The Power Of Silaturahim

Paru-paru Mas Aqua (9 Menit Membacanya)

Salah satu kegiatan DR Aqua Dwipayana. Silaturahim dengan Cowasers dan memberikan hadiah bagi pemenang lomba tulisan Reuni IX Cowas JP.

COWASJP.COM – Kalau kita mengakses sumber yang tak terbatas, maka yang mengalir dari sumber itu juga tak terbatas. Namun jika yang diakses adalah sumber yang terbatas, maka yang tersalur juga terbatas. 

Konsekuensinya, kalau seseorang mengeluarkan sesuatu, maka di satu sisi ada yang berkurang (terambil/diambil) dan di sisi lain ada yang bertambah. Jadi ada tarik-menarik.

Konsep atau “matematika berpikir” inilah yang menggerakkan banyak praktik dalam bidang bisnis selama ini, bahkan secara umum dalam interaksi atau pergaulan antarmanusia. 

Apalagi, sejak awal dalam pelajaran atau mata kuliah Ilmu Ekonomi  ditegaskan bahwa (aktivitas) ekonomi itu berangkat dari cara pandang bahwa sumber daya (di dunia) ini terbatas, sehingga manusia harus berkompetisi, berebut bahkan berantem untuk menang atau survive.

Cara berpikir seperti ini mewarisi pandangan Charles Darwin bahwa evolusi itu menyeleksi siapa yang paling kuat. Bahwa proses evolusi selalu ditenagai oleh rasa takut, sehingga akhirnya terjadilah imperialisme oleh mereka yang paling kuat.

dirman4.jpgAqua Dwipayana (baju putih berdiri di depan paling kanan). Bersama Cowasers.

Memang rasa takut bisa memberi tenaga (kekuatan). Orang yang takut anjing dan dikejarnya, secara spontan energi fisiknya akan mendadak naik. Pagar dua meter bisa dia lompati. 
Namun, hidup yang didorong oleh motif berebut dan rasa takut tentu destruktif, tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan hakiki.

Ironisnya, justru perebutan dan rasa takut inilah yang menjadi dasar dari modernitas era materialistik. Dunia dianggapnya sebagai medan tempur, bukan ladang amal.

Hidup dianggapnya ya sebatas dan hanya di dunia, dan setelah itu selesai. Tidak ada after life atau kehidupan akhirat.

Perspektif semacam ini kalau disebut secara vulgar pada dasarnya adalah ateistik. Peran Tuhan disingkirkan, atau bahkan dianggap tidak ada.

Kalaupun Tuhan masih diakui, Tuhan dianggap sebagai pelengkap-penyerta bahkan pelengkap-penderita. Tuhan tidak diletakkan pada posisi atau sebagai orientasi sentral, sebagai yang menggerakkan dan menghidupi segalanya di semesta ini.

Teori evolusi Darwin tersebut sebetulnya sudah mental oleh bukti-bukti empiris sejarah di banyak tempat. 
Di Nusantara, misalnya, mbah-mbah kita terus berjuang mempertahankan bangsa dengan senjata seadanya, dan akhirnya menang. Itu semua dilandasi oleh rasa cinta (tanah air), bukan ketakutan. 
Kalau hanya dilihat dari ukuran fisik(al) dan material, jelas perjuangan mbah-mbah kita dulu akan ditekuk dan kalah selamanya dari penjajah.

Menurut David R. Hawkins dalam bukunya Power vs Force: The Hidden Determinants of Human Behaviour, dasar evolusi yang sejati adalah bahwa siapa yang paling dicintailah yang menang. Cuma, menjadikan cinta (love) sebagai energi atau bahan bakar evolusi memang tidaklah mudah. 

*

Dalam dunia (ilmu) manajemen-bisnis, pada pertengahan 2000-an muncul paradigma baru yang dipelopori oleh W. Can Kim dan  Renée Mauborgne, duo profesor dari INSEAD –salah-satu sekolah bisnis papan atas dunia yang berada di Prancis.

[sekadar info, pak JK termasuk salah-satu alumnus INSEAD untuk program/kursus pengembangan eksekutif]

Pemikiran Kim dan Renee itu mendobrak paradigma lama dalam ilmu manajemen dan bisnis, yang di antaranya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Michael Porter, profesor dari Harvard Bussiness School.

Paradigma baru yang ditawarkan Kim & Renee itu dituangkan dalam buku mereka yang fenomenal, yakni Blue Ocean Strategy (ada yang mengindonesiakan-nya menjadi Strategi Samudera Biru).

aqua.jpg

Menurut Kim-Renee, paradigma lama manajemen-bisnis berangkat dari asumsi dasar bahwa sumber daya di dunia ini terbatas (scarcity), sehingga manusia harus bersaing, berebut bahkan berantem untuk memperoleh bagian dari sumber daya itu. 

Seperti “teori pencet balon”. Satu bagian balon dipencet (dan kempes), bagian lainnya menggelembung. Begitu sebaliknya.

Intinya, jika yang satu mendapatkan, yang lain jadi korban. Ini karena adanya persepsi bahwa sumbernya tersedia terbatas, bahkan langka.

Asumsi dasar tentang kelangkaan atau scarcity sumber daya ini jugalah yang melandasi Ilmu Ekonomi hingga kini, yang masih diajarkan di sekolah dan kampus.

Kerangka konseptual Michael Porter yang puluhan tahun jadi acuan bisnis, yakni Porter Five Forces Analysis, merupakan salah-satu “puncak karya” dari paradigma scarcity atau kelangkaan itu. 

Menurut Porter, ada lima kekuatan (force) yang sangat mempengaruhi bisnis & industri, yaitu (1) ancaman dari produk pengganti/substitusi, (2) ancaman pesaing, (3) ancaman new entry atau pesaing baru, (4) kekuatan/daya tawar pemasok, dan (5) daya tawar konsumen.

Coba amati, semua elemen “five forces” itu  memandang bahwa dunia luar sebagai ancaman, dan subyek (bisnis/industri) merasa berada dalam tekanan. Elemen-elemen itu masuk dalam kategori atau zona energi negatif di ”Peta Kesadaran” (Map of Consciousness) yang dibeberkan David R. Hawkins dalam bukunya Power vs Force tersebut di atas.

Profesor Hawkins (1927-2012) adalah nama top dalam bidang psikiatri di Amerika dan dunia, yang di masa hidupnya banyak diminta sebagai konsultan oleh lembaga-lembaga dari berbagai latar belakang agama, termasuk oleh PBB.   

Posisi Kim dan Renee berkebalikan dari Michael Porter. Duo profesor ini bukan cuma mengajukan konsep atau kerangka analisis baru, tapi mereka bahkan membongkar keyakinan-keyakinan (belief) dan cara berpikir (way of thinking) ala Porterian.

Menurut Kim dan Renee setelah melakukan riset bertahun-tahun terhadap dunia bisnis dan industri, cara pandang Porterian itu melelahkan dan destruktif. Membuat dunia bisnis itu “berdarah-darah”, yang diistilahkan mereka sebagai Red Ocean (Samudera Merah). 

Kim dan Renee menawarkan semacam model mental untuk memandang bahwa semesta itu mencukupi bahkan berkelimpahan. Karena itu, manusia tidak harus saling mengalahkan untuk mengaksesnya. 

Dengan strategi Blue Ocean ini, kompetisi (dalam bisnis) dibuat menjadi tidak relevan. Sebab, yang terjadi adalah penciptaan atau inovasi nilai (value innovation), yang kemudian memunculkan diferensiasi.

BALI7.jpgSunarko (berdiri) memberikan pengarahan kepada Cowasers di Hotel Courtyard Marriott, Bali.

Artinya, menciptakan suatu produk (baru) itu bukan dalam rangka mengalahkan pesaing atau karena sirik dan geregetan kepadanya; tapi didorong oleh niat murni untuk melakukan penciptaan nilai tambah, yang itu pada gilirannya akan melahirkan keunikan produk. 

Dari paradigma Blue Ocean itu, yang muncul kemudian justru semangat kolaborasi dan bekerjasama untuk menciptakan inovasi nilai yang tak terbatas.

*

Jadi bagaimana anda memandang kehidupan, itulah kata kuncinya. 
Apakah anda merasa sumber daya alam semesta ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua makhluk, sehingga kita harus bersaing, berebut bahkan berantem untuk mendapatkannya. Atau sebaliknya anda merasa sumbernya cukup untuk memenuhi kebutuhan semua makhluk.

Perbedaan dalam memandang kehidupan ini menentukan apakah kita memiliki “mentalitas miskin” atau mentalitas keberlimpahan/kaya (abundance).

Pada akhirnya, perbedaan asumsi dasar tentang kehidupan ini akan berdampak besar pada nasib anda. Apakah kita hidup jadi serba takut,  cemas. Mungkin sukses, tapi tidak benar-benar bahagia. Ataukah kita hidup bekelimpahan, bahagia dan sukses besar.

*

Nah, tentu saya tidak tahu kedalaman hati Mas Aqua Dwipayana, pakar komunikasi yang bisa jadi merupakan praktisi silaturahim nomor satu di Indonesia. 
Namun, tidak sedikit yang mengatakan bahwa dalam soal silaturahim dan membantu orang lain, apa yang dilakukan Mas Aqua selama ini memenuhi ciri-ciri orang dengan mentalitas kaya (abundance mentality).

Saya menyebut Mas Aqua seperti eks pemain Manchester United/MU asal Korsel (2005-2012), yaitu Park Ji Sung, yang sudah pensiun dari sepakbola dan kini menjadi club ambassador MU.
Park Ji Sung dulu dijuluki media sebagai “Si Tangki Oksigen” atau “berparu-paru tiga”. 

Ia mampu secara konsisten bergerak bahkan meskipun tanpa bola, yang menunjukkan betapa tinggi level daya tahannya. Park luar biasa disiplin dan bagus derajat kebugarannya.

Nah, dalam soal silaturahim dan membantu kawan, bisa dianalogikan  Mas Aqua mirip “Si Tangki Oksigen”. 
Sudah mengeluarkan banyak di satu kegiatan sosial, dan kita memperkirakannya dia akan jeda dulu beberapa bulan untuk mengumpulkan oksigen baru, eh ternyata gak sampai hitungan bulan, bahkan cuma dalam hitungan minggu, sudah ada lagi kegiatan sosial Mas Aqua yang baru.

suanarko.jpgSunarko, Pemred Tribun Bali.

Gak usah diomong kegiatan silaturahimnya, lebih dahsyat lagi. 

Di mata kawan-kawannya, dalam urusan silaturahim, apa yang dilakukan Mas Aqua sepertinya sudah bukan lagi “tabung oksigen”, bahkan sudah “tanker oksigen”. Seperti kagak tidak ada matinye.

“Saya selalu bersemangat, mas. Sebab, saya melandasi silaturahim dan kegiatan saya dengan niat baik dan keikhlasan. Jadinya ya terasa enteng dan tidak membuat capek,” kata Mas Aqua suatu kali.

Perkataan tersebut tampaknya bersumber dari pandangan hidup Mas Aqua bahwa harta manusia yang sesungguhnya adalah yang dia amalkan untuk kebaikan dan bermanfaat bagi orang lain atau berefek positif secara sosial --yang itu akan meninggalkan nama baik, dan pahalanya akan terus mengalir ke pelakunya meskipun dia telah meninggal dunia.

Bukan harta yang cuma disimpan dan timbun, sehingga sangat sedikit bahkan sama sekali tak memiliki manfaat sosial, padahal harta benda yang ditumpuk itu tidak akan dibawanya mati. Wallahu ‘alam bishawab.

Penulis: Sunarko, Pemimpin Redaksi Tribun Bali (Group Kompas Gramedia).

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda