Perjuangan Hidup Mantan Jawa Pos (1)

Duet Cowasers Bangun Percetakan

COWASJP.COM – Duet Cowasers: Arif Bambang Rahardjo, 59 tahun, dan Suryanto, 52 tahun, punya usaha percetakan. Nama badan usahanya: Riz Printing.  Setiap hari ada saja order (garapan).

“Omzetnya sudah lumayan. Di atas Rp 100 juta per bulan. Kadang mencapai Rp 500 juta,” kata Arif Rahardjo.

Bisa mencetak buku, majalah, agenda, kalender, tabloid, brosur, poster, leaflet, undangan, tiket gelang, rekam medis, nota, kuistansi dan lain-lain. Tak jarang para karyawannya harus lembur sampai pagi, jika ada garapan banyak dan perlu cepat selesai.

Cowasers adalah para mantan karyawan Jawa Pos Group. Mereka bergabung dalam Perkumpulan CowasJP (Konco Lawas Jawa Pos). Jumlah anggotanya 188 orang. Dan, akan terus bertambah.

Meskipun sudah pensiun atau tidak bekerja lagi di Jawa Pos Group, sebagian besar masih berkarya. Contohnya duet Arif Rahardjo dan Suryanto. Arif Rahardjo adalah mantan akuntan percetakan Jawa Pos 1983-1989. Suryanto mantan karyawan PT Temprina (percetakan grup Jawa Pos) yang mengundurkan diri 2005.

arif2.jpgSuryanto, mantan karyawan Temprina Jawa Pos.

“Sejak dulu saya memang bersahabat dengan Mas Suryanto. Satu sama lain cocok dan saling percaya,” jelas Arif. Jadi, duet Cowasers ini memang sudah memiliki pengalaman yang cukup matang di bidang percetakan.

“Kualitas cetak kami terjaga, harga cetaknya bersaing. Insha Allah tergolong murah. Itulah pilihan kami untuk menembus pasar. Secara bertahap percetakan kami berkembang,” urainya.

Mereka membangun usaha percetakan tersebut pada 2007. “Awalnya kami cuma terima settingan dan lay out. Kalau ada yang lanjut  mencetakkan, kami cetakkan di percetakan lain. Dua tahun kemudian, barulah kami bisa membeli mesin cetak Oliver 52,” kisah Arif Rahardjo.

arif1.jpg

Tahun 2011 bisa membeli mesin cetak Oliver 58. Awalnya kami sulit mendapatkan pekerja cetak. “Mereka seperti kutu loncat. Suka pindah tempat kerja, semau mereka. Tak hanya pindah tapi juga membawa order dari customer kami.  Kami susah-susah mencari pelanggan, eh digondol kutu loncat,” kata lelaki  berkacamata minus itu seraya senyum.

Sejak itu, mereka mencari karyawan cetak dari luar kawasan Petemon. Lulusan SMK Grafika Malang. ”Mereka inilah yang loyal. Tahun ini kami bisa membeli mesin cetak Oliver72.”

Riz Printing bermula dari cetak ongkosan. Orang bawa kertas dan plat, kemudian dicetakkan di Riz Printing. Langkah berikut ekspansi ke pelanggan tetap. Lobby ke penerbit-penerbit. “Sejak itu kami mencetak buku dan majalah. Kemudian mencetak tabloid, majalah, buku, kalender, leaflet, brosur, nota, kuitansi, agenda dan lain-lain,” tutur ayah empat anak ini.

arif3.jpg

Sekarang Riz Printing mulai masuk ke berbagai rumah-sakit. “Mereka cetak rekam medis (RM). Ada 3 macam. RM umum, RM perinatal, RM maternal. Order pertama dari RS Jogja dan Banjarmasin,” kisahnya.

Riz Printing juga mencetak kemasan (packaging). Termasuk kemasan keramik untuk ekspor. Pesanan perusahaan Italia (lihat vlog). Kemasan sarung, celana dalam, busana Muslim, baju taqwa.

Kontrak Dua Rumah

Di mana lokasi percetakan mereka? Di perkampungan asli Arek-Arek Surabaya. Petemon IV. Pusat Kota Surabaya. Kawasan Jalan Pasar Kembang. Tak jauh dengan Jalan Diponegoro, Jalan Arjuno, dan Jalan Kedungdoro.

Mereka mengontrak dua rumah. Petemon IV nomor 166 dan 167. Berseberangan, tapi tidak berhadapan persis. ”Kedua rumah ini kami kontrak 10 tahun. Per tahun Rp 15 juta satu rumah. Jadi kontrak rumahnya saja Rp 300 juta,” kata Arif Rahardjo.

arif5.jpg

Yang nomor 166 satu lantai. Lebar sekitar 7 meter memanjang ke belakang. Yang nomor 167 lebih pendek tapi dua lantai.

Jalan masuk ke sana beraspal. Cukup lebar, mobil bisa masuk. Kawasan padat penduduk. Kampung produktif. Ada beberapa percetakan di situ, toko-toko kecil, warkop, usaha kos-kosan mobil dan lain-lain. Kos-kosan mobil di Petemon sudah ditulis oleh Cowaser: K. Sudirman.

Total investasi Riz Printing lebih dari Rp 1 miliar. Mesin cetak 4 unit. Oliver 72 dan 58, 52. Mesin potong. Mesin toko 820.

Jumlah karyawan: 5 orang tenaga cetak, 1 orang tenaga potong, 2 orang tenaga serabutan, 1 orang di bagian keuangan, ditambah 6 orang tenaga panggilan.  Meskipun berstatus panggilan, tiap minggu pasti ada saja order. Mereka dipanggil untuk melipat buku dan lain-lain. 

Gajinya rata-rata Rp 100 ribu per hari. Ada yang Rp 125 ribu per hari. Mereka loyal. Mayoritas ibu-ibu. Meskipun tua, kerjanya cekatan dan disiplin. 

“Alhamdulillah usaha cetak  kami berkembang. Jika karyawan lembur, saya juga ikut tidak tidur. Meskipun berada di rumah, tapi terus mengikuti kegiatan mereka lewat HP. Dengan begitu jika ada permasalahan segera teratasi,” kata Arif Rahardjo.

Bagaimana duet Cowasers: Arif Bambang Rahardjo dan Suryanto akhirnya memutuskan buka usaha percetakan? Ada liku-liku dan kisah suka duka yang menarik untuk diceritakan. Tunggu seri kedua tulisan ini. (Bersambung)

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda