The Power Of Silaturahim

Keras Kepala untuk Kebaikan

Ilustrasi Backround: Istimewa

COWASJP.COM – Sungguh menarik mengamati efek “faktor Aqua” pada komunitas CowasJP. Kumpulan para mantan karyawan Jawa Pos Group ini memperlihatkan dinamika berbeda dibandingkan sebelum masuknya Aqua Dwipayana. Sejak awal dibentuk dalam obrolan Blackberry, hingga awal-awal boyongan ke Whatsapp group, CowasJP sekadar jadi ajang temu kangen. Obrolan tak jauh-jauh dari kisah masa lalu. Seringnya yang pahit getir. Atau update kondisi kekinian masing-masing anggota dan keluarganya. Juga ada tebak skor pertandingan sepak bola tiap ada pertandingan. Begitulah warna CowasJP. Bertahun-tahun ya seperti itu. 

Lalu masuklah Aqua Dwipayana. Sekitar 2 tahun lalu. Dia berhak menjadi anggota karena pernah menjadi jurnalis Jawa Pos di biro Malang, meski hanya setahun. Saya pun tidak sempat kenal secara langsung. Sebab, ketika saya bergabung dengan Jawas Pos pada 1 Januari 1991, beliau sudah keluar. Dengan mengikuti obrolan di WA group itulah saya jadi tahu, bahwa dia adalah seorang motivator komunikasi bertarif mahal, yang bersahabat dekat dengan banyak petinggi militer dan kepolisian, dan menjadi langganan ditanggap perusahaan-perusahaan besar. 

Tiba-tiba Aqua menjadi “selebriti” di komunitas alumni JP ini. Sebab, dia sangat panjang kaki ringan tangan. Tiba-tiba saja muncul di rumah seorang anggota, memberikan “kunjungan kehormatan”. Padahal, kenal pun hanya di group. Bahkan, orang tua teman yang masih tinggal di kampung halaman pun disowani. Aqua juga ngetop karena royal bagi-bagi hadiah. Nyah-nyoh. Tidak hanya duit, tapi juga buku, makanan, tiket pesawat, hotel, hadiah jalan-jalan sekeluarga. Dan sebagainya. 

aqua-oke.jpg

Puncak ketenarannya adalah kegiatan umroh gratis yang dia inisiasi dan biayai dari penghasilannya jadi pembicara. Di antara orang-orang istimewa yang dia umrohkan di angkatan 2018, terselip beberapa kawan anggota CowasJP. Yang tidak dapat umroh gratis pun kecipratan berkah. Mereka, bahkan bersama keluarga, di”klencer”kan. Semua gratis. Mulai kendaraan, penginapan, makan-makan.

Bahkan dapat oleh-oleh berlimpah. Nglencer gratis ini sudah berlangsung beberapa kali. Yang tidak bisa pergi pun, seperti Cowas JP Jabodetabek, dibuatkan acara gathering sendiri. Tentu saja semua dibiayai Aqua. Termasuk makanan yang dipesan kepada saya karena prinsipnya “membesarkan teman”. Jadi, biarpun tidak ikut umroh dan jalan-jalan, saya tetap kecipratan rezeki. 

ANTIPATI JADI SIMPATI

Yang membedakannya dari dermawan lain adalah kebiasaannya mempublikasikan kiprahnya. Juga komentar-komentar orang lain tentang kebaikan-kebaikan yang mereka terima dari Aqua. Atau sekadar dampaknya, misal mendapat inspirasi atau termotivasi dari yang dilakukan Aqua. Tulisan-tulisan tentang itu di-broadcast, baik di group maupun japri. 

Awalnya, mungkin terasa aneh menerimanya. Tak jarang yang jadi antipati. Ada yang mengkritik. Terang-terangan atau lewat sindiran. Kadang dengan bahasa yang keras. Ada yang cuma rasan-rasan di belakang. Pasti ada juga yang cuma membatin. 

Aqua bukannya tak tahu. Terhadap kritik, dia hanya menjawab kurang lebih seperti ini,”Soal pahala yang hilang karena saya cerita-ceritakan, biarkan itu jadi urusan saya dengan Tuhan.” Dan dia jalan terus. Dia tetap nyah-nyoh. Dia tetap nglencerkan orang-orang. Dia tetap memborong dagangan teman-teman. Dia tetap mengunjungi orang-orang. Dia tetap memuji orang-orang. Dan dia tetap menuliskan semua itu dan mempublikasikannya. 

Belakangan, banyak yang tadinya sinis dan menentang, jadi balik badan. Bukan hanya menghentikan serangan, tapi juga beralih mendukung. Tadinya antipati, jadi simpati. Sayangnya saya tak sempat wawancara mendalam dengan mereka yang balik badan itu untuk tahu motivasinya. Tapi saya ingin mencoba menelaahnya dari sisi pelaku saja. Sisi Aqua. 

aqu-DAN-AMU.jpg

Saya ingin menyorotinya dengan kacamata teori psikologi perubahan perilaku yang menjadi bagian pekerjaan saya yang banyak bekutat dengan komunikasi pemberdayaan masyarakat. Intinya, kita bisa mempengaruhi orang lain menggunakan perilaku kita. Change yourself to change others. 

Kita ini saling terhubung dengan orang lain. Apa pun yang kita lakukan, kita ucapkan, kita ekspresikan, bahkan baru sebatas kita pikirkan, bisa berpengaruh terhadap orang lain di sekitar kita. Bukan cuma bisa terpengaruh, tapi juga bisa berubah. Banyak yang berubah sikap dari sinis jadi manis. Tapi bukan itu yang saya mau soroti. Melainkan dampak besarnya pada komunitas. 

EMPAT PRINSIP MEMPENGARUHI

Pertama, yang dilakukan Aqua salah satunya mengikuti prinsip “mirrorring”. Kita melakukan sesuatu dengan harapan orang lain melakukan hal yang sama. Di depan cermin, kalau kita ingin bayangan kita mengangkat tangan kanan, kita harus mengangkat tangan kanan. Contoh riilnya, saya dengan “keras kepala” selalu meletakkan kembali gunting ke laci di bawah TV setelah dipakai. Biarpun suami dan anak saya terbiasa menggeletakkan saja setelah pakai. Lama-lama mereka pun mengikuti kebiasaan saya itu. Mengembalikan gunting ke tempatnya setelah pakai. Tanpa saya perlu ngomel-ngomel. 

Saat pertama bertemu secara pribadi, Aqua memberi saya oleh-oleh satu dus besar kue. Tak mungkin saya habiskan sekeluarga. Maka saya pun membagi-bagikan kue itu kepada para sekuriti di lingkungan rumah. Kepada teman-teman yang jarang saya temui. Aqua memberi banyak kepada saya, sehingga saya –seperti bayangan cermin—menirukan perbuatan bagi-baginya. Padahal dia tidak ngomong,”Mbak, berbagilah seperti saya!” Bahkan ketika saya laporkan kuenya sudah dibagi-bagi, dia bilang,”Wah, kalau tahu mau dibagi-bagi, saya kasih lebih banyak lagi!”

Kedua, saya lihat Aqua juga menggunakan teknik “mengubah cara pandang” dalam menghadapi orang yang bersikap negatif. Dia memilih tidak meladeni. “Dimaklumi sajalah, Mbak.” Begitu katanya kepada saya. Kita memang tidak mungkin memaksa orang lain berubah sesuai yang kita mau. Yang bisa kita lakukan adalah mengubah cara pandang kita terhadap orang lain. Dengan begitu kita tidak perlu baper kalau ada orang lain bersikap negatif. Butuh “keras kepala” juga untuk selalu menggeser sudut pandang terhadap orang lain supaya kita tidak baper. 

adib3.jpg

Ketiga, Aqua juga sangat rajin memuji. Tapi pujiannya terasa tidak nggombal. Sangat proporsional. Pujian yang relevan dengan orang yang dipuji. Aqua berkali-kali memuji masakan suami saya. Mulai rendang sampai gulai usus. Memujinya pun tidak hanya kepada kami. Tapi juga kepada orang-orang lain. Pujian itu membuat kami lebih bersemangat berjualan. 

Dalam setiap tulisannya, Aqua selalu menyelipkan pujian tulus. Seperti kita semua tahu, pujian merupakan alat ampuh untuk mempengaruhi orang lain. Tidak gampang lho memuji orang lain tanpa mengharap imbalan. Butuh “keras kepala” juga untuk meluangkan melihat sisi baik orang lain yang layak dipuji. Apalagi kalau orang itu sikapnya negatif. 

Dan pendekatan ampuh keempat yang disadari atau tidak dapat mempengaruhi dan mengubah orang lain, adalah kebiasaan Aqua melayani orang lain. Dalam urusan satu ini Aqua jagonya. Melayani bukan sebagai kacung mengharap balasan. Sebaliknya, Aqua selalu memberikan pelayanan lebih dari yang layak diterima.

Pelayanan yang diberikan macam-macam. Mulai memberi tempat menginap, baik hotel maupun rumahnya. Memberi pinjaman mobil dengan sopirnya. Bahkan sampai menguruskan perubahan jadwal penerbangan. Orang sesirik apa pun kepada kita, kalau kita tetap melayani dengan baik, kalau bisa lebih dari yang diharapkan, hampir pasti akan melunak sikapnya. Ini juga butuh sikap keras kepala. Kalau tidak, bagaimana bisa kita nyah-nyoh sama orang yang kita tahu sikapnya buruk terhadap kita? 

gus-amus.jpg

Kawan-kawan CowasJP saya lihat sekarang lebih positif. Tidak lagi bekutat pada kenangan getir masa lalu. Terutama jika memiliki akhir hubungan dengan Jawa Pos yang tidak masuk kategori husnul khotimah. Tak ada lagi cercaan menggebu-gebu. Semua obrolan terasa lebih positif. Kalau ada permasalahan, semua fokus ke solusi. Topiknya pun positif. Keberhasilan teman-teman, sekecil apa pun. Misalnya anak wisuda. Cucu menang lomba robotik. Semacam itu. Kalaupun ada konten negatif, responnya adalah menyemangati. 

Mereka juga makin rajin bersilaturahim. Saling mengunjungi. Seperti yang dilakukan oleh Aqua dalam rangka “walks the talk”, nglakoni yang diomongkan, dalam prinsip “The Power of Silaturahim” yang jadi trade mark Aqua. Mereka berubah sedikit banyak pasti karena sudah merasakan kebaikan-kebaikan Aqua. Merasakan dampak positif mengikuti prinsip yang dijalani Aqua. 

Tapi, kalau ada saja yang masih bersikap negatif, kita respon saja dengan cara Aqua: dengan keras kepala. Keras kepala berbuat kebaikan. *

Penulis adalah: Yulfarida Arini , Mantan wartawan Jawa Pos 1991 – 2001.

Pewarta : Yulfarida Arini
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda