Silaturrahim ke Jogja di saat pandemi

Arif Bambang Rahardjo, penulis.

COWASJP.COM – HP ku berdering via WA. Saya lihat gambar PPnya, oh sahabat saya dari Jogja. Sejak wabah virus Corona mengguncang dunia, saya tidak pernah bertemu dia lagi. Walau masih ada ikatan bisnis dengannya.

Alhamdulillah, sahabat saya mengabarkan akan membuka kantor cabang baru di Jogja. Wouw! Membuka  kantor cabang baru di tengah badai pandemi. Hebat. Di tengah redupnya kehidupan ekonomi gegara Covid-19, sahabat saya justeru bisa melebarkan sayap usahanya. 

Arif-Bambang-Rahardjo-2.jpgSilaturahim dengan Mas Adib Lazwar Irkhami, Cowaser Jogja. (FOTO: Adib Lazwar Irkhami/Cowas JP)

Sahabat saya mengundang saya untuk menghadiri peresmian kantor baru tersebut. Saya pun siap hadir.Ke Jogja naik kereta di saat pandemi banyak persyaratannya dari KAI. 

1/ Surat keterangan bebas Covid-19 atau surat sehat dari dokter yang menerangkan bebas flu. 

2/ Baju harus lengan panjang. 

3/ Pakai masker dan penutup muka plastik atau Face Shield, ISKM dari Surabaya dan Jakarta. 

5/ Membawa hand sanitizer.

Untuk mendapatkan surat keterangan sehat dari dokter yang menerangkan bebas flu ternyata tidak mudah. Semua klinik dokter di sekitar kediaman  saya (Pakis Tirtosari, Surabaya) tidak bersedia memberikan surat keterangan sehat yang d menerangkan bebas flu. 

Harus ke klinik yang ada  laboratoriumnya. Saya pun ke klinik di Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya. Belum masuk halaman klinik sudah terlihat puluhan orang antre di luar. Panjang banget sampai di trotoar jalan. Para pengantre sudah tidak menerapkan protokol kesehatan lagi. Terutama dalam jaga jarak. Ironis sekali. Protokol kesehatan terabaikan di klinik kesehatan! 

Tapi saya masih bisa mendapatkan informasi tentang biaya rapid test. Rp 600.000 lebih. 

Tapi karena antreannya berkerumun dan tidak mengindahkan protokol kesehatan, saya beralih ke klinik lain. Harga tiket kereta Surabaya-Jogjakarta  PP kurang dari Rp 600.000. Biaya surat kesehatannya lebih dari Rp 600.000.  Inilah  hidup di era new normal. High cost. Mau tidak mau, ya harus begitu.

Arif-Bambang-Rahardjo-3.jpgSilaturahmi dengan Mas Erwan Widyarto, Koordinator Cowas JP Joglosemar. (FOTO: Erwan Widyarto/Cowas JP)

Saya pergi ke klinik Jalan Adityawarman. Klinik yang berpenampilan bak hotel bintang lima ini sepi dan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Di dalam ruangan klinik berjejer kursi antrean yang sangat mewah. Banyak tanda silang merah sebagai penerapan protokol kesehatan. Saya langsung ambil nomor antrean. Tak perlu lama, nama saya sudah dipanggil.

”Selamat malam,” tegur petugas ramah.

”Selamat malam. Saya mau rapid test,” jawabku.

”Bisa. Hasilnya dua hari selesai,” kata petugas,

”Kok lama sekali. Saya perlu untuk besok. Apakah besok pagi bisa saya ambil hasilnya? Maksud saya, apakah bisa dibantu?” saya coba  menawar. 

”Rapid test di sini pengambilan darahnya 1 ampul. Memang beda dengan yang diterapkan laboratorium lain, yang hanya ambil darahnya setetes,” jelas petugas cewek itu. 

”Terimakasih banyak dan selamat malam,” sahut saya.

Lagi lagi pulang tanpa (belum ada) hasil.

Tapi saya tidak putus asa, ada informasi dari teman kalau di IGD Rumah Sakit di Jalan Diponegoro bisa bantu rapid test. Saya pun meluncur ke sana walau badan terasa capek. Biayanya Rp 400.000. Ditambah uang terlambat, karena datangnya malam, Rp 200.000. Total Rp 600.000.

”Apa hasilnya bisa ditunggu?” tanya saya.

”Bisa Pak. Sebentar aja gak lebih dari 10 menit. Tapi di IGD tidak bisa mengeluarkan surat ya, IGD hanya melakukan tindakan aja,” jawab petugas.

Wadoouw gagal lagi. Saya pun pasrah kepada Allah. 

Kamis 25 Juni 2020 sama yang tertera di tanggal tiket saya, Surabaya ke Jogja dan sengaja saya datang agak pagi, dengan harapan ada kereta yang lebih awal berangkat. Saya juga ingin melihat seberapa serius penerapan protolol kesehatan naik kereta di kota zona merah legam: Surabaya. 

Sampai giliran kereta yang akan saya naiki, masuklah saya dengan memakai jaket lengan panjang, masker plus face shield, dan surat keterangan sehat dari dokter yang tidak ada keterangan bebas flu-nya.

Tiket, KTP dan surat dokter saya berikan, tiket cocok dengan KTP,  oke, tiba memeriksa surat dokter dua petugas menanyakan ke saya gak ada keterangan bebas flu?

 ”Kemarin saya sampai tengah malam berusaha mendapatkan tidak ada dokter yang bisa memberi keterangan bebas flu. Tolong Pak saya bisa dan harus berangkat hari ini,” jawab saya.

Setelah dua petugas ini diskusi, Alhamdulillah saya diizinkan masuk gerbong KA. Tidak lama setelah kereta berangkat ada 2 petugas memeriksa pemakaian masker, face shield dan suhu badan. Pemeriksaan suhu badan pertama saya 36,1 derajat Celcius, pemeriksaan kedua di kota Madiun suhu badan saya meningkat di angka 36,6. Pemeriksaan ketiga di kota Solo suhu badan saya meningkat lagi menjadi 37 derajat. Mungkin peningkatan suhu badan ini karena lamanya saya pakai masker. Yang membuat kurangnya oksigen dalam darah dalam tubuh dan menaikkan suhu badan.

Alhamdulillah terimakasih banyak pada dua petugas KAI di Stasiun Gubeng Surabaya. Akhirnya saya bisa menghadiri peresmian kantor baru di Jogja. Setelah acara selesai, tiba acara jalan-jalan. Banyak orang bilang belum afdol ke Jogja kalau belum mengunjungi Malioboro.

Malioboro tidak seperti dulu lagi, trotoar di sepanjang jalan Malioboro, tempat pejalan kaki, baik sebelah kanan maupun kiri, ada barcode zona 1. Saya harus men-scan barcode masuk ke aplikasi Dishub Jogja, untuk mantau pengunjung Malioboro.

Tidak terlihat pedagang kuliner lesehan yang menjajakan makanan khas Jogja, gudeg dan lain lain. Yang terlihat berderet hanya puluhan andong dan becak. Malioboro yang dulu berjubel pengunjungnya kini sepi. Yang dulu banyak musisi jalanan dan tarian kolosal kini tiada. Padahal kota Jogja sudah menyandang gelar kota zona hijau, buat apa zona hijau kalau kegiatan perekonomiannya zona merah.

Virus Covid-19 mungkin tidak bisa hilang seperti virus virus lain: Sars, Mers, flue burung dan lain-lain. Kita harus hidup beradaptasi dengan virus virus ini. Hidup di new normal berdampingan dengan virus virus.

Mari kita mulai hidup ini dengan tatanan kehidupan baru hidup yang sehat. Hidup bersih, perekonomian jalan, pendidikan jalan, jalan semua seperti semula, hanya harus jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan.

Hidup Indonesia Sehat! (*)

Pewarta : Arif Bambang Rahardjo
Editor : Slamet Oerip Prihadi
Sumber :

Komentar Anda