The Power of Silaturahim

Silaturahim: Power ataukah Miracle?

COWASJP.COM – Adakah keajaiban (miracle) dalam kehidupan? 

Jawaban secara umum, tentu saja ada. Namun, orang yang terbiasa  mengandalkan logika dan otak kiri (rasio) dalam hidupnya tidaklah mudah menerima  begitu saja keajaiban. Kecuali mungkin keajaiban itu dilihatnya secara langsung atau dialaminya sendiri. 

Bagi kaum rasionalis, kehidupan itu sudah jelas matematikanya.

Filsuf Rene Descartes (1596 – 1650) boleh dikata adalah `Bapak Rasionalisme’ modern, kendati di abad-21 belakangan ini ada nama baru yang mencuat sebagai garda depan rasionalisme, yakni Richard Dawkins.

Cogito Ergo Sum (Aku Berpikir, maka Aku Ada)”, demikian kalimat Descartes yang terkenal. 

Pada intinya, kaum rasionalis berpendapat bahwa jika tidak ada penjelasan yang logis berdasarkan bukti atau fakta, maka kebenaran tidak bisa diterima.

Oleh karena itu, mereka sangat skeptis terhadap keimanan atau ajaran agama.

Apakah kaum rasionalis tidak percaya Tuhan atau ateis? 

Kalaupun ada di antara kaum rasionalis yang “percaya” pada keajaiban, keajaiban itu dianggapnya sebagai “barang langka” atau perkecualian. 

Rasionalisme memiliki pengaruh yang kuat dalam kehidupan modern dewasa ini.

Karena itu, meskipun polling yang diadakan Gallup menunjukkan bahwa mayoritas penduduk dunia mengaku beragama, namun pola pikir yang dibangun kaum rasionalis terlanjur menciptakan persepsi yang kuat tentang “keterpisahan” yang jauh antara Tuhan dan makhluk ciptaan-Nya, dalam hal ini manusia.   

Pola pikir semacam ini menciptakan ambiguitas atau kemenduaan, dualitas.

Secara vulgar, kemenduaan itu bisa dikatakan ateistik, karena sikapnya adalah “percaya namun tidak memegang kepercayaannya”. Namun, paling ringan (dan ini mungkin terbanyak) ya sebut saja sebagai hipokrisi, kemunafikan. 

“Oh itu urusan Tuhan, yang ini urusan dunia” adalah ungkapan paling populer kaum hipokrit. 

Dualitas ini jadi perhatian sejumlah kalangan, termasuk dari dunia ilmiah sendiri. Keterpisahan aspek “langit” dengan aspek “bumi” membuat manusia menjadi split, terbelah.

Padahal, dunia dengan segala persoalan dan tantangan besar kemanusiaannya dewasa ini membutuhkan lompatan-lompatan besar atau bahkan keajaiban untuk mengatasinya.

Tantangan dan persoalan besar itu tentu membutuhkan solusi atau pemecahan eksponensial, yang menurut David R Hawkins, menuntut  perspektif yang melihat kehidupan sebagai satu-kesatuan “langit” dan bumi”, sebagai keutuhan.

Tidak cukup lagi pemecahan yang bersifat linear seperti rumus matematika 1 + 1 = 2. Rumus atau logika konvensional seperti itu teramat lamban untuk merespon masalah dan tantangan yang ada. 

Yang dibutuhkan adalah solusi non-linear dan tidak konvensional. Sederhananya, bagaimana 1 + 1 hasilnya bisa lebih dari 2.

Dalam kaitan ini, ahli biologi Bruce H. Lipton dalam bukunya The Biology of Belief: Unleashing The Power of Consciousness, menulis bahwa apa yang disebut sebagai keajaiban (miracle) itu bisa muncul dari keyakinan atau kesadaran (consciousness) akan keterhubungan dengan Sang Maha Gaib. 

Dengan kata lain, persepsi “keterpisahan” antara Sang Pencipta dan makhluk-Nya yang dibangun dan dipengaruhi oleh pola pikir kaum rasionalis dianggap tidak modern lagi, bahkan “tidak rasional” lagi, karena mentok tak memberikan solusi yang memadai atas persoalan-persoalan kehidupan. 

Sebagai seorang ilmuwan biologi, Bruce H. Lipton tentu tidak ngawur ketika mengatakan bahwa keyakinan merupakan sumber energi besar (dan bahkan tak terbatas) dalam menciptakan perubahan dan menemukan solusi yang dahsyat.

Menyampaikan kesimpulannya itu, Lipton berangkat dari penelitian bertahun-tahun tentang dinamika seluler dalam lingkup DNA, di antaranya dalam kasus-kasus kesembuhan ajaib seseorang yang sebelumnya telah divonis bakal berumur pendek oleh dokter.

“Keyakinan yang bertalian dengan kesadaran (consciousness) mengendalikan biologi," demikian yang bisa dirangkum dari Lipton.

Ia mengungkapkan istilah epigenetics. Lipton mengatakan bahwa perubahan kondisi kesadaran atau consciousness (yang dikaitkan dengan keyakinan atau keterhubungan dengan Tuhan) manusia dapat menghasilkan perubahan fisik, baik pada struktur maupun fungsi di tubuh.   

Intinya, keyakinan kuat bisa mempengaruhi dinamika sel dan kimiawi yang terkait di dalam tubuh, dan kemudian menciptakan apa yang disebut sebagai sinkronisitas yang spontan, dan di situlah keajaiban bisa terjadi.

Profesor psikiatri David R. Hawkins bergerak lebih jauh. Dalam bukunya Power vs Force: The Hidden Determinants of Human Behaviour, Hawkins mengatakan bahwa kondisi kesadaran seseorang yang makin berkualitas (yang bisa diterjemahkan pula sebagai peningkatan kualitas keimanannya pada Tuhan) menciptakan apa yang disebutnya sebagai auto-regulation. 

Tidak hanya kondisi fisik seseorang bisa mengalami keajaiban spontan (sehingga sembuh dari penyakit); tapi dengan auto-regulation itu, bahkan alam semesta pun bersekutu dengan mereka yang berkesadaran tinggi untuk mewujudkan keinginannya. Bahasa populernya adalah mestakung atau semesta mendukung.

Oleh karena itu, peningkatan kondisi kualitas kesadaran manusia tak hanya berpengaruh pada kesehatan seseorang, bahkan juga pada  rezekinya, pada kehidupan pribadi dan keluarganya, karirnya dan lain lain. 
Boleh dikatakan pada semua aspek dalam kehidupannya.

Namun tidak sembarang consciousness atau kesadaran mendatangkan keajaiban. 

Lewat penelitian tak kenal lelah selama 29 tahun, Hawkins yang awalnya adalah psikiater namun kemudian menceburkan dirinya dalam pembelajaran lintas disiplin ilmu dan jadi mistikus, membuat Peta Kesadaran (Map of Consciousness). Peta yang antara lain memuat  level-level kesadaran dan algoritma energi yang dibawanya ini, untuk menghindari klaim orang atas nama kesadaran.

Intinya, menurut kriteria Hawkins yang diungkapkannya dalam Peta Kesadaran, kesadaran yang meningkat (higher consciousness) memancarkan radiasi atau energi, yang berefek pada kesembuhan, kesuksesan dan kebahagiaan.

Apa contoh hadirnya kesadaran yang lebih tinggi pada seseorang, menurut Hawkins?  

Di antaranya, orang itu memiliki sifat tanpa pamrih, ikhlas, welas asih, penerimaan (acceptance) dan syukur. Jadi, tidak bisa seseorang asal njeplak mengaku-ngaku memiliki kesadaran tinggi, namun tidak valid saat diverifikasi dengan Peta Kesadaran Hawkins. 

Menurut Hawkins, orang dengan tingkat kesadaran tinggi memiliki pengaruh kuat secara kualitas dan kuantitas terhadap lingkungan sekitarnya dan bahkan lebih luas. 

Itu pula yang menjelaskan mengapa meskipun kehadiran fisiknya sudah tidak ada lagi atau meninggal dunia, para nabi, wali atau guru luhur kehidupan, tetap besar dan membekas pengaruhnya hingga jauh melampaui zamannya. 

Padahal, hanya kesadaran akan keterhubungan pada Tuhan (tentu dengan level tertinggi) yang menjadi bekal hidup mereka. Mereka haqqul yaqin, dan pasrah-berserah seutuhnya pada kehendak Maha Subyek.

Dalam banyak tulisannya, Mas Aqua menyebut tentang perlunya menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya atasan, menekankan niat tulus ikhlas dan tanpa-pamrih dalam bersilaturahim, serta pentingnya gemar menolong.
Banyak teman dan sahabat Mas Aqua penasaran sekaligus terheran, bagaimana Mas Aqua yang hari-harinya sarat dengan aktivitas silaturahim, terlihat seperti tidak kehabisan sumber energi. 

Tak hanya energi fisik, tapi juga material karena tak sedikit juga kegiatan sosial-kemanusiaan Mas Aqua. Dia jelas bukan konglomerat, namun aktivitas berbaginya bisa dibilang juga luar biasa. Untuk menjelaskan mengapa keluarbiasaan atau “keajaiban” tersebut terjadi, konsep kesadaran (consciousness) Bruce H. Lipton dan David R. Hawkins tampaknya bisa digunakan sebagai pisau analisis. 

Karena itu, ke depan perlu dibuat lanjutan dari buku The Power of Silaturahim menjadi The Miracle of Silaturahim. Wallahualam bishawab. (*)

Penulis adalah: Sunarko, Pemred Tribun Bali, Gramedia Group.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda