Seminar Alam Non Fisik (2)

Mulutnya Kecil dan Tak Punya Organ Seksual

Sejarawan Onghokham (kanan) dalam acara seminar Alam Non Fisik yang diselenggarakan Yayasan Parapsikologi Semesta di Balai Wartawan, Semarang, 24 Oktober 1985 (Foto: Historia)

COWASJP.COM – Di luar topik Bung Karno (saya dan Pak Permadi SH), pernah sekali saya singgung soal seminar tuyul di Semarang. Awalnya dia tertawa ngakak. Ah, itu pertanda positif. Artinya, Permadi masih ingat akan peristiwa itu. Lalu, kami pun mengilas balik seminar itu. Sesekali, Permadi merujuk sejumlah bahan domunentasi, termasuk majalah YPS (Yayasan Parapsikologi Semesta) dan beberapa publikasi media.

Hal menarik yang pertama disoal pembicara maupun peserta seminar ketika itu adalah, “apakah tuyul itu benar-benar ada?” Di sinilah kalangan rasional – termasuk Onghokham – dan kalangan paranormal bersilang pendapat. Ong berpendapat, “ada tidaknya alam nonfisik, belum dapat dibuktikan secara alamiah dan ilmiah.”

Onghokham bahkan menyatakan skeptis, karena memang tidak bisa dibuktikan secara otentik berdasar ilmu sejarah.

Seorang penanggap, pensiunan tentara berpangkat kolonel, namanya Notowiyadi, menyanggah Ong dan meyakini bahwa tuyul benar-benar ada. Menurutnya, makhluk kecil ini berasal dari anak manusia yang tak jadi, akibat abortus atau sebab lain. “Kecuali jika janin-janin tadi dirawat baik dengan ritual selamatan, dia tidak akan jadi tuyul,” ujarnya saat itu sebagaimana dikutip berbagai media massa.

BACA JUGA: Ke Semarang Demi Tuyul

Yang menarik adalah pendapat pendiri YPS Rauf Wiranatakusumah. Paranormal yang ketika itu dikenal banyak “dipakai” pemerintah Orde Baru, berpendapat bahwa tujul adalah makhluk gaib yang mengandung partikel Fe (besi). Karena itu, makanan tuyul berupa bekas buangan besi atau logam lain yang berkarat.

Tuyul tak kasat mata. Ia tercipta sebagai “bakteri penghancur”, untuk mengeroposkan besi di dunia agar unsur-unsur murni Fe dapat masuk ke dalam perut bumi dan bersatu dengan tanah. “Jadi”, kata Rauf, ”kalau ada tuyul yang mau mencuri uang, itu jenis tuyul yang mau diperalat manusia.”
Kalau Permadi, berpendapat lebih santai, “percaya atau tidak percaya adanya tuyul, itu sama dengan percaya atau tidak percaya adanya lelembut.” Akan tetapi, bagi kalangan paranormal, umumnya percaya, karena biasanya mereka bisa berinteraksi dengan makhluk astral.

Meski begitu, fenomena tuyul memang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Yang jelas, kebanyakan masyarakat Jawa percaya adanya tuyul. Uniknya, sosok tuyul yang digambarkan, boleh dibilang cukup mirip dengan gambaran tentang alien grey. Makhluk berkepala gundul, berbadan kecil (seperti anak kecil), warna keabu-abuan, kadang nampak tidak berpakaian, mampu melayang di udara dan bisa diajak “kerjasama” manusia.

Tentang alien grey ternyata juga banyak ulasannya. Dalam studi ufologi, alien grey merupakan ras neosaurian yang kecil, sangat subur dan cerdas. Greys dilaporkan bersifat sangat predator dan tidak peka terhadap manusia. Bahkan mereka dianggap memakan cairan manusia dengan menggosokkan ramuan protein pada tubuh mereka, yang kemudian terserap ke dalam kulit, dan seperti ular, hasil buangannya dikeluarkan kembali melalui kulit.

Greys rata-rata memiliki tinggi antara 3,5 sampai 4,5 kaki (sekitar sekitar 1 sampai 1,5 meter), dengan warna kulit antara putih keabuan sampai biru keabuan. Greys dianggap sangat licik dan acap menggunakan aneka bentuk muslihat dalam mencapai tujuannya.

Deskripsi ciri-ciri fisik tuyul berikut ini adalah berdasarkan hasil observasi berbagai pihak, pengalaman pribadi dan perkiraan. Di antaranya, telinga tak terlihat, hidung samar, mulut sangat kecil. Di sisi lain, matanya lebar dengan pupil yang juga lebar dan gelap. Tengkorak kepalanya besar, tidak proporsional dibanding badannya. Tinggi tuyul dewasa sekitar 90 cm, berkulit putih atau abu-abu. Terakhir, tidak terlihat adanya organ seksual.

Singkat kata, sebagian orang percaya, bisa dengan mudah mendeskripsikan tuyul sebagai “makhluk kecil gunduk kelabu.” Jika kemudian, topik tuyul menjadi layak diliput secara khusus, rasanya tidak berlebihan. Pertama, tuyul adalah jenis makhluk yang sangat akrab di telinga masyarakat Jawa. Kedua, tuyul dihormati sebagai materi seminar. (Bersambung)

Penulis adalah Roso Daras, mantan wartawan Jawa Pos era Kembang Jepun, dan penulis buku Api Revolusi dari Kembang Jepun

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda