The Power Of Silaturahim

Ibarat Rumpun Padi, Makin Berisi Tambah Merunduk

Penulis, Nasmay L. Anas (paling kanan) foto bersama dengan CoWaser lainnya. Surya Aka (kiri), Suryadi, dan Slamet Orip Prihadi

COWASJP.COM – Menjadi seorang Pakar Komunikasi dan Motivator kondang ternyata tidak menyurutkan niat dan semangat silaturahim Dr. Aqua Dwipayana, M. I. Kom. Hal itu penulis saksikan sendiri, ketika menerima kedatangannya yang tidak disangka-sangka ke kediaman kami di Bandung Timur, Kamis (04/10/2018) siang lalu. 

Karena itu, seperti saya nyatakan dalam tulisan saya terdahulu, saya belajar banyak dari Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional jebolan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung itu. Dia ibarat rumpun padi, yang semakin berisi semakin merunduk. 

Saya akui, melalui pesan-pesannya di grup Whatsapp (WA) baik di Komunitas Komunikasi Jari Tangan maupun di Konco Lawas Jawa Pos (Cowas JP) yang selalu dibagikannya, saya sudah tahu bahwa minggu ini mantan wartawan Harian Jawa Pos itu punya acara di Bandung, Tasikmalaya dan beberapa daerah lain di Jawa Barat. Karena itu, menurut hemat saya, dia pasti sibuk. Tidak mungkin punya waktu untuk sekadar berkunjung ke rumah kami. Saya hanyalah sahabat lama Aqua, sewaktu kami masih sama-sama mengabdi di Jawa Pos pada awal 1990-an. 

Tapi Kamis lalu, ketika matahari sepenggalahan naik, saya kaget menerima WA dari Aqua: “Salam Uda Nasmay. Apakah sedang di Bandung atau Jakarta? Bla bla bla…” Sejak intens komunikasi lewat pesan-pesan Japri, Aqua memanggil saya Uda. Sebutan abang dalam Bahasa Minang. Supaya lebih akrab, katanya. Kebetulan kami adalah segelintir orang dari etnis Minang yang pernah mengabdi di Jawa Pos. 

Saya jawab: “Sedang di Bandung.” Lalu, muncul lagi pesan dia berikutnya: “Saya silaturahim ke rumah Uda Nasmay sekarang ya? Tolong beritahu alamatnya.” Saya senang mendapatkan kunjungan Aqua, tentu saja. Karuan saja saya kirim alamat lengkap. Saya sertakan juga “google share loc” yang akan memudahkannya mencari alamat kami. Tapi bersamaan dengan itu, saya juga kaget. Begitu mendadak. Sangat tidak disangka-sangka. Tanpa persiapan untuk menerima seorang tamu yang saya hormati. 

aqua-dan-nasmay15294.jpgPenulis (kaos merah) saat menyambut DR Aqua Dwipayana di rumahnya

Padahal seperti sering saya dengar dari kawan-kawan, sebagaimana kebiasaannya, Aqua tidak melenggang dengan tangan kosong. Tapi membawa bingkisan pula. Termasuk dua buku yang sudah lama saya ingin sekali membacanya: “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi”, karya Aqua Dwipayana, dan: “Produktif Sampai Mati, Kiat Sukses Pasca Pensiun”, karya sahabat kami di CowasJP, Erwan Widyarto, yang konon adalah buah inspirasi dari Aqua Dwipayana. 

Dengan perasaan senang dan bangga, saya terima kedatangannya di rumah kami apa adanya. Ngobrol tentang banyak hal. Kenangan-kenangan semasa masih di Jawa Pos, tentu saja. Perjalanan karir Aqua yang moncer dan saya coba korek. Mulai sebagai wartawan di harian Suara Indonesia, harian Jawa Pos, Surabaya Minggu, Radio TT 7 Malang, harian Bisnis Indonesia sampai perusahaan multi nasional Holcim Indonesia (sebelumnya bernama PT Semen Cibinong). Dan the last but not least, kiat-kiat Aqua menjalani hidup, membangun silaturahim dan membantu semakin banyak orang yang perlu uluran tangannya. 

Dalam banyak kesempatan, Aqua sering cerita bagaimana dia mantap memutuskan berhenti bekerja. Siap berjuang dengan hanya menjadikan Allah SWT semata-mata sebagai atasan. Dengan niat ikhlas dan tulus mengharapkan ridla Allah, dia yakin, sukses bisa digapai. Judul buku-buku karyanya yang rata-rata best seller – Berani Memulai Bisnis, Berhenti Kerja Dunia Tidak (Akan) Kiamat, dan Berhenti Kerja Semakin Kaya – rata-rata menyingkapkan keyakinan dirinya. Untuk Sukses. Untuk tidak bergantung kepada siapa pun, kecuali Allah Subhanahu wata’ala. 

Dan ternyata, Aqua memang sukses. Teman-teman banyak yang mengatakan, dia sudah kaya raya. Kendaraannya mewah-mewah dan banyak. Dia punya rumah “gedong” di Bogor, Jogjakarta dan Jatinangor, Sumedang. Semua orang mengacungkan jempol. Dia sukses di bawah naungan langit biru, berkat ridla Allah. 

The Power of Silaturahim

Sepeninggal Aqua, saya tak sabar untuk segera membaca buku-buku yang ditinggalkannya. Tapi sebagai ucapan terimakasih, saya kirim pesan WA: “Mas AQUA. Makasih banyak ya sudah mampir ke rumah kami. Saya benar2 gak menyangka Mas AQUA akan mengunjungi kami. Obrolan kita juga sangat bermakna. Seperti saya katakan sebelumnya, saya benar2 banyak belajar dari ucapan, sikap dan prilaku Mas AQUA.

Benarlah kalau ada yang bilang, Mas AQUA lebih layak disebut ustadz daripada kebanyakan ustadz. Karena banyak ulama yang luas ilmunya, tapi tidak mampu melakukan apa yang mereka ceramahkan dalam kehidupan yang nyata. Banyak yang mampu menceramahkan "lima taquluuna ma la taf'alun" (mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu lakukan). Tapi tidak mampu mengamalkannya secara pribadi. Sukses selalu Mas AQUA.” 

aqua-oke.jpg

Mengatakan sesuatu yang kita sendiri tidak mau melakukannya adalah sangat hina dalam tuntunan Islam. Sesuatu yang sangat dibenci dan dilaknat Allah Swt. Banyak ustadz, ulama, cerdik cendekia  yang mampu memberikan wejangan panjang lebar tentang suatu hal. Tapi belum tentu dia mampu atau mau melakukan apa yang dia ajarkan atau ucapkan. Tapi pria kelahiran Pematang Siantar ini justru konsisten dan persisten melakukan sendiri apa yang dia selalu ajarkan di sejumlah kegiatan sharing Komunikasi dan Motivasi. 

Salah satunya adalah kegiatan silaturahim yang konon rutin dia lakukan secara terus-menerus sejak 11 tahun silam. Bahkan untuk urusan silaturahim, boleh dibilang, dia telah mewakafkan lebih dari 60% waktu, pikiran dan tenaganya. Dengan mengunjungi banyak sahabat baik siang maupun malam. Musim hujan maupun panas. Para sahabat yang tersebar dari Sabang sampai Merauke hingga ke puluhan negara. Yang berpangkat atau rakyat jelata. Orang kaya maupun kalangan miskin papa. Yang tua maupun yang muda. Tidak dia pilah-pilih menurut pangkat dan jabatan. Tidak dia saring apakah yang akan dia silaturahim itu yang tua atau lebih muda. Orang-orang kota yang kaya atau kaum marginal di pelosok desa.

Menurut ayah dari sepasang buah hatinya – Alira Vania Putri Dwipayana dan Savero Karamiveta Dwipayana – silaturahim yang telah dia lakukan sejak puluhan tahun silam sangat dahsyat manfaatnya. Ringkasnya, dia telah memetik begitu banyak hasil dari buah silaturahim yang konsisten dan persisten dia lakukan sejak lama. Karena itulah, demikian saya membatin di dalam diri, dia memberi judul karyanya yang super best seller dan fenomenal “The Power of Silaturahim”. 

Bisa jadi banyak orang yang mengasosiasikan The Power of Silaturahim itu dengan melimpahnya harta benda. Pastinya, tidak seorang pun dapat membantah, motivator dengan  Rp 60 juta nett untuk sharing Komunikasi dan Motivasi selama dua jam, sekarang kaya raya. Yang menarik, seperti dituturkan Aqua kepada saya, harta berlimpah yang dia dapatkan tidak karena dia menuntut bayaran yang sangat tinggi. Bahkan di banyak tempat dia justru menggratiskan sharing-sharing motivasinya. Dia melakukannya dengan ikhlas “lillahi ta’ala”. Menjalin tali silaturahim dengan hanya mengharap ridla Allah Swt. 

Tapi justru dengan demikian, semakin banyak orang yang simpati. Tidak sedikit petinggi TNI/Polri yang karena itu sekarang menjadi sahabat karibnya. Begitu juga para pimpinan tertinggi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dirut atau jajaran Direksi di dunia perbankan, perguruan tinggi, dan perusahaan-perusahaan swasta yang tidak terhitung banyaknya. Mereka yang kini menduduki pucuk pimpinan di berbagai lembaga bergengsi ini menjadi bagian dari “networking” Aqua bukan karena Aqua menggratiskan kegiatan motivasinya di lembaga-lembaga yang mereka pimpin. Tapi semata-mata karena suami dari Retno Setiasih ini sudah menjalin tali silaturahim dengan mereka sejak lama. Sejak mereka masih duduk di rangking menengah di jajaran pimpinan perusahaan maupun lembaga masing-masing.

“Lalu dari mana uang dan rejekinya?” tanya saya penasaran. 

Dengan senyuman khasnya, Aqua hanya menggelengkan kepala. Tapi dia tidak membantah bahwa semuanya dalam kuasa Allah Swt. Dan saya ingat, dalam beberapa pesan WA, dia pernah menyatakan ada perusahaan ini dan itu yang memesan buku-buku karyanya dalam jumlah ribuan eksemplar. Bahkan buku “The Power of Silaturahim” yang sudah terjual tidak kurang dari 120.000 eks baru-baru ini mendapatkan pesanan lagi. 

Menurut Aqua, NRA Group yang merupakan salah satu perusahaan raksasa pemberangkatan haji dan umrah di Tanah Air belum lama ini memesan buku itu sekitar 40.000 paket. Satu paket terdiri dari dua buku. Buku-buku itu akan mereka bagikan kepada jama’ah haji dan umrah yang akan mereka berangkatkan. 

Aqua selalu menganggap “guru” setiap orang yang dia kunjungi dalam safari silaturahimnya. Dan dia tak pernah lelah menganjurkan agar setiap orang meningkatkan aktivitas silaturahim. Seperti yang tidak henti dia lakukan sepanjang hari, sepanjang bulan dan tahun. “Lakukanlah dengan ikhlas lillahi ta’ala. Hasilnya akan sangat dahsyat,” ujarnya. 

Ungkapan Aqua ini mengingatkan saya kepada sebuah hadist Rasul yang berbunyi: “Barang siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.” (H.R Bukhari)

Pria ini menyebarkan kebaikan ke mana-mana. Mengajak banyak orang untuk berbuat baik sebagaimana yang dia lakukan. Meskipun dia selalu menolak disebut ulama, namun sikap dan prilakunya melebihi seorang ulama. Dorongannya agar setiap orang meningkatkan tali silaturahim merupakan ajaran Islam yang sangat penting. Saking pentingnya, Allah Ta’ala telah menyeru hambanya untuk selalu menyambungkan tali silaturahim dalam sembilan belas ayat di dalam kitab-Nya yang mulia. (*)

Pewarta : Nasmay L. Anas
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda