Phobia Terbang

Foto: Istimewa

COWASJP.COM – "Selamat pagi Pak Tofan, selamat datang dalam penerbangan Garuda. Jika Bapak memerlukan sesuatu, silakan menghuhungi saya." 

Seorang pramugari yang tampak paling senior menyapa ramah saya yang duduk di kursi nomor 29 C (kelas ekonomi). Meski tidak umum, sapaan seperti ini beberapa kali saya terima dalam penerbangan dengan maskapai milik pemerintah tersebut.

"Wah Ayah keren, koq bisa kenal ayah sih," kata Ari, anak lanang, yang duduk sebelah saya terheran-heran. Istri dan anak wedhok juga sama, heran, apalagi ayahnya sama sekali bukan pesohor dan orang biasa saja, biasa pakai banget lagi.

Dalam sebuah kesempatan yang berbeda, sapaan seperti itu kembali saya terima. "Kerja di Garuda ya Mas?" Sapa Mbak-mbak di sebelah saya. "Nggak koq Mbak," jawab saya tanpa menjelaskan apapun lagi.

"Koq bisa sih kenal ayah?" anak lanang kembali kepo.

"Itu biasa saja Mas, karena ayah anggota frequent flyer dengan tier tertinggi (Platinum). Terkadang, biasanya senior flight attendant, akan melihat manifes just in case ada penumpang Platinum dan akan mengidentifikasi penumpang itu duduk di mana. Lantas pramugarinya datang ke nomor kursi tersebut dan menyapa," jawabnya.

"Oalah, tak kira ayah terkenal," kata anak lanang. "Bahaya, wkwkwkwk". 

Hampir semua maskapai penerbangan memiliki program frequent flyer. Garuda Indonesia dengan GFF (Sky Team), Singapore Airlines dengan Kris Flyer, KLM dengan Flying Blue, dan lain-lain. Ini adalah program loyalitas dari maskapai kepada para pelanggan mereka, terutama yang sering berpergian dengan pesawat udara.

Dalam program GFF,  tier-nya meliputi (terendah sampai tertinggi): Blue, Silver, Gold, dan Platinum. Dalam program Sky Team, Platinum disebut Sky Team Elite Plus dengan syarat untuk mencapai level tersebut adalah 65x terbang dalam satu tahun (frekuensi) atau 65 ribu tier miles. 

"Satu tahun sampai berapa kali flight Mas?" kata teman seorang jurnalis senior.

"Antara 90-100 kali flight Mas, sebagian besar dengan maskapai pembawa bendera nasional kita, terutama untuk domestic route," kata saya.

"Wah kayak RRI tuh, sekali di udara tetap di udara," katanya. Kami pun tertawa.

Menjani kehidupan sebagai penumpang udara sepertinya mengasyikkan. Tapi, mungkin jika saya ceritakan ini, tidak akan ada yang percaya. Apa itu? Saya memiliki phobia terbang dan sampai sekarang pun tidak bisa benar-benar untuk tidak takut terbang.

"Punya phobia terbang tapi setahun 100 kali terbang? Wah koq bisa?" teman tadi kepo.

Apakah saya sudah benar-benar sembuh dari penyakit psikologis tersebut? Bisa ya bisa juga tidak. Tapi saat ini saya sudah bisa menikmati aktivitas di udara dengan asyik dan menyenangkan. Ketakutan itu masih dan kadang datang, tapi sudah bisa aku "dah-dahi" saja. 

Banyak faktor mengapa seseorang takut terbang (avio phobia). Bisa karena takut ketinggian, takut suara pesawat, pernah jatuh, pernah mengalami turbulensi hebat di udara, pernah mengalami peristiwa traumatis (misalnya ada keluarga yang menjadi korban kecelakaan pesawat), dan ada juga takut terbang tanpa alasan. Jika Anda memilki avio phobia saat ini, tenang saja, Anda tidak sendiri. Ada jutaan orang di dunia ini yang takut terbang. Ada yang takut sama sekali ada juga yang takut sesekali. Macam-macam. Bahkan, banyak juga orang yang berpergian dengan pesawat terbang, sebetulnya juga takut terbang.

Mengapa saya takut terbang? Kalau saya pribadi, sekira 10 tahun lalu, karena tidak percaya kepada standar keselamatan penerbangan sipil di Indonesia. Itu dulu, ya dulu 10 tahun lalu dan sebelumnya. Ketika saya masih berdinas di Surabaya dan mendapatkan tugas liputan untuk ke luar negeri dan oleh pihak pengundang diberi tiket maskapai asing yang cukup terkenal dan bonafide, saya dengan senang hati melaksanakan tugas itu. Tetapi dari Surabaya ke Jakarta (karena ke negara tersebut terbangnya dari Jakarta), biasanya naik KA, lanjut bus ke Bandara.

Beberapa kali hal ini saya lakukan karena saya menghindari terbang dengan maskapai domestik karena standard safety-nya yang rendah. Bukan tanpa alasan, karena kalau kita mengingat tahun-tahun itu sekira 1997an, beberapa kali terjadi bencana penerbangan yang memilukan. Garuda Airbus A300 yang menabrak Gunung Sibolangit, Silk Air yang jatuh di Palembang, dan lainnya. Beberapa musibah penerbangan tetap dan masih terjadi di Indonesia seperti Garuda Indonesia yang terbakar di Jogja, Adam Air jatuh di Majene, Air Asia jatuh di perairan Sumatra, dan berbagai insiden lainnya.

Beruntung, black list yang dilakukan oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat dengan melarang pesawat beregistrasi PK masuk ke wilayah udara mereka, membuat Indonesia berbenah. Dan saat ini, standar penerbangan sipil di Indonesia jauh lebih baik dari sebelumnya.

Terlepas apapun alasan kita takut terbang, tetap saja kita takut terbang. Saat saya  pindah pekerjaan yang mengharuskan saya lebih sering terbang pada rute domestik (tahun 2009), tekad saya hanya satu: ketakutan itu harus dilawan. 

Beberapa tips untuk melawan ketakutan terbang adalah sebagai berikut:

1) Membaca data. Dibandingkan dengan moda transportasi darat maupun laut, transportasi udara adalah yang paling aman. Baik dari frekuensi terjadinya insiden maupun jumlah korban, kecelakaan di darat (terutama kendaraan bermotor roda dua) tetap saja jauh lebih besar dibandingkan insiden yang melibatkan transportasi udara. Mengapa demikian? Karena baik ruglator maupun operator sektor penerbangan di Indonesia harus tunduk kepada peraturan keselamatan penerbangan sipil internasional. Inilah yang membuat standar keselamatan penerbangan sipil di Indonesia tetap terjaga.

2) Pilih maskapai terbaik. Meskipun ada poin 1 seperti di atas, kita tetap harus memilih maskapai dengan reputasi yang baik. Jangan hanya mengejar harga murah tetapi aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan tetap terjaga. Pilih maskapai dengan reputasi baik. Meskipun keselamatan penerbangan tidak selalu terkait dengan usia pesawat, tidak ada salahnya jika kita kepoin usia-usia pesawat yang beroperasi. Ini bisa dilihat dari website Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Di situ kita bisa melihat tahun produksi dan pernah dipakai di negara mana pesawat tersebut sebelumnya. Sejumlah maskapai di Indonesia saat ini banyak mengoperasikan brand new aircraft (pesawat baru), misalnya Garuda dengan Boeing 737-Max 8 (masih datang 1 unit), Citilink dengan A320 Neo, juga Lion Air dan lain-lain. Pesawat-pesawat baru tersebut adalah pesawat dengan teknologi paling modern dan canggih.

3) Infrastruktur bandara. Dalam aspek ini, pemerintah Indonesia terus berbenah. Banyak bandara yang infrastrukturnya sangat baik, manajemen navigasi yang saat ini dikelola oleh suatu perusahaan tersendiri, dan lain-lain. Beberapa bandara yang nyaman dengan runway panjang di Indonesia (lebih dari 3 kilometer) antara lain: Hang Nadim Batam (BTH),  Soekarno Hatta Jakarta (CGK), Juanda Surabaya (SUB), Kuala Namu Medan (KNO), Ngurah Rai Bali (DPS), Sepinggan Balikpapan (BPN), Hassanudin Makassar (UPG), dan lain-lain. Selain landasan pacu yang panjang, lokasi bandara berada di tepi laut sehingga mengurangi risiko terrain saat lepas landas maupun pendaratan. Pendaratan di bandara seperti ini juga lebih aman dan nyaman saat kondisi mendung atau hujan.

4) Turbulensi tidak akan membuat sebuah pesawat jatuh. Percayalah, pesawat terbang adalah barang yang sangat canggih dan dirancang untuk bisa terbang dalam kondisi cuaca seburuk apapun. Melewati awan, angin yang kencang, dan ruang hampa udara pasti akan mempengaruhi kestabilan pesawat ketika sedang menjelajah dan membuat pesawat mengalami turbulensi, tetapi itu tidak berarti pesawat dalam kondisi yang berbahaya. Ada tips yang sering saya lakukan ketika menghadapi cuaca buruk seperti saat terbang dengan maskapai Belanda KLM awal Januari lalu.

Ketika pesawat berguncang cukup keras sesaat setelah menurunkan ketinggian jelajah di atas wilayah udara Malaysia, alih-alih merasakan guncangan, saya fokus mengamati data-data pergerakan pesawat di layar kaca di kursi. Salah satu yang saya perhatikan adalah ketinggian jelajah, apakah stabil. Meskipun sedang terguncang bahkan terkadang sampai downdraft (turun ketinggian dengan tiba-tiba), selama data di layar kaca pesawat berada pada range ketinggian yang sama, insyaAllah itu aman-aman saja. Memang kurang nyaman, tapi aman.

5) Alihkan perhatian. Jika tidak bisa tidur saat terbang, alihkan perhatian dengan kegiatan lain sehingga tidak fokus pada kondisi cuaca saat terbang. Saya sendiri, setiap terbang, most likely memilih kursi dekat jendela. Selain untuk motretin awan, juga dipakai merenung betapa kecil kita sebagai manusia. Betapa besar dan indah ciptaan serta kuasa Allah SWT. Percayalah, sehebat apapun kita dunia dan segagah apapun badan kita, ketika pesawat mengalami turbulensi udara, sebagian besar penumpang memilih diam dan berdoa.

Kita yang ada di dalam pesawat dalam ketinggian 34 ribu kaki ini menjadi sangat santun dan sopan satu sama lainnya. Saling lempar senyum, terkadang kenalan dan ngobrol juga. Di Indonesia, peradaban yang santun dan saling tepa selira seperti ini, hanya saya temui ketika sedang di udara.

6) Tips terakhir adalah jangan lupa berdoa. Ingat, bahwa hidup dan mati kita ada di tangan Allah SWT bukan di tangan pilot pesawat yang menerbangkan kita. Karena itu, sebelum terbang usahakan berdoa dan meminta doa keselamatan dari orang-orang tercinta: orang tua, istri, anak-anak, dan sahabat terbaik kita. Dengan doa itu, insyaAllah perjalanan udara kita selalu diberi keberkahan, keamanan, dan keselamatan.

Demikian enam tip sederhana buat teman-teman yang memiliki rasa takut terbang (avio phobia). Percayalah, terbang itu menenangkan dan menyenangkan.  Saya sendiri yang pernah mengalami takut terbang rasanya pusing jika sudah tujuh hari tidak kembali bertemu pramugari, eh salah, bertemu langit dan awan.

Dari dalam penerbangan GA 197 Boeing 737-800 pada ketinggian 34 ribu kaki di atas Sumatera, saya mengucapkan selamat bekerja dan berkarya buat teman-teman semua.

*)Tofan Mahdi, air traveler dan seorang praktisi komunikasi.

Pewarta :
Editor : Tofan Mahdi
Sumber :

Komentar Anda