Berharap Geopark Gunungsewu Dikelola seperti Halong Bay

COWASJP.COM – Di sela-sela mengikuti Vietnam International Travel Mart (VITM) 2018 di Hanoi, Kepala Dinas Pariwisata DIY Aris Riyanta menyempatkan belajar pengelolaan geopark Halong Bay. Halong Bay, salah satu destinasi terkenal tingkat dunia, merupakan geopark yang sudah diakui UNESCO dan dikelola secara profesional. 

Usai melihat dan belajar pengelolaan geopark Halong Bay tersebut, Aris mengatakan bahwa di Indonesia, khususnya Geopark Gunungsewu yang berada di wilayah tiga provinsi ( Jatim, Jateng, DIY) belum dikelola secara profesional. 

"Geopark Gunungsewu juga sudah diakui oleh UNESCO, namun oleh Kementerian (pemerintah pusat)  tidak ditindaklanjuti secara serius sebagaimana Halong Bay," papar Aris serius.

Geopark Gunungsewu itu, menurut Aris, belum didukung triple A ( akses, amenities, attraction) yang memadai sehingga dibanjiri jutaan turis berbagai belahan dunia. "Mestinya pengembangan destinasi menjadi prioritas dan difokuskan dengan perencanaan strategis," ungkapnya.

Geopark Gunungsewu yang membentang dari Gunungkidul (DIY) hingga Wonogiri (Jateng) dan Pacitan (Jatim) punya potensi luar biasa namun masih terpendam. Masih didiamkan oleh pemerintah pusat. Belum dimaksimalkan untuk menarik wisatawan mancanegara. "Semoga ke depan segera mendapat perhatian," harapnya.

Sementara itu, mengenai pameran VITM, Aris mengatakan keikutsertaan DIY dimaksudkan untuk menggenjot jumlah wisatawan Vietnam dan sekitarnya.  Di VITM 2018 yang berlangsung 29 Maret sampai 1 April, Yogyakarta menyertakan lima pelaku industri parwisata yang bergerak dalam biro jasa perjalanan. 

Stan atau booth yang berada di bawah kordinasi Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini meraih penghargaan Top 10 Most Attractive Booth.

Mengenai turis dari Vietnam, Aris mengungkapkan pada tahun 2017 diperkirakan baru mencapai 3.000 orang yang mengunjungi Yogyakarta. Diharapkan tahun 2018 bisa mencapai sekitar 4.000 sampai 5.000.

Karena itulah, lewat VITM ini, pihaknya menawarkan paket-paket wisata yang memadukan kunjungan ke objek wisata Gunung Merapi dan pantai dengan wisata budaya. Menurut Aris, guna menggaet wisatawan Vietnam perlu kombinasi wisata yang unik seperti "Merapi Lava Tour", wisata pantai termasuk desa wisata. 

Kelima pelaku wisata yang ikut  promosi kali ini berusaha meyakinkan pengunjung VITM secara langsung maupun melalui jaringannya di Vietnam. Mereka menegaskan bahwa objek-objek wisata di Yogyakarta sangat menarik dan wajib dikunjungi karena punya ciri khas tersendiri.

Aris mengemukakan bahwa salah satu kendala pemerintah daerah dalam mengembangkan destinasi wisata aksesibilitas. "Aksesibilitas menjadi penting, karena bagi wisatawan jarak dan waktu yang lebih efisien menjadi faktor utama dalam melakukan sebuah perjalanan," katanya.

Aris berharap New Yogyakarta International Airport di Kulonprogo yang ditargetkan beroperasi tahun 2019, berdampak luas bagi pengembangan industri pariwisata Yogyakarta. "Dengan efisiensi waktu maka lama menginap wisatawan mancanegara bisa lebih lama sehingga lebih banyak destinasi wisata yang bisa di-explore," katanya.

Aris menargetkan tahun ini wisatawan mancanegara yang mengunjungi wilayahnya bisa sampai 430.000 orang. Ini meningkat dibanding tahun 2017 yang sekitar 397.000 orang, dan tahun 2016 sekitar 350.000 orang.

Saat ini jumlah turis mancanegara yang mengunjungi Yogyakarta kebanyakan berasal dari Belanda (12 persen) disusul Malaysia (10,5 persen), Jepang (10 persen), serta dari Amerika Serikat, Singapura, Italia, Jerman, Perancis, Korea dan China kurang dari 10 persen. (*)

Pewarta :
Editor : Erwan Widyarto
Sumber :

Komentar Anda