Ayolah Bos, Pasti Bisa!

Foto: phantomplanet.com

COWASJP.COM – Pagi itu langit hitam. Angin berembus kencang. Hujan hanya tinggal tunggu waktu jatuh ke tanah. Seorang ibu dengan perasaan ketir-ketir melepas anak lelakinya menuntun motor keluar rumah. ''Mendung gelap begini, ditunda dulu kan bisa?'' kata ibu itu pada anaknya.

''Saya sudah janji dengan perusahaan itu bu, saya harus tepati janji,'' jawab anaknya sambil memakai jas hujan. Pemuda itu baru lulus perguruan tinggi. Dia bertekad kerja mandiri dengan membuka usaha kontraktor kecil-kecilan bidang IT.

Tak lama kemudian hujan turun disertai badai. Pemuda itu nekad memacu motornya, menghadapi hujan, melawan angin. Tiba di tempat tujuan, dia disambut seorang perempuan penerima tamu. Ada yang aneh. Penerima tamu itu berbisik dengan staf lain dan staf lainnya lagi.

Kemudian seorang staf menemui pemuda itu, mengatakan bahwa pekerjaannya sudah diisi orang lain. Staf tersebut tak bisa menjelaskan lebih jauh bagaimana kasus itu bisa terjadi. Merasa tak ada gunanya, pemuda itu pun kembali ke tempat parkir motor. Pulang.

Ketika hendak beranjak dari tempat parkir, seorang perempuan berlari-lari kecil ke arahnya. Mengajaknya ke kantin untuk ngopi. Ternyata, perempuan itu pemilik perusahaan tersebut. Dia minta maaf telah terjadi kesalahpahaman di antara stafnya sehingga peluangnya untuk mendapatkan proyek di perusahaan itu hilang.

Namun, ibu direktur itu berjanji memberinya proyek di anak perusahaan. Bahkan, direktur itu memberikan nomor HP-nya, memberinya kebebasan untuk menghubunginya sewaktu-waktu. ''Saya menghargai profesionalitas Anda,'' katanya.

Pemuda itu memang gagal mendapatkan pekerjaan. Tapi, dia bangga telah bersikap professional. Dan ternyata, sikap tersebut mendapat penghargaan, apresiasi, dari pemilik perusahaan.

 Penghargaan besar itulah yang kini diperoleh CoWas JP. Tanpa menembus hujan, tanpa melawan badai, Direktur Utama BNI Achmad Baiquni bersedia mensponsori penerbitan buku Reuni IX Cowas. Bahkan Pak Baiquni siap memberikan Kata Pengantar. 

Selain itu, CEO BNI Wilayah Surabaya, Muhammad Jufri, mempersilakan gedung BNI Graha Pangeran, Jalan A. Yani Surabaya, digunakan sebagai acara peluncuran buku. Penghargaan besar ini berkat silaturrahmi yang selalu dilakukan salah seorang anggota, Aqua Dwipayana.

''Saya hanya melakukan langkah kecil Cak Fu,'' kata Aqua. Langkah kecil Aqua, sangat berarti bagi Cowas, bahkan spektakuler.

BUS11.jpg

Mengapresiasi penghargaan dari Pak Baiquni, Cowas harus cepat tanggap, cepat kerja. Naskah sudah tersedia, foto-foto lengkap, tinggal sedikit memoles, mempercantik perwajahan agar menjadi buku menawan.

Toh Cowas sudah berpengalaman bikin buku Api Revolusi dari Kembang Jepun. Yaitu tulisan para wartawan era Jawa Pos berkantor di Kembang Jepun. Penerbitan buku itu dibiayai Pak Bos Dahlan Iskan —yang juga menuliskan Kata Pengantar.

Hanya, karena kesibukan Pak Bos yang sangat tinggi, dana yang ditunggu itu belum cair sampai berminggu-minggu. Salah seorang anggota Cowas, Bambang Supriyantoro, akhirnya menalangi biaya cetak Rp 10 juta untuk 500 eksemplar. 

Penerbitan dan cetak diurus Djoko Pitono. Orang dekat Pak Bos ini juga yang menagih biaya pada mantan Menteri BUMN itu. Rp 20 juta untuk 1.000 eksemplar. Cair. ''Mungkin Pak Dahlan menguji kesungguhan kami dengan tidak langsung mencairkan dana. Terima kasih sebesar-besarnya Pak Dahlan,'' kata Slamet Oerip Prihadi. Pria yang akrab dipanggil Suhu itu ibarat panitia dalam semua aktivitas Cowas.

Setelah dana cair, Bambang tak meminta kembali dana talangannya. Pria yang keluar dari Jawa Pos pada 1986 —kemudian masuk Petrokimia— itu menyumbangkan Rp 10 juta tersebut untuk Cowas. Bambang sekarang sibuk memperoduksi sendiri pupuk merk Green Force.

 Bisa jadi budi baik Pak Baiquni dan Pak Jufri itu bakal berkelanjutan. Atau dilanjutkan ke perusahaan lain. Hal itu rasanya tidak sulit bagi seorang Aqua yang punya banyak sahabat baik.

Sebagai persiapan menghadapi ''proyek-proyek'' itu Cowas perlu punya sesuatu untuk meningkatkan nilai tawar. Salah satu yang perlu segera ditangani barangkali CowasJP.com. Dari segi redaksi CowasJP.com perlu lebih memantapkan jatidirinya. Misalnya, dengan menyajikan menu yang simple, khas, dan dicari banyak pembaca.

Demikian juga dari sisi bisnis. Aqua sudah membuka gerbang BNI. Barangkali divisi bisnis bisa nunut masuk. Menawarkan yang bisa ditawarkan.

 Yang tak kalah penting dari CowasJP.com adalah berusaha hidup mandiri. Tidak terus membebani sochieb kentel Haji Khairul Anwar (Times Indonesia). 

Untuk itu, para pentolan Cowas harus turun tangan. Tidak cukup diserahkan pada pengelola CowasJP.com. Cowas punya banyak orang hebat. Selain Aqua, ada ketua Cowas Dr Dhimam Abror, pengamat masalah nasional/internasional, olahraga, sampai dagelan. 

Dr Imron Mawardi, pakar ekonomi syariah, Ir Agus Mustofa insinyur nuklir yang mendalami tasawwuf modern, Ir Misbachul Huda (spiritual trainer), Arif Afandi (pebisnis, mantan wakil walikota Surabaya) Tofan Mahdi, vice president of communication Astra Agro Lestari, Imawan Mashuri (pebisnis, ahli hukum), Maksum (pelobi, pengamat sosial), Roso Daras (ilmuwan, pebisnis), Erwan Widyarto (seniman, pembangun ekonomi daur ulang), dan masih banyak lagi.

Selain itu, ada Yai Darul Farokhi, petani idealis yang punya visi bisnis, Bambang Supriyantoro, Uha Bahaudin (produsen karpet mewah), Mas Suprianto (pebisnis, ahli pemasaran) Dono Sumarwoto, Sukoto (pemilik koran Pojok Kiri) dan para start-up potensial lain yang tak disebut satu persatu.

Jika mereka disatukan, membuat program terpadu, kongkret —bukan sekadar wacana— sangat mungkin Cowas bakal menjadi paguyuban hebat berkualitas. 

Paling tidak, melalui jaringan masing-masing bersama-sama membangun fondasi kukuh CowasJP.com. Misalnya, menjalin kontrak sponsor dengan beberapa perusahaan atau apalah bentuknya. Yang penting, CowasJP.com harus mampu hidup mandiri, profit, berkembang dan menjadi acuan pembaca. 

Jika CowasJP.com besar dan bermutu, publik pasti akan melihat siapa di balik itu semua. Itu bisa lebih meningkatkan nilai tawar pribadi masing-masing. Ayolah bos, pasi bisa!

Jika tidak, sangat mungkin Cowas tetap jalan di tempat. Cowas perlu berterima kasih kepada Tim Penggerak, yang dengan sangat bersemangat kesana-kemari bersilaturrahmi naik motor. Bermodal kopi dan segepok rokok. Nglepus. 

Salam, Cak fu

Pewarta : Fuad Ariyanto
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda