Seleksi Alam Dalam Berteman

Dr Aqua Dwipayana, Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional.

COWASJP.COMTeman saya banyak sekali. 
Latar belakangnya beragam. 
Begitu juga tempat tinggalnya, tersebar di berbagai kota dan mancanegara. 
Saya berusaha merawat persahabat sebaik-baiknya dengan mereka.

***

Selama ini dalam menjalin persahabatan yang saya kedepankan adalah menghormati semuanya secara universal. Tidak membeda-bedakan mereka.

Penghormatannya sama pada setiap orang. Apalagi dalam berteman saya tidak ada kepentingan apa-apa. Juga ngga ada maksud-maksud tertentu.

Justru yang selalu saya niatkan dan upayakan adalah memberikan bantuan secara maksimal. Jika tidak bisa melakukan - karena keterbatasan dan lainnya - saya tidak ragu-ragu untuk menyampaikan permohonan maaf.

aquadwipayana-2.jpgMotivator Dr Aqua Dwipayana saat memberi motivasi di rumah makan Kertanegara, Kota Malang, Jawa Timur, Senin 13 Januari 2020. (FOTO: Widodo Irianto/TIMES Indonesia)

Ada teman yang bisa menerima hal itu. Memahami keterbatasan saya. Namun ada juga yang nggak peduli. Kesannya "memaksa" sehingga saya merasa tidak nyaman.

Terhadap teman yang seperti itu saya tidak ambil pusing. Apalagi tidak ada kewajiban untuk membantu mereka.

Tidak Masalah Hubungan Renggang

Konsekuensinya ada. Di antaranya hubungannya jadi renggang. Saya sama sekali tidak masalah dengan ini.

Saya yakin itu adalah cara TUHAN mengajari saya untuk melakukan seleksi alam dalam berteman. Mereka yang tidak tulus, ada maksud-maksud tertentu, mereka sadari atau tidak ruang geraknya makin terbatas.

Teman mereka dari waktu ke waktu semakin berkurang. Itu terjadi karena umumnya merasa tidak nyaman. Akhirnya memilih untuk tidak berteman atau intensitas komunikasinya dikurangi.

Saya sama sekali tidak pernah merasa rugi dengan berkurangnya teman yang memiliki karakter seperti itu. Malah sangat bersyukur dan berterima kasih ke TUHAN karena membantu menyeleksi teman-teman saya.

Umumnya teman saya karakternya standar. Rendah hati, menghargai orang lain, tidak aji mumpung, nggak mentang-mentang, dan memiliki nilai-nilai lainnya yang bisa jadi teladan.

Berusaha Jadi Teman Menyenangkan yang Dirindukan

Ada teman yang awalnya seperti itu. Begitu sama TUHAN diberi cobaan yang enak yakni promosi jabatan dan kenaikan pangkat, sikapnya berubah. Saat komunikasi terasa aneh, tidak seperti biasanya.

Intuisi saya merasakan dan mengatakan orang itu mengalami kekagetan. Culture shock karena baru promosi jabatan.

Akhirnya intensitas komunikasi kami berkurang. Bicara hanya seperlunya dan itupun jarang.

Saya kasihan sekali sama orang yang kagetan itu. Dia bakal lebih kaget karena seiring dengan perjalanan waktu teman-temannya makin berkurang.

Begitu jabatan dan pangkatnya "hilang" mungkin karena pensiun baru dia menyesal. Kesepian karena tidak ada teman. Penyesalan timbulnya belakangan.

Belajar dari pengalaman di atas agar kita berusaha menjadi teman yang menyenangkan sehingga selalu dirindukan banyak orang. Aamiin ya robbal aalamiin...(*)

>>>Dari Malang, Jawa Timur saya ucapkan selamat berusaha belajar dari karakter beragam orang. Salam hormat buat keluarga. 18.30 20092020.

Oleh Dr Aqua Dwipayana, Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional.

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda