Wisata Religi ke Maroko dan Turki (1)

Nama Soekarno Diabadikan di Rabat

Penulis dan isteri di depan Monumen Wali Pitu (7). (Foto: CoWasJP)

COWASJP.COMCatatan serial wisata religi ini sudah dibukukan. Model buku saku agar enak dibawa. Tebal 150 halaman, termasuk cover. Pas untuk zaman milenial. Bisa dimasukkan saku baju atau saku celana. Seperti HP. Judulnya: PESONA ISLAM DI UJUNG AFRIKA DAN EROPA. Atas seizin penulisnya, Kiai H.M. Ramly Syahir, Lc, isi buku tersebut disajikan berseri di situs Cowasjp.com. Situsnya Sedulur-Sedulur Mantan Jawa Pos. Inilah seri perdananya:

**

Perjalanan wisata religi ini dilaksanakan awal sampai medio Februari 2016. Tapi tetap menarik untuk disajikan kembali sebagai panduan wisata religi ke Maroko dan Turki. Bagaimana “Pesona Islam di dua negeri yang disebut sebagai Ujung Afrika dan Ujung Eropa.”

Semua kenangan akan pesona Islam di kedua negara tersebut saya catat untuk berbagi pengalaman terutama bagi mereka yang hobi melancong.

Keberangkatan saya dan keluarga bersama dengan keluarga besar Bani Badri yang dipimpin oleh KH. Musthofa Qutbi Badri, MA, salah seorang Muqaddam Thariqah Tijaniyah dari Probolinggo bersama adik-adiknya dan ketiga putera-puteri beliau.

ramsay.jpgRombongan di depan Bandara Muhamad V Maroko.

Secara khusus saya ucapkan terima kasih kepada KH. Musthofa Badri MA yang telah menanggung biaya perjalanan dalam wisata religi ini.  Perjalanan dimulai dari Maroko, kemudian ke Turki.

Sekilas tentang Maroko

Berada di ujung barat daya Benua Afrika, Maroko tidak saja menawarkan eksotisme alamnya, namun juga keindahan pesona Islam yang diwujudkan dalam aktivitas budaya, peradaban, dan pelestarian situs-situs ke-Islam-an.

Keramahan penduduknya, akulturasi budayanya, dan kehidupan keagamaannya yang begitu kental menambah pesona yang sulit dilupakan. Pesona negeri yang berpenduduk 33,4 juta jiwa.

Selama 44 tahun berada dalam kekuasaan Prancis dan Spanyol, Maroko bangkit melawan kolonialisme para penjajahnya. Tepat 2 Maret 1956, Maroko memproklamasikan diri menjadi negara yang berdaulat.

Negeri dengan luas 446.550 kilometer persegi, seperempat dari luas wilayah NKRI, memiliki beberapa tujuan wisata yang mengagumkan. Baik yang berada di Casablanca, Marakis, Rabat, Tangier, dan Fes yang terkenal dengan kota budaya dan keilmuan Maroko.

Dipimpin oleh seorang raja dengan gelar Amirul Mukminin yang sekarang dipegang oleh Raja Muhamad VI, putera Raja Hasan II, membawa ekonomi Maroko menjadi negara terkuat ke-6 di Benua Afrika.

Di bawah kendali Raja Muhamad VI yang naik tahta tahun 1999, kehidupan keagamaan bahkan situs-situs Islam dirawat dengan baik. Raja tidak segan-segan untuk turun langsung memperhatikan obyek-obyek wisata, terutama yang berkaitan dengan pusara para wali di negerinya.

pusura2.jpg

Bahkan demi menjaga kehidupan keagamaan yang baik itu, Raja Muhamad VI menjalin hubungan yang harmonis dengan negara-negara Islam, terutama dengan dengan Indonesia.

Setiap tahunnya, Raja Muhamad VI mengundang tokoh-tokoh agama dari mancanegara yang dikemas dalam penyampaian orasi ilmiah. KH. Sa’id Aqil Siraj (Ketua PBNU) pernah didaulat menyampaikan orasi ilmiah di forum ini.

Dalam lintasan sejarah, Maroko dan Indonesia memiliki hubungan sangat dekat. Indonesia merupakan negara pertama yang mengakui kedaulatan negara Maroko. Itu ditandai dengan diberlakukannya BEBAS VISA bagi PEMEGANG PASPORT INDONESIA.

Dengan kebijakan bebas visa ini, praktis bangsa Indonesia tidak perlu repot-repot menunggu mendapatkan visa seperti saat melakukan ibadah Umroh yang perlu menunggu “muwafaqoh” (persetujuan) dari Kementerian Luar Negeri negara setempat, dan dalam rentang waktu yang cukup lama.

Bentuk lain kedekatan hubungan antara kedua negara ini adalah berupa penganggapan pihak Maroko kepada Indonesia sebagai “Ad-Duwal Asy-syaqiqah.” Kata “Asy-Syaqiqah” (sekandung) tersebut biasanya dipakai antara negara-negara Arab. Sedangkan untuk selain negara-negara Arab, Maroko biasanya menganggapnya sebagai “Ash-Shodiqah” (kawan).

Bahkan sebagai bentuk apresiasi jasa Bapak Revolusioner Indonesia, Kerajaan Maroko mengabadikan nama Soekarno sebagai salah satu nama jalan utama di ibukota Rabat – Maroko. Jalan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga negara Indonesia yang berada di Maroko.

Perjalanan ke Maroko

Peserta wisata religi ke Maroko dan Turki ini sebanyak 11 orang. Keluarga besar Bani Badri di bawah pimpinan KH Musthofa Badri, putera tertua dari KH. Badri Masduki, pendiri pesantren Badridduja Kraksaan Probolinggo, Jawa Timur.

KH. Musthofa Badri membawa ketiga putera-puterinya. Ada Gus Fatih, Gus Maisur dan Neng Zahro. KH Musthofa Badri juga mengajak adik-adiknya, ada KH. Jaiz Badri bersama isterinya Nyai Sa’yan Masykuro, KH Tauhidullah bersama isterinya Nyai Hj Zumrotun Najiyah, Nyai Hj Shofiyah Badri, KH Muzayyan Badri dan penulis sendiri.

Dari Bandara Soekarno – Hatta (Soetta) rombongan naik Turkish Airlines. Jakarta – Istambul (Turki) 9 jam. Transit 4 jam di Istambul, menunggu keberangkatan berikutnya ke Maroko. Lima jam terbang lagi menuju Casablanca, Maroko. Mendarat di Bandara Muhamad V dan langsung menuju keimigrasian negara Maroko untuk mendapat visa ziarah dengan fasilitas bebas visa (free visas).

ramsay3.jpg

Untuk mendapatkan visa tersebut tidak terlalu rumit, karena pihak pemerintah Maroko tidak menarik biaya sepeser pun bagi pemegang passport Indonesia.

Hanya saja antrean panjang dengan petugas imigrasi yang kurang profesional membuat para wisatawan dari mancanegara harus extra sabar. Petugas imigrasi dengan cueknya melayani pemohon visa diselingi dengan bercanda dengan kawan-kawannya, bahkan ada yang sambil memainkan gadget-nya.

Begitu urusan keimigrasian kelar, rombongan langsung disambut guide kawakan, Kusnadi namanya yang masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu universitas di Maroko.

Selama di Bandara Casablanca ini, sebaiknya pelancong sudah menukarkan uang Dolarnya di gerai-gerai money changer yang terdapat di Bandara. Hal itu untuk menghindari adanya kesulitan bertransaksi karena warga Maroko tidak mau menerima dengan mata uang selain Dirham. 

Rombongan kemudian menuju Marakis dengan jarak tempuh dari Casablanca 241 KM. Dengan armada transportasi yang lumayan nyaman dan jalur tol yang memadai, membuat perjalanan semakin nyaman.

Setelah 4 jam perjalanan, rombongan sampai di Kota Marakis. Ini kota terbesar kedua di Maroko, setelah Casablanca. Rombongan menyempatkan diri menikmati kuliner di Suqus Sihr yang menawarkan masakan khas Maroko.

aqua.jpgH.M. Ramly Syahir (baju putih) ketika menerima sedulur-sedulur Cowas JP di Ponpes Ulil Albab, Brumbungan Lor, Gending, Probolinggo.

Pasar yang berdekatan dengan Masjid Kutubiyah ini banyak dikunjungi oleh warga di malam hari karena berdekatan dengan pasar malam. Di sekitar Suqus Sihr ini juga terdapat wisata kereta kuda yang mengantarkan pengunjung mengelilingi Kota Marakis.

Ke Makam 7 Wali

Setelah puas menikmati kuliner dan pemandangan malam di Suqus Sihr, rombongan menginap di Hotel yang bertarif 40 Dirham (sekitar Rp 450 ribu). Sangat nyaman untuk dipilih karena posisinya sangat strategis.

Keesokan paginya, 3 Februari 2016, rombongan langsung berziarah ke makam Sab’atul Rijal (tujuh Wali) yang berada di kawasan Marakis. Untuk mengenang ketokohan 7 Wali tersebut, pemerintah Maroko membangun 7 monumen yang berada tak jauh dari hotel kami menginap. Sayang, monumen Sab’atu Rijal ini kurang didukung oleh lokasi parkir dan toilet yang memadai.

Siapa saja ketujuh Wali yang kita ziarahi. Tunggu seri kedua. (Bersambung)

Penulisa adalah: H.M. Ramly Syahir, Lc, Pengasuh Ponpes Ulil Albab, Brumbungan Lor, Gending, Probolinggo.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda