Majalah Jaya Baya dari Media

Perjuangan hingga Keluarga

Dari kiri: Arkan (distribusi), bu Trisno dan Bu Mulik cek majalah yg akan dikirim

COWASJP.COMPERINGATAN Hari Pers Nasional (HPN) 2018 kali ini luar biasa. Acara yang diselanggarakan di Padang, Sumatera Barat banyak menamampilkan berbagai acara menarik. Dan, pada pucak acara 9 Februari 2018 rencananya akan dihadiri Presiden RI Jako Widodo (Jokowi). Pada puncak acara HPN, presiden akan menyerahkan beberapa penghargaan, diantaranya 8 tanda penghargaan kepada penerbit majalah/surat kabar dan tokoh penulisan/puisi.

Diperoleh keterangan dari panitia HPN 2018 bahwa tim kecil kepeloporan  telah memilih media dan seorang yang diakui kepeloporan di bidangnya. “Penghargaan itu akan diberikan pada puncak acara HPN ” kata Margiono, selaku penanggungjawab HPN  2018 di Jakarta.

Sementara itu, Widodo Asmowiyoto, salah satu anggota tim kecil kepeloporan yang dihubungi menjelaskan, pada acara puncak HPN 2018 ada delapan penghargaan kepeloporan dibidangnya. Dari depan penghargaan kepeloporan dibidangnya di Jatim ada dua media yaitu Mingguan Berbahasa Jawa Jaya  Baya dan Panyebar Semangat. Sedangkan delapan penghargaan akan diberikan kepada :1. Surat Kabar Republika, media yang mempelopori berita on line di surat kabar, 2 Majalah Jurnal Perempuan, kategori media yang aktif memperjuangkan hak perempuan, 3.

Remy Silado atau Yapi Panda Abdiel Tambayong, kategori tokoh penulisan dan puisi di media, 4. Majalah Suara Muhammadiyah, kategori media  dakwah perjuangan bangsa, 5. Majalah Risalah Nahdatul Ulama, kategori media dakwah perjuangan bangsa, 6. Majalah Jaya Baya, kategori pelestarian budaya dan sastra Jawa, 7. Majalah Panyebar Semangat, kategori pelestarian budaya dan satra Jawa, 8. Majalah Mangle, kategori media pelestari budaya Sastra Sunda. 

Majalah Minguan Jaya Baya, yang termasuk kategori media pelestari budaya dan sastra Jawa, merupakan salah satu majalah minguan yang tertua di Jawa Timur. Berikut ini sejarah Majalah Jaya Baya yang ditulis para SENIOR di majalah ini, sejak berdirinya 1 Desember 1945 hingga sekarang : 


NGURI-URI
Di dalam Bahasa Jawa ada istilah nguri-uri, yang secara harafiah bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, melestarikan. Tetapi terjemahan melestarikan kurang tepat betul, karena ngleluri bukan hanya melestarikan yang berarti menjaga jangan sampai punah. Akan tetapi juga melakukan upaya untuk mengembangkan, membudayakan, serta memasyarakatkan.

Itulah kira-kira yang dilakukan Majalah Jaya Baya. Nguri-uri Bahasa Jawa, di tengah gempuran modernisasi yang acapkali mencerabut akar budaya kita, bahkan membuat jati diri menjadi bukan diri kita sendiri. Tetapi nguri-uri Bahasa Jawa bukan berarti anti kepada bahasa Indonesia yang menjadi bahasa nasional kita, karena yang dilakukan hanya menjaga apa yang sebenarnya “milik kita” tidak hilang tergerus zaman.

Kelahiran Majalah Jaya Baya juga berada di tengah masa di mana bangsa kita sedang ingin menunjukkan jati dirinya sebagai bangsa yang berdaulat. Beberapa bulan berselang setelah memproklamirkan kemerdekaannya, tidak serta merta bangsa ini mendapat pengakuan dari bangsa lain. Bahkan Belanda dengan membonceng Sekutu kembali ke Indonesia untuk menguasainya. Untuk pertama kalinya Majalah Jaya Baya terbit (dengan ejaan Djojo Bojo) pada tanggal 1 Desember 1945 di Kediri, Jawa Timur. Saat itu, Jawa Timur sedang dalam situasi tegang setelah Surabaya baru saja digempur habis-habisan oleh pasukan Sekutu pada tanggal 10 November 1945.

Para pejuang dan kaum Republiken menyingkir ke luar kota, ke Mojokerto, Jombang, Kediri, atau kota-kota lainnya, karena di Surabaya dianggap tidak aman lagi. Namun perjuangan tetap berlanjut dari tempat-tempat pengungsian itu. Saat itu para tokoh kita mempunyai pemikiran, dunia internasional harus mengetahui kondisi sebenarnya di Indonesia. Masyarakat pun harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di negaranya.

Tetapi bagaimana? Informasi dan semua akses dikuasai oleh penjajah. Kita nyaris tidak mempunyai apa-apa kecuali semangat dan tekad untuk merdeka. Berawal dari gagasan akan perlunya media massa sebagai penyampai informasi kepada masyarakat tentang apa yang sedang terjadi, Tadjib Ermadi, seorang guru Taman Siswa, bersama Wasis, salah satu pimpinan Pemuda Republik Indonesia (Perindo) di Kediri bersepakat menerbitkan sebuah majalah.

Mula-mula, ditentukan siapa orang-orang yang akan dipercaya menangani penerbitan majalah ini. Maka, terpilihlah Djasmadi (bekas anggota Shu Sangikai Muspida Karesidenan Kediri) dan Tadjib Ermadi sendiri sebagai direktur, Maridie Danoekoesoemo (KNI Kotapraja Kediri) sebagai pegawai tata usaha. Redaksi ditangani oleh Tadjib Ermadi, Soewandi Tjitrawasita, dan belakangan dibantu juga oleh Ahmad Soedibyono. Dipilihnya Djasmadi sebagai direktur karena dia pernah menerbitkan Majalah Astuti pada tahun 1935.

Karena penerbitan Majalah Jaya Baya ini hanya didasari oleh tekad saja, tidak disertai dengan modal yang cukup, sudah barang tentu semuanya serba darurat. Namun, ada saja pihak-pihak yang bersimpati dan mau membantu. Misalnya, Bapak Samadikun, Asisten Residen Kediri memberi bantuan kertas. Kertas-kertas itu berada di gudang belakang percetakan Sedia. Sedang bahan-bahan lainnya harus dicari sendiri ke Surabaya.

Kebetulan, Perindo mengutus Tadjib Ermadi  bersama-sama sejumlah Tentara Pelajar (TRIP) Gatot Iskandar, Prihanta (Pantok), Soekmadi, Oemar Said, dan sejumlah ulama untuk menghubungi Pemuda Repubik Indonesia (PRI) Surabaya. Tujuannya untuk mengetahui situasi terakhir di Surabaya setelah bumi hangus Sekutu.

Rombongan ini ke Surabaya naik mobil sedan pinjaman dari Wedana Papar. Di bagian depannya berkibar bendera Merah Putih. Menginjak siang hari rombongan memasuki Surabaya dari arah Wonokromo. Situasi Surabaya masih mencekam, di sana-sini kelihatan tentara Gurkha memperbaiki listrik dengan kawalan panser. Di beberapa sudut kota pemandangan hampir sama terlihat, tentara Gurkha berseliweran di sana-sini.

Mereka memang mengasai kota pada siang hari, tetapi pada malam hari situasi berubah sebaliknya. Para pemuda dan pejuang kita lah yang tetap menguasai kota, kecuali di gedung Internatio yang menjadi markas Inggris. Bahkan pejuang dan pemuda kita berhasil mendesak pasukan Sekutu yang semula berkuasa hingga viaduct Jalan Pahlawan kembali ke Jembatan Merah lagi.

Dengan mobil sedan berbendera Merah Putih itu, rombongan dari Kediri menempuh perjalanan lancar hingga tiba di markas PRI di Balai Pemuda. Dari sinilah diketahui situasi terkini Surabaya, yang nantinya disampaikan kepada pimpinan Perindo di Kediri. Setelah urusan di markas PRI selesai, Tadjib Ermadi dan kawan-kawan mencari bahan untuk penerbitannya. Mereka menuju percetakan Harian Suara Asia, dan ditemui RM Abdoel Wahab Djojowirono, pemimpin redaksi yang tetap berada di posnya. Ia mengizinkan Tadjib mengambil apa saja yang dibutuhkan. Antara lain, klise-klise dan leter-leter kop yang sudah tidak terpakai lagi.

Dengan berbekal bahan-bahan yang diperoleh dari Surabaya itu, maka Tadjib bisa mempersiapkan penerbitan perdana. Nama “Jaya Baya” dipilih oleh Djasmadi berasal dari nama Raja Kediri yang paling terkenal. Bukan karena dia berhasil membawa Kerajaan Kediri mengalami zaman keemasannya, tetapi juga karena ramalan-ramalannya yang hingga sekarang masih dipercaya banyak orang. Ramalan Raja Jaya Baya tentang perjalanan bangsa ini hampir semuanya benar.

Jaya Baya pernah meramalkan kedatangan Jepang dengan menyebut,”Wong cebol kepalang akulit kuning” (ditafsirkan sebagai Bangsa Jepang) akan mengusir wewe putih (orang kulit putih atau Belanda). Disebut pula umur wong cebol itu hanya saumur jagung. Usia tanaman jagung hingga dipanen 3,5 bulan, sedangkan Bangsa Jepang menjajah kita 3,5 tahun. Kemudian,”Ratu Adil wis jumeneng lan Nuswantara bali marang kang ndarbeni.” Artinya, kita kembali berdaulat.

TERBIT PERDANA
Majalah Jaya Baya terbit dalam Bahasa Jawa sebagai majalah pertama yang terbit di pedalaman. Tujuannya memang memberi penerangan, menanamkan semangat membela kemerdekaan, dan semangat cinta tanah air kepada rakyat di daerah. Itulah mengapa alasan Jaya Baya diterbitkan dalam Bahasa Jawa, karena rakyat di daerah hanya bisa Berbahasa Jawa. Mereka belum tahu situasi negara sebenarnya, dan mereka juga kesulitan memahami berita yang umumnya disajikan dalam Bahasa Indonesia atau Melayu.

Sambutan masyarakat sungguh membesarkan hati. Edisi perdana dicetak 3.000 eksemplar, dengan harga eceran f 3,10 seluruhnya habis terjual. Tebalnya 20 halaman, ukuran 24 x 18 cm, berisi artikel, cerita pendek, propaganda, tembang, berita-berita aktual, kartun, lelucon, pengumuman, dan juga iklan. Edisi selanjutnya selalu bertambah tirasnya, hingga pada bulan keenam mencapai 16.000 eksemplar. Sungguh pencapaian yang luar biasa untuk ukuran waktu itu.

Melejitnya tiras juga diikuti munculnya masalah baru. Permintaan yang terus meningkat terpaksa ditolak, karena keterbatasan kemampuan cetak. Selain itu, bahan pokok kertas menjadi langka dan sulit dicari. Timbul ide menggunakan kertas merang. Ide ini muncul dari S Muhadi yang untuk sementara waktu menggantikan Maridie Danoekoesoemo yang sibuk dengan urusan pemerintahan dan partai politik. Saat itu, Djasmadi juga mulai kurang aktif hingga akhir hayatnya di rumahnya di Desa Bandung, Prambon. Adiknya, Kasena membantu redaksi membuat klise dengan mencungkil lempengan timah yang sudah dihalusratakan.

Di awal-awal masa kemerdekaan, negara ini tidak pernah terlepas dari gangguan keamanan. Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia membuat situasi saat itu tidak menentu. Suasana politik melahirkan perundingan dan gencatan senjata silih berganti dan tidak pernah membuahkan hasil akhir yang menggembirakan.

Pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda melancarkan agresi militernya yang pertama. Daerah republik di Pulau Jawa semakin menyempit. Malang diduduki Belanda sampai Gondanglegi. Mojokerto pun diserbu. Kediri jadi lebih ramai, karena mereka yang setia kepada republik mengungsi ke sini. Percetakan Sedia yang menjadi langganan Jaya Baya semakin penuh order. Sebab, selain mencetak Jaya Baya, juga mencetak Harian Suara Rakyat, dan selebaran-selebaran propaganda.

Wilayah edar Jaya Baya pun menyempit, dan bahan baku untuk percetakan makin sulit dicari, sehingga terpaksa harus menggunakan apa yang ada. Dengan serba keterbatasan itu, para awak Jaya Baya tetap semangat agar majalah tetap terbit. Dengan kekuatan sendiri, Jaya Baya yang menempati kantornya di Jalan Ngadisimo 19, Kediri masih mendapat dukungan kesetiaan para pengecer dan agen, serta kecintaan pembacanya, sehingga Jaya Baya bisa tetap terbit teratur, meskipun tirasnya melorot hingga 5.000 eksemplar.

Cobaan selanjutnya datang dengan meletusnya pemberontakan PKI Madiun yang dikobarkan oleh Muso dan Amir Syarifudin. Setelah peristiwa Madiun, keadaan pers pada umumnya semakin payah. Hubungan tidak menentu, Jaya Baya semakin merosot tirasnya hingga tinggal 3.000 eksemplar.

Namun masih mampu bertahan hingga datangnya agresi militer Belanda kedua tanggal 19 Desember 1948. Seluruh kota besar di Jawa diduduki Belanda, tidak terkecuali Kediri. Jaya Baya tinggal kantornya, yang sesekali disinggahi pemuda TRIP yang sedang menyusup ke kota. Tadjib Ermadi, Soewandi Tjitrawasito, Kresno, Abdoel Hamid MS, dan Ferry Latumeten diberi tugas tetap di kota. Bahkan diangkat sebagai pemerintahan banyangan oleh Residen Suwondo, yang bersama seluruh stafnya menyingkir ke luar kota unrtuk bergerilya.

Pada saat valum tersebut Jaya Baya melanjutkan usahanya dengan menerbitkan Suara Republiken yang diketik rangkap lima, lalu disebarluaskan. Masing-masing diketik rangkap lima lagi dan disebarkan. Begitu seterusnya disebarkan secara beranting sampai ke luar kota. Melalui media itu pulalah PBB mengetahui, bahwa pemerintah Indonesia yang sah masih ada dan berdiri, dan Belanda hanya menduduki kota-kota besar saja. Kemudian hal ini memengaruhi keputusan Dewan Keamanan PBB sehingga mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Berita ini dimonitor dari sialan radio luar negeri oleh Abdoel Hamid MS, dan kemudian disebarluaskan. Tentu saja berita ini banyak membantu dan memberi semangat para pejuang kita.

JAWA ATAU INDONESIA
Jaya Baya kembali terbit pada bulan Mei 1949 dengan berbahasa Jawa dan Indonesia. Pembuatan pracetak dilakukan sendiri, baru kemudian dicetakkan di luar. Gubernur Militer Jawa Timur, Kolonel Sungkono menaruh perhatian besar terhadap penerbitan Jaya Baya, sehingga memberi bantuan 35.000 ORI (Oewang Repoeblik Indonesia). Kemudian atas kebijaksanaan Menteri Penerangan Wiwoho, para awak Jaya Baya dapat masuk ke Surabaya bersamaan dengan masuknya TNI.

Dengan modal pinjaman negara Rp 20.000 (ORI), pada tahun 1950 JB pindah kantor ke Surabaya. Cetak diserahkan ke Percetakan Fuhrie di Jalan Tanjunganom. Kantor Jaya Baya sendiri menempati sebuah bangunan pavilyun di Jalan Pasar Besar Wetan, kemudian pindah ke Jalan Penghela 2. Sejak diterbitkan kembali di Surabaya ini, Jaya Baya meninggalkan Bahasa Jawa, dan hanya menggunakan Bahasa Indonesia.

Dasar pemikirannya adalah, setelah Indonesia merdeka dan keadaan tenang kembali diharapkan jangkauan peredaran Jaya Baya menjadi semakin luas dan tirasnya meningkat. Pada masa ini, redaksi dibantu sepenuhnya oleh Drs Soenarjo, Pemimpin Redaksi Harian Umum Surabaya. Perhitungan ini ternyata meleset. Dengan menggunakan Bahasa Indonesia, saingan semakin banyak, sehingga tirasnya justru merosot hingga tinggal 600 eksemplar saja. Untunglah Jaya Baya dilanggani Departemen Penerangan. Pada waktu Pers Nasional NV berdiri tahun 1953, Jaya Baya pindah cetak dengan bentuk yang lebih sederhana.

Setelah bantuan dari Deppen dicabut, Jaya Baya harus berdiri di atas kakinya sendiri, sehingga mengubah haluan “kembali ke khittah” dengan terbit Berbahasa Jawa. Atas bantuan R Abdul Sukiman dengan uang Rp 10.000, Jaya Baya terbit kembali berbahasa Jawa setebal 20 halaman pada tanggal 1 September 1954. Saat itu, Majalah Panjebar Semangat yang juga berhasa Jawa sudah lama terbit kembali, dan punya penggemar lumayan, serta mendapat fasilitas penuh dari Percetakan Pers Nasional, karena ikut memiliki sahamnya, bersama Harian Umum dan Suara Rakyat.

Perlahan namun pasti, Jaya Baya mulai mendapatkan kepercayaan dari pembacanya, sehingga tirasnya merangkak naik menjadi 3.000 eksemplar. Kemudian meningkat lagi menjadi 5.000 eksemplar dan pada tahun 1960-an tirasnya mencapai 15.000 eksemplar. Tetapi, sayangnya, kekacauan situasi ekonomi dan politik pada masa itu membuat harga kertas melonjak tajam. Harga langganan terpaksa dinaikkan, dan jumlah halaman disusutkan menjadi 16 halaman saja. Ini berdampak pada jumlah langganan merosot drastis hingga tinggal 5.000.

Meletusnya peristiwa G30S/PKI membuat kehidupan pers semakin terimpit. Jaya Baya terpaksa dicetak di dua percetakan, yakni Percetakan Mliwis di Jalan Cederawasih dan Pers Nasional. Ketika Harian Umum dan Suara Rakyat tidak dapat bertahan lagi, Pers Nasional terpaksa dijual. Jaya Baya harus dicetak sendiri. Setting lay out harus dilakukan dengan tangan, kemudian dicetakkan di Percetakan Mliwis. Meskipun demikian, Jaya Baya tetap bisa menyapa para pembacanya rutin setiap minggu.

CETAK SENDIRI
Walaupun senantiasa mengalami pasang surut, Jaya baya mampu bertahan melewati masa-masa suram itu. Bahkan sedikit demi sedikit bisa meningkat. Pada tahun 1966 Jaya Baya terbit dengan 32 halaman. Kondisi yang baik membuat Jaya Baya bisa mengembangkan diri menjadi lebih baik pula. Pada tahun 1975 dapat membeli mesin offset Solna-125 dengan cara mengangsur 18 bulan. Mulai tahun 1976 Jaya Baya dicetak offset dan jumlah halamannya bertambah menjadi 36.

Kovernya yang semula hitam putih, berganti full colour, dengan banrtuan PT Panca Pujibangun. Percetakan ini juga yang menangani cetak Jaya Baya selama enam bulan sebelum mempunyai mesin Solna-125. Jaya Baya mulai bisa bernafas lega, meskipun jadwal terbitnya masih sering terganggu karena harus menunggu kover yang dicetak di percetakan lain. Kondisi ini memunculkan dorongan untuk bisamencetak seluruhnya secara mandiri.

Usaha mendapatkan kredit ditempuh. Untuk itu, Yayasan Djojobojo mendirikan percetakan CV Citra Jaya yang sementara berkantor di Majelis Taman Siswa, Jalan Genteng Kali, Surabaya. Bulan Agustus 1976 permintaan kredit diajukan, dan berhasil direalisasi pada akhir tahun 1978. Dengan pinjaman itu, Jaya Baya bisa membeli lagi mesin cetak. Kali ini Solna P-25 yang bisa mencetak bolak-balik. Sedang mesin Solna-125 digunakan untuk mencetak kover berwarna.

CV Citra Jaya kemudian diubah menjadi percetakan PT Citra Jaya Murti dan menempati gedung sendiri di Jalan Rembang 87. Berkat mesin offset ini, dalam waktu setahun tiras Jaya Baya meningkat menjadi 12.000 eksemplar. Bahkan akhir tahun 1979 tirasnya sudah melonjak lagi menjadi 19.000 eksemplar.

Seiring dengan peningkatan tiras, sarana produksi pun juga ditambah. Antara lain mesin cetak dua warna Solna-225 untuk mencetak sampul, mesin rotasi Webb Community Roland, kamera film, plate maker, photo typesetting Elcomp, dan lain-lain. Tidak ketinggalan, gedung percetakan yang cukup megah di Jalan Rungkut Industri II/18 Surabaya yang ditempati sejak 1 Desember 1984, serta kantor redaksi terletak di jantung kota Surabaya di Jalan Embong Malang 69H sejak Februari 1986. Pada akhir tahun 1983 tiras Jaya Baya mencapai 37.000 eksemplar. Bahkan pada tahun 1989 sempat mencapai 95.000 eksemplar.

ARUS MODERNISASI
Sepanjang perjalanan sejarahnya, Jaya Baya tidak pernah berhenti mencari jati dirinya. Inovasi dan perubahan senantiasai dilakukan untuk menjawab tantangan zaman. Tetapi sebagai majalah yang nguri-uri, tidak pernah berubah pada diri Jaya Baya. Sejak zaman Tajdib Ermadi, hingga sekarang, Pemimpin Umum H Sudirman dan Pemimpin Redaksi Titah Rahayu, atau generasi ketiga sebagai pengelola, semangat itu tidak pernah berubah.

Hanya isinya saja yang disesuaikan dengan tuntutan zaman. Bila pada awalnya sebagai media perjuangan dan penerangan, selanjutnya dikembangkan menjadi majalah keluarga yang memberi penerangan dan hiburan. Di dalamnya terdapat rubrik untuk anak, remaja, ibu rumah tangga, manusia lanjut usia, juga berita-berita umum dari dalam maupun luar negeri.

Ficer atau artikel tentang pertanian, wirausaha, kesehatan, sosial, agama, olahraga, seni, hiburan, cerita rakyat, cerita pendek, dan lain-lain. Semuanya disajikan dalam Bahasa Jawa ngoko, terkadang krama inggil, dengan harapan generasi muda bisa mempelajari bahasa ibunya.

Untuk melengkapi pelayanan kepada masyarakat, sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya Jawa, sejak tahun 1962 Yayasan Djojobojo juga menerbitkan buku kebatinan, sastra, budaya, filsafat, sejarah, dan buku pelajaran sekolah, terutama yang berkenaan dengan Jawa, serta kalender yang dilengkapi dengan penanggalan Jawa, primbon, dan petungan.

Jauh sebelum pemerimntah mencanangkan Koran Masuk Desa (KMD), Jaya Baya telah menyebar ke pelosok-pelosok di seluruh Jawa. Jaya Baya juga sampai ke luar Jawa di mana ada orang Jawa. Bahkan sampai ke luar negeri. Penunjukan pemerintah kepada Jaya Baya sebagai salah satu pelaksana KMD pada tahun 1976 semakin mengukuhkan jati dirinya sebagai majalah infrastruktur masyarakat.

Kini di era informasi, segala macam informasi tergali, terkumpul, dan terdistribusi begitu cepat. Informasi pun berubah, dari semula hanya menjadi teman minum kopi di pagi hari menjadi menu pokok sehari-hari yang tidak bisa ditinggalkan. Kondisi ini amat menguntungkan perkembangan pers, karena kebutuhan masyarakat akan produk pers terus meningkat. Maka surat kabar-surat kabar baru pun terus bermunculan.

Menurut data Inventarisasi Pertumbuhan dan Perkembangan Pers Nasional (IPPPN) tahun 1992 di Indonesia ada 277 penerbitan pers yang sudah memiliki SIUPP dengan tiras rata-rata 12 juta eksemplar setiap hari. Di antaranya, 129 berada di Jakarta dengan tiras 8.297.949 eksemplar (68,71 persen).

Dunia pers menjadi semakin gemerlap dengan masuknya media elektronik seperti televisi, radio, serta surat kabar online. Persaingan tidak bisa dihindarkan lagi. Selain persaingan positif dalam kualitas berita dan penggunaan teknologi terbaru, sering pula terjadi persaingan negatif berupa banting harga, penjegalan distribusi, pemblokiran sumber berita, pembajakan tenaga jurnalis berkualitas, dan berlomba memberi hadiah-hadiah agar mau berlangganan.

Di sinilah dibutuhkan modal dan daya tahan tinggi agar tidak tergerus oleh derasnya persaingan. Era pers bermodal dengkul serta perjuangan menjadi romantika cerita lama. Sekarang masa berganti dengan pers modal besar. Para pengusaha pun berlomba-lomba menyuntikkan dananya untuk menghidupi pers miliknya.

Dalam persaingan seperti ini, yang paling diuntungkan adalah pembaca. Mereka bisa memilih media apa yang dibaca, serta berapa biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan informasi itu. Malah seringkali informasi tidak perlu dibayar karena gratis. Para pemodal besar juga diuntungkan, karena menguasai jalur distribusi, sumber berita, serta porsi iklan. Penerbit kecil yang kalah bersaing harus minggir, atau terpinggirkan. Yang tidak kuat lagi terpaksa harus mengucapkan selamat tinggal kepada dunia pers yanng menghidupinya selama ini.

Pers berbahasa Jawa termasuk kategori perusahaan pers kecil. Sasaran pembacanya adalah masyarakat berbahasa Jawa yang sebagian besar tinggal di pedesaan. Memang kalau dilihat dari jumlah penerbit pers bebahasa Jawa yang masih tersisa saat ini tidak lebih dari jari di satu tangan. Artinya tidak banyak saingan, sementara masyarakat kita penggunan Bahasa Jawa masih cukup banyak. Pada tahun 2016 jumlah penutur Bahasa Jawa 85 juta orang, atau menempati bahasa dengan penutur terbanyak ke-11 di dunia.

Sungguh ini merupakan pasar yang “gemuk” untuk kue iklan, sementara penyedia media berbahasa Jawa terbatas jumlahnya. Akan tetapi dengan melihat besarnya pasar dan sedikitnya saingan bukan jaminan bagi perusahaan pers untuk terus hidup. Berdasaran Susenas, kegiatan membaca surat kabar atau majalah di pedesaan hanya 14,27 persen. “Kue” ini masih harus dibagi lagi dengan media berbahasa Indonesia, yang umumnya lebih kuat di permodalan dan lebih agresif dalam pemasaran.

Jika dalam persaingan seperti ini, malaha berbahasa Jawa seperti Jaya Baya masih bisa eksis, itu karena ditunjang oleh kondisi pembacanya. Rata-rata pembaca Jaya Baya adalah pelanggan fanatik yang telah membaca Jaya Baya sekurang-kurangnya lima tahun. Bahkan ada yang sudah berlangganan sejak Jaya Baya terbit pertama kali. Mereka yang membaca Jaya Baya karena didorong oleh rasa cinta kepada budaya dan Bahasa Jawa.

Angket Jaya Baya yang ditujukan kepada pembaca tahun 1990 memberi gambaran, tujuan pembaca berlangganan Jaya Baya karena ingin melestraikan Bahasa Jawa (89 persen), menambah pengetahuan (82 persen), sumber informasi (69 persen), hiburan di kala senggang (67 persen), menyalurkan bakat (26 persen), dan lain-lain (9,6 persen).

Bagi mereka, Bahasa Jawa yang digunakan terasa lebih nges atau mengena dan memuaskan di hati daropada Bahasa Indonesia. Selain itu, keanekaragaman isinya, yang menyangkut kebudayaan Jawa yang berkaitan langsung dengan keseharian, tidak terdapat di penerbitan berbahasa Indonesia.

Tetapi mereka yang mengenal bahasa dan kebudayaan Jawa secara langsung hanya golongan tua. Jumlahnya makin lama makin sedikit, sedangkan yang lebih muda lebih bersentuhan dengan globalisasi, dengan budaya-budaya lain yang dianggap lebih akomodatif dengan modernisasi, sementara budaya Jawa identik dengan masa lalu dan ketinggalan jaman. Kecenderungan generasi muda pun tidak lagi menggunakan bahasa Jawa di dalam keluarga, tetapi lebih memilih Bahasa Indonesia.

Menghadapi situasi seperti itu, haruskah Jaya Baya berbalik menjadi media berbahasa Indonesia, seperti yang pernah dilakukan dulu? Tentu tidak, karena sejak awal tujuannya memang untuk nguri-uri bahasa Jawa. Biarlah yang lain berbahasa Indonesia, sedangkan Jaya Baya tetap pada jati dirinya. Kesulitan-kesulitan di depan hanya penggalan cobaan yang harus dihadapi Jaya Baya, seperti di era-era sebelumnya yang tak pernah lepas dari kesulitan dan impitan berbagai masalah.

Terus terang, hidup dan matinya Jaya Baya hanya bergantung kepada kecintaan pembacanya. Pengalaman telah membuktikan itu. Jadi kelangsungan Jaya Baya bukan bergantung kepada situasi. (*)

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda