The Power of Silaturahim

Bahagiakan Orang Lain Kebahagiaan Level Tinggi

Foto-Foto: Fuad Ariyanto/CowasJP

COWASJP.COM – Rasa bungah merekah kala seorang sahabat mengajak jalan ke Sumatera Barat (Sumbar), pertengahan Oktober lalu. Gembira karena perjalanan menambah pengalaman dan kesempatan belajar banyak hal.

Apalagi, ke negeri yang telah melahirkan banyak orang besar, tokoh nasional. Negeri yang dipuisikan banyak pujangga, disyairkan para musafir, dikisahkan dalam kitab-kitab sastra. Tapi, sahabat itu, Aqua Dwipayana, yang asli Padang, tak pernah terdengar dia bersyair atau berpantun meski hobinya silaturahim.

BACA JUGA: Kawa Daun di Pojok Baca Bukit Pariangan‚Äč

Di balik kegembiraan itu, sebetulnya terselip rasa khawatir. Ini menyangkut usia fisik yang sudah di atas 60 tahun dan dengkul yang kadang terasa kemeng (nyeri). Sebab, Aqua dikenal tak pernah lelah berjalan. Memenuhi obsesinya silaturahim ke orang per orang.  

Alhamdulillah, dengan niat baik, kekhawatiran itu tak terjadi. Bahkan, bersin-bersin dan hidung buntu yang hampir selalu mewarnai keseharian, nyaris tak pernah mampir. Sehat wal afiat.

Aqua memang tak pernah lelah berjalan. Di luar tugas resminya melakukan 23 kali Sharing Motivasi dan Komunikasi dalam sepuluh hari di provinsi itu, dia sedikitnya bersilaturahim ke 20 orang. Termasuk, besuk sahabat lamanya di salah satu rumah sakit di Bukittinggi.

BACA JUGA: Semliyut Menanjaki Kelok 44 Malam Hari‚Äč

Silaturahim itu tidak selalu dilakukan pada pejabat aktif atau pengusaha sukses. Tidak selalu kepada orang yang lebih tua, tapi juga pada yang lebih muda. Silaturahim dilakukan pada siapa saja, tanpa batas.

Ketika bermalam di Batusangkar, Tanah Datar, seorang pemuda menjemput ke Hotel Emersia, mengajak tim makan malam di luar. Dia adalah teman baik Aqua, Pimpinan Cabang Bank BRI Batusangkar, Baskoro Fajar. 

Baca Juga: Kekayaan Non-Materi Aqua Dwipayana

Sebelum Baskoro, lebih dulu datang, Alfian Jamrah, saudara Aqua yang menjabat Ketua Bappeda Kabupaten Tanah Datar. Kami berenam  —Aqua, dua polisi Polda Sumbar yang menemani kami, Brigadir Febri Mulyadi dan Brigadir Rodini, Baskoro, Alfian, dan saya— makan malam dengan menu ayam bakar, ikan bakar, plencing kangkung, dan semua kerabatnya di Amak Lapuo, Batusangkar.  

sumbarnyar3.jpgDari kiri: Cakfu (penulis), Baskoro Fajar, Alfian Jamra, Aqua, Rodini, Febri Mulyadi. (Foto: Fuad Ariyanto/CoWasJP)

Baskoro meski seorang banker, tapi minatnya cukup besar pada sastra. Penduduk Sidoarjo, Jawa Timur, itu salah satu pengagum Sutardji Calzoum Bachri. Kami berenam ngobrol sampai larut. Baru bubar ketika kedai hampir tutup.

Meski diundang, namun Aqua tak mau merepotkan sahabatnya. Dia sudah menitipkan uang pada Uda Rodi untuk membayar makanan di kasir. Tentu saja Baskoro kecele ketika hendak bayar. Hehehe…

Saya mengamati selama ini setiap makan bareng dengan siapapun, Aqua lebih senang membayari daripada dibayari. Dia merasa lebih berarti saat mentraktir makan orang lain.

Hal itu juga terjadi kala diundang makan malam oleh Pimpinan Cabang Bank BRI Bukittinggi, Mulyadi. Kami delapan orang —tim plus Pak Mul, Polwan Bukittinggi Bripda Nia Anggraeni, dan dua Patwal— makan malam di Restoran Pariwisata Family Benteng Indah, Bukittinggi. 

Pak Mul —begitu dia biasa dipanggil— bakal pensiun pada Desember 2018. Persiapannya sudah sangat mantap. Termasuk bakal memanfaatkan kebun jambu yang cukup luas di kampungnya di Pariaman. Rasanya dia sudah tidak sabar menunggu pensiun.

Silaturahim yang dilakukan mulai magrib —salat di kantor Pak Mul, Bank BRI seberang Jam Gadang— itu dilanjutkan dengan besuk ke rumah sakit. Sahabat lama Aqua, seorang Ibu pejabat di kota itu, sedang opname. Kunjungan Aqua tersebut cukup mengejutkan, apalagi dengan kawalan polisi berpakaian dinas plus seorang Polwan. Namun, pejabat itu tampak senang sekali atas kunjungan Aqua.

ngamen.jpg

Pengamen di depan restoran Pak Datuk, Padang Panjang. Syair dendang Minang.  (Foto: Fuad Ariyanto/CoWasJP)

Keluar dari rumah sakit Aqua memaksa bersilaturahim ke rumah Polwan Bripda Nia di pinggir kota. Entah karena tidak ingin merepotkan orangtuanya atau apa, Nia mencegah dengan keras tim berkunjung ke rumahnya. Beragam alasan dilemparkan. Namun, dia tak mampu menghentikan hobi Aqua bersilaturahim.

Ternyata, kedua orangtua Nia menyambut ramah kehadiran kami yang dikawal mobil Patwal itu. Ngobrol gayeng dengan sajian buah hasil kebun sendiri plus makanan ringan. Nia yang siap menikah tidak lama lagi, mendapat hadiah bulan madu dari Aqua dengan pilihan Jogjakarta atau Bali.

Hadiah tersebut disambut gembira seisi rumah. Semua berharap silaturahim terus   berkesinambungan. ''Jika ke Bukittinggi lagi, jangan sampai tidak berkunjung ke sini yaa,'' kata Ibu Nia, Yetriwarti yang berprofesi guru. Sebaliknya, Aqua juga mempersilakan keluarga itu berkunjung ke Jogja. Kunjungan menambah teman, menambah saudara. Hanya silaturahim. Tanpa pamrih, tanpa pretensi.

sumbarnyar4.jpgSilaturahim ke rumah keluarga Nia Anggraeni. (Foto: Nia Anggraeni)

Salah satu manfaat silaturahim memang memperbanyak teman, memperbanyak saudara. Jika belakangan pertemanan, persaudaraan tersebut berkembang menjadi jaringan bisnis, link birokrasi, atau koneksi lain, itu merupakan bonus, manfaat ganda karunia Allah SWT.

Silaturahim yang dilakukan Aqua, dalam pandangan saya pribadi, selalu merembet pada orangtua atau keluarga, sebagaimana yang terjadi pada Nia itu. 

Demikian juga ketika hendak melanjutkan perjalanan ke Pasaman dari Bukittinggi, Aqua menyempatkan mampir ke rumah orangtua Kapolda Sumbar, Irjen Pol Fakhrizal, Sabri dan Asmi. Sekadar menjenguk, bersalaman, cium tangan, berbincang sebentar lalu berangkat lagi. ''Orangtua itu umumnya senang dijenguk. Sebab, mereka biasanya kesepian,'' kata Aqua.
 
 Yakinkan Bisa Berguna

Pada orang-orang tertentu, Aqua merasa perlu memperkenalkan dirinya lebih dalam. Antara lain, menjelaskan bahwa dia seorang motivator dengan tarif mahal. Sudah menerbitkan beberapa buku best seller yang royaltinya digunakan untuk memberangkatkan umroh puluhan orang. Pada 2017 memberangkatkan 35 orang, pada 2018 tercatat 39 orang. Rencananya, tahun depan memberangkatkan 50 orang.

sumbarnyar1.jpgDi resto Pariwisata Family, Bukittinggi. (Foto: Fuad Ariyanto/CoWasJP)

Penjelasan itu sama sekali bukan bermaksud pamer atau riya'. Tapi, lebih banyak untuk mengikis keraguan orang yang dikunjungi. Meyakinkan bahwa dia bisa berguna. Sebab, jamak terjadi modus silaturahim yang —ternyata-- dilandasi banyak kepentingan. Ujung-ujungnya minta proyek, minta sumbangan, mengajukan proposal bisnis, dan sebagainya. 

Aqua ingin menunjukkan bahwa dia bukanlah orang semacam itu. Dia sudah punya pencapaian tersendiri. Bahkan, kalau bisa dia memberikan pertolongan. ''Kalau saya bilang menolong, tentu betul-betul menolong. Sama sekali tidak komersial,'' ujarnya.

Misalnya, memperkenalkan perusahaan perjalanan Haji dan Umroh, NRA, ke beberapa institusi, tujuannya hanya membantu. Sepeser pun dia tak mendapat komisi atau apa pun namanya yang berbau komersial. ''Saya hanya minta agar orang yang saya rekomendasikan, dilayani dengan baik. Itu saja,'' kata Aqua.

Pengenalan seperti itu dilakukan antara lain pada Wali Kota Padang Panjang, Fadly Amran. Wali kota muda itu pun tak segan mengenalkan Aqua pada orangtuanya, Haji Amran Sutan Sidi Sulaiman dan Hj Maizarnis, di Padang. 

 Dia mengontak adiknya, Afdal Amran, yang selalu mendampingi kedua orangtuanya, untuk menerima Aqua keesokan harinya. Komunikasi dengan keluarga Haji Amran tentu bakal berkelanjutan dengan bahasan beraneka ragam.

sumbarnyar2.jpgSilaturahim ke Pimpinan Cabang Bank BRI Bukittinggi, Mulyadi, di kantornya.

Sepuluh hari di Sumbar, Aqua melakukan Sharing Motivasi dan Komunikasi di 19 Polres di lingkungan Polda Sumbar. Selain itu, ada tiga kali di Polda, dan sekali di Universitas Bung Hatta. 

Barangkali tak sedikit orang mengira bahwa Aqua mendapat job besar. Dengan prakiraan nilai sesuai kalkulasi di kepala masing-masing. Sekadar tahu, Aqua melakukan semuanya dengan gratis. Bahkan, dia keluar duit untuk tiket pesawat pergi-pulang, memberi uang ke setiap penanya saat sharing, dan lainnya.

Sejak lama dia ''mewakafkan'' sebagian besar waktu, tenaga, dan hartanya untuk kegiatan sosial. Silaturahim, berbagi, menyantuni. 

Untuk mencari nafkah, Aqua hanya perlu sepuluh jam per bulan. Tarif bicaranya Rp 30 juta/jam, minimal dua jam. Dia hanya perlu lima kali bicara untuk mendapatkan Rp 300 juta nett.

Kebahagiaannya adalah membahagiakan orang lain. '"Kebahagiaan bagi orang sukses adalah bisa menikmati kekayaannya. Level yang lebih atas lagi adalah dengan membahagiakan orang lain, filantropi,'' papar Fadly Amran. ''Itulah yang terjadi pada Bapak ini,'' tambahnya sambil menunjuk Aqua. Bapak dua anak yang sedang makan di Rumah Makan Pak Datuk Padang Panjang bersama pejabat lain itu, hanya tersenyum mendengar pujian Fadly.*

(Catatan keliling separo Sumbar. Salam, Cakfu)

Pewarta : Fuad Ariyanto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda