Seminar Alam Non Fisik (1)

Ke Semarang Demi Tuyul

Roso Daras (Foto: CoWasJP)

COWASJP.COMIni berita lama yang dimuat Jawa Pos tahun 1985. Kemudian “direkonstruksi” oleh penulis aslinya Roso Daras sebagai salah satu judul tulisan di buku Api Revolusi Jawa Pos Kembang Jepun. Buku karya bareng belasan para mantan wartawan Jawa Pos era Markas Bersejarah di Jalan Kembang Jepun167 Surabaya. Namun masih menarik sebagai salah satu contoh berita yang digarap secara lebih mendalam (depth news). Tidak sekadar memenuhi unsur 5W + 1H. Mengapa tuyul yang berbau tahayul bisa dihamparkan dalam seminar? Inilah beritanya:

***

Kantor Jawa Pos Kembang Jepun, selalu meriah ketika kedatangan sejarawan Onghokham. Tidak ada catatan beberapa kali ia berkunjung, yang pasti selalu malam hari.

Orangnya mudah didekati dan diajak bicara. Pancing saja dengan satu topik, selanjutnya, siapkan saja telinga baik-baik.

Tibalah suatu malam, bulannya Oktober, tahunnya 1985. ”Roso! Kamu besok ke Semarang. Liput seminar,” suara Dahlan Iskan (Pemred Jawa Pos kala itu, red) memberi titah, seraya menunjuk Onghokham untuk detailnya. Ya, malam itu memang sedang ada Onghokham di kantor Kembang Jepun.

Rupanya, Ong baru saja ngobrol soal seminar “aneh”, lalu pak bos tergelitik dan menganggapnya menarik.

“Tema seminarnya Alam Non Fisik, tapi menurut yang saya dapat, seminar nanti akan membahas eksistensi tuyul,” ujar Ong menjelaskan, tanpa saya minta.

Malam itu saya dapat pelajaran nyata, bagaimana seorang Dahlan Iskan menangkap unsur “menarik” dalam rumus jurnalistik. Sebelumnya, rumus-rumus jurnalistik ala Jawa Pos, hanya digelontorkan di bengkel kerja.

Biasanya, Dis (Dahlan Iskan) membawa lembaran-lembaran ketikan berita wartawan, kemudian satu per satu diobrak-abrik supaya menjadi laik. Di situlah bicara unsur-unsur jurnalistik dan penerapannya.

Apa yang menarik dari topik “tuyul” sehingga Jawa Pos (pada 1985) merasa perlu meliput? Dari unsur “kedekatan jarak” (proximity), Semarang bukan Surabaya, dan bukan (belum) menjadi basis peredaran Jawa Pos. Kedekatan secara emosional? Rasanya juga tidak terlalu kuat. Lantas apa?

Setelah lelah menggugat “alasan” pak bos memberi penugasan meliput seminar tuyul jauh-jauh ke Semarang, berhentilah saya pada kesadaran, bahwa di atas semua rumus jurnalistik, sejatinya unsur “feel” bisa mengalahkan semuanya. Sebuah unsur yang “un-gugat-able” .... Pak bos menggunakan feel-nya terkait seminar tuyul itu.

Tanggal 23 Oktober 1985, berangkatlah saya ke Semarang, dengan sangu yang belum berlebih. Ketika itu belum ada standar penginapan, transportasi lokal, uang makan, dan lain-lain. Adatnya masih, “cukup gak cukup ya segitu.” Sampai di Semarang, yang saya tuju adalah sebuah hotel kelas melati.

Ong-Hok-Ham.wordpress.jpgOnghokham (Foto: Wordpress)

Acara baru berlangsung esok dan lusa, persisnya tanggal 24 dan 25 Oktober 1985, di Balai Wartawan, Semarang. Jangan menanyakan alamat. Yang saya ingat, jarak hotel ke Balai Wartawan kurang dari 20 menit naik becak.

Sungguh kalau bukan karena persoalan “tuyul”, maka seminar yang diselenggarakan Yayasan Parapsikologi Semesta (YPS) cabang Semarang itu, sebenarnya biasa-biasa saja. Backdrop warna gelap dengan tulisan “Seminar Alam Non Fisik” putih, serta penataan meja pembicara dan kursi peserta, sangatlah sederhana.

Kalaupun ada yang luar biasa, menurut saya adalah para pembicara, serta audiens yang loyal. Dari Yayasan Parapsikologi Semesta Pusat, tampil Rauf Wiranatakusumah dan Permadi, SH. Dari unsur sejarawan, ada Onghokham. Juga tampil Ketua YPS Semarang dan sejumlah narasumber lain yang sudah terhapus dari memori. Dua hari berlangsungnya seminar, peserta tidak susut, sejak dibuka hingga ditutup.

Di sela-sela jeda, peserta bahkan menyerbu pembicara untuk menuntaskan hal-hal yang dirasa belum tuntas. Bahkan ketika moderator menutup acara, baik di hari pertama hari kedua, audiens bergeming. Ada yang membentuk kelompok kecil melanjutkan diskusi. Ada yang mengerubungi narasumber untuk diskusi tambahan.

Dan saya? Eh, bukan saya ...... maksudnya, Jawa Pos. Ya, Jawa Pos menjadi satu-satunya media paling setia. Ketika teman-teman wartawan Semarang dan Yogyakarta atau para koresponden koran ibukota hadir dan “sekadar meliput”, maka Jawa Pos menggalinya hingga setuntas-tuntasnya. Ya mau apalagi, wong tugasnya memang itu! 

Apakah seminar tuyul benar-benar semenarik itu?

Sungguh bukan hal penting untuk menilai sebuah acara itu menarik atau tidak. Patokannya, kalau seorang Dis menganggap ini liputan penting, sudah pasti menarik. Titik. Karena itulah saya tidak lagi menggugat. Pokoknya, liput sebaik-baiknya dan laporkan.

Karena itu, saat menghadapi tugas meliput, apalagi penugasan khusus, seperti biasa, kumpulkan bahan sebanyak-banyaknya. Lakukan wawancara-wawancara khusus (eksklusif). Ini tradisi yang kemudian mendarah-daging. Bahwa ambisi para reporter Jawa Pos ketika itu, umumnya hanya satu, yaitu “mampu membungkam mulut redaktur atau KL (koordinator liputan).”

permadi.merdeka.jpgPermadi, SH (Foto: Merdeka)

Maknanya? Jangan beri celah sedikit pun kepada redaktur atau KL untuk mempertanyakan hasil reportase. Mulailah dengan menohok mereka melalui lead yang shocking. Selanjutnya, pukau mereka dengan hal-hal menarik dan baru.

Syahdan, selama dua hari liputan, selalu ditutup dengan memberi laporan by phone pada malam harinya. Dari Semarang, saya membacakan berita, sementara rekan wartawan yang kebetulan lagi nganggur, berkenan menerima dan mengetikkan di kantor Kembang Jepun. (Begitulah cara mengirim berita cepat tahun 1985 silam, red).

Anda ingin tahu seperti apa jalannya seminar yang membahas soal tuyul? Anda pasti bercanda kalau mengira memori saya masih menyimpan dengan baik, peristiwa yang terjadi 32 tahun lalu itu.

Beruntung di tahun 2013, sekian lama kemudian, saya cukup intens jumpa Permadi SH. Dia sudah menjadi punggawa Partai Gerindra, dan berkantor di markas Gerindra, bilangan Ragunan, Jakarta Selatan.

Serentetan pertemuan dengannya, sama sekali tidak ada urusannya dengan politik. Lebih pada kangen-kangenan dan kebutuhan untuk ngobrol ngalor-ngidul. Topik paling dominan adalah tentang Bung Karno. Karena, Permadi menyebut dirinya “Penyambung Lidah Bung Karno”, dan saya pengagum Bung Karno. Pada titik ini, kami klop. (Bersambung).

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda