Yang Hilang dari Pemain Zaman Now

Muharrom Rusdiana (tengah) dan Yongky Kastanya (kanan) saat Talk Show di Coffee Toffee JX, Surabaya, Minggu 7 Januari 2018. (Foto-Foto: Rocky Maghbal for CoWasJP) Muharrom Rusdiana (tengah) dan Yongky Kastanya (kanan) saat Talk Show di Coffee Toffee JX, Surabaya, Minggu 7 Januari 2018. (Foto-Foto: Rocky Maghbal for CoWasJP)

PEMAIN-PEMAIN sepakbola zaman now belum memiliki kultur profesional. Yaitu kultur membangun nilai lebih pada kualitas spesialisasinya. Bagaimana menjadi pemain belakang yang sulit ditandingi, playmaker terbaik di Indonesia, striker paling produktif dan seterusnya.

Masalah vital inilah yang hilang dari hampir seluruh pemain lokal Liga 1 dan Liga 2 Indonesia. Padahal, kultur profesianal tersebut dulu telah dimiliki oleh para pemain era Perserikatan (Amatir) dan Galatama (Liga Sepakbola Utama) Indonesia.

Alhasil, sehebat-hebatnya Andik Vermansyah dan Evan Dimas Darmono misalnya, masih kalah hebat dengan Budi Juhannis dan Yusuf Ekodono. Hal ini diungkapkan oleh dua mantan bintang “Dream Team” Persebaya 1987-1988, Muharrom Rusdiana dan Yongky Kastanya dalam Talk Show “History 80 Victory” Persebaya di JX Coffee Toffee, Jalan Ahmad Yani, Surabaya. 

Talk Show berbobot ini dihelat oleh Arek-Arek Bonek Campus Minggu 7 Januari 2018 dari pukul 16.15 sampai 20.00. Salut buat Bonek Campus. Fans Relations Persebaya, Roky Maghbal, menyebut Bonek Campus sebagai motor of change (motor perubahan).

bonek-campus3.jpg

Kultur profesional bagaimana yang dimaksudkan oleh kedua mantan bintang “Dream Team” Persebaya 1987-1988 tersebut?

“Para pemain zaman now wajib secara disiplin dan terdorong oleh kesadaran pribadinya untuk meningkatkan teknik dan skill spesialisasinya. Ini dilakukan dalam latihan extra di luar jam latihan bersama pelatih. Sebab, tanpa penajaman spesialisasi yang dilakukan terus menerus, tidak mungkin pemain bisa melakukan improvisasi dan kreativitas dalam setiap pertandingan yang dilakoni,” tutur Muharrom Rusdiana.

Dulu Yongky Kastanya dan Maura Hally dikenal sebagai gelandang bertahan Persebaya yang sulit dilewati. Teknik mereka merebut bola dari kaki lawan bersih dan ciamik. “Dibanding pemain asing Liga 1 zaman now pun lebih baik,” katanya.

Kultur profesional satunya lagi yang tidak dimiliki para pemain zaman now adalah membangun diskusi antarpemain menjelang dan sesudah bertanding. Setiap pemain terlibat untuk merancang taktik dan strategi untuk mengalahkan setiap lawan yang berbeda-beda. Pasca pertandingan mereka melakukan evaluasi apa yang sudah bagus dan apa yang masih kurang.

“Itulah sebabnya tim-tim lawan selalu menganggap bahwa Persebaya adalah tim yang sulit untuk dikalahkan,” kata Yongky Kastanya. Posisi mereka sulit digeser karena kualitasnya. Dari musim ke musim mereka bertahan sebagai pemain inti Persebaya. Rata-rata bisa bertahan sampai 5 musim. Bahkan ada yang lebih.

bonek-campus2.jpg

Para pemain zaman now rata-rata lebih suka ke mall atau cafe. Merasa diri sudah hebat. Malas belajar dan diskusi. Padahal sarana untuk belajar sekarang sudah jauh lebih komplet. Streaming TV, youtube dari penampilan para bintang level dunia dengan mudah didapat. Bagaimana pergerakan Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi saat bertanding bisa diputar berulang-ulang. Dicermati dan dicontoh. Namun, segala kelebihan yang tersedia di zaman now tak pernah dimanfaatkan dengan baik.

Akibatnya, prestasi sepakbola Indonesia di level Asia Tenggara saja sama sekali tidak moncer. Untung masih ada Timnas U-19 yang bisa juara Piala AFF 2014. Di pentas SEA Games, Indonesia hanya dua kali juara: SEA Games 1987 dan 1991. Dan semifinalis Asian Games 1986 di Korsel. Setelah itu paceklik juara puluhan tahun.

bonek-campus1.jpg

Berarti, PSSI harus mewajibkan seluruh pelatih Liga 1 (dulu ISL) dan Liga 2 (dulu Divisi Utama) untuk membangun kultur para pemain di klubnya masing-masing. Ini harus menjadi syarat mutlak sebelum setiap pelatih klub Liga 1 dan 2 menandatangani kontrak.

Bila sampai ketahuan ada pelatih yang gagal membangun kultur tersebut, PSSI wajib menjatuhkan sanksi kepada pelatih tersebut dilarang melatih klub mana pun di Indonesia selama tiga (3) musim kompetisi. Mungkin hanya dengan cara itu, para pemain Indonesia zaman now bisa menjadi pemain profesional sejati. Tak sekadar nilai gaji dan kontraknya saja yang profesional. Semoga. (*)

Avatar
Jon Sukma1457 posts

REDAKSI COWAS JP

Berita Terkait
Komentar