Reuni IX CowasJP di Jogja (12)

Antara Reuni dan Baper

COWASJP.COM – Aneh sekali rasanya kalo seorang wartawan gak nulis, ketika di depannya berseliweran materi tulisan yang sangat menarik. Sebagai murid pak bos Dahlan Iskan, malu juga kalo hanya membaca tulisan teman-teman yang  terus bermunculan di CowasJP.com.

Karena banyaknya materi, saya jadi bingung mau nulis apa. Tulisan harus eksklusif, gak boleh mengulang apa yang udah pernah ditulis wartawan lain. Itu petuah guru jurnalistik saya.

Tapi gimana mau eksklusif, lha wong semua tulisan dibikin oleh wartawan yang satu perguruan. Karena nggak bisa ketemu materi eksklusif itulah, makanya saya nggak juga bikin tulisan Reuni IX 
sekaligus Ultah III CowasJP (Konco Lawas Jawa Pos) di Yogya itu.

Tapi, WA Mas Aqua Dwipayana pagi ini, setelah sholat Subuh, membuat saya spontan aja nulis. Spontanitas itu muncul, seperti ketika menjelang deadline, tapi belum dapat lead. Eksklusif apa 
nggak? Biarlah pembaca yang menentukan.

yusri.jpg

Reuni adalah ketemu teman lama dan mengulang cerita masa lalu, dengan gaya kekinian. Itu  menurut saya lho...Kekinian anggota CowasJP, tentunya yang usia di atas kepala lima atau enam. Atau bahkan usia 
kepala tujuh seperti mbak Murtilah. 

Meskipun sudah sepuh, canda dan tawa kami gak kalah dengan abegeh. Suasana itulah yang terus mengisi hari-hari kami selama reuni.

Reuni bisa juga berarti lain buat saya. Karena reuni dengan para mantan karyawan Jawa Pos, itu artinya nostalgia. Nostalgia itu, artinya baper (bawa perasaan, masa lalu) he he he.

yusri3.jpg

Tapi reuni kali ini sama sekali nggak bikin saya baper yang itu. Karena, suasananya yang benar-benar beda dari reuni sebelumnya.

Sehingga dua hari reuni, 11 dan 12 Agustus 2018. Tinggal di rumah penduduk. Makan dan minum sepuasnya. Dimanjakan dengan hadiah berlimpah. Mulai dari gantungan kunci sampai umroh.

Rasanya sesuatu banget. 

Kalo ditanya, apa komentar saya tentang hasil kerja tim panitia. Mas-Mas Erwan Widyarto, Adib Lazwar 

yusrie2.jpg

Irkhami dan Iwa Ikhwanudin yang rela mengerahkan anggota keluarganya? Juga Mas Aqua Dwipayana sebagai penyandang dana? “Nggak ada?”

Betul!

Nggak ada satu katapun yang bisa saya ucapkan untuk mereka. Untuk anda-anda yang dengan sukarela, membahagiakan kami selama dua hari. ( maaf, baper. Hapus air mata dulu...).

yusrie4.jpg

Bukan satu, dua orang yang anda beri kebahagiaan. Tapi lebih dari seratus orang. Mas Aqua, mas  Erwan dkk (maaf...baper lagi. Hapus air mata lagi..) Selama acara, saya selalu memperhatikan Anda semua. 

Saya yakin, tubuh Anda capek mempersiapkan acara ini. Acara yang begitu spektakuler menurut ukuran saya. Tapi, rasa capek itu sama sekali nggak nampak di wajah Anda.

Wajah yang selalu tersenyum (maaf, baper lagi). Yang berkali-kali minta maaf atas kekurangan pelayanan yang anda-anda berikan kepada kami. Masih pantaskah ada kalimat yang bisa terucap 
dari bibir saya? 

Speechless alias blangkemen. Ditambah, rasa malu.

Saya malu pada diri sendiri. Malu karena merasa sudah 'pernah' berbuat baik dan memberi kepada orang lain. Sekarang saya merasa, bahwa saya sudah riya’ pada diri sendiri.

Apa yang pernah saya lakukan, dulu. Rasanya hanya butiran debu di tengah padang pasir. Plas! Tak  berbekas.

Meski hanya sebutir debu, setidaknya saya ikut merasakan kebahagiaan yang terpancar dari wajah mas Aqua dkk. (maaf... kepo)

NRA.jpgPanitia Reuni Yogyakarta dan Aqua Dwapayana duduk bersama dengan perwakilan dari NRA

 Saya aja, pikir saya, yang hanya bisa memberi sebutir debu sudah merasa bahagia berlipat-lipat.  Apalagi mas Aqua yang sudah tak berbilang pemberiannya, biarlah Allah yang menyediakan 
kalkulatornya. 

Kalkulator yang ada di HP emang nggak saya gunakan untuk menghitung, berapa dana yang sudah  dikeluarkan mas Aqua untuk menjamu kami.

Biaya di Desa Wisata Pentingsari. Sewa mobil, makan dll dll dll. Mungkin cukup untuk persiapan  kuliah anak saya, yang alhamdulillah mau diajak ikut reuni tersebut. Kepo banget sih?

Maaf, bukan kepo. Tapi, sebagai wartawan lawas, harus detail nulisnya to.. he he he.

Sebetulnya, bukan soal detail yang mau saya tulis disini. Tapi, soal reward yang didapat mas Aqua  dan kawan-kawan. Reward yang membuat banyak orang ingin mendapatkannya.

Karena reward itu akan datang dari tempat, waktu dan sumber yang tak terduga. Seperti yang berkali-kali dikatakan mas Aqua. 

Jujur, dari sebutir debu saya itu. Rewardnya juga sangat tidak terduga. Padahal, saya nggak pernah  berpikir tentang reward itu ketika memberikannya. Bahkan saya sudah lupa, kalo pernah  melakukannya.

Apa rahasia mendapat reward?

Itu bagian mas Aqua Dwipayana menjelaskannya.

(*)

Pewarta : Sri Rahayu
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda