Yasser Arafat dan Anwar Sadat

Tofan Mahdi, mantan wartawan yang pernah meliput konflik Israel-Palestina. Foto: penulis di Markas PLO di Ramallah (2007), berlatar foto Yasser Arafat. (Foto: CoWasJP)

COWASJP.COMTANGGAL 6 Oktober 1973, umat Islam tengah melaksanakan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Situasi di Timur Tengah yang terus bergolak sejak Israel memproklamasikan diri  tanpa permisi tahun 1948, tampak sedikit dingin.

Tidak ada ketegangan, termasuk di Gurun Sinai dan Dataran Tinggi Golan, dua wilayah Arab (Mesir dan Syria) yang jatuh ke tangan Israel pada Perang Enam Hari tahun 1967. Selain Mesir dan Syria, pada perang tahun 1967 tersebut, Jordania juga kehilangan wilayah kekuasaannya dì Tepi Barat dan Jerusalem (Al Quds), kota suci tiga agama tempat Masjid Al Aqsa berdiri.

BACA JUGA: Pak Radi, Legenda Security yang Menangkapku 2 Kali

Kembali pada 1973, di sisi yang berbeda, masyarakat dan tentara Israel juga tampak khidmat merayakan hari suci umat Yahudi, Yom Kippur. Ketenangan berubah menjadi ketegangan, saat fajar baru menyingsing, dentuman roket menghujam wilayah pendudukan Gurun Sinai dan Dataran Tinggi Golan. Tentara Israel yang memang tidak sedang bersiap perang, kocar-kacir.

Serangan udara diikuti oleh penetrasi pasukan infanteri dan artileri menembus Terusan Suez menuju Gurun Sinai. Inilah serangan balasan terbesar koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Mesir dan Syria ke daerah pendudukan Israel. Beberapa negara Arab yang ikut mendukung serangan tersebut antara lain Jordania, Iraq, Saudi Arabia, Libya, dan Tunisia.

Setelah serangan yang mengejutkan dan masif selama hampir satu bulan, pada 25 Oktober 1973, Israel menyerah dan terpaksa menandatangani gencatan senjata. Perang Yom Kippur memaksa Israel menyerahkan kembali Terusan Suez dan Gurun Sinai kepada Mesir,

Tepi Barat kepada Jordania, dan berjanji menegosiasikan wilayah pendudukan di Palestina, serta berjanji mengembalikan Dataran Tinggi Golan kepada Syria. Di dalam negeri Israel, akibat kekalahan memalukan ini, PM Israel Golda Meir mundur dan digantikan oleh Menachem Begin.

Pasca Perang Yom Kippur, Timur Tengah dan negara-negara Islam di dunia memiliki ikon baru perlawanan terhadap Israel: Presiden Mesir Anwar Sadat. Sebelumnya hanya ada satu nama yang sangat kuat dan mengakar terkait konflik Arab-Israel, yaitu Yasser Arafat (pendiri dan pimpinan PLO/ Organisasi Pembebasan Rakyat Palestina).

Euforia kemenangan atas Israel pun membahana di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Namun, sepertinya jalan menuju perdamaian masih sangat panjang. Setelah sukses melakukan ofensive pada Oktober 1973, dalam perjuangan selanjutnya melawan Israel, Anwar Sadat mengambil jalan yang berbeda.

Puncaknya, pada 1978, Anwar Sadat mengambil kebijakan politik luar negeri yang sangat kontroversial dan mengguncang dunia: menandatangani perjanjian damai dengan Israel, menjadi tokoh politik dari dunia Islam pertama yang menginjakkan kaki di ibukota Israel Tel Aviv, dan membawa Mesir menjadi negara Arab pertama yang membuka hubungan diplomatik dengan Israel.

Terlepas dari alasan Anwar Sadat memilih berdamai dan berjuang melalui jalur diplomatik melawan Israel, Presiden Mesir ini pun sontak menjadi public enemy number one tidak hanya bagi masyarakat Islam dan non Muslim dunia yang menentang berdirinya negara Israel, tetapi juga ditentang keras masyarakat Muslim dan non Muslim di Mesir sendiri.

Sementara itu, Yasser Arafat kembali menemui jalan terjal mewujudkan negara Palestina yang berdaulat dan merdeka. Hingga akhir hayatnya (2004), Yasser Arafat pun belum mampu mewujudkan cita-citanya.

Tanggal 6 Oktober 1981, dalam sebuah parade militer memperingati Hari Kemenangan dalam Perang Yom Kippur 1973, beberapa tentara yang ikut dalam parade mendadak turun dari truk dan berlari mendekati podium VIP. Rentetan tembakan dilepaskan.

Presiden Anwar Sadat tewas di tangan tentaranya sendiri. Wapres Mesir Husni Mobarak yang terluka menjadi presiden Mesir berikutnya. Setelah itu, hingga hari ini, kita belum juga melihat Palestina merdeka. Justru yang kita saksikan, negara-negara Arab tidak hanya tidak kompak, tetapi semakin terpecah belah.

Di sisi lain, Israel dengan dukungan Amerika, semakin mencengkeram kehidupan rakyat Palestina. Dan Jerusalem atau Al Quds, sebagai kota suci umat Islam selain Makkah dan Madinah, segera menjadi ibukota Negeri Yahudi. (*)

 

Pewarta :
Editor :
Sumber :

Komentar Anda