Teriakan ‘Sayangku’ Meredam Amarah

Dari kiri: Arif Novantadi, Joko Intarto, Kholiq Arif.

COWASJP.COM – Medio Oktober 2018. Ini benar-benar terjadi. Peristiwa yang sebenarnya memalukan. Pelakunya ada yang malu. Tapi, ada pelaku yang sama sekali tidak malu melakukan itu. Karena dia merasa benar. Karena benar, maka tidak perlu malu. Begitu kira-kira, pikirnya. Meski perbuatannya itu sebenarnya memalukan. Jika dia sadar. Benar-benar sadar. Berpikir jernih. Dan, berpikir dewasa. 

Suatu hari. Ada seorang wanita. Masih muda. Dia menggendong seorang bayi pria.  Mungkin berumur sekitar empat bulan. Sepertinya menunggu seseorang. Dia berdiri di samping kanan pintu keluar mobil. Di depan Toko Superindo, Jalan Veteran, Kota Bogor. Dari gerak tubuhnya terlihat sangat marah. Tampak tidak tenang sama sekali. Kelihatan punya hasrat yang nyaris tidak mampu dibendung.

Tak lama. Dari seberang jalan seorang pria mendatanginya. Pria gantheng itu tersenyum menawan. Ooooo… saya yakin dia mendatangi istrinya yang sedang berdiri itu. Setiba di depan istri, pria itu langsung memeluk. Ternyata, wanitanya menolak. Secara kasar pula. Seperti mau menangis, tapi ditahan. Si pria tidak mengalah. Lalu mencium Si Bayi. Eeeee… Si Bayi langsung dihindarkan ibunya. Sang pria tampak seperti kecewa. Senyumya lenyap.

Sejak itu Si Wanita nyerocos marah besar. Marah besar karena terdengar suaranya seperti berteriak. Keras sekali. Banyak orang mendengarnya. Tukang parkir. Tukang rokok. Orang-orang yang menunggu angkot. Termasuk saya yang menunggu istri. Duduk di atas motor. Helm saya lepas.

Agar kelihatan rambut saya sudah memutih. Istri sedang membeli mie kocok di seberang jalan. Seperti arah sang pria tadi. Marah istri pun dibalas berbagai alasan si pria.

nov2.jpgArif Novantadi dan Yu' Srie.

Makin lama teriak istri pun kian kuat. Marah super besar. Sang pria tidak mau kalah. Juga bicara super keras. Ramai banget. Jadi pusat perhatian orang. Sang istri membawa pula tas besar. Selain tas peralatan bayi yang dicangklong di pundak kanannya. Mereka bicara saling keras. Namanya, marah. Bagaimana lagi? Terdengar pembicaraannya sangat jelas. Sang pria dituduh selingkuh dengan teman sekantornya. Pun dijawabnya bahwa hanya sebatas teman kerja. Soal mesra, itu hanya pandangan orang. Aslinya tidak ada apa-apa. Katanya. Sama sekali.

Cemburu

 Cintanya hanya satu: istrinya.

Suara berantem keras itu memang mengganggu sekitarnya. Di tepi jalan raya yang sedang ramai-ramainya. Datang seorang pria melerai mereka. Kemarahan justru kian besar. Melerainya dengan nada kasar. Lihat tuh! Dilihat banyak orang! Malu dong berantem di jalanan! Kayak anak kecil saja! Begitu orang itu melerai. Amarah keduanya, tidak kunjung reda. Datang pula sepasang pria-wanita. Mendekati. Sang Pria ini mengingatkan Si Pria Marah agar mampu meredam emosi. Ternyata malu juga. Alhamdulillah dia bisa diam. Salah tingkah.

Saat Si Pria diam, Si Wanita kian marah besar. Ada kesempatan. Merasa dirinya benar. Tas bayi pun melayang ke kepala pria itu. Saya nongkrong di atas sepeda motor tidak jauh dari peristiwa itu. Kira-kira hanya lima meter saja. Jadi, jelas mendengar semua ucapan mereka. Tas bayi yang melayang ke kepalanya, langsung ditahan. Pakai tangan kanan. Si Wanita kian marah besar. Menangis sesenggukan. Sama sekali tidak malu dengan orang-orang di sekitarnya.

Orang yang hanya sekilas melihat, pasti berpikir wanita itu gila. Teriak-teriak. Keras sekali. Mengumpat. Menangis sesenggukan. Sambil menggendong bayi. Tapi sendirian. Seperti sendirian. Karena Sang pria duduk jongkok di bawah. Jalannya memang turunan ke bawah. Yang jelas, tampak super marah kepada seorang pria. Dari kata-katanya terlihat sangat jelas maksudnya. Cemburu.

Datang pria ketiga yang berniat menengahi. Tapi dikatakan marah-marah jangan di sini. Malu dilihat banyak orang. Kalau marah terus mending pindah tempat saja. Di lahan parkir belakang Superindo saja. Di sana memang sepi. Ada orang hanya Satpam. Paling-paling orang yang datang berurusan dengan motor atau mobilnya. Setelah itu tidak ada orang lagi. Sepi.

nov1.jpgArif Novantadi (kiri) dan Dono Sumarwoto.

Tas besar pun ditarik sang pria. Untuk dibawa pulang, katanya. Ayo pulang. ‘’Tidak mau,’’ jawab istrinya. Kalau bisa diselesaikan di pengadilan saja. Ini anakku. Kita terakhir ketemu di sini saja. Kejar wanita-mu itu. Pembawa sial, hardiknya. Pergi sana. Tas besar pun jadi bahan tarik-menarik. Hingga Sang pria mengalah. Lalu jongkok di tepi gerbang keluar itu. Membiarkan istrinya terus marah. Dia diam saja. Beruntung bayinya tidur nyenyak. Tidak rewel.

Sang pria akhirnya memang malu setelah melihat sekitarnya. Banyak orang menyaksikan. Si Wanita tidak merasa malu. Dia merasa paling benar. Teriakannya tetap kencang dan keras. Meski materi yang dibicarakan diulang-ulang. Sang pria tidak sanggup menenangkan istrinya. Sudah tiga orang pun mengingatkan. Saya menghitung. Dan, saya berpikir: jangan sampai ada datang orang keempat yang mengingatkan. 

Kenapa? Dalam Bahasa China angka empat itu dibaca ‘sie’. Arti filosofi-nya: sial, mati. Nah kalau datang kesialan kepada mereka, bisa hancur rumah tangga mereka. Jangan sampai diputus sidang pengadilan: cerai. Saya berpikir keras, bagaimana melerai mereka. Tapi jangan sampai saya datang ke mereka sebagai ‘orang keempat’. Saya hindari itu. Filosofi itu mencegah langkahku pula. Tapi bagaimana melerai mereka? Mendamaikan mereka. Kupikir terus.

Aaaah ada ide. Gini. Jika ada orang keempat datang melerai, secepatnya saya akan ikut mendatangi. Agar orang keempat-nya itu bertandem. Orang keempat sekaligus ada orang kelima. Sama-sama datang melerai. Pasti jitu melerai mereka. Terasa, sudah banyak yang melerai. Saya menunggu situasi itu. Sebab, kemarahan Sang Wanita kian membabi buta. Suaminya dipukuli. Walau tidak berbalas. 

Sang Suami cuma mengelak. Dan, mengelak saja. Pukulan istrinya tidak kena sasaran, Sang Istri pun marahnya kian memuncak. Duh. Saya bingung dan terus berpikir keras, agar tidak datang orang keempat. Saya pun tidak mau datang sebagai orang keempat. Tapi, saya siap-siap jadi orang kelima. Mau lepas jaket? Tidak ah. Alami saja. Apa adanya saja. Jika jaket kulepas, maka akan terlihat tulisan di kaosku. Tulisannya apa?

‘’Nulis Sampek Tuwek. Lek Matek Ditulis Arek-arek’’.

Di seberang. Saya lihat istriku sudah keluar dari warung mie kocok. Dia suka berat makanan ini. Saya yakin dua orang yang lagi berantem itu melihat saya. Melihat saya sedang menyaksikan mereka. Melihat saya sudah tua. Keduanya saya yakin melihat saya berambut putih. Di tengah kemarahan Si Wanita yang memuncak. Di tengah hendak datangnya istriku padaku. Saya teriak. Saya memanggil istriku: ‘’Sayangku.!!!’’ Sengaja kukeraskan panggilanku. 

Sampai Sang Pria sesaat menoleh. Melihatku sekadarnya. Semula jongkoknya membelakangiku. Saya lihat Sang Wanita Marah sama sekali tidak menggubrisku. Sekali lagi. Kuteriakkan, ‘’Sayangku!!! Aku di sini. Lihat!!!.’’ Kalimat itu kutujukan kepada istriku. Si wanita marah itu ternyata memperhatikanku. Dia melihatku jelas. Marahnya reda. Saat itu juga. Menjadi diam. Seribu bahasa. Terus memandangku. Lama. Mungkin heran.

Ada orang yang sudah tua begitu mesra pada istrinya.

Istriku menyeberang jalan. Menghampiriku. Begitu ketemu di motor. ‘’Bapak malu ah, teriakannya keras sekali,’’ kata istriku. Saya membisik: ‘’Diam dulu. Nanti saya cerita.’’ Sambil menaruh bungkusan mie kocok ke cantelan motor. Sengaja naik motor. Dekat dari rumah. Sekitar tiga kilometer-an.
Sambil meninggalkan tempat. Saya nyerocos ngomong keras. Agar didengar sepasang suami-istri yang masih muda dan sedang berantem itu.

‘’Kalau sudah ngaku salah, mestinya maafkan. Kehidupan di dunia ini enaknya santai. Saling maaf. Saling sayang. Sambil latihan untuk hidup bahagia di Sorga-Nya nanti. Hayo nyaman nggak?!’’ Saya ngomong gitu, istri belum paham arahnya. Masih full tanda tanya. Benar, moga kedua orang marah-marah tadi segera berdamai. Bertentram.

Yang sangat pasti, dua orang yang berantem tadi langsung terdiam. Seribu bahasa pula. Sang pria masih menundukkan kepala. Saya lirik, Si wanita marah tadi masih terus memandangku. Urai air matanya tampak jelas sekali. Make up-nya luntur di bawah matanya. Tapi wajahnya sudah tidak merah padam lagi. Cantiknya tampak segar. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Saya bukan ahli membaca pikiran orang. 

Saya hanya sempat terpikir: bisa jadi mereka heran ada orang-orang tua koq begitu mesra. Bisa jadi begitu to? Aku dan istri pun ngeloyor pergi. Kami pulang. Sampai di rumah, aku ceritakan semua yang terjadi itu. Istriku tertawa. Sambil mempersiapkan mie kocok untuk dimakan bersama anak-anak di rumah.

‘’Ooooo… jadi memanggilku ‘Sayang’ tadi karena itu to? Makanya saya heran. Bilang ‘sayang’-nya koq kenceng banget. Nggak biasa begitu. Kayak sengaja dikeraskan. Saya sampai malu dilihat banyak orang,’’ kata istriku. Usai ngomong begitu, dia memukul-pukul bahu-ku. Pukulan sayang, tapi. He he he. 

Setelah jalan agak jauh. Kulihat dari kaca spion. Sang pria sudah berdiri. Tangan kiri membawa tas besar. Tangan kanan merangkul tubuh Si wanita. Mereka masih berdiri di tempat yang sama. Entah akan ke mana mereka berdua. Eeeh… bertiga ding. Kan ada anak mereka. Moga amarahnya benar-benar reda. Hanya damai yang ada. Yang pasti, tidak sempat muncul orang keempat melerai mereka. Yang muncul, ada dua orang.  Saya dan istri. Bukan melerai mereka secara langsung. Saya dan istri memang aslinya mesra. He he he. 

Terima kasih ya, Allah. Terima kasih ya, Rasulullah. Ajaran damai-Mu ternyata bisa diciptakan dan diterjemahkan melalui berbagai cara. Cara yang secara jelas dan gamblang telah Engkau dan kau tunjukkan kepada hamba-Mu ini. Allohuma aamiiin. (*)

Pewarta : Arif Novantadi
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda