Kelas Literasi Ponorogo 6

Bagai Bumi dan Langit

Santosa (Akung Bondet) saat sharing ilmu jurnalistik di Kelas Inspirasi

COWASJP.COM – Sudah dua kali ini saya mengikuti kelas inspirasi. Sekarang, saya semakin paham, mengapa Anies Baswedan mengggas Kelas Inspirasi dan mengapa sasarannya sekolah dasar pelosok. Apalagi saya sekarang juga berkutat di SD Kota Madiun, sehingga saya tahu perbedaan menyolok antara SD kota dan SD pelosok desa.

Kali pertama saya mengikuti Kelas Inspirasi, dapat lokasi di SDN Klumutan, Kabupaten Madiun. Dan kali kedua ini saya dapat jatah di SDN 02 Pagerukir, Kecamatan Sampung, Ponorogo. Sebuah sekolah yang lumayan terpencil, berada di puncak Gunung Suci, yang kalau diukur kondisi sekarang, bisa dikatagorikan Gung Liwang liwung. Sebab sebatas mata memandang hanyalah hamparan tanah gersang.

Kelas Inspirasiini, merupakan aktivitas relawan di bidang pendidikan.  Pesertanya terdiri dari berbagai profesi seperti arsitek, entrepreneor, Barista (penyeduh kopi), photografer dan berbagai profesi lainnya. Saya sendiri tampil sebagai seorang jurnalis, profesi yang agak langka di Kelas Inspirasi karena jarang ada wartawan yang mengikuti.

Kelompok ini, tugasnya memberikan inspirasi berbagai profesi dan sekaligus memotivasi, lantaran anak-anak SD di pelosok hanya mengenal profesi sebatas guru, tentara, polisi, dan dokter. Mereka bisa dikatakan buta terhadap berbagai macam profesi lainnya, yang kelak bisa dijadikan penyangga hidupnya.

Tak hanya perbedaan tingkat pengetahuan umum saja, namun  fasilitas juga. Secara umum murid-murid SD di pedesaan seperti SDN 02 Pagerukir ini  tidak jauh beda dengan SD-SD pelosok di wilayah lain. ‘’Di sekolah ini tidak ada ekskul, kecuali ekskul wajib Pramuka,’’ kata Pak Sukarni S.Pd, Kepala SDN 02 Pagerukir  ketika saya ajak bincang santai di waktu jeda. Alasannya sangat sederhana, ketiadaan dana. 

Saya sempat melongok di papan penggunaan dana BOS tahun ajaran 2016 – 2017, hanya pada kisaran Rp 12 jutaan per triwulan. Jangankan untuk membayar guru ekskul, untuk membayar honor beberapa Guru Tidak Tetap (GTT) saja sangatlah minim. ‘Tahun ini sekitar Rp 9 jutaan,’’ akunya ketika saya pancing jumlah muridnya berkurang.

Bisa dimaklumi, jumlah murid di sekolah itu rata-rata 60 anak. Setiap kelas hanya terdapat belasan murid, bahkan ada kelas yang  muridnya hanya 5 anak. Sayangnya, modal dasar ini kurang bisa dikembangkan, khususnya dari sisi minat dan bakat. Tidak ada ektra kurikuler bagi mereka, lantaran dana BOS yang minim yang diterima setiap triwulan. 

Memang sekarang semua kegiatan sekolah 100 persen dibiayai pemerintah dengan dana BOS yang Rp 800 ribu per siswa. Namun dengan jumlah murid yang hanya 60 anak, tentu tidak bisa dibandingkan dengan SD kota yang kadang muridnya mencapai 300 lebih dalam penerimaan dan pengelolaannya.  Itu artinya SD ini hanya bisa mengutak-atik anggaran kisaran Rp 4 juta setiap bulannya. ‘’Itu hanya cukup untuk ATK dan honor Guru Tidak Tetap saja,’’ kata seorang guru diu kota yang juga sebagai bendahara BOS.

Dengan kenyataan itu,  maka pembelajaran minat dan bakat siswa jelas tersendat. Karena itulah anak-anak SD di Kota dengan berbagai fasilitas penunjang serta ekskul yang beragam harus bersyukur. Dari tari, seni suara, drumband, bahkan sekarang ada yang memberikan ekskul jurnalitik segala. Sungguh miris melihat kondisi semacam itu. Padahal ekskul sendiri untuk meningkatkan minat dan bakat siswa. ‘’Orang tua murid di sini kemampuan ekonominya tidak seperti di kota, di sini rata-rata petani,’’ kata Pak Sukarni.

Mendengar kata pak kepala sekolah itu saya tersenyum. Kata-kata itu kalau kita cermati terasa sebagai sindiran bagi sekolah di kota. Apalagi saya tahu, dengan atas nama keinginan wali murid dan distempel oleh Komite dan paguyuban, ada beberapa gelintir sekolah yang ‘’menarik iuran’’,....(hehehe tak kasih tanda kutip ya) ... kepada murid. Padahal penggunaannya sudah tercantum dalam 13 komponen yang ‘’halal’’ dibiayai dana BOS.
Melihat semangat anak-anak pelosok desa saya trenyuh. Tanpa ekskul bagaimana mereka mengembangkan minat dan bakatnya, belum lagi dasar-dasar ‘’life skill’’ yang bisa jadi modal dasar kehidupan mereka kelak. Padahal pendidikan sekarang sudah mulai mengacu pada apa yang dinamakan ‘’life skill’’ itu. Ini bukan ungkapan pesimistis dan skeptis, namun jurang pemisah antara sekolah pelosok dan kota sangatlah dalam. Sepertinya, perlu tangan-tangan tulus di wilayah itu yang siap menjadi volunteer di bidang ekskul.

Namun dengan adanya Kelas Inspirasi yang setiap wilayah hanya setahun sekali itu, paling tidak bisa sedikit memberi wawasan kepada generasi muda kita di pelosok desa. Tak peduli aktivitas pergerakan Kelas Inspirasi itu boleh dibilang ‘’cul-culan ngadeg dewe’’. Artinya aktivitas itu dibiayai sendiri oleh para relawan, dari pengadaan properti, transportasi dan akomodasi termasuk tetek bengeknya secara patungan. Tapi itulah sebuah aktivitas riil dalam mengisi kemerdekaan. Itulah sedikit sumbangsih yang bisa diberikan, demi anak-anak Indonesia lebih baik. Seperti juga slogan Kelas Inspirasi : SEHARI CUTI, SELAMANYA MENGINSPIRASI

Di sinilah pentingnya keberadaan Kelas Inspirasi,  yang anggotanya dari berbagai profesi. Sehingga para relawan ini bisa memberikan gambaran riil tentang profesi masing-masing, agar  pengetahuan anak-anak tentang profesi tidak sebatas  apa yang dilihat sehari-hari di sekitar mereka.
Saya yang tampil dengan profesi jurnalis sempat menarik napas panjang lantaran mereka tak mengenal sama sekali profesi wartawan. Padahal produk jurnalistik sendiri setiap hari berada di lingkungan mereka,...TV dan radio misalnya (*)

Pewarta : Santoso
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda