Sistem Electoral College dalam Pilpres di Amerika

COWASJP.COM – Jika makna demokrasi disamakan dengan sistem pemilihan langsung, maka dalam penyelenggaraan pemilihan presiden, Indonesia jauh lebih demokratis dibandingkan Amerika Serikat.  Di Indonesia, capres dengan suara terbanyak (popular vote) otomatis menjadi pemenang. Namun di Amerika (AS), bisa saja capres dengan perolehan suara terbanyak bukan pemenang pilpres. Mengapa demikian?

Saat mengikuti short course tentang  studi perbandingan sistem pemilu di Washington DC Amerika Serikat tahun 2004, ada banyak hal yang unik yang penulis ketahui dari pemilu presiden (pilpres) di AS. Mulai dari hal yang bersifat teknis penyelenggaraan hingga yang lebih substansial seperti sistem pilpres itu sendiri. 

Terkait teknis penyelenggaraan misalnya, Pilpres AS yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali, selalu dilaksanakan pada bulan November.  Harinya, selalu pada Selasa pertama setelah Senin pertama. Bingung ya? Jadi begini, misalnya bulan November pada  tahun penyelenggaraan pilpres, tanggal 1 November jatuh pada hari Selasa, maka pilpres akan diselenggarakan pada Selasa tanggal 8 November. Namun jika tanggal 1 November jatuh pada hari lain, Senin misalnya, makan Pilpres akan diselenggarakan pada Selasa tanggal 2 November. 

Ayo kita cek kalender tahun ini untuk melihat tanggal berapa kah pilpres AS akan diselenggarakan pada bulan November nanti? Tepat sekali, Pilpres AS akan digelar pada hari Selasa tanggal 3 November 2020. Tanpa cek di Google pun kita bisa tahu Pilpres AS akan dilaksanakan pada Selasa, 3 November 2020. Karena tanggal 1 November jatuh pada hari Minggu, maka hari Selasa tanggal 3 November tersebut sudah memenuhi syarat sebagai Selasa pertama setelah Senin pertama di bulan November. 

Pada 2016 misalnya, Pilpres AS diselenggarakan pada Selasa tanggal 8 November karena pada tahun tersebut tanggal 1 November jatuh pada Selasa. Sehingga 1 November tidak memenuhi pakem karena hari Selasa-nya belum melewati Senin pertama November. Mudah diingat bukan?

ELECTORAL COLLEGE

Dalam konteks Pilpres, Indonesia boleh bangga karena banyak warga AS menyebut Indonesia lebih demokratis dari negara mereka. Mungkin itu warga AS yang jagoannya dalam Pilpres menang popular vote (suara terbanyak) tapi gagal jadi pemenang Pilpres karena kalah dalam perhitungan kursi elektoral. Lho koq bisa, memperoleh suara terbanyak, tapi kalah dalam persaingan merebut kursi elektoral? Dan presiden AS terpilih adalah yang memenangi kursi elektoral. 

Sistem electoral college inilah yang menjadi perdebatan panjang dalam dinamika politik AS hingga hari ini. Ide dasar diberlakukannya sistem elektoral ini adalah sebagai kompromi partai-partai politik di Amerika, apakah pemilihan presiden diitentukan dengan suara terbanyak atau melalui parlemen. Akhirnya diambil jalan tengah yaitu dengan sistem electoral college. 

biden.jpgJoe Biden dan Kamala Harris. Calon presiden dan wakil presiden dari Partai Demokrat. (FOTO: cnn.com)

Bagaimana sistem elektoral ini bekerja? Berbeda dengan masyarakat di Indonesia yang datang ke bilik suara untuk langsung mencoblos capres/ cawapres yang dia dukung, di AS para pemegang hak suara tidak  benar-benar memilih capres/ cawapres-nya. Tetapi mereka memilih wakil elektoral yang merupakan representasi dari  masing-masing anggota Kongres (435 orang), Senat (100 orang), dan tiga wakil elektoral dari warga yang tinggal di DC (District of Columbia), area ibukota AS.

Dengan komposisi tersebut, satu negara bagian memiliki paling sedikit tiga wakil elektoral.  Negara bagian California memiliki 55 wakil elektoral yang merupakan representasi dari 53 anggota Kongres (DPR) dan dua senator. Negara bagian Texas yang selalu menjadi basis kemenangan Partai Republik, memiliki 38 wakil elektoral yang merupakan representasi dari 36 anggota Kongres dan dua senator.

Para wakil elektoral inilah yang memegang amanah Konstitusi AS untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden. Suara dari 538 wakil Elektoral ini yang dihitung oleh Ketua Senat pada saat Sidang Bersama Kongres dan Senat (kalau di Indonesia, semacam Sidang MPR). 

Meskipun dalam sebuah jajak pendapat oleh Atlantic Survey pada Juni 2018, sekitar 65% warga AS mendukung Pilpres langsung dan 32% mendukung sistem Electoral College, namun tentu saja tidak mengubah Konstitusi AS.

WINNER TAKES ALL

Siapakah yang memenangi Pilpres AS? Yaitu kandidat Capres/ Cawapres yang telah mengantongi sedikitnya 270 suara elektoral. Dalam perhitungan sistem elektoral ini juga dikenal aturan winner takes all atau yang menang mendapatkan semua kursi. Bagaimana maksudnya?

Saya ambil contoh pemiliihan  untuk negara bagian California misalnya. Dari 55 kursi elektoral yang diperebutkan, misalnya (kita simulasikan dengan kandidat capres yang bertarung sekarang: Donald Trump dan Joe Biden, Trump (Republik) mendapatkan 35 kursi dan Biden (Demokrat) 20 kursi, maka dengan aturan winner takes all, seluruh 55 kursi elektroral di California menjadi milik Trump. Pola demikian juga berlaku untuk 49 negara bagian yang lain. Sehingga pertarungan untuk menang dalam satu negara bagian, apalagi yang kursi elektoral-nya besar seperti California dan Texas, menjadi sangat krusial. Kalah tipis dengan selisih satu kursi saja, maka semua kursi elektoral akan diambil oleh yang menang.

Meski sistem Electoral College dianggap tidak ideal, dan berbeda dengan aspirasi 65% masyarakat AS,  para elite politik di Amerika tetap prefer mempertahankan sistem ini dengan berbagai pertimbangan. Namun, dalam beberapa pilpres termasuk Pilpres 2016, meskipun Hillary Clinton memperoleh popular vote tiga juta lebih tinggi dibandingkan Trump, namun Trump sukses meraup 304 kursi elektoral dibandingkan Hillary yang meraih 227 kursi. Dan Donald Trump melenggang sebagai Presiden AS periode 2017-2021. (*)

*) Penulis adalah Redaktur Tamu Harian DI’s Way

Pewarta :
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda