Perjuangan Hidup Mantan Jawa Pos (2)

Jujur Belum Tentu Mujur

COWASJP.COM – Perjuangan hidup tak mengenal pensiun. Sampai embusan napas terakhir. Siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Begitu pula perjalanan hidup Arif Bambang Rahardjo yang lahir 9 Juni 1959 di Surabaya. Di perumahan Perhutani di Jalan Genteng Kali.  Ayahandanya dulu pegawai Perhutani.

Arif Rahardjo mengawali kariernya di Jawa Pos 35 tahun silam (1983). “Saya di Jawa Pos tidak menjabat apa-apa. Pekerja akuntansi itu aja, tahun 1983-1989. Gaji Rp 1 jutaan,” kisahnya.
Awal kerja di Jawa Pos yang menerima Arif Rahardjo adalah Bu Wenny (Ratna Dewi), Bu Lanny, dan Mas Basuki. Semuanya pejabat divisi keuangan Jawa Pos.

BACA JUGA: Duet Cowasers Bangun Percetakan​

Dari tahun 1983 hingga 1989 jalan sangat mulus. Bahkan pengangkatan karyawan yang biasanya dialami kebanyakan karyawan perlu waktu 1 tahun atau 2 tahun, bahkan ada yang sampai 3 tahun, tapi Arif langsung diangkat jadi karyawan setelah kontrak kerja awal 6 bulannya habis.

Namun, jalan hidup tak selalu mulus. Pada 1989 terjadilah konflik dengan Bu Wenny. “Sampai saya dikatakan maling oleh Bu Wenny. Akhirnya saya dibuang ke Balikpapan (Koran Manuntung ) 1989-1991. Pulang dari Balikpapan dipindah ke PT Percetakan Jawa Pos Karah Agung. Saya nggak menjabat apa-apa.  Yang saya kerjakan ya akuntansi,  ya marketing, ya pembelian,  ya pergudangan,  ya membuat proyeksi,  realisasi, deviasi tiap tahun, dan bertangggung jawab atas proyeksi yang saya buat. Kalau ada penyimpangan itu karena apa? Kalau tidak tercapai karena apa? Membuat neraca rugi/laba. Pokoknya semua saya kerjakan sendirian. OMS (one man show). Sampai berubah nama menjadi PT Temprina Media Grafika (TMG), seingat saya tahun 1995. Direkturnya Bu Lanny,” urainya.

arif-bambang3.jpgArif Bambang Rahardjo.

Sejak di kantor Jalan Karah Agung gaji Arif Rahardjo tidak pernah naik. “Mungkin karena dendam Bu Wenny kepada saya belum padam,” duganya.
Mengapa konflik dengan Bu Wenny terjadi?

Ini kisah Arif Bambang Rahardjo yang disajikan dalam bentuk bertutur:

Apa yang saya ceritakan ini hanya lakon masa lalu. Saya dan Bu Wenny sudah damai sejak beberapa tahun lalu. Itulah bagian dari romantika perjuangan hidup. Saya tetap menghormati beliau sebagai mantan atasan.

Inilah pemicu konfliknya. Pada tahun 1989 ada sahabat saya yang sudah menganggap saya seperti saudara, datang ke kantor Jawa Pos Jalan Kembang Jepun 167 lantai 2. Dia seperti kakak saya sendiri. Intinya dia minta tolong kepada saya untuk memberitahukan siapa pengambil diskon iklan (30 persen). Pemasang iklannya Kantor Pajak Provinsi Jatim di Jalan Indrapura, Surabaya.

riz-printing.jpg

Saya tidak tahu. Karena itu, saya lapor ke Mas Basuki, kalau ada kakak saya yang kerja di Kantor Pajak Indrapura minta tolong bukti diskon iklan yang 30 persen yang ambil atas nama siapa saja? Mas Basuki mengijini. Saya juga menghadap Bu Wenny, ke Meyfong, dan Bu Sulikah. Intinya semua mengijini saya untuk memberitahukan siapa yang mengambil uang diskon iklan 30 persen tersebut. 

Setelah saya dapatkan bukti iklan  langsung saya copy dan saya berikan ke kakak saya yang juga pegawai Kantor Pajak Indrapura. Kemudian bukti iklan tersebut dikirim ke kantor pusat di Jakarta (Ditjen Pajak). Alhasil, 3 orang pegawai Kantor Pajak Indrapura - yang mengambil diskon iklan itu - dibebastugaskan. Pasalnya, diskon iklan 30 persen tersebut seharusnya kembali ke negara.
Inilah awal mula terjadinya huru-hara. Ketiga orang tersebut marah ke Bu Wenny, karena dianggap tidak bisa menjaga rahasia. Bu Wenny pun langsung marah naik ke lantai 2, dan mengatakan saya maling. Padalah bukti iklan saya peroleh melalui ijin Bu Wenny.

arif-bambang.jpgArif Bambang Rahardjo (paling kiri) ketika silaturahim dengan para Cowasers di PKL nasi goreng Bu Mesran (janda karyawan Jawa Pos).

Saya dan kakak saya tidak menerima dituding sebagai maling. Maka, pihak Kantor Pajak Indrapura pun membuat laporan ke kepolisian. 

Pelajaran sangat berharga saya peroleh. Bahwa jujur belum tentu mujur. Jujur mengungkap siapa yang menerima diskon iklan dari Kantor Pajak, ternyata berakibat tidak mujur bagi saya.

Tapi, kalau memang konsekuensi dari kejujuran adalah ketidakmujuran, saya siap menghadapinya.  Apapun yang terjadi.

Waktu itu Kantor Pajak Indrapura pasang iklan lelang barang. Nah,30 persen diskon iklannya kan seharusnya kembali ke negara. Tapi dikantongi oleh ketiga oknum pegawai Kantor Pajak itu sendiri. 

arif-bambang1.jpgDari kiri: Mochamad Ridwan, Thomas Joko Susilo, Eko Dinar, Arif B. Rahardjo.

Andaikata sejak awal Bu Wenny mengatakan kepada saya, nggak usah ditunjukkan bukti iklannya kan nggak masalah. Aman dan tidak ada konflik. Pihak Kantor Pajak juga tidak bisa memaksa Jawa Pos, karena pihak Jawa Pos sebagai pihak yang memberikan diskon iklan.  

Setelah dibuang ke Balikpapan dua tahun, saya kembali ke kantor Karah Agung Surabaya pada 1991. Saya bertahan sampai 2004. Ketika usia saya masih 45 tahun. Sesuai aturan, karyawan Jawa Pos pensiun usia 50 tahun.

Setelah pensiun, ada yang diperpanjang dengan status kontrak per tahun. Bisa dua tahun, tiga tahun, dan ada yang diperpanjang kontraknya sampai lebih dari 8 tahun. Jika tenaga dan keahliannya memang dibutuhkan.

Inilah akhir karier di Jawa Pos. Pada tahun 2004, saya disuruh memilih oleh Bu Lanny Kusumawati, kembali ke anak istri dan tetap kerja di TMG (Temprina Media Grafika) atau meninggalkan anak istri dan keluar dari TMG (dipecat).  

Saya pilih keluar, mengundurkan diri, karena alasan sesuatu. Apa gerangan alasan tersebut? Tunggu kisahnya di seri ke-3. (*)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda