Kisah Lain tentang NZ

Belajar Ketulusan ke Negeri Kiwi

Ilustrasi kota Auckland di malam hari (Foto: Chocky Sihombing)

COWASJP.COMASSALAAMU'ALAIKUM, Pak Aqua (Dwipayana, anggota Cowas JP yang dikenal sebagai motivator nasional). Mengikuti kisah perjalanan Pak Aqua dan sang putra Ero ke New Zealand (NZ) mengingatkan saya akan perjalanan ke negeri indah itu pada tahun 1996.

Rezeki muhibah itu saya dapatkan dari Jawa Pos, tempat saya menjalani kehidupan sebagai jurnalis antara 1991-2001. Koran kami mendapat undangan dari Badan Promosi Pendidikan NZ untuk meliput dunia pendidikan di sana. Oleh Pak Dahlan Iskan, saya yang ditugasi. 

NZ adalah negeri yang mengagumkan. Alamnya indah luar biasa. Banyak film kelas dunia syuting di sana, antara lain The Lord of The Ring. Selain indah, alamnya ramah. Hampir tidak ada predator.

BACA JUGABelajar Ketulusan ke Negeri Kiwi

Semua satwa hidup tenang. Sampai-sampai burung kiwi kehilangan sayap dan hidup nokturnal, karena tidak ada yang memangsa. Saat treking di hutan pinus, saya bertemu kawanan biri-biri hidup liar, tidak ada yang mengusik. Tidak ada singa atau buaya yang memangsa. Konon di NZ juga tidak ada ular berbisa. 

Tentu saja Indonesia tak kalah indah. Tapi kedua negara ini punya keindahan masing-masing yang saya rasa tak perlu dibanding-bandingkan. Semua ciptaan Allah.

Di atas semua itu, saya ingin menyoroti warganya. Ini sesuai pertanyaan Pak Aqua, menurut saya apa relevansi NZ dengan Indonesia. Inilah pendapat saya:

Ramah dan Helpful

Soal keramahan, mereka seperti orang Indonesia. Kenal tidak kenal, saat berpapasan setiap orang saling menyapa,"Hello. Good morning. Good afternoon. How are you?" Mereka juga mudah menawarkan bantuan, bahkan sebelum diminta. Di salah satu kantor, setelah beberapa hari kunjungan, saya kehabisan kartu nama. Langsung saja staf kantor tersebut menawari membuatkan kartu nama dengan cara men- scan satu-satunya kartu nama yang tersisa. Saat saya berpamitan setelah wawancara, saya pun dibekali setumpuk kartu nama baru hasil scan tadi, untuk saya gunakan di sisa kunjungan saya.

Memuliakan Tamu (Hospitality)

Menurut saya inilah keunggulan masyarakat NZ. Itu saya rasakan sejak berangkat. Semua perjalanan telah diatur rapi oleh mereka. Sejak sebelum berangkat, saya sudah ditanya-tanya apa saja permintaan khusus selama perjalanan.

Tak heran dalam penerbangan panjang dengan Air New Zealand dari Denpasar ke Auckland dan sebaliknya, saya selalu disuguhi makanan halal, dengan nama lengkap saya tercantum di penyajian. Di setiap kota, tiba di hotel saya sudah ditunggu informasi lengkap jadwal waktu sholat dan arah kiblat. Semua tuan rumah di setiap kota siap dengan sederetan pilihan makanan halal.

yulfa1.jpgPenulis bersama suami dan putra tercinta.

Saya rasa semua itu bukan semata karena saya jurnalis yang diundang. Sebab, saya dapat merasakan ketulusan dari sikap mereka. Bukan ramah yang dibuat-buat. 

Tidak Rasialis

Saat tugas liputan ke suatu negara Eropa beberapa tahun sebelumnya, saya mendapat pengalaman tak mengenakkan. Saya dan seorang teman warga setempat keturunan Indonesia, naik lift ke apartemen teman tersebut. Di dalam lift sudah ada seorang bule. Begitu kami masuk, dia langsung keluar dengan pandangan curiga. Hal seperti itu tidak saya alami di NZ. Mulai di penerbangan, imigrasi, lembaga pendidikan dan kampus-kampus yang saya kunjungi, hotel, restoran, tidak saya jumpai sikap rasialis. 

Sopir taksi yang mengantar saya dari Bandara Christchurch ke hotel seorang keturunan India imigran dari Kepulauan Fiji. Dia mengaku hidup enak di NZ karena tidak ada perlakuan diskriminasi dalam segala hal. 

Teknologi Menggandeng Tradisi
Meski letaknya jauh di selatan bumi, masyarakat NZ sudah terbiasa menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, mereka tetap mempertahankan tradisi. 

Masyarakat Maori, penduduk asli NZ, mendapat tempat terhormat di masyarakat. Meski minoritas, budaya mereka dijunjung tinggi. Semua lembaga dan kota diharuskan membuat slogan berbahasa Maori. Setiap kota punya Pusat Kebudayaan Maori. Bangunan-bangunan didesain dengan gaya dan ornamen Maori. 

Pendidikan Praktis
Sistem pendidikan di NZ menyejajarkan antara sistem akademik dan kejuruan. Keduanya biasanya bernaung di bawah kampus yang sama. Pendidikan kejuruan pun dikelola oleh pemerintah. Di satu kampus negeri, selain ada jurusan ekonomi, kedokteran, teknik, dan sejenisnya, juga ada jurusan mekanik, tata rambut, tata boga, perhotelan, jurnalistik, broadcasting, dan sebagainya. Untuk yang kejuruan, semuanya berijazah dan ada sertifikasi, sehingga lulusannya siap kerja dan siap buka usaha. 

Saat musim panas, sekolah-sekolah bahasa dibanjiri remaja dari China, Singapore, Taiwan, Thailand. Mereka ikut kelas musim panas untuk belajar Bahasa Inggris. Saya berkesempatan diajak menjemput seorang siswa SMP dari Malaysia, yang terbang sendiri dari negaranya untuk ikut kelas musim panas. Anak itu sudah disiapkan untuk tinggal (ngekost) di rumah warga setempat selama di sana. 

Saat ngobrol dengan beberapa mahasiswa Indonesia di Auckland, terungkap bahwa mereka lebih suka belajar di NZ, dibandingkan dengan di Australia, karena di NZ mereka bisa benar-benar belajar, tidak banyak main dan tidak banyak ngomong Indonesia seperti di Australia. Suasananya sangat kondusif untuk belajar. 

Itu semua baru sekelumit yang dapat saya amati dan alami dari NZ. Bisa dibilang Indonesia punya semua yang saya sebutkan di atas. Tetapi banyak yang dapat kita pelajari dari NZ. Yang utama adalah ketulusan. Ini yang saya lihat mulai luntur di sini, berganti dengan ketidakpedulian, prasangka, bahkan keculasan. 

Patut pula dicontoh profesionalisme dalam pelayanan, yang memikirkan setiap detil kecil yang diharapkan dapat membuat orang lain nyaman. Customer oriented services. Ketulusan ini di negeri kita mulai jadi kewajiban semata, karena peraturan perusahaan mengharuskan demikian. 

Beberapa waktu lalu di lift suatu apartemen di Jakarta saya barengan dengan seorang pramugari yang baru pulang tugas. Dia masih mengenakan seragam maskapai dan menggeret koper dinas. Tidak seperti sikap ramah yang biasa kita dapat di kabin pesawat, kali ini mbak pramugari ini tidak ubahnya seperti penghuni apartemen lainnya, bersikap acuh, asyik dengan HP-nya, bahkan tidak ada kontak mata. Padahal, keramahan di dunia penerbangan -dan perhotelan- selalu jadi teladan sikap pelayanan bagi industri lain. Saya khawatir pelayanan tulus itu hanya sebatas SOP di pekerjaan. 

Tentang pendidikan, bila Anda mampu menyekolahkan anak ke luar negeri, saya rasa NZ layak dipertimbangkan. Terutama utk jurusan hospitality (perhotelan, pariwisata). Mereka punya sekolah-sekolah hospitality yang bagus. Yang paling penting, sikap ramah dan tulus mereka dalam kehidupan sehari-hari semoga saja menular ke anak-anak kita. 

Demikian Pak Aqua yang dapat saya tulis tentang NZ. Tentu saja dari sudut pandang saya yang bisa saja salah dan kurang update. Mohon maaf sungguh panjang dan kurang menarik dibanding tulisan-tulisan Pak Aqua.(*)

Penulis adalah mantan wartawan Harian Pagi Jawa Pos.

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda