Seminar Alam Non Fisik (3-Habis)

Clifford Geertz Sulit Klasifikasikan Tuyul

Drs. MM Sukarto K.Atmodjo meneliti prasasti. (Foto: Indonesia Raya Wordpress)

COWASJP.COM – Mengangkat topik tuyul bagi koran yang beranjak besar seperti Jawa Pos tahun 1985, sesungguhnya bisa menjadi kontraproduktif, mengingat pasar Surabaya dan Jawa Timur, didominasi kultur NU yang kental. Namun, dengan selubung “seminar”, maka topik tuyul menjadi “sah” dipajang di halaman depan Jawa Pos.

Liputan itu memperkuat ciri khas JP yang sudah mulai lekat di masyarakat, dengan tulisan-tulisan features yang menarik. Adapun terhadap kemungkinan cibiran pembaca yang menstigma liputan tuyul sebagai liputan takhayul, tunggu dulu.... itu mudah ditepis, karena sumbernya adalah sebuah seminar.

Alhasil, mengangkat derajat tuyul, tiba-tiba menjadi trending topic, dalam bahasa kekinian. Ditambah, popularitas tuyul, diakuiatau tidak, mengalahkan berbagai jenis lelembut lain, seperti genderuwo, wewe, jerangkong, blorong, dan lain sebagainya.

BACA JUGA: Mulutnya Kecil dan Tak Punya Organ Seksual​

Tak pelak, Koentjaraningrat dalam bukunya “Kebudayaan Jawa”, ikut disitir pembicara. Menurut dia, tuyul dikategorikan sebagai roh-roh yang dianggap baik, yang menuntut balas budi atas pertolongan dan keuntungan yang diberikan kepada manusia. (Koentjaraningrat 1984: 339).

Apa yang bisa dicatat dari liputan “seminar tuyul” itu? Jujur, tidak ada yang terlalu penting. Kecuali bahwa sejak dulu hingga sekarang, pemahaman manusia terhadap tuyul, terpisah oleh satu garis pemisah. Kelompok yang percaya dan yang tidak.

BACA JUGA: Ke Semarang Demi Tuyul​

Agar tulisan ini seolah-olah menjadi penting, saya coba tambahkan beberapa catatan di luar konteks tulisan, tetapi masih relevan dengan pertuyulan. Clifford Geertz, dalam bukunya Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, terlihat kesulitan menempatkan tuyul dalam pengklasifikasian jagat makhluk halus yang dia garap.

Tuyul oleh Clifford Geertz dinilai sebagai makhluk halus yang cukup bersahabat. Lewat sumber informasinya, Geertz mencatat ada tiga orang di Mojokuto, Pare, Kediri, Jawa Timur, yang dianggap penduduk setempat memiliki tuyul. Para pemilik tuyul tersebut, tulis Geertz, setiap tahun harus mempersembahkan korban. Korban itu bisa dari keluarga atau teman terdekat, namun sudah menjadi perjanjian sebelumnya, kelak pemilik tuyul itu, kalau mati akan mengalami sekarat yang luar biasa sakitnya (Geertz, 1981: 26).

Clifford-Geertz.Great-Thoughts-Treasury.jpgClifford Geertz (Foto: Great Thoughts Treasury)

Bahan studi antropologi Barat ini pada sub-bab Kepercayaan Makhluk Halus, sempat menemukan jenis lelembut mirip tuyul yang disebut mentek. Katanya, mentek itu sepupu tuyul. Tugasnya bukan mencuri uang, melainkan mencuri padi. Karena itu mentek gemar bergentayangan di ladang-ladang atau persawahan di saat panen.

Ada lagi studi tentang makhluk gaib yang agak klasik dari H.H. van Hien, dalam bukunya De Javaansche Geestenvereld tahun1906. Sarjana ini betul-betul gandrung terhadap jagad alus tanah Jawa. Sayang sekali, penelitiannya dalam buku legendaris itu, van Hien tetap belum mampu menjawab pertanyaan klise, ada atau tidaknya tuyul. Namun paling tidak van Hien telah berhasil mengumpulkan tidak kurang dari 50 jenis makhluk halus khas Jawa.

Lain halnya kalau soal tuyul ditanyakan kepada Drs M.M. Sukarto K. Atmodjo. Arkeolog dan epigraf kenamaan ini pernah meneliti jagat makhluk halus Jawa. Menurutnya, sejak zaman prasejarah bangsa Indonesia sudah mengenal makhluk halus. Adapun nama-nama makhluk halus yang sekarang ini ada, hanyalah pengembangan dari zaman sebelumnya. Jumlah dan keragamannya pun semakin lama semakin bertambah, namun semua itu muncul akibat percampuran antara budaya Indonesia asli dan budaya pendatang. Berbagai data prasasti maupun filologi memperlihatkan hal itu.

Prsasti Pucangan dari zaman Raja Airlangga bertarikh 6 November 1041 M misalnya, menyebutkan makhluk halus bernama hanitu (makhluk jahat musuh manusia) yang sekarang berubah menjadi hantu. “Cukup banyak prasasti Jawa kuno menyebut nama-nama makhluk halus, tapi kata tuyul rasanya belum pernah kami temukan,” kata Sukarto.

Begitulah sekelumit kisah pertuyulan yang sempat happening di Jawa Pos tahun 1985.(*)

Penulis adalah Roso Daras, mantan wartawan Jawa Pos era Kembang Jepun, dan penulis buku Api Revolusi dari Kembang Jepun

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda