikan oleh Aqua Dwipayana. Bagaikan menjadi "satu kesatuan." Di mana ada "The Power of Silaturahim" maka ada pula "Produktif Sampai Mati." Dalam berbagai kesempatan, motivator bertarif Rp 60 juta per dua jam ini selalu membawa dua buku tersebut.

Buku yang royaltinya sudah memberangkatkan dua kali rombongan umroh. Rombongan pertama, tahun 2017, sebanyak 35 orang, dan rombongan kedua tahun 2018, sebanyak 39 orang. Pada 2019, InsyaAllah sebanyak 50 orang yang berangkat dalam rombongan Umroh The Power of Silaturahim III. Terus meningkat.

buku.jpg

Grafik peningkatan dalam penulisan dan penerbitan buku itu juga terus terjadi. Kali ini, Aqua mengajak kawan-kawannya. Tidak hanya seorang tapi banyak orang. Mereka juga dipercaya untuk menerbitkannya sendiri. Kepercayaan tersebut diberikan kepada kawan-kawannya di Perkumpulan Konco Lawas Jawa Pos (CowasJP). 

Maka lahirlah buku Dahsyatnya Silaturahim: Bersih Hati, Bersih Pikiran (DSBB). Buku yang sudah best seller saat di-launching. Terjual 5.000 eksemplar dan cetak ulang lagi dua hari setelah launching. 

aqua.jpg

Begitulah "perjalanan" seorang Aqua Dwipayana yang berkaitan dengan buku. Ada grafik peningkatan yang terlihat jelas. Saya yakin semua itu bisa berjalan karena dalam diri seorang Aqua sudah "built in" bagaimana bisa terus menebar kebaikan. Tidak berpikir lagi apa atau bagaimana penilaian orang lain. 

Aqua saya yakin sangat paham dengan sebuah hadis “Sebaik-sebaik kalian adalah orang yang (paling bisa) diharapkan kebaikannya  dan (paling sedikit) keburukannya hingga orang lain merasa aman.”

Dan kita semua juga paham bahwa setiap orang memiliki sisi baik dan sisi buruk. Namun, orang terbaik adalah orang yang sisi kebaikannya jauh lebih besar dari pada sisi keburukannya hingga orang lain merasa aman di sampingnya.

Dengan kata lain orang terbaik adalah mereka yang, di satu sisi, dapat memberikan manfaat besar kepada orang lain, di sisi lainnya, dapat mengendalikan potensi buruknya hingga banyak orang merasa aman dan tenang di dekatnya karena terhindar dari perilaku buruknya.  

aqua1.jpg

Semoga kita semua bisa termasuk dalam barisan sebaik-baik manusia sebagaimana disabdakan Panutan kita Nabi Muhammad SAW yakni “Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.”(HR: Tirmidzi) 

Jadi, orang-orang terbaik sesungguhnya tidak dimonopoli oleh orang atau kelompok tertentu. Menjadi orang terbaik itu terbuka lebar bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang ataupun bidang-bidang tertentu. Substansi dari hal ini adalah tentang seberapa besar kebermanfaatan seseorang kepada orang lainnya secara nyata.

Bukankah “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).” Semoga kita bisa menggapainya. (*)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda