Catatan HPN

Menjaga Marwah Pilar Keempat

Foto: Istimewa

COWASJP.COMBILL KOVACH DAN TOM ROSENSTIEL, dua orang ilmuwan media, menulis buku berjudul Blur yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Pantau. Dalam buku tersebut keduanya merinci tentang delapan tugas wartawan, authenticator, sense maker, investigator, witness bearer, empowerer, smart aggregator, forum organizer dan terakhir role model. 

Ketika insan pers Indonesia memeringati Hari Pers Nasional tahun ini, tak ada salahnya peran itu ditampilkan agar para wartawan mengerti dan berusaha menaatinya. Tak kalah penting adalah, masyarakat juga tahu tentang tugas wartawan, karena tugas itu tidak bisa dipisahkan dengan masyarakat. Delapan tugas tersebut semuanya menunjukkan bagaimana wartawan berinteraksi dengan masyarakat, baik sebagai sumber berita maupun sebagai mitra.

Tampaknya tugas tersebut berat, karena wartawan harus mampu memerankan peran profesional sebagai penyampai berita dan peran sebagai panutan masyarakat. Dalam pergaulan sehari-hari – tidak dalam konteks berita – pembicaraan wartawan lebih dipercaya mengenai sebuah isu. Tak jarang masyarakat harus bertanya langsung kepada wartawan mengenai sebuah masalah.

Itulah sebabnya Kovach dan Rosensteil menempatkan peran authenticator pada nomor pertama. Wartawan harus menjaga kepercayaan bahwa berita yang disampaikan adalah asli, masuk akan dan bukan hasil rekayasa. Ini bukan tugas mudah, karena dalam kondisi tertentu harus menjadi investigator untuk mengawasi kekuasaan dan membongkar kejahatan.

Jeli memantau dan meneliti setiap kejadian yang terjadi di masyarakat. Tak terelakkan, suatu saat seorang wartawan membaur dengan sebuah komunitas untuk melihat kejadian yang sesungguhnya. Karena dianggap sebagai pihak yang banyak tahu, maka wartawan kerap dilibatkan sebagai empower untuk menguatkan masyarakat menghadapi masalah tertentu. 

Setelah melalui proses panjang berinteraksi dengan masyarakat, yang tak kalah penting adalah, wartawan mampu menghasilkan pemberitaan yang mencerahkan. Pemberitaan yang mampu menggugah kesadaran masyarakat.Kalau sudah begitu, wartawan akan menjadi jujugan masyarakat dalam menghadapi masalah sekaligus menanyakan solusinya.

Wartawan menjadi organizer terhadap masalah yang dihadapi masyarakat. Tugas-tugas tersebut tampaknya sangat ideal, maka tak heran bila wartawan jadi role model, tokoh panutan bagi masyarakat. 

Tugas ideal ini perlu dimunculkan lagi ketika para wartawan Indonesia (anggota PWI) memeringati Hari Pers Nasional agar tidak sampai melenceng dari relnya. Bukan hanya profesi wartawan, profesi lain pun mengalami pergeseran orientasi tujuan awal.

Maka perlu ada momen khusus untuk mengembalikan pada tujuan semula yang mulia, sebagai penampung aspirasi masyarakat. Bahkan secara gagah banyak yang menyebut wartawan itu sebagai pilar keempat dari demokrasi, setelah eksekutif, legislatif dan judikatif.

Ketika tiga pilar utama itu mulai kesulitan menjalankan tugasnya, maka pilar keempat harus tampil membela masyarakat. Tiga pilar demokrasi itu saat ini hanya sibuk mengurusi diri sendiri sehingga tidak sempat memikirkan tugas utamanya menyejahterakan masyarakat. Dalam tahapan tertentu, saluran komunikasi dengan masyarakat bahkan sudah buntu. Masyarakat tidak tahu, ke mana harus mengadu.

Eksekutif dan legislatif kini sibuk membuat pertahanan agar kecurangan dan korupsinya tidak sampai terkena operasi tangkap tangan KPK. Keduanya berkolusi memainkan anggaran yang berasal dari uang rakyat. Para penggarong uang rakyat itu sebagian sudah masuk penjara, sebagian besar masih terus menjalankan aksinya tanpa gangguan.

Tapi di balik semuanya, masih banyak yang ingin korupsi tapi masih belum punya kesempatan. Jangan tanyakan apakah judikatif mampu mengatasi itu. Ketiganya menjadi bagian dalam persekongkolan memakan uang rakyat.

Uang miliaran rupiah yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun Puskesmas, hanya masuk kantong satu orang. Lebih ironis lagi, masyarakat yang seharusnya mendapat pelayanan kesehatan gratis malah ditarik pungutan. Masya Allah, ternyata hasil pungutan itu dikumpulkan untuk membiayai Kepala Daerah ikut Pilkada. Jangan tanyakan nurani pada para pihak yang mengaku sebagai pelaku demokrasi itu.

Saat ketiga pilar itu hampir ambruk, maka wartawan sebagai pilar keempat punya tugas berat untuk menyangganya. Kalau delapan tugas itu dijalankan dengan sungguh-sungguh, setidaknya wartawan akan menyelamatkan demokrasi di negeri ini.

Kalau tidak, justru wartawan menjadi pihak yang mempercepat keruntuhan tersebut. Dalam beberapa kasus, ketiga pilar itu bekerja sama dengan wartawan dalam menjalankan aksi busuknya. Tapi kita masih percaya bahwa masih banyak wartawan berintegritas menjaga marwah profesinya dengan segala keterbatasan.

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda