Dilan dan Generasi Digital

Penulis (kiri) saat menghadiri HPN di Padang, Jumat (9/2). (Foto: CoWasJP)

COWASJP.COMAKHIR pekan lalu, sepulang dari menghadiri Puncak Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Padang, istri saya mengajak saya menonton film Dilan 1990. Nontonnya di Jakarta tentu saja, bukan di Padang.

Awalnya saya menolak, karena sudah pernah nonton. Tapi dia keukeuh minta ditemani, karena belum nonton dan penasaran. Saya menawar. Kalau di bioskop ada film Darkest Hour, kita nonton beda film. Tetapi, ndilalah koq gak ada film tentang Winston Churchill itu, ya sudah saya nonton lagi Dilan.

Jarang-jarang satu film yang sama saya tonton lebih dari satu kali kecuali yang berlatar Perang Dunia II seperti Dunkirk, Downfall, Nurenberg, dan lain-lain. Tapi, karena gak ada pilihan, Dilan saya tonton dua kali. Filmnya bagaimana, tentu tidak perlu diceritakan ya karena semua baik yang generasi baby boomers, Gen Y, maupun milenial, pasti terhipnotis juga dengan Dilan. Anyway, film ini sukses berat menyedot perhatian penonton lintas generasi, suka atau tidak dengan gaya Dilan.

Saya sendiri yang tahun 1990 duduk di kelas 2 SMA, cukup menikmati film ini. Meski kata istri saya, Dilan bukan ayah banget, setidaknya ada satu yang sama: banyak koleksi bukunya. Sepanjang jalan sepulang nonton, kami bertiga (bersama anak gadis), membahas film itu sambil tertawa. Siapa pemeran utama cowok dan ceweknya, siapa sutradaranya, kenapa banyak gambar background yang di-blur, sampai membahas teknis pengambilan gambar sebuah film tentang zaman old di zaman now.

Sampai di rumah, kami bertiga "bertekad" berbagai kekepoan itu harus terjawab. Menjelang tidur, kami bertiga membuka channel YouTube dengan kata kunci "Dilan 1990". Muncullah di situ semua informasi dan tayang tentang film tersebut. Mulai thriller, pemain, sampai behind the scene. Hingga saya terpana pada satu tayangan tentang Iqbaal Ramadhan (pemeran Dilan) dan Vanessa Prescilia (pemeran Milea) tampil guyon santai berdua.

Seperti lagi nge-vlog begitu. Mereka tidak membahas film Dilan, hanya guyon saja, pakai t-shirt biru Dilan 1990 sambil duduk di kursi.

"Sekarang kita lagi menerima tantangan memainkan dialog dalam film Ada Apa dengan Cinta," kata Iqbaal.

Mereka memainkannya lepas dan santai sambil sesekali ngakak saat keliru menirukan dialognya. Tahu gak berapa viewer tayangan itu? Lebih dari 1 juta. Bahkan ada yang mencapai viewer 3,3 juta.

Saya yakin, sukses  film Dilan 1990 mendapatkan penonton tak lepas dari video teaser (VT) di platform YouTube dan sosial media lainnya. Jadi benar yang disampaikan oleh beberapa tokoh pers dalam HPN di Padang pekan lalu. Media konvensional (media cetak, elektronik, bahkan online media) menghadap tantangan yang maha dahsyat. 

Bukan saja tantangan teknologi digital yang berkembang terlalu cepat dan pesat, juga tantangan kreativitas generasi milenial yang melampaui batas. Menyadari itu semua, betapa saya bergumam,

"Betapa old-nya gaya dan pemikiran saya, sementara di luar sana ruang kreativitas menjadi semakin tidak terbatas." Benar kata Dilan, rindu itu berat, tapi Dilan tidak tahu melawan fitnah dan hoax di era digital itu jauh lebih berat. Wassalamualaikum. (*)

Pewarta :
Editor : Tofan Mahdi
Sumber :

Komentar Anda