The Power Of Silaturahim

Ini Dia Kunci Sehat Aqua Dwipayana

Cowaser Dono Sumarwoto (kanan) bersilaturahim dengan Umar Fauzi di UIN Ciputat.

COWASJP.COM – Rangkaian silaturahim sepanjang Jumat (14/9) bersama motivator Aqua Dwipayana benar-benar luar biasa. Itu yang saya rasakan. Betapa tidak, sehari itu, saya bisa bertemu dengan banyak kawan yang lama tak bersua. Dan berkenalan dengan kawan-kawan baru.

Pagi di resto UC, ketemu Gus Amus Agus Mustofa dan Nirwan Ahmad Arsuka. Kemudian di bandara kenal dengan kawan-kawan pengelola Concordia Lounge, Pak Iwan, Mas Nopian dan kawan-kawan. Lalu Pak Hendro Padmono (Pimwil BRI), Pak Suprajarto (Dirut BRI). Saya juga sempat bertemu Prof Dr Anik Ghufron (guru besar UNY).

BACA JUGA: Sukses Mandiri karena Keyakinan yang Kuat​

Setelah itu bertemu Mas Pam Agung Pamujo (Perum Perikanan Indonesia), Mas Ary Nur Prabowo (ICMI DIY) serta Pak Nur (driver PLN Jogja). Dan sehabis Jumatan bisa "bertemu" lewat HP dengan Cowaser yang "lama hilang" Mas Didik Puji Yuwono. 

Sewaktu di Jawa Pos, intensitas hubungan saya  dengan Mas Didik sangat tinggi. Beliau redaktur budaya, saya wartawan budaya di Jogja dan "pemasok" penulis rubrik budaya dari Kota Budaya ini. Saat saya ditarik ke Kantor Pusat Jawa Pos di Surabaya membantu halaman satu, saya sering diminta membantu mengedit feature halaman satu. Rubrik yang dalam bahasa Jawa Pos disebut Boks itu menjadi tanggung jawab Mas Didik.

BACA JUGA: Ikut Merasakan Dahsyatnya Energi Silaturahim

Sehabis Jumatan, kami berbincang dengan Mas Aqua dan Pak Adib. Ada informasi, Mas Didik sedang berada di Jogja. Langsung saya telpon. Nyambung. "Selamat datang di Jogja Mas," goda saya.

Ternyata benar. Saat saya telepon, Mas Didik baru saja "mendarat" di Stasiun Tugu. Ia naik KA Sancaka dari Surabaya. Sedang ada satu urusan di Jogja. "Kok tahu kalau saya di Jogja? Saya sering lho ke Jogja. Tapi biasanya datang malam, terus besok pagi balik. Kalau ini sampai Minggu. Semoga iso ketemuan," kata Mas Didik.

jatmiko.jpgDi Surabaya, Arif Afandi, Oemiati Theresia dan Jatmiko menjenguk Arif Santoso yang sakit di RS Dr Soetomo.

Saya katakan saat itu sedang berada di rumah Mas Aqua di Sawitsari. Bersama Adib Lazwar Irkhami. Lalu telepon saya serahkan ke Mas Aqua. Berlangsunglah obrolan yang seru. Karena kami memang lama tidak bertemu. "Mampir ke rumah Mas. Kalau ke Jogja nginep di rumah saya saja," ujar Mas Aqua menawarkan rumah Sawitsari.

Mas Aqua juga menanyakan apakah bisa ketemu dengan Mas Didik. Juga bertanya apakah Mas Didik ada waktu longgar, sehingga bisa ditemui. Kapan bisa ditemui. "Kalau ada waktu Mas Didik bisa datang malam ini. Kita makan malam di rumah. Kebetulan kami akan makan malam bersama Mayjen TNI Kurnia Dewantara, Komandan Sekolah Staf Komando Angkatan Darat beserta istri," ajak Aqua.

BACA JUGA: Safari Silaturahim Sambil CBS​

Hari Sabtu, Mayjen TNI Kurnia Dewantara ada jadwal reuni Akmil 86 di Magelang. Sebelum ke Magelang, Mas Aqua mengundang beliau ke rumah. Jenderal bintang dua ini teman akrab Mas Aqua. Aldi, salah satu putera Kurnia Dewantara, menjadi salah satu peserta Wisata Keluarga Panitia di Bali. Aldi menjadi sahabat Cowas Junior.

Mas Didik belum bisa memastikan bisa ke rumah Aqua atau tidak. Namun obrolan di telepon tersebut harus berakhir karena jemputan untuk Mas Didik sudah datang. Kendati begitu, kontak dengan Mas Didik tidak terputus sampai di situ. Mas Aqua terus melakukan komunikasi dengan Mas Didik. 

BACA JUGA: Dikira Dokter​

"Aww, Mas DIDIK terlampir di atas alamat rumah saya. Jl Cempedak Blok H no 10 Perumahan Sawit Sari Condong Catur Sleman. Saya tunggu di rumah ya. Salam hormat buat keluarga ya. Makasih banyak Mas DIDIK." Begitu pesan lanjut Aqua kepada Didik Puji.

Tawaran tersebut direspons Didik Puji. Dia sampaikan itu tawaran yang sulit ditolak. Dia akan berusaha untuk mampir ke rumah jika urusan di Cangkringan selesai. Didik terus menginformasikan posisi dirinya. 

"Mohon maaf mas Aqua, sy msh “terjebak” di Cangkringan, ada “tugas” keluarga yang ternyata makan waktu," tulis Didik Puji. Tulisan itu kemudian dilanjut pesan berikutnya. "Segera sy kabari begitu bisa turun, kayaknya kalau Mas Aqua tidak repot baru besok kita bisa ketemu."

HENDRAL.jpgSuasana ruang sekretariat CoWasJP selalu rame. Tampak dari kiri Kusnan Soekandar (salah seorang pendiri CoWasJP juga mantan bendahara CoWasJP) di dampingi Sukoto (kanan)

"Siap Mas DIDIK. Silakan dituntaskan dulu tugas keluarganya. Saya besok pagi jam 05.00 kembali ke Jkt. Makasih banyak Mas DIDIK.".

Rupanya, kedua sahabat yang lama tidak bertemu ini belum ditakdirkan bertatap muka. Mas Aqua dan Mas Didik tidak sempat bertemu di Jogja. Namun Aqua tetap membuka pintu setiap saat bagi Mas Didik untuk menginap di rumahnya.

"Kalau Mas Didik ke Jogja lagi, atau setiap ke Jogja, silakan menginap di rumah saya. Mosok punya saudara di Jogja kok nginapnya di hotel. Di rumah saya kamar dan makanan yang enak selalu siap Mas," ujar Aqua.

Aqua menegaskan tawaran menginap di rumah Sawitsari itu juga berlaku untuk teman-teman yang lain. Itu tawaran yang serius. Bukan basa-basi. Dan sudah banyak teman-teman Mas Aqua yang membuktikan. Menginap di Sawitsari full service.

Kendati tidak bisa ketemu dengan Mas Didik, "perjumpaan" sesaat di Jumat itu telah menautkan kembali silaturahim yang lama terputus. Dan yang lebih penting, saya mendapat jawaban atas pertanyaan apa kunci sehat Mas AQUA.

WIDODO.jpgDari kiiri: Slamet Oerif (Suhu), Widodo, Sukma, dan Mas Bambang saat menyerahkan sumbangan ke-2 dompet dari para cowaser ke cak Widodo cowaser Malang Raya yang lagi sakit.

Kok bisa? 

Penasaran ya?

Begini. Saat telepon Mas Didik, saya sempat menanyakan apa kesibukan dia sekarang. Dia menceritakan sedang mendampingi "artis" baru. Seseorang yang sedang "ngehits" dan viral. "Pokoknya saingan deh dengan Via Vallen," kelakar Mas Didik. 

"Artis" tersebut, kata Mas Didik, saat ini "laku keras". Mendapat tanggapan di mana-mana. "Kemarin habis dari Palembang. Dari Banjarmasin. Keliling Indonesia. Jadi muter terus," cerita Mas Didik.

"Kalau saingan dengan Via Vallen, dari YouTube bisa dapat empat puluh jutaan dong!" goda saya. 

"Kalau ini masih di bawah itulah. Ya tiga puluh sampai tigapuluh lima lah," sahut Mas Didik sembari menyebut "keyword" untuk mengenal artis ini. Mau tahu? 

Mau tahu banget apa mau tahu bulat? Hehehe.... 

Saya yang pernah mendapat broadcast video dengan keyword yang disebut Mas Didik langsung ingat. Segera saya search di YouTube dengan mengetik "dokter sableng." Keluarlah sejumlah file video si "Dokter Sableng" Agus Ali Fauzi yang full kocak.

Nah, ternyata, inilah jawaban atas pertanyaan kunci sehat Mas Aqua. Saya tidak perlu mencari apa kiat dan kunci sehat Mas Aqua. Tidak perlu pula bertanya langsung pada motivator bertarif Rp 60 juta per dua jam yang duduk di hadapan saya.  Jawabannya diberikan oleh "Dokter Sableng" tersebut dalam ceramahnya. Ceramah di depan forum "Silaturahmi Direktur Human Capital BRI dengan Persatuan Pensiunan BRI." 

Dengan sangat gamblang, Dr H Agus Ali Fauzi menerangkan bahwa segala macam penyakit sumbernya dari hati. Orang dengan hati yang bersih, berpikir positif, tidak pendendam, hati yang selalu bersyukur, tidak suka mengeluh, senang berbagi, suka menolong orang lain, menurut Agus Ali Fauzi, tidak akan mudah sakit. 

widodo2.jpgCowaser Malang Raya yang sakit dan ambruk di jalan saat menjalan tugas sehari-harinya dan dilarikan ke Rumah Sakit terdekat di Kepanjen-Kabupaten Malang.

Di sini satu poin jawaban tercatat. Aqua merupakan sosok yang selalu berfikir positif. Tidak pendendam. Tidak suka mengeluh, senang berbagi, suka menolong. Jadi, wajarlah jika Aqua sehat terus. 

"Begitu panjenengan ngomong 'Adhuh, Wah' yang keluar adalah hormon kortisol. Hormon kortisol ini memicu diabetes, darah tinggi, kolesterol dan jantung," urai Dokter Agus.

Maka menjadi orang itu harus mudah bersyukur. Jangan pernah mengeluh. "Jadi, kalau ada orang sakit itu, mungkin dia sering mengeluh. Mungkin dia egois." 

Kalau orang bersyukur, yang keluar hormon kebahagiaan, hormon endorfin. Hormon endorfin ini menghilangkan nyeri. Menghilangkan capek-capek. 

"Jadi kalau ada orang yang badannya suka capek-capek, orang itu pendendam. Orang itu musuhnya banyak. Belum bisa memaafkan. Karena, begitu hormon kortisol keluar, tulang akan dimakan jadi keropos."

Karena itulah, menjadi orang itu, semakin tua harus semakin wise. Semakin arif. Semakin bijaksana. Makin ngalah. Bukan makin ngeyelan. Harus semakin pandai bersyukur. Sehingga makin banyak produksi hormon endorfin. 

"Hormon endorfin itu 300 derivat morphin. Kekuatannya 300 kali kekuatan morphin. Jadi kalau seseorang itu ikhlas, mudah memaafkan, maka orang itu tidak ada nyeri. Tidak capek," ujar "Dokter Sableng" di video. 

Lagi-lagi di sini ada poin jawaban yang bisa kita catat. 

Ada hal lain yang bisa saya catat dari paparan Agus Ali Fauzi. Yaitu, kunci agar sehat dan tidak sakit adalah hati yang bahagia. Dia menyarankan bahagiakan hati seseorang agar orang tersebut tidak sakit-sakitan. Dan saat membahagiakan orang lain, maka orang tersebut juga akan makin bahagia. "Bahagiakan orang lain maka kau akan bahagia," tegas dokter Agus.

widodo1.jpgSANGAT MEMBANTU: Setelah di rujuk dari Rumah Sakit Kepanjen ke RSSA Malang, malamnya Sukma menyerahkan sumbangan pertama dari para cowaser ke mas widodo.

Bukankah Aqua Dwipayana selama ini juga selalu membahagiakan orang lain? Bahkan tidak sedikit orang yang dibuatnya bahagia. Untuk menyebut beberapa di  antaranya misalnya dua rombongan Umroh Power of Silaturahim (POS) I dan II. Rombongan wisata Warakawuri Jawa Pos. Para peserta Reuni IX CowasJP. Dan para keluarga panitia yang wisata ke Bali.

Jadi wajarlah kalau Aqua sehat terus.

Apa yang disampaikan Dr H Agus Ali Fauzi berikutnya di dalam ceramahnya seperti mengkonfirmasi kondisi sehatnya Aqua Dwipayana. Selalu introspeksi diri, terus belajar sabar, belajar ikhlas. Memberi aksi positif meski orang lain memberi aksi negatif. Dokter Agus menegaskan soal ini.

"Berikan aksi positif meski orang lain memberi aksi negatif. Nggak usah dibales," tegas Agus Yang kemudian menyitir Q.S. Al Isra' ayat 7.  “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,…”

Jawaban atas pertanyaan tentang resep sehat juga bisa didapat dari penjelasan tentang manfaat silaturahim. Silaturahim itu memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Orang berumur panjang tentulah orang yang sehat. Dan silaturahim seorang Aqua Dwipayana tak pernah berhenti. Maka di dalam buku saya, Produktif Sampai Mati, saya menyebutnya Master of Silaturahim.

Silaturahim itu sendiri bermakna SEHAT. Selalu Erat Hubungan Antar Teman. 

Kini, kawan-kawan CowasJP dan sahabat-sahabat Aqua Dwipayana yang lain terus membuktikan.

Silaturahim sesama Cowaser makin giat. Tiada hari tanpa silaturahim. Yang Surabaya ke Malang, yang Surabaya ke Bekasi, ke Jogja dan seterusnya. Atau yang Tropodo ke Tandes, yang Lawang ke Malang, yang Bogor ke Depok dan sebagainya. 

Semoga kawan-kawan pun semakin sehat. Terus bersilaturahmi dengan hati bersih, dan pikiran positif. Menjadi orang yang tidak pendendam. Tidak suka mengeluh. Semakin senang berbagi, dan suka menolong. 

Sehingga kita semua menjadi "Otot Kawat Balung Wesi, Awet Sehat Gak Mati-mati." Semoga. (*)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda